Home / Fiksi / Cerpen / Segenggam Derma Untuk Palestina

Segenggam Derma Untuk Palestina

Hope for Palestine

Ada air mata dengan segala campur aduk rasa, kala mengingat tanah yang diberkahi luluh begitu lantak. Lengan yang terbatas dalam mengulurkan suka cita, mendaras kesedihan dari dalam jiwa. Hanya kalimat-kalimat doa yang berharap menjadi pelipur lara bagi mereka yang tengah berduka.

Suara dentuman menjadi penyambut mereka di pagi hari, pemandangan di siang hari dan detak mendebarkan di sore dan malam hari.

Tak ada kata lekas usai dari para penindas keturunan kera.

Tentara-tentara pengecut itu, merangsek orang-orang yang lemah tak berdaya. Menindas ibu dan anak dengan senjata lengkap dikala semua tak bersiap.

“Jangan lelah dan bosan di barisan anak-anak berselendang malaikat. Jiwa raganya t’lah berjibaku dengan beban yang teramat berat. Tempat tinggal mereka t’lah rata dengan tanah dan orang tua mereka t’lah kembali ke haribaanNya.” Kata Ustaz Abdus Salam pada saat hendak memberikan donasi untuk Palestina.

“Di sini kita harus mendukung dengan sepenuh hati. Sebab, tatkala negeri kita merdeka, merekalah yang mengakui kita pertama kali dengan segenap rida. Ingatlah anak-anakku, kuatkanlah hati kita ‘tuk tetap membersamai mereka.” Sambung Ustaz Abdus Salam.

Ya, aku bersama Rifky, Fakar dan Hilmy memutuskan ikut bergabung ke barisan RIBAT Palestina, yaitu: Relawan Independen Bantuan Palestina yang didirikan oleh Ustaz Abdus Salam.

“Apakah dukungan kita akan berarti bagi mereka? Sementara apa yang kita beri jauh tak sebanding dengan kesedihan dan penderitaan mereka.” Tanyaku kepada Ustaz Abdus Salam.

“Jangan kau anggap bantuan kita sia-sia, Affan. Sekecil apapun bantuan yang kita berikan, itu sangat berarti bagi mereka” Jawab Ustaz Abdus Salam.

“ Tapi, bantuan yang kita berikan itu tak berdampak bagi kemerdekaan mereka, ustaz.” Aku menyanggah jawaban Ustaz Abdus Salam.

“Lantas, apa yang hendak kau kirim kesana, Affan?” Ucap Ustaz Abdus Salam bertanya balik.

“Apakah engkau hendak mengirim tentara? Apa kau punya tentara? Atau engkau hendak mengirim senjata? Punyakah kau senjata? Ataukah dirimu sendiri yang hendak berangkat kesana? Sudah punya bekal apa dirimu untuk pergi?” Tanya Ustaz Abdus Salam, yang pertanyaannya membuatku terhenyak.

Sambil sedikit gugup dengan kecamuk hati yang hebat, aku bertanya lagi kepada Ustaz Abdus Salam.

“Jadi, bagaimana bantuan kecil kita dapat berarti di mata mereka, ustaz?”

”Untuk saat ini, Affan. Lakukanlah yang mesti engkau lakukan. Nanti kau akan tahu sendiri.” Jawab Ustaz Abdus Salam.

Dari seberang jalan, Hilmy dan Fakar berlari menuju Ustaz Abdus Salam.

“Ustaz, persiapan sudah selesai. Kita tinggal berangkat.” Ujar Fakar yang sudah selesai packing logistik untuk Palestina.

“Oh, baiklah, Fakar. Syukron, ya?” Jawab Ustaz Abdus Salam.

“Mari kita bersiap untuk menunaikan amanah kita. Semoga apa yang kita lakukan menjadi berkah.” Lanjut Ustaz Abdus Salam.

“Aamiin…” serentak, aku, Hilmy dan Fakar menjawab.

Kami pun segera menuju kendaraan logistik yang sudah ditunggu oleh Rifky sebagai supirnya dan kami pun berangkat.

Berderu hati kami dengan haru tatkala membawa amanah untuk diberikan kepada mereka yang berada di tanah penuh berkah. Ini bukan sekadar pakaian, obat-obatan, selimut dan makanan. Melainkan ini adalah cinta dalam hati kami yang hendak dipersembahkan kepada mereka.

Di base camp penyalur bantuan, bendera Palestina berkibar menantang tirani zionis dan kebisuan dunia. Seberinda jiwa raga para relawan yang hendak berangkat ke Palestina, bersiap sigap tanpa beban.

“Assalamualaikum, Ustaz Bagir Faaz.” Sapa Ustaz Abdus Salam, kepada pimpinan penyalur bantuan untuk Palestina.

“Waalaikumussalam, Ustaz Abdus Salam. Masya Allah, tafadhol, tafadhol,” jawab Ustaz Bagir Faaz yang senang dengan kedatangan guru kita.”

“Bagaimana pengumpulan logistik bantuannya, ustaz?.” Tanya Ustaz Bagir Faaz kepada Ustaz Abdus Salam.

“Alhamdulillah, pengumpulan logistik sudah terpenuhi dan siap untuk dikirim.” Jawab Ustaz Abdus Salam.

“Dan, saya pun sudah membawa pasukan untuk ditempatkan di sini, mengganti saudara-saudara kita yang akan berangkat ke tanah jihad di Palestina.” Sambung Ustaz Abdus Salam kepada Ustaz Bagir Faaz.

“Masya Allah, ahsan, ahsan, Ustaz.” Jawab Ustaz Bagir Faaz dengan senang hati.

“Affan, Rifky, Fakar dan Hilmy, sekarang kalian akan membantu Ustaz Bagir Faaz di sini, ya. Tugas kalian adalah repacking logistik dan simpan ke gudang yang banyak mobil di sebelah kanan itu. Nanti mobil tersebut akan membawa logistik ke bandara. Itu semua adalah mobil-mobil pemerintah kita yang selalu support terhadap Palestina dan komunitas relawan seperti kita.” Kata Ustaz Abdus Salam kepada kami.

“Baik, Ustaz,” jawab kami serentak.

Ustaz Abdus Salam dan Ustaz Bagir Faaz adalah dua ustaz yang bersahabat. Mereka berkolaborasi dengan kompak di komunitas Ribat Palestina ini. Ustaz Abdus Salam bergerak mencari bantuan, sementara Ustaz Bagir Faaz berada di base camp sebagai pengatur logistik yang hendak dikirim ke Palestina. Ngomong-ngomong, base camp RIBAT ini sangat luas, tak hentinya kami takjub.

***

Enam bulan sudah kami berada di base camp Ribat dan selama itulah aku baru mengerti apa yang dimaksud oleh Ustaz Abdus Salam. Aku sempat mendengar dua pidato dari pemimpin Hamas. Pidato pertama yang isinya:

“Wahai muslim seluruh dunia. Biarlah kami yang berperang melawan penjajah zionis. Biarlah kami yang ikut luluh lantak bersama puing-puing bangunan yang telah runtuh. Akan tetapi, jika kalian ingin membantu, bantulah saudara kami yang tak berdaya dan tak bersenjata. Bantulah wanita-wanita dan anak-anak kami. Jika kalian ingin menjaga, jagalah anak-anak kami agar menjadi generasi penerus perjuangan kami. Allahu Akbar!” Tegas pimpinan Hamas Al-Qassam.

Mendengar isi pidato tersebut, jiwaku bergetar dalam waktu yang lama. Sebab, cukup mereka saja, pasukan Hamas yang maju. Bukan karena tak butuh bantuan militer dunia, melainkan mereka punya alasan tersendiri. Alasannya ada di pidato kedua yang isinya:

“Wahai dunia, khususnya dunia Islam dimanapun berada, janganlah kalian kirim pasukan yang belum terlatih untuk membantu kami. Yaitu, yang belum terlatih untuk salat wajib diawal waktu, yang belum terlatih untuk membaca Al-Qur’an setiap hari, yang belum terlatih untuk salat qiyamul lail setiap malam, yang belum terlatih menjadi hafiz Qur’an 30 juz, yang belum terlatih untuk puasa sunnah nabi Muhammad dan yang belum terlatih untuk siap mati syahid di tengah peperangan. Bila sudah ada pasukan yang terlatih seperti kami maksud, silakan kirim untuk membantu kami. Namun, bila belum ada, simpan saja pasukan kalian untuk menjaga negara kalian masing-masing. Sebab, kami tidak membutuhkan pasukan yang bermental lemah!”

Begitulah isi pidato yang kedua. Ini membuat jantungku berdegup sangat kencang dan merinding di sekujur tubuh. Ya, aku baru paham, cukup hanya bantuan logistik saja, mereka sudah senang dan mereka merasa tak sendirian dalam memperjuangkan tanah mereka.

Pasukan Hamas, bukannya tak butuh bantuan. Melainkan, kuaaalifikasinya cukup berat. Lihatlah jaman sekarang, sangat jarang umat Islam di seluruh dunia berpegang teguh pada agama dengan benar, karena sudah terkontaminasi oleh duniawi dan ingatlah juga, satu pasukan Hamas berbanding sepuluh pasukan penjajah. Itu membuktikan mental perjuangannya sudah sangat jauh berbeda.

Pasukan militer di seluruh dunia saja, dilarang untuk membantu maju ke medan pertempuran, apalagi diriku yang tidak mempunyai bekal apapun. Cukup logistik saja, maka mereka merasa diakui keberadaan negerinya dan cukup logistik saja yang datang agar mereka mampu bertahan hidup.

Semoga derma kami yang setitik lautan ini, menjadi nilai yang berharga bagi mereka dan semoga pidato dari pemimpin Hamas menjadi peringatan untuk negeri kita, agar mempersiapkan pasukannya dengan sebaik mungkin.

Cimahi, 5 Mei 2025

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image