Matahari musim kemarau cukup menyengat. Sejak pagi terik membakar kulit. Aku kembali menepikan motor di sebuah tempat makan di kawasan Taman Wisata Candi Borobudur sekadar memesan minuman untuk membasahi tenggorokan yang kering.
Seseorang menepuk bahuku, membuat reflek menoleh seketika, “Kamu Mbak Tantri, kan?” tanya sambil memandangku dari atas ke bawah. Aku mengerutkan kening mencoba mengingat siapa perempuan cantik yang tengah berdiri di hadapanku ini.
“Lupa ya, Mbak?” tanyanya lagi sambil menahan tawa.
“Puji, bukan?” tebakku setelah beberapa saat berusaha mengingat. Perempuan itu terkekeh. Tangannya terjulur ke arahku mengajak bersalaman.
“Apa kabar, Mbak?”
“Alhamdulillah, jadi beneran Kamu Puji?” tandasku.
“Dalam rangka apa, nih? Sendirian aja?” Bukannya menjawab pertanyaanku, Puji malah memberondong dengan pertanyaan lain.
“Kebetulan banget nih, Mbak. Aku lagi bawa tamu banyak. Bantuin handle, ya?” pintanya. What…? apa pula ini, kenapa tiba-tiba kena todong.
“Aku … eh, aku ….” Tanpa memberi kesempatan padaku untuk berpikir Puji sudah menarik tanganku. Hampir saja lupa membayar segelas es kelapa muda pada pemilik kedai, tergesa aku meletakkan selembar sepuluh ribuan dan mengikuti Puji–teman satu kelas saat mengikuti pelatihan escort tour beberapa tahun lalu. Puji seorang pemandu wisata yang tergabung dalam Serikat Pekerja Borobudur, berbeda denganku yang mengikuti training hanya sekadar mencari tambahan wawasan untuk bahan tulisan.
“Kamu bawa tamu lokal?” tanyaku sambil berusaha menjajari langkah Puji.
“Bule Belanda,” jawab Puji singkat.
“Tapi bukankah untuk naik ke atas harus pemandu tersertifikasi?” kilahku.
“Mbak Tantri cuma mendampingi sampai di Kamadhatu, selanjutnya aku yang bawa mereka naik. Kita bagi tugas, Mbak. Ini limpahan dari Pak Rozi juga, rombongannya banyak.”
Aku paham, jumlah maksimal rombongan naik ke stupa hanya 150 orang per jam, diatur bergantian, selebihnya menunggu di bawah. Tugasku menemani dan mengawal mereka sambil menunggu giliran untuk bisa naik ke atas.
Rombongan wisatawan yang dipandu Puji lumayan banyak, mereka adalah para pensiunan dari negeri Belanda yang sedang wisata keliling dunia. Sebahagia itu menjadi lansia di sana, ya?
Sebagian rombongan sudah naik menuju Rupadhatu bersama Puji, sebagian lagi menunggu di Kamadhatu. Aku menjelaskan sepanjang yang aku bisa, maklum bukan ahlinya.
“Borobudur is een van de wereldwonderen. Het ligt op een heuvel omringd door zes actieve vulkanen in Midden Java.” Aku memulai penjelasan dalam bahasa Belanda.
Candi Borobudur memiliki tiga tingkatan utama yang disebut Kamadhatu yaitu bagian paling bawah atau kaki candi yang sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu untuk memperkuat konstruksi. Bagian ini melambangkan kehidupan manusia di dunia yang masih terikat dengan hawa nafsu, keburukan, dan dosa.
Tingkat tengah atau Rupadhatu yang terdiri dari lima teras berbentuk bujur sangkar dan dihiasi dengan panel relief yang menceritakan kisah-kisah Buddha. Terdapat ciri khas berupa perbedaan rancangan pada pagar langkan untuk melambangkan peralihan dari Kamadhatu. Tingkatan ini melambangkan kehidupan manusia yang telah mulai meninggalkan nafsu, tetapi masih terikat pada bentuk dan nama duniawi.
Sedangkan tingkatan paling atas adalah Arupadhatu. Terdiri dari tiga pelataran melingkar yang di dalamnya terdapat 72 stupa kecil berlubang mengelilingi stupa induk di tengah. Ciri khas dari Stupa-stupa ini tidak memiliki relief, melainkan patung-patung Buddha di dalamnya yang tampak samar dari luar, melambangkan kebijaksanaan tertinggi yang berada pada kesunyian dan ketiadaan sempurna. Sebagai gambaran dunia yang tanpa wujud, di mana manusia telah bebas dari keinginan dan ikatan duniawi.
Rupadhatu, dan Arupadhatu, menggambarkan kosmologi Buddha dari dunia nafsu hingga dunia tanpa wujud. Tingkatan ini terdiri dari sembilan tingkat teras berupa enam bujur sangkar di bawah dan tiga melingkar di atas, diakhiri dengan stupa induk di puncaknya.
Aku mengajak rombongan mengelilingi candi yang pembangunannya diselesaikan pada saat Kerajaan Mataram Kuno dipimpin oleh Rakai Pikatan, suami dari PramodhawardhanI, hanya sampai Rupadhatu tingkatan tengah yang banyak dihiasi relief.
“Setiap relief pada Candi Borobudur juga memiliki makna dan cerita tersendiri. Setiap panelnya tersirat berbagai macam bentuk seperti bentuk manusia, hewan, tumbuhan, bahkan kendaraan masa lalu. Relief Candi Borobudur terdiri dari relief Lalitavistara, relief Jataka- Awadana, dan relief Gandawyuha,” paparku.
“Relief? Apa yang dimaksud dengan Relief?” Sebuah pertanyaan dari salah satu anggota rombongan, tapi aku tidak bisa mengetahui dari siapa.
“Relief candi adalah seni pahat tiga dimensi yang menceritakan ajaran Buddha dan kehidupan di masa lampau. Pada Candi Borobudur relief terdiri dari 2.672 panel yang dibagi menjadi dua jenis utama yaitu naratif atau cerita dan dekoratif atau hiasan. Relief naratif dibaca searah jarum jam dan terdiri dari lima gugus cerita utama yang menggambarkan ajaran Buddha yaitu Karmawibhangga, Jataka, Avadana, Lalitavistara, dan Gandavyuha jumlahnya ada 1.460 panel. Sedangkan Relief dekoratif menampilkan motif-motif indah seperti sulur gelung, bunga, dan bentuk geometris sebagai ornamen candi, jumlahnya 1.212 panel,” jawabku sambil menjelaskan setiap bentuk panel.
Yang paling menarik perhatian adalah tiga jenis kapal yang reliefnya terdapat di dinding candi yaitu : Perahu lesung–sejenis perahu yang ukurannya lebih kecil, biasanya digunakan untuk keperluan sehari-hari atau nelayan.
Kapal besar bercadik–berupa kapal berukuran besar yang dilengkapi dengan cadik atau penopang tambahan di kedua sisi, biasanya digunakan untuk pelayaran jarak jauh atau niaga.
Kapal Besar Tanpa Cadik–berupa kapal berukuran besar tanpa cadik, menunjukkan teknologi pembuatan kapal yang sudah berkembang untuk navigasi yang lebih berat.
Relief-relief kapal ini menunjukkan bahwa masyarakat kuno telah memiliki kemampuan maritim serta aktivitas perdagangan pada masa itu.
“Katanya Candi Borobudur menjadi pusat peringatan Waisak dunia?” tanya seorang pria berumur sekitar enam puluhan, sepertinya ketua rombongan atau ketua kelompok.
“Setiap perayaan Waisak, para biksu melakukan ritual berjalan kaki yang sudah dilakukan sejak Sang Buddha Gautama. Zaman dulu, Sang Buddha Gautama menyampaikan ajarannya dengan berjalan kaki dari satu daerah ke daerah yang lain, dari satu kota ke kota yang lain, dan dari satu negara ke negara yang lain. Thudong sendiri merupakan tradisi kuno para biksu yang berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain untuk melatih kesederhanaan dan spiritualitas.” Aku menjelaskan, kebetulan waktu itu sempat meliput peristiwa fenomenal tersebut.
“Thudong yang dilakukan oleh 32 biksu ini mengikuti ajaran Sang Buddha, mereka berjalan kaki dari Thailand menuju Malaysia, Singapura, dan terus menuju ke Batam dengan kapal feri dan dari Batam dilanjutkan naik pesawat terbang menuju Jakarta. Dari Jakarta mereka melanjutkan berjalan kaki dengan tujuan ke Candi Borobudur untuk melaksanakan Tri Suci Waisak. Total jarak yang ditempuh kurang lebih 2.600 kilometer dengan waktu kurang lebih sekitar 3 bulan.”
“Sangat menarik,” komentar seorang wanita dengan mata membulat kagum.
“Benar, sangat menarik,” sela wanita lainnya yang diikuti anggukan kepala teman-temannya.
“Tapi mengapa para biksu jauh-jauh berjalan kaki dari Thailand ke Borobudur hanya untuk merayakan Waisak? Mengapa hari raya Waisak selalu dipusatkan di Candi Borobudur?” Seorang pria yang kutaksir seumuran denganku bertanya.
“Pada tahun 1937 untuk pertama kalinya hari raya Waisak dilaksanakan di Candi Borobudur dan hanya diikuti oleh umat Buddha di sekitar Candi Mendut dan Yogyakarta. Kemudian pada tahun 1953, hari raya Waisak untuk pertama kalinya dirayakan secara nasional di Candi Borobudur yang dipelopori Tee Boan An atau Biksu Ashin Jinara dan dihadiri duta-duta besar Asia Tenggara.”
Aku menjeda penjelasanku, tenggorokan terasa kering karena cuaca yang cukup panas. Pria bule yang tadi bertanya menyodorkan sebotol air mineral, sambil mengucap terima kasih aku menerima dan langsung menegak hingga tinggal separuh. Pria itu menatapku sambil tersenyum.
“Sejak saat itulah setiap tahunnya Borobudur menjadi pusat penyelenggaraan perayaan Waisak Nasional, hari suci yang diperingati untuk merayakan kelahiran, pencerahan, dan wafatnya Sang Buddha,” lanjutku cepat untuk menetralkan rasa malu.
Rombongan yang bersamaku terus mengelilingi wilayah candi yang merupakan salah satu peninggalan sejarah penting di Indonesia ini. Bahkan sudah diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO karena memiliki nilai sejarah, budaya, dan arsitektur yang luar biasa, bahkan pernah dinobatkan sebagai salah satu keajaiban dunia karena bentuk bangunan candi yang mencerminkan akulturasi budaya antara Buddha dengan budaya Jawa.
“Tapi mengapa Borobudur menjadi tujuan pendeta Buddha?” tanya pria itu lagi.
“Zack.” Kali ini dia menyodorkan tangannya mengajak berjabat sambil menyebut nama.
“Tantri.” Aku menyambut uluran tangannya, tersenyum tipis.
“Hal tersebut karena Borobudur dianggap sebagai representasi perjalanan hidup manusia menuju pencerahan. Borobudur juga dianggap sebagai mandala, yaitu struktur visual yang melambangkan alam semesta dan perjalanan spiritual dari dunia manusia yaitu kamadhatu, menuju alam surga yaitu rupadhatu dan arupadhatu, yang merupakan konsep penting dalam ajaran Buddha,” paparku.
“Selain itu Borobudur juga dianggap sebagai tempat yang sangat sakral dan bermakna bagi umat Buddha untuk melakukan ziarah, praktik meditasi, dan doa bagi mereka yang ingin mencapai pencerahan dan kebijaksanaan sesuai ajaran Buddha. Disebutkan juga Borobudur merupakan salah satu Dhatu Cetiya yaitu tempat yang patut diberikan puja oleh umat Buddha karena diyakini menyimpan relik rambut Sang Buddha.”
“Relik?” tanya Zack.
“Relik Buddha adalah sisa-sisa jasmani yang dianggap suci, seperti rambut, gigi, tulang, atau abu kremasi, yang berasal dari Buddha atau para guru spiritual yang mencapai tingkat tertinggi dalam ajaran Buddha. Relik ini memiliki makna spiritual yang mendalam dan dihormati oleh umat Buddha karena dipercaya dapat membawa keberkahan dan perlindungan. Selain relik jasmani, ada juga relik jenis lain seperti benda yang pernah digunakan Buddha misalnya mangkuk sedekah dan benda-benda yang berhubungan dengan ajarannya misalnya sutra dan mantra,” ulasku panjang lebar. Zack mengangguk, pria ini terlihat paling antusias selama mengelilingi candi.
“Relik-reliknya, dari tumpukan kayu bakar pemakaman, dikumpulkan dan dibagi menjadi delapan bagian dan didistribusikan di antara Ajathsatru dari Magadha, para Licchavi dari Vaishali, para Sakya dari Kapilavastu, Malla dari Kushinagar, para Bullies dari Allakappa, para Malla dari Pava, para Koliya dari Ramagrama dan seorang Brahmana dari Vethadipa untuk mendirikan stupa Borobudur …”
“Aku …,” sela Zack.
“Maaf, hal ini saya hanya mengetahui secara garis besar. Jika ingin mengetahui lebih detail, bahkan tentang menerjemahkan cerita tentang ajaran Buddha, yang biasa disebut Sutra atau Mantra yang tersirat pada setiap relief, saya bisa mengajakmu ke suatu tempat. Saya memiliki teman yang ahli dalam membaca sastra relief,” elakku jujur, karena pemahaman soal relief cukup detail dan hanya bisa dijelaskan oleh ahlinya.
“Hmmm, akan kupikirkan. Mungkin lain kali.”
Puas mengelilingi candi yang selain menjadi situs ziarah agama Buddha ini, keindahan dan sejarahnya yang cukup panjang, menjadikan Borobudur sebagai destinasi wisata yang banyak dikunjungi oleh wisatawan asing maupun lokal.
Terutama jika perayaan Waisak tiba, akan banyak acara digelar. Bukan hanya masyarakat sekitar, tapi juga warga dari luar Magelang berduyun-duyun menyaksikan kemegahan dan kemeriahan rangkaian acara Waisak. Biasanya arakan-arakan mulai sore hari dengan rangkaian prosesi Waisak dimulai dari perjalanan dari Candi Mendut, mampir di Candi Pawon dan terakhir di Candi Borobudur.
Setelah detik-detik Waisak, dilakukan ritual pradaksina, yaitu berjalan mengelilingi Candi Borobudur searah jarum jam sebagai bentuk penghormatan spiritual. Biasanya setelah rombongan kirab tiba di Borobudur akan diadakan pelepasan lampion di area Candi yang dilakukan dalam dua sesi.
Aku mengakhiri penjelasan, rombongan yang bersama Puji telah kembali. Kami bertukar rombongan, giliran rombongan kedua menuju tingkat yang lebih atas.
Note :
Borobudur is een van de wereldwonderen. Het ligt op een heuvel omringd door zes actieve vulkanen in Midden-Java: Borobudur adalah salah satu keajaiban dunia. Dia terletak di bukit yang dikelilingi enam gunung berapi aktif di Jawa Tengah
.










