Beranda / Genre / Romansa / 5. Pesona Alun-Alun Magelang

5. Pesona Alun-Alun Magelang

THE HIDDEN SITE OF TUIN VAN JAVA 1600X900
1
This entry is part 6 of 28 in the series The Hidden Site of Tuin van Java

Malam mulai merayap saat mobil memasuki kota Magelang. Elaine sibuk mengunyah aneka jajanan yang tadi dibeli di Taman Bambu Runcing.

“Mau langsung pulang?” tanyaku.

“Hmmm, apakah ada tempat rekreasi outdoor yang gratis?” Elaine balik bertanya. Aku mengarahkan mobil menujusalah satu ikon kota Magelang di pusat kota. Elaine membulatkan mata takjub.

“Ini taman kota?” tanyanya.

“Ini alun-alun, hampir setiap kota di Indonesia memiliki alun-alun. Biasanya merupakan titik nol kota dan dikelilingi oleh berbagai bangunan penting.” Aku mengajak Elaine turun setelah menemukan tempat parkir yang kurasa aman.

“Di sebelah sana adalah Masjid Agung Magelang, Kantor Walikota, toko dan restoran.”

“Berarti saat ini kita berada  di pusat kota?” Elaine memindai setiap sudut alun-alun yang mulai ramai.

“Benar, seperti alun-alun di kota lain, terletak di pusat kota supaya mudah diakses dari berbagai arah. Lokasinya pun strategis sebagai tempat berkumpulnya warga dan wisatawan.”

Aku duduk di bangku sambil mengamati Elaine yang bergerak lincah mengitari alun-alun. Secara sepintas, alun-alun ini tak jauh berbeda dengan alun-alun yang ada di kota-kota lain. Pepohonan rindang mengitari area alun-alun. Di sepanjang taman pun tersedia tempat duduk yang bisa digunakan oleh pengunjung yang ingin bersantai dan menikmati suasana.

Namun, di alun-alun Magelang pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai fasilitas yang memungkinkan pengunjung melakukan berbagai aktivitas menarik, mulai dari sekedar nongkrong hingga wisata kuliner pada area food court-nya.

Elaine berhenti di depan Patung Pangeran Diponegoro yang menaiki kuda berwarna putih. Gadis itu menatap takjub pada patung yang berdiri di atas tembok berbentuk kotak, dengan lambang Kota Magelang pada bagian tengahnya.

“Est-il un héros?” tanya Elaine tanpa mengalihkan pandangannya.

“C’est vrai. C’était un héros qui a rendu de grands services. C’est pourquoi sa statue est devenue l’icône de cette place.”

“Tuin Van Java ….” Elaine mengeja tulisan yang terlihat cukup menyolok.

“Magelang dijuluki Tuin van Java karena alamnya yang indah dan asri. Banyak taman yang indah pemandangannya karena diapit oleh pegunungan dan bukit, juga banyak pepohonan dan bunga yang menghiasi kota. Itu sebabnya Belanda pada masa penjajahan, memberi julukan Tuin Van Java yang berarti “Taman Jawa” dalam bahasa Belanda.” Aku menjelaskan. Elaine mengangguk, sesaat kemudian rasa penasaran menggiring langkahnya menuju pusat kuliner yang berada di sisi utara alun-alun.

“Apa makanan yang enak di sini?” tanya Elaine. Gadis berambut blonde itu berjalan di antara deretan angkringan yang menyuguhkan berbagai makanan dan jajanan murah. Aku menggelengkan kepala, bukannya dia baru menghabiskan 3 kresek jajanan? Ternyata orang patah hati bisa sekalap itu melihat makanan.

“Kamu harus mencoba nasi goreng Magelangan,” jawabku sambil memesan makanan khas Magelang yang cukup fenomenal tersebut.

Sambil menunggu pesanan siap, aku mengajak Elaine duduk menghadap sisi selatan, dari sini bisa menyaksikan pertunjukkan air mancur menari atau dancing fountain yang dibangun di atas lahan sepanjang 72 meter dan lebar 6,5 meter. Gemerlap lampu membuat air yang menjulang tampak berwarna-warni bergerak seperti menari mengikuti iringan musik. Beberapa kali Elaine tertawa, ketika air mancur itu meliuk-liuk seperti penari yang lincah.

“Air mancur menari ini hanya ada di malam hari. Biasanya  pagi dan sore, alun-alun ini ramai oleh warga yang jogging, bersepeda, atau bermain bola. Jika menjelang sore banyak juga yang datang hanya untuk menikmati udara segar sambil berjalan-jalan santai di sekitar alun-alun,” ujarku menjelaskan.

Malam ini pengunjung tidak terlalu ramai, mungkin karena sedang tidak ada even. Biasanya di alun-alun ini sering diselenggarakan acara seni dan budaya, seperti pertunjukan musik dan tari. Padahal aku ingin menunjukkan pada Elaine festival yang menampilkan kekayaan budaya Magelang.

“Alun-alun ini juga memiliki agenda tahunan menyambut hari jadi kota Magelang. Kadang ada kegiatan sosial komunitas tertentu mengadakan kirab atau pawai budaya menampilkan seni tari tradisional, musik gamelan, atau pertunjukan wayang kulit.”

“Terdengar menarik,” komen Elaine.

“Festival-festival tersebut hampir tak pernah absen setiap bulannya, karena diharapkan bisa menjadi sarana untuk melestarikan budaya tradisional sekaligus menarik minat wisatawan,” lanjutku.

“Kapan-kapan Maman harus mengajakku melihat festival itu,” pinta Elaine.

“Tentu saja, setiap acara selalu ikonik dengan latar belakang Gunung Sumbing yang megah.”

“Itu apa?” tanya Elaine setengah berteriak, tangannya menunjuk pada bangunan peninggalan Belanda yang terletak di bagian sisi barat.

“Itu water toren atau bak penampungan air.  Tingginya 26.140 meter dan diameter baknya mencapai 22.46 meter, sehingga mampu menampung 1.750 meter kubik air. Water toren ini mempunyai 32 tiang penyangga pada bagian tengahnya. Sedangkan di bagian bawah, terdapat 16 ruangan yang dahulu digunakan sebagai ruang pelayanan hingga laboratorium.”

“Wow, pantas terlihat unik dan khas,” ujar Elaine.

“Benar. Konon menurut sejarahnya, pembangunan  water toren yang dibangun sejak tahu 1916–1920 diprakarsai oleh kesatuan militer Belanda pada zaman penjajahan, yakni Wapen der Genie.”

“Aku pernah membaca bahwa pada masa penjajahan, Belanda banyak meninggalkan fasilitas umum yang masih bisa dimanfaatkan hingga sekarang.”

“Benar. Dan hal itu terjadi hampir di semua negara jajahan. Pada masa kolonial Belanda, Alun-Alun Magelang ini berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan kegiatan sosial. Itulah kenapa dikelilingi oleh bangunan penting, seperti Kantor Resident Magelang yang sekarang Kantor Walikota Magelang. Alun-alun ini dulu juga menjadi tempat dilaksanakannya berbagai upacara resmi dan acara masyarakat. Bangunan-bangunan di sekitar alun-alun dibangun dengan gaya arsitektur kolonial yang megah, menunjukkan kekuasaan dan pengaruh pemerintah kolonial pada masa itu.”

“Tapi menurutku arsitektur Alun-Alun Magelang ini perpaduan gaya tradisional Jawa dan pengaruh kolonial Belanda,” sela Elaine.

“Sekali lagi Kamu benar, Bel enfant. Sebagai contoh Masjid Agung Magelang, memiliki arsitektur khas Jawa dengan atap tumpang yang merupakan ciri khas masjid tradisional di Jawa. Tapi di sisi lain bangunan-bangunan peninggalan Belanda di sekitar alun-alun memiliki ciri arsitektur kolonial dengan pilar-pilar besar, jendela tinggi, dan dinding tebal.”

Makanan yang dipesan pun tiba, Elaine menatap piring di hadapannya dengan raut penasaran.

“Ini … nasi goreng Magelangan? Apa bedanya dengan nasi goreng pada umumnya?” Gadis ini selalu punya pertanyaan kritis jika merasa penasaran.

“Tidak ada perbedaan yang signifikan, Hanya pada nasi magelangan, biasanya ada tambahan ati ampela, sosis, dan bakso, selain suwiran ayam. Juga ada irisan kubis yang ditambahkan untuk topping. Selain itu, nasi magelangan kadang disajikan bersama dengan irisan timun, tomat, atau selada.”

Elaine memasukkan satu sendok penuh nasi ke dalam mulutnya, ekspresi berubah-ubah saat mengunyah, “Rasanya gurih, sedikit manis, unik, tidak terlalu buruk.”

“Aku harap kamu menyukainya,” jawabku.

Kami makan dalam diam, sibuk menikmati tiap suapan sambil memandang ke arah lapangan. Beberapa anak bermain mobil dan skuter remote yang disewa dengan ongkos hanya Rp. 10.000. Pemilik mobil mengikuti dari belakang sehingga orang tua tidak perlu khawatir saat anaknya bermain. Sementara di sisi lain beberapa anak tampak asik dengan permainan melukis dan mewarnai.

Seiring berjalannya waktu, Alun-Alun Magelang berfungsi sebagai pusat kota dan menjadi tempat penting untuk berbagai perayaan nasional, upacara bendera, dan acara-acara besar lainnya. Perubahan yang terjadi di sekitar alun-alun menandakan perkembangan kota Magelang, dengan tetap mempertahankan fungsi tradisionalnya sebagai ruang terbuka bagi masyarakat.

Selain itu alun-alun Magelang juga didesain memiliki ruang terbuka yang luas dan simetris seperti alun-alun lain pada umumnya. Di tengah alun-alun, terdapat tiang bendera yang menjadi pusat saat berlangsung  upacara.

Kombinasi sejarah panjang dan arsitektur yang khas menjadikan Alun-Alun Magelang bukan sekadar alun-alun biasa, tapi tempat yang multifungsi, menawarkan berbagai fasilitas dan aktivitas yang dapat dinikmati oleh segala usia. Alun-alun yang memiliki pesona menarik ini telah menjadi jantung kehidupan kota Magelang yang mencerminkan semangat komunitas dan kebersamaan warga setempat.

“Maman, aku sudah kenyang dan mengantuk,” ucap Elaine mengangetkan lamunanku. Piring di hadapan Elaine sudah kosong, seperti biasa anak ini tak pernah menyisakan sebutir nasi pun saat makan.

“Ok, kita pulang sekarang?” ujarku setelah membayar makanan.

***

Note :

Est-il un héros?: Apakah dia Pahlawan?

C’est vrai.: Benar

C’était un héros qui a rendu de grands services: Dia adalah pahlawan yang memiliki jasa besar.

C’est pourquoi sa statue est devenue l’icône de cette place: Itulah sebabnya patungnya menjadi ikon alun-alun ini.

The Hidden Site of Tuin van Java

. Berkenalan dengan Sang Maestro . Pecinan, Warisan Sejarah Yang Tetap Menarik

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *