Langit sore kemerahan. Sedikit tersaput awan tipis kehitaman. Akan tetapi itu sudah cukup membuat hati Rama gulana. Kenanga secepat embusan angin melintas, membuatnya sesak dada.
“Aku kangen,” bisiknya dalam hati.
Sudah puluhan purnama pergi tanpa meninggalkan pesan. Menghilang begitu saja. Tapi tidak dalam kenangannya. Bahkan kenangan itu semakin pekat. Melambai-lambai setiap sore di depan matanya.
Sore-sore begini biasanya mereka duduk-duduk di tepian pantai menantikan lembayung jingga di ufuk barat. Langit yang merah keemasan selalu membuat hati keduanya tenang. Dapat melupakan dahsyatnya badai yang bertiup dari kedua orang tua Kenanga. Mereka tidak bisa menerima yang dinilai rendah.
“Mau makan apa kau? Cinta?”
Sampai ketika sore itu Kenanga mengajaknya ke pantai, seperti biasanya, tapi Rama tidak bisa datang. Seseorang senantiasa menghalangi langkahnya menuju senja di pantai berpasir lembut itu. Dan dia kehilangan Kenanga berbilang puluhan purnama. Sampai sekarang. Di dalam hatinya berkeyakinan Kenanga pasti datang menghapus kenangan yang selalu ia simpan.
Orang-orang yang melihat sore ketika Kenanga menghilang bilang, dia berjalan lurus ke tengah laut yang sedang gemuruh. Terus berjalan sampai ke batas cakrawala.
Rama tidak tahu cerita itu, tetapi dia percaya Kenanga akan kembali. Bukan sekadar kenangannya.
Jkt, 050525











