Home / Fiksi / Cerpen / Ciuman yang Terlewatkan

Ciuman yang Terlewatkan

Ciuman yang Terlewatkan
1

Elaine Lati mendorong kacamata hitamnya kembali ke hidung sebelum membuka kunci pintu salon perawatan anjingnya. Setelah memasukkan tas jinjingnya yang kebesaran ke bawah meja, dia meletakkan venti latte-nya di atasnya. Dia membutuhkan dosis kafein untuk menyelesaikan daftar tugasnya hari ini: menata rambut afro pudel kesayangannya dan berusaha untuk tidak mempermalukan dirinya sendiri di depan seorang anggota dewan. Lagi.

Mengerang, dia menepuk dahinya untuk keseratus kalinya. Tidak ada lagi kencan buta!

Apa yang awalnya merupakan malam yang sempurna di restoran lokal dengan seorang pria yang samar-samar tak asing, luar biasa tampan, dan menawan telah berubah menjadi rasa malu yang total.

Jelas tidak ada lagi kencan.

Diaa menarik napas. Aroma sampo aloe dan oatmeal membawanya kembali ke kehidupan pribadinya yang tenang. Ah. Tidak ada kamera. Tidak ada pers. Tidak ada pikiran tentang anggota dewan. Sungguh surgawi.

Kilas biru di luar jendela merusak momen zen-nya.

Oh tidak!

Mustahil. Rambutnya dipoles pomade sempurna. Setelan jas yang dirancang dengan indah. Sialan.

Dia merunduk di balik meja. Itu dia.

“Hei? Elaine?”

Elaine menjepitkan jari-jarinya di tepi meja dan berhasil menegakkan tubuhnya. Berani. Sopan. Tersenyum. Tidak lebih.

“Andika. Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu…”

“Secepat itu?” Suara bariton yang merdu dan senyumnya yang ramah menggetarkan jantung Elaine. Namun pengaruhnya terhadap Elaine kalah oleh sorotan mata publik yang mengikuti Andika setiap hari.

“Tidak pernah.”

“Aku mengerti.” Senyum cerah di wajah Andika memudar, digantikan oleh kedok diplomatis. Tidak ada kedutan atau kerutan emosi yang terlihat di wajahnya.

Kukunya menancap di meja.

“Bagaimana kamu menemukanku?”

“Aku punya teman.”

Elaine mengangkat alis.

“Di BIN.”

Elaine mendengus. “Kamu bercanda.”

Sambil mengangkat bahu, Andika menatapnya malu. “Serius.”

Tawa setengah gila lolos darinya sebelum Elaine menutup mulutnya dengan tangan. “Sudah beres. Aku tidak bisa melakukan ini.”

Andika melangkah ke arahnya, tatapannya semakin rentan. Pelindungnya retak.

“Kau tidak merasakan hubungan di antara kita?”

Oh, dia merasakannya. Tapi dia bahkan lebih merasakan betapa besarnya jabatan Andika.

“Bagaimana dengan perbedaan yang begitu besar? Pikirkan, Andika. Kamu loloskan undang-undang yang mengubah hidup, dan aku akan memberi Pomeranian model singa yang menakutkan.”

“Yang berlawanan saling menguatkan. Dan mereka saling tarik menarik.”

Kilatan menggoda di mata Andika membuat kupu-kupu di perutnya beterbangan.

Ketertarikan bukanlah masalahnya.

Tatapan Andika semakin intens ketika dia mengitari konter hingga sepatu Oxford-nya hanya beberapa inci dari sepatu merk Donatello Elaine.

Elaine mundur selangkah, tak membiarkan dirinya jatuh cinta lagi pada pria itu. Pertama kali dia terpikat, Elaine tidak tahu Andika punya kursi di Gedung Senayan. Setelah mengetahui kebenarannya, ia menyiramnya dengan sepiring penuh kentang goreng keju cabai dan setengah gelas soda ceri dalam usahanya untuk kabur.

“Kenapa kamu tidak memberitahuku siapa dirimu dari awal?”

Andika mendesah. Tameng diplomatiknya lenyap.

“Bisakah kamu menyalahkan seorang pria karena menginginkan kencan normal? Kencan di mana aku tak perlu mempertanyakan apakah wanita di seberang meja lebih peduli pada agenda politik daripada aku?”

Oh. Dan Elaine pikir hanya dia yang mempertaruhkan hatinya. Andika juga mengambil risiko padanya.

Elaine menggoyangkan Donatello-nya lebih dekat. “Aku tidak punya agenda.”

“Tidak?” Ibu jari Andika membelai pipinya. Tatapannya mengamati setiap sentimeter wajahnya.

Percikan yang dia rasakan tadi malam kembali menyala. Elaine mencondongkan tubuh, menempelkan telapak tangannya ke jas Andika.

Napas Andika menggelitik dagunya sesaat sebelum bibirnya menyentuh bibir Elaine. Lembut pada awalnya, ragu-ragu. Namun, ketika telapak tangan Elaine menjelajah detak jantung Andika yang berdebar kencang, energi ciumannya mengalir deras di pembuluh darahnya.

Andika mencondongkan tubuh ke belakang, memutus kontak. Tangannya menangkup wajah Elaine sementara matanya menatap tajam ke arah wanita itu.

“Apa yang menghalangimu?”

“Aku takut terekspos seperti ini. Aku tidak paham politik apa pun. Aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri dan dirimu. Bagaimana jika sesuatu yang kulakukan atau kukatakan membuatku kehilangan klien? Atau merusak kariermu?”

Elaine bergidik.

“Kita bisa pelan-pelan saja. Pilih dan tentukan acaranya. Timku dan aku bisa mempersiapkanmu untuk setiap acara: siapa yang akan kau temui, topik yang aman untuk dibicarakan, dan bagaimana menghindari pertanyaan dari pers.”

Andika begitu percaya diri. Terorganisir. Sekeras batu karang di bawah tekanan.

Tapi Elaine tetaplah gadis canggung kelas dunia. “Aku akan membuat kesalahan.”

“Mungkin. Tapi kurasa kamu akan memikat semua orang seperti kamu memikatku.”

Kehangatan di mata Andika menggenang di dadanya. Andika percaya padanya, dan Elaine tak bisa menyangkal secuil hatinya ingin mencoba.

Ia berjinjit, menatap lurus ke arah mata Andika.

“Oke, kita pelan-pelan saja.”

“Kamu yang atur temponya.”

“Pasti.”

Dia melingkarkan lengannya di leher Andika dan menempelkan bibirnya ke bibir pria itu.

Tangan Andika menelusuri punggungnya hingga ke pinggangnya, menariknya lebih dekat saat Andika memperdalam ciuman. Erangan kecil yang dia rasakan dari dada Andika mengejutkannya. Fakta bahwa dia mampu membuat pria bertampang lurus ini luluh lantak, walau hanya sedikit, mengirimkan sensasi di tulang punggungnya.

Lonceng di atas pintu membunyikan tanda kedatangan seekor anjing pudel yang menarik seorang wanita tua ke dalam salon.

Elaine menjauh dari Andika dan berlari mengitari konter untuk mengambil tali kekang anjing.

“Nyonya Alfina dan Alpukat, selamat pagi!”

Andika mengikuti dengan langkah yang lebih sopan.

“Anggota Dewan Andika Herman?” Nyonya Alfina melirik ke arah mereka sebelum menatap tajam Eric.

“Baik, Bu. Senang bertemu Anda.” Dia mengulurkan tangan.

Nyonya Alfina melambaikan tangan untuk mengusir Andika.

“Anak muda, kau akan mendapatkan suaraku.”

Dia  mencondongkan kepalanya ke arah Elaine. “Asalkan kamu tidak menyakiti hatinya.”

Tatapan Andika beralih ke Elaine ketika dia menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jari gadis itu, dan Elaine tahu – satu kencan yang gagal dan satu ciuman belum cukup. Dia ingin mengenal Andika, dirinya yang sebenarnya. Pria itu sepadan dengan risikonya.

“Itu janji kampanye yang mati-matian akan saya tepati.”

Bandung, 29 Juli 2025

Penulis

  • Rayhan Rawidh

    Penulis genre urban fantasy, chicklit, dewasa, action. Karyanya bisa ditemukan di KBM.id dan fizzo.org,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image