Home / Topik / Wisata / 11. Prasasti Mantyasih

11. Prasasti Mantyasih

THE HIDDEN SITE OF TUIN VAN JAVA 1600X900
This entry is part 12 of 28 in the series The Hidden Site of Tuin van Java

Matahari pagi belum bersinar sempurna ketika ponsel Elaine menjerit keras. Pintu kamar yang sengaja tidak ditutup membuatku terganggu nada dering dengan irama EDM tersebut. Gadis itu menggeliat, meraba ponsel yang diletakkan di samping bantal kemudian mengusap layar dan menempelkan di telinga.

Sejurus kemudian Elaine terlonjak, duduk dengan sigap sambil mengucek mata yang masih terasa lengket. Dari percakapan yang sekilas kudengar, aku menebak si penelepon kemungkinan teman sesama jurnalis.

“Siapa?” tanyaku saat Elaine muncul sambil tersenyum-senyum.

“Ranmaru. Dia mengajak ketemu.”

“Hmmm.”

“Bagaimana menurut, Maman?” tanyanya sambil memelukku manja. Ah, anak ini masih manja untuk ukuran anak seusianya, mungkin karena sejak kecil tak mendapat kasih sayang ibu.

“Fais-le si tu veux,” jawabku melepas pelukannya. Sebaliknya kutatap matanya lekat, “Kamu menyukainya?”

“Mungkin ya, mungkin juga tidak,” jawabnya sambil mengedikkan bahu.

“Kenapa begitu?”

Elaine tidak menjawab, hanya mengembuskan napas panjang, tatapannya menerawang seakan menembus langit.

“Kamu masih mengingatnya?” tebakku. Elaine mengangguk ragu, menatap mataku dengan tajam seakan menelisik darimana aku bisa membaca isi pikirannya

“Kamu memang tidak pernah berkata pada sesiapa, bahkan kamu pura-pura lupa, pura-pura tidak peduli, dan pura-pura tidak merindu lagi. Tapi Allah tahu siapa yang kamu rindukan dalam diam. Allah tahu betapa rapatnya kamu menyimpan  rindu  yang kamu jaga agar tak seorangpun tahu dan kamu sembunyikan jauh di dasar hati yang paling dalam.”

“Maman benar,” desah Elaine. Aku mengusap punggungnya, “Susah untuk melupakan, meski dia sudah bersama orang lain.”

“Kita mengalami hal yang sama, susah melupakan orang yang kita cintai meski dia telah melukai hati kita.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?”

“Serahkan pada-Nya. Yakini jika memang dia untukmu, maka Allah akan menakdirkan temu. Karena rindu yang dititipan lewat doa selalu akan sampai pada pemiliknya. Bahkan sebelum kamu mengakuinya.”

“Seandainya tidak?” sela Elaine.

“Maka Allah akan hadirkan penggantinya yang lebih baik.”

“Menurut Maman, apakah Ranmaru adalah orang yang ditakdirkan untuk menggantikannya?”

“Kamu nggak akan tahu sebelum kamu mencari jawabannya sendiri.”

“Bagaimana caranya?”

“Cobalah membuka hati jika ada yang ingin mendekatimu.”

“Tapi mengapa Maman tidak berusaha membuka hati untuk ayahku? Bukankah Maman tahu jika Papa sangat mencintai Maman?” Pertanyaan Elaine seperti sebuah skak mat, mematikan jawabanku. Aku menghela napas panjang, bukan tidak berusaha tapi berulang kali mencoba aku gagal.

“J’essaie,” jawabku berusaha mengalihkan pembicaraan 

“Vraiment?” cecar Elaine

“Oui.”

Elaine memeluk erat, lalu menciumku, “Merci. Je t’aime.”

“Je t’aime aussi,” jawabku sambil menowel ujung hidung bangirnya.

Elaine tertawa, “Aku akan menelepon Ranmaru dan mengajaknya jalan bareng. Boleh, kan?”

“Boleh. Sekarang pergilah mandi dan bersiap. Bau, tau …,” godaku sambil menutup hidung. Elaine tergelak dan segera melesat ke kamar mandi.

***

Sebagai salah satu kota tua di Indonesia,  dalam rangka memperingati hari jadi ke-1119 pada tanggal 19 April 2025, peringatan hari jadi kota Magelang  juga dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk di pendopo Mantyasih. Pagelaran wayang yang dibawakan dengan apik oleh dalang Ki Hadi Sukirno tersebut mengusung lakon Galuh Pancer Ratu Tanah Jowo dan bintang tamu Mbak Asih membawakan lakon Gayuh Pancer Ratu Tanah Jowo,  sebuah cerita yang sarat makna tentang kepemimpinan dan keluhuran budi dalam tradisi Jawa.

Sesuai dengan makna lakon wayang malam itu, Damar Prasetyo–walikota Magelang yang hadir dalam acara tersebut mengungkapkan, sebagai seorang yang saat ini diamanahi memimpin Kota Magelang, dirinya merasa diingatkan oleh pesan luhur dari lakon tersebut. Selain itu menurut Damar kepemimpinan sejati bukan hanya tentang kedudukan, atau tentang kemenangan dari hasil proses pemilihan. Lebih dari itu, ini juga menyangkut tentang kelayakan batin, tentang integritas, pengabdian, dan kerendahan hati dalam menjalankan amanah.

Juga menurut Damar, lakon yang dibawakan kali ini bukan hanya hiburan, tapi cermin sekaligus pengingat bahwa dalam setiap peran kepemimpinan ada amanah besar yang tak boleh dilupakan.

Ranmaru lebih dulu tiba di Pendopo Mantyasih yang berada di tengah perkampungan warga yang cukup padat, tepatnya di Jalan Alibasah Sentot No.751, Kecamatan Magelang Tengah.  Dia menjelaskan tentang nama kampung yang sekarang dikenal dengan Meteseh, berada satu lokasi dengan cagar budaya Prasasti Mantyasih.

Elaine menyimak penjelasan Ranmaru dengan saksama, tapi gadis itu justru lebih fokus memandang Ranmaru yang sedang mengulas dengan gamblang. Aku tersenyum, syukurlah jika hatinya mulai terbuka untuk mengagumi orang lain. Semoga berawal dari kekaguman, akan hadir rasa yang lain.

“Meskipun sering diadakan pagelaran seni di pendopo Mantyasih, tapi tidak banyak yang mengetahui sejarah Prasasti Mantyasih, juga tidak banyak yang mengetahui mengapa peringatan hari jadi kota Magelang selalu diadakan pagelaran wayang di pendopo Mantyasih.” Ranmaru melanjutkan penjelasannya.

“Karena Kota Magelang mengawali sejarahnya sebagai desa perdikan Mantyasih.” Ranmaru menjawab pertanyaannya sendiri.

“Apakah kamu mengetahui sejarah prasasti Mantyasih?” pancingku.

“Yang aku tahu, Prasasti Mantyasih dikenal juga sebagai Prasasti Balitung atau Prasasti Tembaga Kedu, yaitu prasasti yang berangka tahun 907 M, dan berasal dari Wangsa Sanjaya, kerajaan Mataram Kuno,” jawab Ran, panggilan yang diberikan Elaine untuk laki-laki blasteran Jawa dan Jepang itu. Elaine mengangguk, meski terlihat merekam penjelasan Ran, tapi matanya menatap lekat pada laki-laki berkacamata minus itu.

Menyadari Elaine memperhatikan, Ran salah tingkah, wajahnya memerah.

“Something wrong with my face?” tanya Ran  sambil menunjuk wajahnya sendiri. Elaine gelagapan tertangkap basah memperhatikan Ran, dia menggeleng gugup.

“No, just lanjutkan.”

“Raja Kerajaan Mataram Kuno, Dyah Balitung yang memerintah pada tahun 899-91 M mengeluarkan Prasasti Mantyasih pada tahun 829 saka atau 907 Massehi. Karena itu, prasasti ini sering disebut sebagai Prasasti Balitung atau Prasasti Kedu. Sedangkan kata “Mantyasih” sendiri dapat diartikan beriman dalam cinta kasih.”

“Apa isi prasasti Mantyasih?” tanya Elaine

“Prasasti Mantyasih memuat daftar silsilah raja-raja Mataram sebelum Raja Balitung. Konon Prasasti ini dibuat sebagai upaya melegitimasi Raja Balitung sebagai pewaris tahta yang sah, sehingga menyebutkan raja-raja sebelumnya yang berdaulat penuh atas wilayah Kerajaan Medang. Dalam prasasti tersebut juga disebutkan bahwa desa Mantyasih ditetapkan sebagai desa sima atau daerah bebas pajak. Bukti penetapan tersebut bisa ditemukan di kampung Meteseh ini.”

Ran menunjuk sebuah lumpang batu, yang diyakini sebagai tempat upacara penetapan sima atau desa perdikan, “Selain itu dalam prasasti juga disebutkan pula tentang keberadaan Gunung Susundara dan Wukir Sumbing yang kelak dikenal sebagai Gunung Sindoro dan Sumbing.”

“Setelah menjadi raja, Dyah Balitung memakai gelar Rakai Watukura Dyah Balitung Sri Dharmmodaya Mahasambhu. Meskipun  Raja Balitung bukanlah pewaris tahta Mataram, tapi saat itu kerajaan Mataram Kuno memiliki wilayah kekuasaan yang cukup luas dan subur. Bentang lahan wilayah meliputi berbagai lembah dan sungai di celah-celah gunung berapi yang ada di bagian tengah dan timur Pulau Jawa.” Ran melanjutkan paparannya.

“Jika Raja Balitung bukan pewaris tahta, lalu bagaimana dia bisa menjadi raja?” Pertanyaan kritis Elaine cukup cerdas dan masuk akal.

“Raja Balitung mewarisi tahta kerajaan karena menikah dengan putri penguasa Mataram Kuno sebelumnya, yaitu Rakai Watuhumalang. Sebelum menikahi putri raja, Balitung adalah rakai atau pemimpin dari daerah Watukura, yang bergelar haji atau raja bawahan. Untuk melegitimasi kedudukannya sebagai raja Kerajaan Mataram Kuno, Raja Balitung memerintahkan pembuatan Prasasti Mantyasih untuk mengetahui silsilah raja-raja Mataram sebelum Raja Balitung.”

“Dimana bisa melihat isi prasasti Mantyasih?” cecar Elaine.

Ran menunjuk ke arah batu bertuliskan aksara  Jawa Kuno, ” Ini adalah isi prasasti.”

Elaine menggeleng dengan alis bertaut. Ran tertawa. “Isinya kurang lebih tentang Daftar silsilah raja Mataram Kuno sebelum Dyah Balitung. Juga memuat informasi bahwa Desa Mantyasih ditetapkan oleh Raja Balitung sebagai desa yang bebas pajak. Serta kisah pemberian hadiah tanah oleh Raja Balitung kepada lima patihnya yang berjasa bagi kerajaan.”

Aku mencoba melihat lebih dekat, meski tidak yakin dengan kemampuanku membaca aksara Jawa kuno, tapi kurang lebih aku bisa menafsirkan bahwa hal yang tercantum dalam prasasti merupakan syarat wajib yang harus dipenuhi. Oleh sebab itu, pada prasasti ini hanya dicantumkan nama raja yang berdaulat penuh atas seluruh wilayah kerajaan.

Ada sembilan nama raja yang disebut pada Prasasti Mantyasih, dimulai dari pendiri Kerajaan Mataram Kuno yang berasal dari Dinasti Sanjaya, hingga Dyah Balitung, yaitu :

1. Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya Sri  
2. Maharaja Rakai Panangkaran Sri Maharaja
3. Rakai Panunggalan Sri Maharaja
4. Rakai Warak Sri Maharaja
5. Rakai Garung Sri Maharaja
6. Rakai Pikatan Sri Maharaja
7. Rakai Kayuwangi Sri Maharaja
8. Rakai Watuhumalang Sri Maharaja
9. Rakai Watukura Dyah Balitung

The Hidden Site of Tuin van Java

0. Makam Tersembunyi di TKL ECO Park 2. Kampung Tulung

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image