Pangeran Vlad III ‘Dracula’, mengangkat Komandan Theodore Bogdan menjadi kaki tangannya, selepas Radu pergi untuk menemui Sultan Mehmed II—yang tak tahu apakah Radu akan kembali, atau tidak. Selain itu, Vlad III menginstruksikan Komandan Theodore untuk membuat tim intelijen ke Istana Kerajaan Târgovişte selama satu hari.
Setelah mendapatkan informasi yang cukup dari Istana Kerajaan Târgovişte, Pangeran Vlad III ‘Dracula’ mulai melakukan penyerangan. Seluruh pasukan yang dipimpin oleh Komandan Theodore Bogdan dikerahkan. Namun, sebelum penyerangan, Pangeran Vlad III ‘Dracula’ meminta sumpah setia, dan sumpah janji kepada seluruh pasukan. Pangeran Vlad III ‘Dracula’ pun memberitahu kepada seluruh pasukan untuk mengikuti tradisi yang dijalankan oleh Ordo Naga, yaitu ritual paganis dengan meminum secawan anggur yang sudah dicampur darah. Namun, hanya Vlad III ‘Dracula’ saja yang mengetahuinya. Darah yang ditumpahkan untuk diminum bersama anggur, adalah darah dari kepala Vlad Calugarul.
Pada saat hari dimana Komandan Theodore Bogdan membuat tim intelijen, Pangeran Vlad III ‘Dracula’ memerintahkan kepada para selirnya, untuk memberi setetes darah untuk para pasukan, dan sisanya ditumpahkan ke cawan besar miliknya. Anggur Vlad III ‘Dracula’ lebih kental dibanding anggur milik pasukan. Mereka pun bersulang sebelum menyerang Istana Kerajaan Târgovişte. Tak ada kata gagal bagi seluruh pasukan, karena pembalasan ini harus terbalaskan. Derap langkah kuda bergemuruh, dari Kastil Bran Menuju Istana Kerajaan Târgovişte, dan seluruh pasukan membawa kayu runcing. Kayu itu adalah kayu kematian.
Dari benteng Istana Kerajaan Târgovişte, penjaga gerbang istana terkejut melihat Vlad III ‘Dracula’ datang dengan kekuatan penuh. Tanpa mampu melakukan persiapan, seluruh penghuni Istana Kerajaan Târgovişte dibantai habis oleh Vlad III ‘Dracula’, termasuk para bangsawan yang bersekongkol dalam pembantaian iring-iringan dari Kastil Poenari. Begitu pun Komandan Alexandru, dan Raja Vladislav II tak mampu berbuat banyak. Istana Kerajaan Târgovişte pun porak poranda. Setelah itu, seluruh mayat yang tergeletak disula oleh Vlad III ‘Dracula’, dan ditancapkan berjejer di halaman Istana Kerajaan Târgovişte. termasuk Komandan Alexandru, dan Raja Vladislav II. Setelah berhasil melakukan pembalasan, Istana Kerajaan Târgovişte dihancurkan menjadi reruntuhan. Yang berdiri tegak hanyalah mayat-mayat yang di sula.
Pangeran Vlad III ‘Dracula’, dan seluruh pasukan kembali ke Kastil Bran. Anehnya, Pangeran Vlad III ‘Dracula’ tak sedikit pun terlihat kelelahan. Padahal, ia yang paling banyak membantai. Terlihat seperti ada kekuatan tambahan yang tersimpan dari dalam tubuhnya.
Dengan mati nya Vladislav II, Vlad III ‘Dracula’ naik menjadi Raja Wallachia yang baru. Ia menempati Kastil Poenari sebagai pusatnya, sebab Istana Kerajaan Târgovişte sudah benar-benar runtuh. Rencana Vlad III ‘Dracula’ ingin menggulingkan Vladislav II dengan elegan tanpa membunuhnya, malah ia gulingkan dengan menyulanya hingga Istana Kerajaan Târgovişte pun menjadi puing-puing yang mengerikan. Atas perbuatan Vlad III ‘Dracula’, kota sekitar Istana Kerajaan Târgovişte pun ditinggalkan karena kengerian, dan juga bau mayat-mayat yang membusuk. Târgovişte pun menjadi kawasan yang sunyi, dan menyeramkan.
Di Kastil Poenari—setelah menjadi raja, Vlad III ‘Dracula’ tak tetap memakai jubah hitam bersurai merah gelap—jubah warisan ayahnya dari Perkumpulan Ordo Naga. Jubah itu seolah menjadi jubah kebesarannya, sehingga ia merasa lebih nyaman, dan percaya diri dengan jubah tersebut. Memang benar, jubah itu terlihat menambah pesona bagi Raja Vlad III ‘Dracula’. Hanya saja, ia menjadi candu terhadap darah setelah meminum anggur yang dicampur darah dari kepala Vlad Calugarul. Tubuhnya memutih, bibirnya memerah, dan sedikit dingin. Sesekali, Raja Vlad III ‘Dracula’, mendapatkan penglihatan dari masa lalu, dimana ia melihat ritual-ritual persembahan berdarah dari Perkumpulan Ordo Naga, yaitu ritual yang diambil dari kaum kabbalis. Tak hanya itu, Raja Vlad III ‘Dracula’ pun mendengar suara-suara misterius yang memberitahu tentang jubahnya.
“Warna hitam dari jubah itu berasal dari kegelapan. Membawa kekuatan kharismatik yang tersembunyi, dan berisi mantra-mantra keabadian. Surai merah gelap adalah simbol kekuasaan mutlak yang harus disiram dengan darah segar.” Suara yang terdengar berat di telinganya.
Ternyata, ayah Raja Vlad III ‘Dracula’, melakukan sebuah pengorbanan dengan menukar nyawanya demi kekuasaan dinasti “Dracul” yang abadi. Meski tahtanya harus direbut terlebih dahulu oleh keponakannya, Vladislav II, namun Vlad II tak merasa khawatir. Karena ia percaya, bahwa perkumpulan rahasia Ordo Naga pasti akan membantu kepada anaknya, yaitu Vlad III ‘Dracula’ sebagai pewaris tunggal. Vlad II sudah memperhitungkan segala kemungkinan yang terjadi agar tahta kerajaan tetap pada garis keturunannya. Sebagai pewaris pertama, Raja Vlad III ‘Dracula’ merasakan ada yang berubah dalam dirinya. Ia seperti bukan Vlad yang dahulu, melainkan Vlad yang melihat darah sebagai anggur.
Pada suatu malam—saat ia tidur, ia didatangi oleh sekelompok orang dengan memakai pakaian Knight Templar Ordo Naga lengkap dengan helm besi di dalam mimpinya. Mereka datang menyanyikan lagu layaknya orkestra. Cirinya, terdapat simbol naga berwarna merah gelap pada pakaiannya di dada sebelah kiri. Setelah mereka bernyanyi dengan khidmat, salah seorang dari mereka memberitahu, jika lagu itu diperuntukan untuk dirinya, yang berjudul “Hymne of Dracula” sembari memberikan tongkat runcing berwarna emas, dengan ornamen berlian pada bagian tengah tongkatnya. Tatkala tongkat itu ia ambil, tiba-tiba memancarkan cahaya laksana energi, dan masuk ke dalam tubuhnya. Seketika, Raja Vlad III ‘Dracula’ bangun—sejenak matanya melotot pada langit-langit kamar. Ia terkejut terhadap mimpi yang baru saja ia alami.
Keesokan harinya, saat Raja Vlad III ‘Dracula’ duduk di atas tahta, semua yang berada di Kastil Poenari sedikit terkejut dengan perubahan tubuh Raja Vlad III ‘Dracula’. Pesona kharismatik terpancar jelas dari dalam dirinya, sehingga keberadaannya menarik perhatian semua orang. Dengan jubah kebesarannya, ia terlihat lebih gagah dari sebelumnya. Tak lama, Raja Vlad III ‘Dracula’ kedatangan seseorang.
“Yang Mulia, ada yang ingin bertemu denganmu,” kata salah satu penjaga pintu.
“Siapa?” Tanya, Raja Vlad.
“Ia memakai pakaian Knight Templar, yang mulia,” jawab penjaga pintu.
Raja Vlad III ‘Dracula’ pun sedikit tertegun. Ia mengingat mimpi semalam. Namun, tak lama ia mempersilakan.
“Masuklah,” kata Raja Vlad III ‘Dracula’.
Seseorang itu pun masuk ke ruangan tahta. Dari jarak pandangnya, ia terkejut. Ternyata yang datang adalah ksatria dari Knight Templar Ordo Naga dengan membawa tongkat runcing berwarna emas dengan ornamen berlian pada bagian tengah tongkatnya. Itu sama persis seperti di dalam mimpinya.
“Aku membawakan pesan dari Pemimpin Perkumpulan Ordo Naga.” Sembari memberikan surat.
Raja Vlad III ‘Dracula’ menerima surat itu, dan membaca isinya.
“Raja pewaris tahta, saatnya kau menjaga kursi tahta yang sudah dibeli oleh ayahmu dengan menjaga dinasti ‘Dracula’ menjadi dinasti yang kuat. Kau akan menghancurkan siapa pun yang menghalangi jalanmu, dan membinasakan siapa pun yang menentang keputusanmu. Maka, atas nama Ordo Naga, kau akan diberikan anugerah ilahi yang berasal dari paganis, dan kabbalis berupa tongkat yang telah memberimu ilham sula sebagai hukuman terhadap bangsawan Istana Kerajaan Târgovişte.”
Setelah membaca isi surat tersebut, utusan dari Ordo Naga memberikan tongkat itu kepada Raja Vlad III ‘Dracula’. Sebuah senjata yang penuh mistisisme bagi Vlad III, hingga menjadi senjata favorit bagi dirinya. Sebab, tongkat itu adalah tongkat kekuasaan, dan tongkat hukuman. Maka, siapa pun yang berani melawannya—bahkan menentangnya, maka ia akan disula hidup-hidup sebagai hukuman yang setimpal. Selain itu, darah mayat yang sudah disula, ia bacakan ritual mantra-mantra paganis, dan kabbalis—sebuah mantra iblis dari Ordo Naga. Setelah itu, darah tersebut ia minum layaknya anggur, agar hidupnya abadi di bumi ini. Dengan darah itu, Vlad III ‘Dracula’ menjadi sosok yang tak tertandingi, hingga menobatkan dirinya sebagai Tuhan. Tak hanya itu, Raja Vlad III ‘Dracula’ adalah raja yang diperebutkan oleh para wanita di Transylvania. Darah, dan mantra itu pun membuat dirinya memancarkan pesona yang luar biasa sehingga para wanita rela menjadi budak hawa nafsu hanya demi untuk dapat tidur bersama Raja Vlad III ‘Dracula’.
Tahta, harta, kuasa, dan wanita melebur jadi satu untuk dirinya. Bila ia tetap menjalankan hukum sula, dan ritual minum darah, anugerah itu akan melekat pada dirinya. Lantas bagaimana dengan Radu cel Frumos? Nama sang adik sudah ia bunuh di dalam hatinya. Ia sudah tidak peduli lagi dengan nama itu. Karena, setelah Radu pamit kala itu untuk bertemu dengan Sultan Mehmed II, Radu tak pernah kembali lagi.
SELESAI











