Home / Fiksi / Cerbung / 20. Candi Gunung Wukir, Tanda Kebesaran Wangsa Sanjaya

20. Candi Gunung Wukir, Tanda Kebesaran Wangsa Sanjaya

Ananta Kama 1600x900
This entry is part 21 of 33 in the series Ananta Kama

Meninggalkan Candi Gunungsari, Zack dan Ayesha benar-benar mendapatkan pengalaman yang menarik. Bhaskoro berhenti sejenak sebelum meninggalkan lokasi. Ia menatap jalan yang membentang di antara perbukitan. Dengan senyum tipis yang menyimpan antusiasme, tujuan berikutnya menuju Candi Gunung Wukir … sebuah situs yang berdiri tenang di puncak bukit, menyimpan jejak sejarah yang tak kalah tua. Perjalanan ini bukan sekadar berpindah tempat, melainkan menyusuri kisah-kisah masa lampau yang masih berbisik lewat batu, tanah, dan angin yang mengiringi langkah kami.

Candi Gunung Wukir adalah sebuah situs bercorak Hindu, merupakan peninggalan sejarah yang menjadi saksi bisu perjalanan zaman kerajaan Mataram di Magelang. Terletak megah di puncak Gunung Wukir, candi ini menawarkan keindahan arsitektur kuno yang mencengangkan dan misteri yang menyelubungi sejarahnya.

Candi yang terletak di Dusun Canggal, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, menjadi salah satu prasasti penting dalam sejarah Indonesia. Untuk mencapai candi yang juga dikenal sebagai Candi Canggal ini harus dicapai dengan berjalan kaki mendaki sekitar 300 meter dari Dusun Canggal, dan letaknya berada di dekat jalan yang menghubungkan antara Kecamatan Salam dengan Kecamatan Ngluwar.

Lumayan menguras tenaga untuk mencapai candi yang berada di belakang perkampungan warga dan tersembunyi di balik hutan bambu di ketinggian 635 mdpl. Tapi jangan ditanya, lelahnya mendaki akan terbayar dengan  pemandangan alam yang khas dan lingkungan yang asri, dengan latar belakang gunung Merapi yang gagah. 

Tak butuh lama untuk tiba di lokasi candi  yang memiliki rincian relief halus dan struktur batu yang kokoh ini.  Candi ini seolah menjadi jendela bagi kita untuk memahami kejayaan peradaban masa lampau. Candi Gunung Wukir merupakan candi Hindu yang ditandai dengan adanya Yoni dan arca Nandi atau lembu yang digunakan sebagai kendaraan Dewa Siwa. Sedangkan Yoni bersama sebuah lingga adalah sebagai lambang Dewa Siwa. Namun, lingga tersebut sekarang tidak ada lagi.

Pada Candi Gunung Wukir, terdapat empat candi, yaitu candi induk dan tiga candi perwara atau candi pendamping yang ada di depannya. Namun, keadaan candi-candi yang terbuat dari batu andesit tersebut tidak lagi utuh, hanya menyisakan sedikit reruntuhan. Dari penemuan yoni dan arca Nandi dapat diketahui bahwa Candi Gunung Wukir bercorak agama Hindu.

Candi Gunung Wukir dibangun sebagai tempat pemujaan atau kuil Hindu, khususnya pada masa Kerajaan Mataram Kuno, sebagai bagian penting dalam kehidupan keagamaan dan politik saat itu, menandai keberhasilan Raja Sanjaya dan menjadi tonggak sejarah penting seperti yang tertulis di Prasasti Canggal. 

Berdasarkan Prasasti Canggal yang ditemukan pada 1879 di reruntuhan Candi Gunung Wukir, pendiriannya diduga pada masa pemerintahan raja Sanjaya dari zaman Kerajaan Mataram Kuno, yaitu pada 732 M atau 654 tahun Saka.Prasasti Canggal yang saat ini tersimpan di Museum Nasional Jakarta.

Prasasti ini memuat banyak informasi tentang Kerajaan Medang atau Mataram Hindu. Berdasarkan prasasti ini, Candi Gunung Wukir diduga memiliki nama asli Shiwalingga di Kunjarakunja.

Nama Gunung Wukir diambil dari nama bukit tempat candi ini berada yang dalam bahasa Jawa, artinya gunung atau bukit, sehingga nama ini sebenarnya reruntuhan.Tempat reruntuhan candi, mempunyai ukuran 50×50 meter. Bangunan candi tersusun dari batu andesit, dan setidaknya terdiri atas satu candi induk dan tiga candi perwara. Namun, pada saat ditemukan, sebagian besar candi berada dalam kondisi rusak berat.

Banyak alasan yang dikemukakan untuk menjelaskan kerusakan candi-candi di masa lampau, di antaranya adalah terjadinya bencana alam yang sangat dahsyat, seperti banjir, gempa bumi, atau letusan gunung berapi. Peperangan dan perebutan kekuasaan juga ditengarai menjadi penyebab kerusakan struktur bangunan candi

Bebatuan yang menjadi inti bangunannya berserakan di sejumlah tempat, terkadang hingga jauh dari tempatnya semula.

Bahkan sebagian dari bebatuan candi yang bernilai sejarah itu telah berubah fungsi, seperti menjadi tanggul atau pondasi rumah penduduk yang bermukim di sekitarnya.

Dalam setiap peperangan, pusat-pusat pemerintahan kerajaan umumnya menjadi target untuk dibumihanguskan, dan candi sebagai bangunan suci pun tak luput dari pengerusakan dan penghancuran selama perang berlangsung.

Senja perlahan turun ketika kami meninggalkan area Candi Gunung Wukir. Wajah-wajah lelah sekaligus puas terpancar. Dengan langkah kecil kami menuruni anak tangga. Batu-batu tua yang sunyi seolah masih menyimpan gema percakapan dan jejak rasa kagum dari perjalanan hari ini. Angin bergerak pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan, menutup eksplorasi hari ini dengan ketenangan yang sulit dijelaskan.

Bhaskoro berjalan sedikit di belakangku. Namun, aku seperti merasakan tatapannya sesekali mencuri pandang ke arahku.

“Di candi yang lahir sebelum kita mengenal waktu, Mas belajar bahwa yang bertahan bukan hanya batu, tapi juga rasa yang diam-diam tumbuh di perjalanan.”

Aku berhenti sejenak, menoleh dengan alis bertaut, tapi cepat kutepis gelenyar yang kembali menggelitik dengan gelengan kepala

“Perjalanan sejarah memang sering melahirkan kata-kata yang tak terduga,” ujarku melempar jawaban sekenanya.

“Tapi bener, lho. Dek Tantri memang pantas diberikan apresiasi sebagai penjaga cerita dan arah perjalanan.”

Aku hanya mengedikkan bahu, tak berniat menjawab lagi. Di belakang Zack tertinggal jauh, laki-laki itu seperti enggan meninggalkan lokasi. Kameranya masih tergantung di lehernya, bisa dijamin isinya penuh dengan dokumentasi hari ini, juga catatan tentang  detail arsitektur, lanskap sunyi, dan fragmen candi yang jarang disentuh perhatian banyak orang.

“Eksplorasi hari ini benar-benar lengkap. Setiap situs memberi perspektif baru. Gunung Wukir menutupnya dengan sangat elegan.” Samar aku mendengar Zack bergumam.

Saat menoleh tampak Ayesha berjalan mendekat pada Zack. Matanya berbinar, tangannya menyentuh lengan Zack dengan lembut.

“Melihatmu begitu tenggelam dalam cerita-cerita masa lalu, aku semakin yakin, aku mencintaimu, Zack.  Aku banyak belajar dari Cara berpikirmu, caramu menghargai sejarah.”

Zack tersenyum, menggenggam tangan Ayesha tanpa berkata apa-apa. Bahasa tubuh mereka berbicara lebih jujur daripada kalimat panjang.

Tiba di tempat parkir, bergegas kami masuk ke mobil, tidak ada yang protes ketika Bhaskoro mengatakan untuk langsung pulang. Mobil mulai melaju, Candi Gunung Wukir perlahan menjauh di belakang, tapi kesan yang ditinggalkannya justru menetap.

“Alhamdulillah perjalanan hari ini benar-benar seru,” ucapku.

“Puisi justru lahir dari perjalanan. Dan Dek Tantri … selalu jadi baris yang tak pernah selesai Mas baca.”

“Kadang, yang tak selesai justru yang paling sulit dilupakan. Perjalanan hari ini mungkin selesai, tapi ceritanya baru saja dimulai, karena masih ada esok yang episodenya berbeda.” Astaga kenapa aku jadi ikutan lempar kata-kata nggak jelas gini, sih? Pasti Bhaskoro berpikir aku kembali luluh pada rasa yang tak pernah benar-benar padam ini. Aku menghela napas panjang, lebih baik menutup mata pura-pura tidur daripada terpancing dengan ke-absurd-an mereka.

Perjalanan hari ini bukan sekadar perpindahan dari satu situs ke situs lain. Tapi merupakan rangkaian kekaguman, ketertarikan, cinta, dan kata-kata yang lahir di antara batu-batu tua. Sebuah catatan perjalanan yang akan terus hidup. Mungkin besok akan ada cerita baru, yang tak kalah menarik, lebih seru, lebih  menantang, atau bahkan lebih banyak menyimpan misteri.

Ananta Kama

9. Candi Gunungsari, Misteri Siwa di Puncak Bukit Sari 1. Perjalanan pada Tiga Masa yang Berbeda

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image