Antuan si Hitam atau yang biasa disebut dengan nama Poseidon, pergi ke Venesia untuk bertemu sahabatnya, Alberto Barbarigo. Sementara pulau Rhodes, ia titipkan kepada adiknya, Enrico.
Poseidon hanya membawa 15 prajuritnya. Sementara, 78 prajurit yang lain bersama Enrico untuk menjaga pulau Rhodes, dengan berbagai posisi agar pertahanan pulau Rhodes terjaga dengan baik.
“Enrico, aku titipkan pulau ini kepadamu, dan aku tak akan mengampunimu walau hanya satu kesalahan saja,” titah Poseidon.
“Baik, Kakakku, Antuan yang terhormat.” Jawab Enrico.
“Kau harus waspada terhadap orang muslim yang hendak membalas dendam kepada kita. Terlebih, kepada saudara-saudara İlyas, apalagi, siapa namanya yang berada di kapal itu?”
“Oruç,” jawab Enrico.
“Ya, Oruç. Pasti ia sedang mencari kita. Waspadalah, Enrico. Mereka adalah pelaut yang suatu saat, mereka akan menemukan pulau ini.” Tegas Poseidon.
“Baik, Kak. Akan aku jaga pulau ini dengan sebaik mungkin. Aku pastikan pulau ini akan tetap sama sejak engkau pergi hingga engkau kembali lagi.” Jawab Enrico lagi dengan tegas.
“Bagus, bagus, Enrico. Pasukan, kita berangkat.” Lanjut, Poseidon.
Mereka berangkat dengan menggunakan kapal besar, berbendera hitam, bergambar tengkorak dan tulang.
Layar-layarnya pun berwarna hitam dengan kemudinya terukir tengkorak yang terbuat dari tulang manusia.
Adakah yang tahu, jika tulang-tulang itu adalah tulang dari umat Islam? Sejauh ini belum ada yang tahu. Sebab Poseidon melakukan pekerjaannya dengan sangat rapi dan sangat rahasia. Ya, pekerjaan Poseidon adalah membantai umat Islam lemah yang tak berguna, sementara umat Islam lemah yang punya keahlian dijadikan budak untuk kepentingannya.
Umat Islam yang sudah tertangkap oleh Poseidon hanya akan mendapatkan dua kemungkinan. Yaitu, menjadi budak yang tak pernah bebas lagi, atau mati karena keberadaannya tak dibutuhkan.
“Angin sedang bagus, buka layar depan untuk mempercepat laju kapal, ayo cepat!” Perintah Poseidon kepada anak buahnya.
“Baiklah, Tuan.” Jawab anak buahnya dengan siap sedia.
“Ingat! Jangan sampai Alberto Barbarigo menunggu kita terlalu lama. Dia adalah temanku yang terhormat, jadi kita harus cepat.” Instruksi Poseidon.
“Venesia, sudah 5 tahun aku tak kesana, akhirnya aku akan bertamu di tanahmu yang indah itu.” Lanjut Poseidon bergumam senang.
***
Sesampainya di Venesia, Poseidon disambut oleh ajudannya Alberto, Gabriel Alfonso.
“Selamat datang, Tuan. Silakan. Tuan Alberto Barbarigo sudah menunggumu di ruangan khususnya.” Kata Gabriel kepada Poseidon.
“Apa yang membuatku senang terhadap tuan-mu, Gabriel?” Tanya Poseidon.
“Karena dia tidak melupakan kawan lamanya, dan itu yang membuatku merasa terhormat.” Jawab Poseidon sendiri.
Di kediaman Barbarigo, sang kawan Poseidon itu, sudah mempersiapkan jamuan khusus. Daging buruan yang sudah dimasak setengah matang memenuhi meja jamuan, dan minuman anggur pun—minuman favorit bagi kerajaan Eropa, terpampang mewah melengkapi perjamuan khusus.
Sesampainya disana—di kediaman Barbarigo, Poseidon disambut dengan hangat oleh sahabatnya itu.
“Antuan si Hitam, akhirnya kau datang juga.” Sambut Alberto.
“Aku tidak mungkin tidak datang atas undanganmu, Alberto Barbarigo.” Jawab Poseidon.
“Baiklah, Antuan. Mari kita makan-makan, menikmati hidangan yang luar biasa ini, sambil kita berbincang santai.”
Mereka berdua akhirnya menuju meja makan, sembari didatangkan pula sekelompok penari wanita penghibur dengan berpakaian seksi. Terlihat jelas, mereka berdua pun sangat menikmatinya.









