Hujan masih deras ketika kutemani Rin menyusuri gang kecil dekat rumah menjelang senja. Jalanan licin, genangan memantulkan lampu jalan yang temaram. Udara menusuk seperti jarum dingin.
Hujan di penghujung senja kali ini turun tidak sebagai air, melainkan sebagai jeda. Jeda yang lembut. Jeda yang panjang. Jeda yang memaksa untuk menoleh pada sesuatu yang selama ini disembunyikan dalam dada.
Rin menutup kepala dengan tudung jaket, langkahnya ringan tapi matanya gelisah. Bulir-bulir hujan berebut menelusuri wajah cantiknya sebelum akhirnya luruh begitu saja seperti doa tanpa kata.
“Bay….” Suaramu merambat seperti garis tipis di antara rintik, “aku ingin kopi yang jujur. Kopi yang tidak bersembunyi di balik manis gula. Kopi yang tidak berlari dengan nama asing. Kopi yang hanya menjadi dirinya sendiri.”
Aku menatap Rin. Dalam, tanpa kata. Dan dalam tatapan tanpa kata itu aku melihat hujan sedang belajar menirukan cara Rin berkata.
Kami berjalan menuju warung kopi langgananku dalam diam yang khusyuk. Langkahmu pelan, langkahku tertahan. Di kanan-kiri, tanah basah mengirim aroma yang mengingatkanku pada buku-buku tua yang pernah kami baca bersama, yang halamannya selalu mengerut bila disentuh hujan.
Sejauh mata memandang terlihat anak-anak kecil berlarian tanpa payung. Tawa mereka terasa begitu lepas, genangan mereka tendang hingga memercik. Suara sandal bertalu yang berpadu dengan denting hujan di atap seng menciptakan orkestra jalanan. Aku merasa penghujung senja ini adalah musik yang sengaja dicipta hanya untuk mengiringi langkah kami.
Warung itu menyambut dengan cahaya lampu redup, kursi tua yang berderit, dan seorang bapak tua dengan tangan gemetar. Tangannya meracik bubuk kopi lalu menuang air mendidih. Dari uap yang naik aku seperti melihat huruf-huruf kecil menari, menuliskan puisi yang hanya bisa dibaca oleh hujan.
Rin duduk di bangku panjang, matanya berkeliling.
Kami memilih kursi panjang dekat jendela. Rin membuka tudung jaket, rambutnya basah, meneteskan air ke bahunya. Ia mengusap wajah dengan tangannya yang kecil, lalu tersenyum samar—senyum yang lebih mirip luka yang baru saja sembuh separuh.
“Tempat ini…,” katamu sembari menyapu pandangan ke setiap sudut warung, “agak aneh. Terasa begitu asing tapi entah kenapa juga akrab.”
Aku mengangguk, deja vu dengan kunjungan pertamaku dulu.
“Bay,” katamu lagi, “tempat ini seperti menahan waktu. Seperti menolak berlari, meski dunia di luar sana terus bergegas.”
Aku kembali mengangguk. “Mungkin memang ada orang-orang yang memilih untuk berhenti, Rin. Berhenti agar tidak hilang. Berhenti agar tetap dikenang.”
Kopi datang. Hitam. Pekat. Uapnya mengepul seperti kabut gunung, menyembunyikan wajah Rin sesaat sebelum pecah.
Rin menunduk, menatap cairan gelap itu seolah-olah seperti tengah menatap takdir sebelum akhirnya menyesap perlahan. Wajahnya berkerut, alisnya menyatu.
“Getir,” bisikmu.
“Ya,” anggukku. “Getir yang tidak berpura-pura. Getir yang berkata apa adanya.”
Rin tertawa kecil. “Kau dan logika anehmu.”
Tawa itu hanya sebentar, teramat singkat, serupa tetes hujan yang jatuh di ujung daun, yang bergetar sebentar lalu menyelusup ke dalam tanah.
Tapi tawa itu menyisakan jejak di mata Rin. Jejak yang membuatku ingin tersesat lebih lama di dalamnya.
“Bay….” Suaramu kembali datang, lirih, “tempat ini mengingatkanku pada halte sekolah dulu. Kau ingat? Kita sering berteduh, padahal aku selalu membawa payung.”
“Tentu,” sahutku. “Kau bisa saja pulang, tapi kau menunggu.”
Rin menunduk, jari-jarinya memutar cangkir, “Aku menunggu sesuatu yang tak pernah sempat bernama. Menunggu diam yang panjang. Menunggu keberanian yang tak pernah lahir. Bahkan mungkin, aku sebenarnya menunggu …, kata-kata yang kuragu akan pernah terucap.”
Aku terdiam.
Karena aku tahu.
Karena aku juga menunggu, dengan diam yang sama.
Hujan di luar semakin menggila. Suara atap seng dipukul bertalu-talu bagai tabuhan drum yang dipaksa untuk terus bermain. Air menetes dari celah ke lantai, menciptakan lingkaran-lingkaran yang lahir, pecah, lalu lahir lagi. Kami terdiam, mendengarkan hujan merilis puisi di luar jendela.
Bay….” Suaramu hanyut dalam hujan. “Kadang aku merasa tak lebih dari seorang pengembara sepi yang hanya menukar satu sepi dengan sepi yang lain. Bersamanya pun aku tetap merasa sendiri, bahkan lebih kosong daripada sendirian.”
Aku menoleh, ingin menjawab, tapi kata-kata tercekat. Yang kulihat hanya matanya: ada lelah, meski juga terlintas sekerlip cahaya kecil yang membuatku ingin percaya bahwa ia masih menunggu.
“Rin,” kataku akhirnya, “kadang kita hanya butuh seseorang yang benar-benar mendengar. Bukan yang selalu punya jawaban.”
“Kadang kita tak butuh jawaban,” lanjutku. “Kita hanya butuh telinga yang setia, bahu yang diam.”
Rin hanya tersenyum getir, menyesap kopi yang sudah dingin.
“Bay, jangan pergi lagi. Aku sudah terlalu lelah mencari pulang.”
Kata-kata itu jatuh seperti hujan di dadaku. Aku ingin menjawab, tapi suaraku karam.
Malam menua. Warung semakin sunyi. Di luar, gerimis perlahan menutup tirainya. Di dalam, kami masih duduk. Duduk bersama hujan yang sudah pergi tapi meninggalkan jejak basah di dalam hati. Ada jarak yang merapat, tapi tidak pernah menyatu. Ada keintiman yang berdenyut, tapi tidak pernah menemukan nama.
Dan malam pun menjelma secangkir kopi yang mendingin perlahan, menyisakan rasa getir yang abadi.
***
Rin, setiap hujan adalah kopi. Setiap kopi adalah dirimu. Dan setiap getir yang tertinggal di ujung lidah adalah rindu—yang tak pernah kutelan tuntas, tapi juga tak pernah bisa untuk kulepas.
Purbalingga, 16925.










