Home / Genre / Chicklit / 10. Perburuan

10. Perburuan

MERAJUT MASA SILAM
2
This entry is part 12 of 34 in the series Merajut Masa Silam

“Meleset, sobat!”

Arya Daringin mengutuk pelan ketika rusa yang beruntung itu berlari menyelamatkan nyawanya setelah anak panah yang dilepaskannya meleset.

“Kamu tidak fokus. Apakah kamu baik-baik saja, Dar?”

Daringin tidak menjawab saat Jaka memacu kudanya ke arahnya. Jaka melepas topinya dan membersihkan butir air embun dengan satu jari. 

Jaka adalah salah satu dari sedikit temannya. Kebanyakan yang dia kenal hanyalah pelayan dan pengawal, dan Jaka adalah pengawalnya yang paling setia. 

Jaka lebih tua sembilan tahun darinya dan mereka biasa berburu kijang di pagi hari seperti ini.

Arya menganggap semua lelaki yang bekerja dengannya sebagai teman. Dia dan Arya tumbuh bersama, jadi Jaka tidak menyebutnya dengan “Gusti Pangeran’ atau ‘Yang Mulia’. Meskipun semua pelayan dan pengawal tunduk pada perintahnya, dia merasa lebih nyaman saat mereka memanggilnya dengan nama saja tanpa embel-embel, meski pada kesempatan di mana ada begitu banyak orang, mereka memanggilnya dengan gelar resmi.

“Apa yang mengganggumu?” Jaka bertanya.

“Aku lelah,” jawabnya  akhirnya.

“Dengan pernikahanmu,” Jaka melengkapi pernyataannya dan Arya mengangguk.

“Aku merasa sangat lelah tinggal di bawah atap yang sama dengan… dengan wanita jalang yang tidak tahu berterima kasih itu!”

“Ayahmu akan membunuhmu jika kamu menceraikannya begitu cepat, tahu?”

“Aku tahu dan itulah sebabnya aku sudah lama mencoba bertahan dengannya.”

Arya menggelengkan kepalanya dengan frustrasi. Dia tahu dia tidak punya pilihan selain menunggu sampai acara penobatannya sebagai pengganti Sultan, tapi rasanya dia tidak bisa menunggu upacara bodoh itu lebih lama lagi. Dia hanya ingin bebas!

“Kamu tahu kalian berdua tidak pernah menginginkan pernikahan ini, kan?”

“Ya! Tapi jika dia punya otak sama sekali, seharusnya dia yang berysaha, bukan dia membuat keadaan menjadi lebih buruk untuk dirinya sendiri dan orang-orangnya! Dia sepertinya lupa bahwa akhir dari pernikahan berarti mereka harus harus pindah dari sini. Dia sangat egois dan menurutku dia tidak punya otak sama sekali.”

Jaka menghela napas dan kemudian tersenyum.

“Keti membuatmu bahagia bukan? Cobalah dan bahagiakan dia sampai selesai acara dan kamu bisa memberi tahu Baginda Sultan bahwa kamu ingin menceraikan garwa padmi-mu.”

Arya Daringin tersenyum-senyum membayangkan Keti. Bukit kembarnya yang lembut dan kulitnya yang halus mulus berhasil menegakkan keperkasaannya sebagai seorang pria dan calon Sultan. Keti berhasil mengalihkan pikirannya yang terganggu oleh perkawinan yang tak dinginkannya itu.

“Aha, kamu tersenyum,” goda Jaka, tapi Arya Daringin mengabaikannya. 

“Apakah kamu tahu apa yang lucu dari semua ini?” Jaka bertanya, dijawab Arya Daringin dengan gelengan kepala..

“Baginda Sultan memaksamu menikah agar kamu bisa bersama satu wanita, tapi sekarang kamu dengan banyak wanita.”

“Lusi hanya satu kali,” bantah Arya Daringin sambil mengingat-ingat nama-nama wanita yang telah menghabiskan waktu bersamanya sejak dia menikah dengan Ghea. “Dan sebenarnya bukan dengan banyak wanita, hanya satu wanita tiap kali. Ningrum, Dinah, Layung, dan sekarang Keti. Aku sebenarnya sudah mencoba untuk setia, kan?”

Jaka tertawa kecil. “Oh ya, dan nanti semua gadis di sini sudah pernah merasakan pangeran.”

“Ramanda tidak ingin aku ikut campur di istana untuk saat ini. Dia tidak ingin aku terganggu oleh tanggung jawab apa pun. Dia ingin aku berusaha agar pernikahanku berhasil dan memberikan keturunan. Aku tak ingin mati karena bosan dan pernikahan yang tak berguna. Kamu tahu, aku benci gadis itu! Aku sangat membencinya sampai-sampai aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.”

“Sayang sekali. Padahal kalian sebenarnya pasangan yang serasi. Mungkin harusnya belajar untuk tiak saling membenci terlebih dulu.”

“Tidak, tidak! Aku bahkan tidak ingin berbicara tentang pernikahan kami. Bahkan rakyatnya sendiri membenci dia. Dia sangat egois dan sangat jahat pada semua orang. Siapa yang mau bersama perempuan seperti itu! Wataknya keras dan sangat kaku, dan dia tidak bergaul dengan siapa pun. Dia membuatku gila!”

Arya Daringin menggelengkan kepala dengan kesal. Rahangnya terkatup rapat saat mengingat apa yang terjadi saat sarapan kemarin. Cara Ghea menatapnya dengan kagum seolah-olah dia baru pertama kali melihatnya membuat perutnya mual dan dia semakin membenci istrinya.

“Dia melihatmu tadi malam,” kata Jaka pelan.

Arya Daringin mengerutkan kening. “Saat aku bersama Keti?”

Jaka mengangguk.

“Yah, ada baiknya dia tahu dia bukan satu-satunya yang selingkuh dalam pernikahan ini!”

Jaka tertawa kecil.

Memikirkan Keti membuat Arya Daringin menjadi bersemangat dan ingin menemuinya. Setidaknya untuk menghapus bayangan tentang cara Ghea menatapnya kemarin. 

Kami tidak pernah saling menatap. Belum lagi saat kami akan menikah. Kami berusaha sebisa mungkin untuk menghindari satu sama lain.

Lalu dia teringat malam pertamanya dengan Ghea. Dia belum pernah dipermalukan seperti itu seumur hidupnya. 

Seharusnya Ghea sadar bahwa aku tidak menyukainya sama seperti dia tidak menyukaiku. 

Kami telah pergi ke kamar yang seharusnya kami bagi, karena kepura-puraan dan saya tidak akan pernah bisa melupakan hal berikutnya yang dia katakan.

“Hanya karena kita menikah hari ini tidak menjadikanku istrimu. Kamu tidak akan pernah bisa menyentuhku, kamu tidak akan pernah bisa berbicara denganku. Aku membencimu, aku tidak mencintaimu. Dan aku tak menginginkanmu juga. Jadi lakukan apa yang kamu dan aku akan melakukan apa yang aku suka. Jangan menghalangi jalanku.Karena ini malam pengantin dan mungkin kamu butuh pelampiasan, pergilah dan cari pelacur dan ini akan terakhir kalinya kita berbicara satu sama lain!”

Tangan Arya Daringin mengepal saat dia teringat betapa inginnya dia menampar Ghea malam itu. 

Dia pikir aku menginginkannya. Siapa yang menginginkan perempuan gedebok pisang? Beraninya dia berbicara padaku seperti itu. Dia tahu reputasiku. Dia tahu bagaimana para gadis dan randa bagai berenang di sekitarku. Dia pikir dia siapa? 

Itu adalah terakhir kalinya mereka berbicara, saling memandang atau berada dalam kamar yang sama. Sampai kemarin ketika Ghea menatapnya. Dia tidak bisa melupakan mata itu, matan yang tampak begitu akrab namun sekaligus asing. Mata yang dilihatnya di malam pernikahan penuh kebencian, sangat berbeda dengan sepasang mata yang dilihatnya kemarin. Sungguh benar-benar berbeda. Tapi dia telah melihat mata itu sebelumnya..

Mata itu adalah mata yang sama yang menghantuinya dalam mimpi. Wanita berbaju putih. Wanita di cermin.

Bagaimana bisa wanita di cermin menjadi istrinya yang jahat?

“Aaargh!” teriaknya frustasi.

“Jaka, pulanglah. Aku akan menyusulmu nanti.Aku harus membuang semua perasaan kesal yang ada dalam diriku. Aku akan ke tempat Keti!” Arya Daringin berteriak dan memacu kudanya menjauh, meninggalkan Jaka di belakang.

***

Seperti inilah perasaan seorang pemburu mengintai mangsa.

Ghea merasakan sensasi yang menyenangkan. Kalaupun bukan untuk Ghea, setidaknya untuk Lastri. 

Gadis itu memberi Ghea lebih banyak informasi daripada yang dia butuhkan, dengan cara Lastri mendapatkan infonya. Dia heran mengapa Lastri tidak berakhir tidur dengan pria malang itu, meskipun di lehernya terlihat bekas cupang. 

Lastri bilang dia belum pernah merasa kegembiraan seperti itu. Tentu saja, lelaki sial itu tidak tahu dia sedang dimanfaatkan. Dia bahkan tidak berpikir lama untuk melepaskan kata-kata itu keluar setiap kali Lastri bertanya. Ketika sedang kasmaran, Ghea yakin seorang lelaki mampu melupakan ibunya saat itu.

Dia mendapatkan daftar gundik suaminya dan yang pertama adalah seorang perempuan bernama Keti.

Mendapatkan alamatnya mudah saja, yang diperlukan hanyalah bertanya pada sais kereta yang membawa mereka tadi malam. Lastri mengenalnya. Kusir itu juga yang membawa Gusti Pangeran ke para pelacurnya dan terkadang membawa mereka juga.

Merajut Masa Silam

. Bingkisan Misterius 1. Ghea Baik, Ghea Jahat

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image