Istilah dalam Bahasa Jepang hikikomori secara bebas diartikan ‘hidup mengasingkan diri (nyaris) tanpa keinginan bersosialisasi’ dengan dunia luar bahkan anggota keluarga sendiri pada zaman now semakin booming dan meresahkan. Bukan hanya di Jepang, China atau Korea Selatan saja, fenomena ini bahkan sudah mencapai Singapura dan Indonesia. Kebanyakan dialami oleh para praremaja usia 12-13 hingga 15 tahun dengan berbagai sebab, masalah ini tidak dapat hanya dipandang sebagai masalah kesehatan mental atau gejala perubahan normal dari anak-anak menuju dewasa. Dipandang sebagai salah satu akibat adanya bullying hingga keputusasaan mencari kerja, hikikomori seringkali menyebabkan banyak hal miris dan ironis sekaligus tragis: terputusnya komunikasi dengan orangtua, saudara dan teman-teman, berhenti sekolah-kuliah, bahkan dialami pula oleh usia dewasa. Penarikan diri yang ditandai dengan mengurung (mengunci diri) dalam kamar, tidak mau berbicara atau menjawab pertanyaan, malas makan-minum dan atau mandi-merawat diri, hingga waktunya habis terpaku pada gawai/dunia maya yang dianggap lebih menerima dirinya (dimana ia bebas menjadi siapa saja yang diinginkan).
Sebagai Orang-orang Percaya, kita mungkin merasa jauh dari fenomena hikikomori ini. Kita rajin bersekutu di Rumah Tuhan, sering berdoa bersama, hingga terlibat aktif dengan saudara-saudara seiman. Mungkin jauh sekali, sangat kecil probabilitasnya apalagi sempat terpikirkan. Akan tetapi kita tak dapat memungkiri fakta jika bisa saja ada seseorang di sekitar kita mengalaminya. Bagaimana kita berusaha mencegah diri sendiri hingga anggota keluarga kita (terutama anak-anak) agar tidak terjebak dalam hikikomori?
- Berusahalah mencari afirmasi hingga motivasi diri dari Alkitab (Firman Tuhan), bukan dari yang lain/kata orang lain! (media sosial, komentar teman hingga netizen, dan lain-lain). Jadikan Firman-Nya dasar hidup kita. Hendaklah tidak mudah percaya analisis AI, abaikan juga cap atau stigma negatif ‘kamu begini-begitu!’. Mengapa? Yang tahu diri kita sepenuhnya adalah Pencipta kita. Kita memiliki tujuan indah serta kisah berbeda-beda. Berhentilah membandingkan diri dengan orang lain (misalnya ‘saya kurang beruntung, takdir saya buruk’ dan sebagainya.)
- Apakah Anda saat ini sedang dalam posisi ‘kesepian’? Banyak sekali manusia merasa alone in the crowd tanpa disadari oleh rekan-teman bahkan keluarganya. Mungkin kita sibuk dalam keseharian, banyak berkata-kata, akan tetapi suara hati luput didengarkan. Kita curhat panjang lebar kesana kemari, namun tak menemukan penyelesaian. Boleh saja sekarang ini sorangan wae alias alone, tapi jangan pernah feel lonely. Tuhan Yang Maha Ada selalu beserta kita, amini dan imani. Ke mana kita dapat pergi bersembunyi hingga melarikan diri? Tidak ada satu tempatpun tak terjangkau oleh-Nya. Berdoalah kepada Tuhan kita yang Maha Mendengar itu.
- Apabila Anda telanjur terperosok atau tergoda pada hikikomori, sebelum menutup rapat pintu kamar untuk ‘bertapa’ memutus hubungan dengan dunia luar, pikirkanlah sekali lagi. Dunia Anda belum berakhir. Dengan menutup diri, Anda merasa malas berbicara kepada manusia karena manusia tidak mengerti Anda. Akan tetapi Pencipta Anda sungguh mengasihi dan mengerti Anda. Masa lalu, dunia, bahkan teman-keluarga bisa saja mengecewakan, namun pengharapan di dalam Tuhan tidak pernah mengecewakan.
- Saat menutup diri, sang pelaku hikikomori barangkali merasakan kelegaan, ‘escape’ sesaat, terbebas dari dunia walau untuk sementara waktu. Namun mereka masih butuh kita, uluran tangan serta perhatian dan kesabaran. Tembok yang mereka bangun barangkali sukar dibongkar dengan kekuatan, hardikan apalagi paksaan. Tetaplah berdoa dengan setia agar Tuhan hadir, secara pribadi menjamah hati mereka.
Sebelum terjebak dalam lingkaran hikikomori atau tergoda ikut-ikutan karena kecewa atau bahkan karena FOMO, apapun pergumulan dan alasan, kita sebagai Orang-orang Percaya hendaklah mencari jawaban sejati dari Tuhan. Dengan dekat kepada-Nya, kita tak perlu merasa kesepian di tengah kesendirian. Ingatlah dalam kisah-kisah Alkitab, Musa, Daud hingga Elia juga pernah ‘lari’ hingga terjebak dalam pengasingan serta rasa kesepian. Tuhan hadir bagi mereka. Tuhan yang sama dulu sekarang dan selamanya juga ada untuk kita semua!
Semoga bermanfaat dan Tuhan memberkati.
Tangerang, 14 Juli 2026











