Saat mobil melaju di jalan yang seakan tak berujung, seorang penumpangnya sama sekali tidak senang.
Indri tidak senang karena kota yang baru saja ditinggalkannya tidak akan pernah terlihat lagi. Begitu juga semua temannya selama ini.
Sungguh tidak adil.
Mengapa kami harus pindah? Mengapa aku harus menderita? Aku tidak akan pernah bertemu teman-temanku lagi. Begitulah perasaannya.
Ibunya pernah mengatakan kepadanya bahwa perubahan terkadang merupakan hal yang baik. Ibunya pernah mengatakan kepadanya bahwa seberat apa pun perubahan itu, dia akan bahagia.
Indri tidak mempercayainya. Dia takut. Dia benar-benar takut. Bagaimana dia bisa memberi tahu ibunya tentang perasaannya?
Mereka akhirnya sampai di jalan baru. Indri merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Dia merasa pusing.
Dia melihat seekor harimau besar menatapnya. Tunggu! Apa?
Dia menggelengkan kepala dan melihat lagi. Tidak ada singa. Hanya seorang kakek tua di kursi roda yang sedang menyeberang jalan.
Mengapa dia berpikir melihat harimau?
Ayah menatapnya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Ayah.
Indri berbohong dengan menjawab ya. Dia menarik napas dalam-dalam dan menutup matanya.
Mobil itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi hitam.
Indri melihat seorang pria membukakan gerbang untuk mereka dan dia mengira dia melihat seekor kucing hitam tidur di luar pintu depan. Ketika mobil berhenti dan dia keluar untuk memeriksa, dia melihat tidak ada kucing.
Ibu menatapnya. Ibunya berkata bahwa Lindri akan menyukai tempat baru ini. Indri tidak begitu yakin. Ada yang salah dengan rumah ini. Dia bisa merasakannya jauh di lubuk hatinya.
Indri sedang membawa tasnya dan bergerak untuk masuk ke kamar ketika dia mendengar suara-suara datang dari dapur. Suara yang memanggil namanya.
“Indri. Indri.”
Dia menutup telinganya. Dia tidak ingin mendengar.
Jantungnya berdetak kencang.
Dag! Dig! Dug!
Ibunya memasuki kamar dan dengan cepat memeluknya.
“Tarik napas, sayangku,” kata ibunya. “Ada apa, Indri?”
Indri menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu bagaimana menjawab ibunya. Yang bisa dipikirkannya hanyalah kembali ke rumah lama mereka. Dia tidak suka tempat baru ini.
“Rumah ini ingin memakanku. Dia ingin memakanku!”, teriaknya.
Ibunya menarik napas dalam-dalam dan dengan lembut mencium pipinya.
“Ibu tahu kamu kesal karena kita pindah ke tempat baru. Tempat baru bisa menakutkan. Ibu turut prihatin karena kamu merasa kami mengambilmu dari teman-temanmu. Kamu bisa mendapatkan teman baru di sini. Teman-teman lamamu masih bisa mengunjungimu. Rumah ini tidak akan memakanmu. Ibu janji,” ibunya menjelaskan.
Indri merasa sedikit aman setelah mendengarkan ibunya.
Indri berjalan-jalan di sekitar rumah. Semua yang dilihat dan didengarnya hanya ada di kepalanya. Dia sangat takut pindah ke tempat baru.
Ayah bercerita kepadanya. Ayahnya bercerita bahwa dulu dia juga takut dengan tempat baru, tetapi setelah beberapa saat, dia baik-baik saja.
Indri merasa bahagia memiliki orang tua yang peduli padanya. Rumah barunya tidak terasa begitu menakutkan lagi.
Saat ia mengeluarkan pakaian dari tasnya, ia mendengar suara ‘meong’. Ketika ia berbalik, ia melihat kucing hitam itu lagi. Kucing itu ada di jendela dan sedang menjilati cakarnya. Lindiwe tersenyum dan perlahan mendekatinya. Ia mengelus punggungnya dan kucing itu mendengkur. Lindiwe merasa bahagia. Mungkin tempat barunya tidak akan seburuk itu. Ia sekarang punya teman baru.
Ia pergi membantu orang tuanya membongkar barang-barang. Ia pikir ia mendengar rumah itu memanggil namanya lagi, tetapi kali ini ia mengabaikannya. Ia melihat sekeliling rumah dan menempelkan jari ke bibirnya. “Ssstttttt!” Ia mengusir suara-suara itu dan tersenyum. Ia tak lagi takut dengan tempat barunya.
Cikarang, 14 Oktober 2025









