Suami saya menulis nama sembilan iblisnya di kertas tempel dan membakarnya di wastafel dapur. Dia hanya makan apel.
Satu apel sehari akan mengusir mereka.
“Itu untuk dokter,” saya ingatkan.
Semuanya sama saja.
Seorang pendeta pengusir setan mengirimi kami dupa, air suci, dan potongan jenggotnya sendiri. Pendeta ini punya ulasan bagus di tiktok, tetapi dia jarang membalas telepon saya. Jadi saya dibiarkan sendiri.
Saya mencari Pengusir Setan di Google.
Saya mencari Penghubung Dunia Gaib
dan Penghalang Pengambilan Kembali Serotonin dan Keracunan Timbal.
Saya mencari Berbahagialah Orang yang Miskin dalam Jiwanya dan entah bagaimana berakhir di ruang obrolan tentang Penyakit Lyme yang disebabkan bakteri Borrelia. Awalnya, semua orang di ruang obrolan itu sopan. Kemudian mereka mulai saling memaki, dan itu membuat saya takut. Tetap saja, saya mencari kutu di tubuh suami saya, menyisir rambutnya yang menipis dengan tusuk gigi hingga dia tertidur di pangkuan saya.
Hari ini suami saya melompat-lompat di tempat tidur kami, tertawa seperti serigala. Sepertinya dia lupa nama saya. Dia memanggilku Nawang Wulan dan meminta biji delima. Dan tentu saja lebih banyak apel.
Kata Transisi Liminal dicoret-coret di dinding dengan spidol hitam. Saya bingung bagaimana saya akan menjelaskan ini kepada pemilik rumah. Kata itu memang butuh konteks, tetapi saya tidak punya konteks untuk menjelaskannya.
Akhirnya, pendeta itu menelepon di tengah malam, meminta maaf atas keterlambatannya. Dia sedang sibuk berdoa agar badai berbalik arah.
“Bapa? Bolehkah saya memanggilmu Bapa? Saya perlu mengaku dosa. Di universitas,” jelas saya, “kami berbaring di atas makam para jenderal dan para penyair yang membusuk. Kami menuangkan segelas besar darah Kristus untuk diri kami sendiri dan membawanya ke hamparan dedaunan dan jerami di hutan. Bapa tahu, ini semua salah saya. Ibunya menyimpan bawang putih di sakunya, tapi saya pikir itu cuma mitos. Saya ingin menjadi istri yang segar dan surgawi, tanpa apa pun kecuali ketakutan-ketakutan terbaru. Saya berjanji menaburkan garam di dahinya, tapi aku khawatir itu akan membuatnya tua sebelum waktunya.”
“Kalau mau utuh kembali, tuangkan telur mentah di atas tubuhnya. Ikat tujuh simpul pada seutas tali dan kubur.”
“Ini bukan tanah saya,” kata saya. “Ini tanah tuan tanah kami.”
Atau tanah tuan tanah?
Lalu dia pergi.
Keesokan paginya, percakapan kami terasa seperti mimpi. Saya sedang di kebun menggali ketika mendengar teriakan minta tolong.
Saya menghampirinya.
“Ada apa?”
Suami saya tampak bingung. Dia tidak ingat apakah dia memanggil saya. Dia tidak ingat apakah dia pernah membutuhkan saya.
Itu dia lagi. Itu hanya suara kicauan burung merak tetangga, yang sama setiap bulan Februari. Di bulan Maret, mereka pasti sudah lupa.
Saya lempar tali yang diikat dan telur itu. Tapi lubang itu menuntut lebih. Jack Daniels dan semua pisau tajam kami dan koleksi bukunya. The Satanic Verses. Leaves of Grass. Si cabul itu, Nabokov. Dante, karena persetan dengan contrapasso-nya.
Kemudian, saya duduk di bak mandi yang kosong.
Hei Siri, siapa yang akan mewarisi bumi?
“Tidak berhasil,” bisik saya ke telepon ketika pendeta menelepon.
Sebagai bukti, saya mencatat semua nama dan tuduhan busuk yang dilontarkan suami saya kepada saya.
Saya juga melontarkan beberapa tuduhan saya sendiri.
“Maaf. Saya hanya lelah. Ini malam-malam yang larut. Saya tidak bisa tidur karena saya selalu menunggu teleponmu, Bapa.”
Pendeta itu mengalihkan pembicaraan. Hari ini dia menenangkan seorang wanita yang tak henti-hentinya membakar barang-barang.
“Berhasilkah?”
“Tidak ada kabar adalah kabar baik.”
Dia terdengar sangat puas. Oh, dan tentang suami sayang tersayang, suapi dia nama-nama orang suci di atas potongan kertas nasi.
Supaya saya bisa tidur, dia membacakan Kitab Wahyu. Seekor kuda merah, seekor kuda putih, seekor kuda pucat.
Saya bermimpi pendeta meletakkan tangannya di perut saya dan terbangun, merintih.
Fajar telah tiba. Burung-burung merak berkoar-koar.
Suami saya menelan semua orang kudus, meminumnya dengan susu. Dia memuntahkan Santo Antonius dan Santo Agustinus. Bahkan Santo Yudas, santo bagi kasus-kasus yang tak ada harapan. Saya menelepon pendeta untuk bertanya mengapa tubuh suami saya menolak orang-orang kudus ini. Pesan suaranya penuh, tetapi saya lihat di facebook dia mengomentari meme politik. Dia sedang mengetik selagi kami bicara.
Saya yakin burung-burung merak itu berteriak ‘Tolong’. Saya tak tahan, jadi saya memasukkan suami saya dan sekarung apel ke dalam mobil. Ketika kami sampai di pantai, dia membacakan Edna St. Vincent Millay. Kami menyipitkan mata ke arah laut.
Saya menata sembilan apel di atas handuk. Jenisnya ada Redlove dan Hidden Rose dan Envy dan Beauty of Bath dan Glory to the Winners. Ada apel bernama Liberty dan apel bernama Jazz.
Surat cinta dari apel.
Saya mengirim foto ke pendeta. Saya berjanji pada diri saya sendiri untuk tidak melakukannya, tetapi saya sangat kesepian.
Dia menjawab, Apa yang telah kau lakukan ini, anakku?
Suami saya mengabaikan apel-apel itu. Ketika dia melepas bajunya, tulang belakangnya seperti manik-manik pada rosario. Saya menghitung setiap tulang rusuknya.
Dia berjalan menyusuri pantai, dan saya khawatir saya akan kehilangan dia di antara butiran pasir di pantai. Burung camar berputar-putar. Lalat rumput laut berkumpul di sekitar apel, jadi saya membaringkan tubuh saya di atasnya. Saya bisa merasakan detak jantung saya di semua titik tempat apel menempel di kulit saya.
Di kejauhan, suami saya bermain-main dengan laut. Dia meringkuk di sekitar pergelangan kakinya. Menjilati lukanya. Semua tempat dia mengukir kulitnya dengan cutter pemotong kotak.
Saya tak kuasa menahan lalat. Saya melempar apel jenis Envy dan melihatnya turun sementara suami saya menyelam di bawah ombak.
Seandainya saya berpikir menjadi samudra, aku pasti bisa menahan hinaannya. Saya pasti bisa memendam niat jahatnya dengan anggun.
Saya sendiri, sama sekali tak punya garam.
17 September 2025
Catatan:
Dalam simbolisme Katolik, garam melambangkan pembersihan dan pengawetan, yang digunakan dalam ritus seperti persiapan pembaptisan dan pemberkatan air suci, mencerminkan kebutuhan akan pemurnian spiritual dan kemampuan untuk melestarikan iman.











