Sebuah kesaksian hidup pribadi yang penulis alami, penulis adalah seorang Kristen (bukan sejak lahir, melainkan) lewat jalur pertobatan. Medio akhir 1980-an, saat penulis masih berusia 10 tahunan, kami sekeluarga masih berada di server lain alias mengikuti kepercayaan lama. Rumah keluarga kami berada di bilangan Jakarta Barat masa itu. Di rumah kami berdiam suatu entitas dunia lain yang kerap pada malam Jumat atau hari tertentu merasuki asisten rumah tangga atau karyawan-karyawati di pabrik kue ayah penulis. Konon, agar penghuni dunia lain itu tidak berulah alias mengamuk, ayah saya memberikan sesajen berupa lisong/cerutu, kopi, hingga bunga tujuh rupa. Pernah juga kamar masa kecil penulis tiba-tiba dipenuhi bau busuk, seperti ada bangkai hewan atau semacamnya, namun ketika dicari ternyata tidak ada. Udara juga sangat panas dan berat meskipun ada AC. Penulis, yang sejak TK sudah bersekolah di sekolah Kristen dan kurang mengenal ajaran agama semula, menyanyikan lagu-lagu rohani untuk menguatkan diri serta syukur-syukur bisa mengusir. Sayangnya, saat itu masih belum berhasil sampai penulis harus mengungsi di kamar tidur ortu.
Semua ketakutan dan kekhawatiran itu berubah total sejak Tuhan hadir menyentakkan kegelapan dalam rumah kami. Seorang pendeta datang mengadakan sakramen pembersihan di seluruh rumah-pabrik sehingga rumah kami akhirnya bebas dari gangguan penghuni dunia lain. Sejak itu kami sekeluarga mengikuti jalan Tuhan. Tidak pernah ada lagi gangguan-gangguan gaib. Hingga saat ini kami percaya jika kuasa Tuhan kita jauh lebih besar daripada kuasa apapun, di bumi, di atas maupun di bawah bumi.
Akan tetapi penulis sempat mengalami masa-masa churchless alias tidak menjadi anggota gereja manapun karena hanya ortu saja yang sudah menjadi anggota di gereja kami selanjutnya. Bahkan sejak menikah di GKI (gereja suami), penulis tidak lagi dapat berbakti di gereja tersebut dikarenakan jarak yang cukup jauh. Penulis dan anak-anak sempat berbakti di gereja asal suami karena masih cukup dekat dengan rumah kami. Hanya saja, sejak pandemi Covid 2019-2022-an melanda, kami sempat bolos karena berbagai hal.
Untuk penulis pribadi, dalam masa-masa itu sempat mengalami yang mungkin bisa diumpamakan sebagai dark ages, atau lebih tepatnya dark years. Hidup dalam area abu-abu. Hidup baik dan nyaman, namun baik dan nyaman saja sepertinya belum cukup. Sepertinya ada yang kurang dalam hidup ini, tapi mau mulai ke gereja lagi seperti sebelum pandemi, kok enggan. Apalagi ada beberapa keraguan dalam hati, seperti apakah kami masih diterima setelah lama absen? Apakah masih ada yang peduli? Apakah bisa memulai dari nol lagi setelah lama jauh dari Tuhan? Dan sebagainya.
Hingga kurang-lebih setahunan yang lalu, atau lebih tepatnya September 2024. Di tengah pergumulan antara sesama yang memuncak, masalah-masalah kehidupan yang menggunung, penulis memutuskan untuk kembali kepada Tuhan. Membawa anak-anak kembali ke sekolah minggu meskipun lewat berbagai ujian dan tantangan, lalu bersama-sama suami kembali ke jalan yang benar. Kami ibarat anak-anak terhilang berjuang mencakar jalan pulang/kembali ke rumah bapa dalam perumpamaan Anak yang Hilang (Lukas 15:11-32). Berusaha keras hingga saat ini, perjuangan kami masih panjang. Namun kuasa Tuhan benar-benar nyata. Satu persatu masalah kami dijawab. Beban hidup terangkat, doa terjawab meskipun bukan ibarat sulap dalam sekejap.
Churchless bukan berarti Godless. Sedang jauh dari rumah-Nya bukan berarti Tuhan meninggalkan atau melupakan kita sebagai orang-orang percaya. Kita mungkin masih ‘betah’ berbuat dosa, sudah mengembara terlalu lama atau jauh dari-Nya, Ia tetap setia menunggu kita kembali. Kapanpun selama hidup, selama masih diberi kesempatan, sesungguhnya belum terlambat untuk kembali melangkah kembali ke rumah-Nya.
Apapun masalah Anda sekarang, siapkah Anda untuk kembali kepada-Nya?
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 28 Juli 2025











