Usianya mungkin awal lima puluhan. Tubuhnya kurus lemah dengan topi yang terlihat lucu. Sebatang rokok kawung yang tidak menyala terselip di sudut bibirnya yang berkumis.
Dia hendak menyalakannya ketika Ghea dan Lastri sampai ke kereta.
Ghea membiarkan Lastri berbicara dengannya sementara dia berdiri di belakangnya.
Pria malang itu bingung dan tampak ketakutan. Ghea mengira dirinya yang dulu tidak pernah berbicara dengannya, dan sekarang dia diminta untuk membawa Ratu ke rumah salah satu gundik Sultan!
Dia menatap Lastri. “Aku… aku rasa itu tidak mungkin.”
Ghea masih diam di belakang Lastri, mengipasi tubuhnya yang kepanasan dalam kebaya lengkap dengan korset yang dikenakannya. Dia hampir tidak bisa bernapas, tapi tentu saja dia harus membiasakan diri.
Mendengarkan Lastri gagal membujuk sais kereta, akhirnya dia maju menyela.
“Lihat, Mang! Apakah kamu tahu siapa aku?”
Lelaki itu akhirnya memperhatikan Ghea dan menganggukkan kepalanya dengan cepat, meletakkan kotak korek api di sampingnya.
“Kamu lahir dan besar di sini?”
Sais menelan ludah menelan dan menggelengkan kepalanya.
“Saya datang ke sini bersama yang lain.”
“Itu berarti kamu adalah salah satu dari orang-orangku.”
Dia tidak mengatakan apa-apa, jadi Ghea menganggap jawabannya adalah ‘ya’.
“Kamu telah membawa suamiku ke pelacurnya! Tahukah kamu apa yang terjadi jika pernikahan kami tidak berhasil? Tahukah kamu bahwa kamu dan keluargamu akan berjalan tanpa alas kaki ke luar dari wilayah ini. Apakah itu yang kamu mau?”
Ghea memperhatikan wajah kusir yang keriput terhenyak dan kepalanya tertunduk. Ghea berjalan mendekat dan mengambil korek api dan menyalakannya.
“Tolonglah. Aku ingin perkawinan ini bertahan. Aku ingin pernikahanku berhasil, supaya kamu dan keluargamu bisa tinggal di sini selamanya. Maukah kamu membantuku? Aku berjanji suamiku tudak akan tahu jika kamu tidak memberitahunya sendiri,” kata Ghea sambil memegang pundak sais untuk meyakinkan.
Lalu dia membungkuk sedikit lebih dekat. Sais itu menegang ketakutan saat nyala korek api mendekat, membakar ujung rokok kawung yang terselip di bibirnya. Lalu Ghea meniup korek api hingga padam.
Barulah sais menghela napas lega. Mungkin tadi dia mengira Ghea hendak membakar kumisnya yang jarang-jarang mirip kumis kucing.
“Selain itu, kalau kamu membawaku ke setiap gundiknya ketika aku memintamu, aku akan me.bayarmu dua kali lipat daripada yang diberikan suamiku. “
Mata kusir kereta membelalak. Lastri maju sambil berkacak pinggang. “Apa kamu masih enggan memenuhi permintaan Gusti Putri, hah?”
Sebagai jawabannya adalah kepulan asap tebal ke muka Lastri sehingga gadis itu terbatuk-batuk.
***
Arya Daringin belum ada di sana. Lastri mendapat informasi waktu kemungkinan dia akan berada di tempat perempuan-perempuan itu. Informasi lengkap tentang kapan dan berapa lama suami Ghea menghabiskan waktunya dengan masing-masing mereka. Dia akan segera datang, jadi Ghea harus bergegas.
Ghea memberi tahu Musri, sais untuk berhenti di belakang pondok, bukan di depan.
Ghea dan Lastri tidak mengetuk pintu, malah langsung mendorongnya hingga terpentang lebar.
Mereka menemukan seorang perempuan yang terkejut, duduk di atas tikar, menyalakan salah satu lilin yang dia tempatkan dengan di sekitar piring di atas meja.
Ghea tahu itulah perempuan selingkuhan suaminya. Segala sesuatu tentang pesonanya menguar. Rambut merahnya tergerai di bahunya, hidung dan rahang runcing, mata hijau dan bibir penuh erwarna merah sirih.
Kemben batik yang dikenakannya tidak meninggalkan banyak imajinasi. Payudaranya terbuka.
“Oh, oh, oh. Ada yang sedang bersiap-siap untuk mengumbar birahi di sore hari,” desis Lastri.
Perempuan itu berdiri dengan marah, tidak berusaha menutupi dadanya yang terbuka.
“Siapa kalian ini? Berani-beraninya kalian menerobos masuk ke dalam rumahku seperti itu tanpa unggah-ungguh seperti bajul, tidak tahu tata krama! Keluar sekarang juga!”
Pada saat itu, Ghea masih memikirkan cara terbaik untuk menghadapi perempuan itu.
Ghea baik atau Ghea jahat? Keduanya sedang berebut peran di benaknya.
“Jawab! Aku tanya siapa kalian!”
Wow! Galak. Aku suka.Baiklah, Ghea jahat!
Ghea bergerak mendekati perempuan yang bernama Keti itu sambil terus mengipasi dirinya dengan kipas besar yang terbuat dari kayu harum cendana. Lasti ikut beredar di sekelilingnya dan Keti menatap mereka berdua dengan amarah membara.
“Siapa kalian? Berani-beraninya masuk ke sini tanpa diundang,” Keti kembali bertanya.
Ghea berhenti tepat di depannya dan mengangkat kepalanya agar Keti bisa melihat wajahnya dengan jelas.
“Aku Raden Ayu Angghea Hayuwening dan kamu…,” Ghea menudingkan kipasnya ke wajah Keti, “…adalah perempuan kotor dan busuk.”
Wajah perempuan di depannya mendadak pucat seputih mayat. Bola matanya membelalak seperti melihat hantu.
Syukurlah, dia mengenali nama itu.
“Semua ini untuk suamiku, kan?” Ghea bertanya sambil memberi isyarat ke pakaiannya dan Keti melihat ke bawah dengan pipi merah jambu karena malu.
“Apakah kamu salah satu dari orang-orangku?”
Ghea bertanya, tetapi yang ditanya diam seribu bahasa tak bersuara.
“Karena jika kamu berasal dari seberang dan bermain-main dengan suamiku, maka kamu tahu apa yang dipertaruhkan. Kamu tahu apa yang akan dilakukan Sultan kepadamu jika Baginda Sultan mengetahui bahwa kamu adalah salah satu dari orang-orang yang menghancurkan pernikahan putranya denganku, dan bahwa kamu bahkan bukan salah satu dari rakyatnya sendiri.”
Keti masih diam membisu seribu bahasa.
“Dan jika kamu bukan salah satu orangku, kamu tahu apa yang bisa aku lakukan karena telah berani merusak rumah tanggaku. Aku akan mulai dengan keluargamu terlebih dahulu….”
Barulah perempuan itu menatap ke mata Keti dengan melotot dan bibir bawahnya pucat gemetar ketakutan.
“Aku akan menyakiti mereka semua, semua anggota keluargamu dari cindil abang sampai yang sudah bau tanah kuburan, sebelum kamu menghancurkan pernikahanku. Jika kamu mencoba lari, aku akan mengirim orang untuk mengejar dn menghabisimu. Jika kamu memberi tahu suamiku, aku akan menyangkalnya dan mengirim orang untuk membunuhmu. Aku yakin kamu pernah mendengar tentang Raden Ayu Angghea Hayuwening dan betapa kejamnya dia.”
Perempuan itu terkesiap. Dadanya naik turun.
Ghea membelai pipinya dengan ujung kipas.
“Jika aku adalah kamu, ketika dia datang, aku akan mengusirnya.”
Lalu Ghea mendekat padanya dan berbisik. “Aku akan mengawasimu dari jauh.”
Kemudian Ghea memberi isyarat kepada Lastri bahwa saatnya untuk pergi dan berharap dia membukakan pintu untuknya, Ghea menyadari Lastri menatapnya dengan ketakutan.
“Ayolah, Lastri! Bukan kamu yang tidur dengan suamiku, atau sudah pernah?”
“Untungnya belum, Ndoro Putri Ayu,” jawab Lastri buru-buru, saat mereka meninggalkan pondok Keti dan menutup pintu di belakangnya.
“Siapa yang berikutnya?“ tanya Ghea saat mereka di atas ke kereta.
Lastri mengeluarkan catatannya dan melihat sekilas. “Sarinten. Biasanya dia disambangi Pangeran ketika malam hari.”
“Kalau begitu, sebaiknya kita bergegas pulang dan memberi tahu juru masak keputren untuk menambahkan jatah makan malam. Ini akan menjadi acara makan malam yang sangat menarik.”










