Beranda / Genre / Petualangan / Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 7)

Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 7)

Syena

Pagi itu udara terasa lebih segar dari biasanya. Matahari musim gugur bersinar lembut, menyelinap di antara dedaunan yang mulai menghijau. Di halaman sekolah kecil milik Hafsa, suara riang anak-anak sudah terdengar sejak matahari belum naik sempurna.

“Hari ini kita akan belajar di luar kelas. Ada yang punya ide kita mau belajar kemana?” tanya Hafsa setelah menyapa murid-muridnya.

“Ke taman!” teriak mereka dengan penuh semangat.

“Baiklah, kita akan ke taman,” jawab Hafsa sambil tersenyum.

Hari itu bukan hari belajar biasa. Hafsa memang telah merencanakan kunjungan kecil ke Waldspielpark Heinrich-Kraft Park, sebuah taman edukasi yang merupakan oase hijau. Tempat yang menyenangkan dan ideal bagi keluarga serta para penggemar aktivitas luar ruangan karena terawat dengan baik dan memiliki area bermain yang lengkap dengan struktur panjat berukuran besar dan zip-line yang memacu adrenalin, menjamin keseruan tiada henti bagi anak-anak.

Taman wisata di pinggiran kota  Frankfurt tersebut dipenuhi ruang terbuka hijau, kebun bunga, dan area bermain yang luas.

Syena berdiri di samping pintu bus kecil yang akan membawa mereka, memperhatikan satu per satu anak-anak naik dengan wajah berbinar. Ada yang menggenggam bekal dengan erat, ada yang sibuk bercerita, dan ada pula yang tak henti-hentinya bertanya.

“Fräulein Syena, apakah nanti ada cerita lagi?”

Syena tersenyum, kali ini tanpa keraguan. “Ada. Tapi kalian harus janji, dengarnya yang serius, ya.”

“Gewiss, gnädiges, Fräulein Syena!” jawab mereka serempak.

Hafsa yang berdiri di dekatnya menyenggol pelan bahu Syena. “Lihat? Mereka sudah kecanduan ceritamu.”

Syena terkekeh pelan. “Atau mungkin aku yang kecanduan mereka.”

Perjalanan menuju taman berlangsung singkat, tapi penuh tawa. Anak-anak bernyanyi  dengan riang, beberapa bahkan menciptakan lirik sendiri yang membuat Syena tak bisa menahan tawa.

Begitu sampai, pemandangan terbuka langsung menyambut mereka. Hamparan rumput hijau, pohon-pohon tinggi, dan bunga-bunga yang mulai gugur membentang sejauh mata memandang. Anak-anak langsung berlarian, seperti burung kecil yang dilepas dari sangkar.

Syena berdiri sejenak, memandangi semuanya. Ada sesuatu yang berbeda dalam dadanya. Perasaan ringan, lapang, seolah-olah beban yang selama ini menekan perlahan menghilang, digantikan oleh udara segar dan tawa-tawa kecil yang jujur.

“Du magst?” suara Hafsa muncul di sampingnya.

Syena mengangguk pelan. “Aku tidak pernah menyangka, di tempat ini aku seperti menemukan dunia baru.”

Hafsa tersenyum. “Bukan dunia baru. Kamu hanya kembali melihat dunia dengan cara yang lama … cara yang sempat hilang.”

Syena menoleh laluengedikkan bahu, “Mungkin.”

“Bukan mungkin, tapi kenyataan. Sekarang Kamu menghadapi hidup dengan cara yang tidak penuh ketakutan.”

Syena tersenyum, ada desir halus merayap. Kalimat itu sederhana, tapi menghantam lembut ke dalam hatinya.

Tawa dan canda riang bocah-bocah lucu itu mewarnai aktivitas sederhana mereka.  Bermain di taman, berlarian di atas rumput, bahkan sekadar duduk bersama di bawah pohon besar. Hafsa tidak mengizinkan anak-anak bermain panjat besar dan tali ayun, mereka masih terlalu kecil dan berisiko tanpa pendampingan ahlinya.

Sekelompok anak yang seolah tak pernah kehabisan energi mendatangi Syena.

“Fräulein Syena, cerita lagi!” pinta seorang anak penuh antusias.

Syena tertawa kecil. “Kalian masih mau dengar cerita? Tidak capek, ya?”

“Tidak!”

Akhirnya, Syena mengajak anak-anak duduk membentuk lingkaran di bawah pohon. 

“Kali ini, saya akan cerita tentang seekor burung kecil,” ujar Syena memulai ceritanya.

“Namanya siapa?” tanya seorang anak.

Syena berpikir sejenak,  “Namanya … Luma.”

“Luma!”

“Iya. Luma adalah burung yang sangat suka terbang tinggi. Tapi suatu hari, dia takut … karena ada badai besar yang hampir membuatnya jatuh.”

Anak-anak mulai diam, mendengar dengan fokus.

“Sejak itu, Luma tidak berani terbang jauh. Dia hanya hinggap di dahan rendah, melihat langit dari jauh”

Syena berhenti sejenak, matanya sedikit berkaca, tapi ia tetap tersenyum. Seorang anak menggenggam tangannya, seolah mengerti perempuan yang sedang bercerita itu sedih.

“Suatu hari, Luma bertemu sahabatnya. Burung kecil sahabat Luma berkata : Langit tidak akan berubah hanya karena kamu takut. Yang berubah adalah keberanianmu.”

Seorang anak kecil mengangkat tangan. “Lalu Luma berani terbang lagi?”

Syena mengangguk pelan, “Pelahan Luma mencoba, hingga akhirnya ia benar-benar berani mengepakkan sayap dan mulai terbang tinggi.”

“Dia tidak takut lagi?” 

“Masih, tapi dia terus mencoba dan akhirnya berhasil mengalahkan takutnya.”

“Wah, Luma hebat,” komentar seorang bocah perempuan yang sejak tadi menempel di kaki Syena.

“Benar, Luma burung yang hebat,” ujar Syena tersenyum. Baginya cerita itu bukan sekadar dongeng, itu adalah dirinya.

Dulu saat kecil, ayahnya pernah mengatakan, “Ayah memberimu nama Syena, yang berarti Elang, agar kelak Kamu menjadi sosok yang kuat seperti Elang yang memiliki penglihatan sangat fokus hingga mampu mengidentifikasi mangsa kecil dari jarak yang sangat jauh. Ayah ingin Kamu tumbuh sebagai perempuan mandiri dan soliter yang tidak bergantung pada kelompok.Dan yang paling menonjol dari sifat elang adalah pemberani, ia akan menembus badai dengan memanfaatkan angin kencang saat badai untuk terbang lebih tinggi.”

Di kejauhan, Hafsa memperhatikan dengan mata hangat. Ia tahu, setiap kata yang keluar dari mulut Syena adalah bagian dari proses penyembuhan lukanya, Syena sedang belajar mengalahkan traumanya agar bisa terbang lebih tinggi lagi.

“Itu bukan tentang burung, kan?” bisik Hafsa mendekat saat cerita selesai.

Syena tersenyum tipis, matanya berkaca tapi tidak ada kesedihan di sana, “Kelihatan, ya?”

Hafsa membalas dengan anggukan kecil, lalu berdiri diikuti Syena. Mereka berjalan pelan menyusuri taman, meninggalkan anak-anak yang kini sibuk bermain dengan Selma, sorang guru pendamping anak-anak.

“Aku dulu berpikir … jika aku menjauh, semua akan selesai,” kata Syena pelan.

“Tapi ternyata, rasa takut itu ikut ke mana pun aku pergi.”

Hafsa mengangguk. “Karena yang kamu bawa bukan dia … tapi luka yang dia tinggalkan.”

Syena mengembuskan napas berat, “Lalu … bagaiman cara menyembuhkannya?”

“Bukan dengan lari lebih menjauh. Tapi dengan membangun dirimu lebih kuat.” Hafsa menatap Syena dengan lembut tapi tegas. Syena balas menatap, pelahan hendak membuka mulut, tapi Hafsa lebih dulu memotong.

“Kamu sedang melakukannya sekarang. Setiap tawa yang kamu bagikan, setiap cerita yang kamu hidupkan,  itu bukan hanya untuk mereka.”

“Tapi untuk diriku juga …” sambung Syena pelan.

Hafsa tersenyum menepuk bahu Syena, “Sie haben Ihr Bestes gegeben.”

Menjelang sore, anak-anak mulai lelah. Beberapa tertidur di atas tikar, yang lain duduk sambil menikmati bekal.

Syena duduk di antara mereka, membantu seorang anak membuka kotak makan.

“Fräulein Syena,” seorang bocah perempuan tiba-tiba mendekat. Syena mengangkat wajah, menatap bocah bermata hazel yang juga sedang menatapnya.

“Fräulein Syena sekarang sudah tidak sedih, ya?”

Pertanyaan itu membuat Syena terdiam sejenak. Ia tersenyum, mengusap kepala anak itu pelan, “Siapa namamu?”

“Emma.“

“Fräulein Syena sudah merasa lebih baik, Emma.”

“Syukurlah.” Anak itu mengangguk lega, lalu kembali makan.

“Kalau boleh tahu, kenapa Kamu peduli Fräulein Syena sedih?” tanya Syena hati-hati.

Emma menghentikan makannya, tangan mungilnya bergerak naik dan berhenti pada kedua pipi Syena, “Karena … aku ingin punya mama seperti Fräulein Syena, cantik, baik, lembut, tapi yang tidak bersedih.”

Jawaban polos Emma membuat Syena tertegun, apakah bocah perempuan yang sejak tadi menempel padanya ini merindukan ibunya? Syena tersenyum, hatinya menghangat, ia mulai percaya bahwa hidupnya tidak berhenti di masa lalu, ia masih punya ruang untuk bahagia bersama anak-anak yang kini tumbuh bersamanya. Emma, dan anak-anak lainnya tumbuh menjadi dewasa dan ia pun tumbuh menjadi kuat agar sayapnya mampu terbang lagi.

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *