Home / Topik / Wisata / 10. Jejak yang Tak Pernah Selesai

10. Jejak yang Tak Pernah Selesai

Ananta Kama 1600x900
1
This entry is part 11 of 33 in the series Ananta Kama

Aku sama sekali tidak berniat singgah di kedai kecil pinggir jalan menuju dusun Samberan  siang itu. Hanya ingin menepi sejenak. Kasihan Zack, ia sepertinya tidak terbiasa melakukan perjalanan di tengah hujan tropis. Hujan rintik-rintik, aroma kopi menyeruak dari pintu kayu yang terbuka separuh, membuat kami memutuskan berhenti.

Begitu masuk, langkahku terhenti di udara, aku menegang seketika, napas tercekat, seperti ada seseorang baru saja menghentikan waktu.

Bhaskoro.

Nama yang masih menimbulkan getir sekaligus hangat di dada. Laki-laki yang pernah kupikir bisa menjadi rumah, sebelum kenyataan berkata lain. Namun, meski luka itu begitu dalam, tak mampu menggusur perasaanku padanya.

Bhaskoro menoleh, dan untuk sepersekian detik, matanya membelalak. Senyum itu muncul, senyum yang dulu membuatku merasa diperhatikan, senyum yang membuatku merasa memiliki tempat untuk pulang, sekalipun aku tahu laki-laki itu tak pernah benar-benar menjadi milikku.

“Dek Tantri?” Suara Bhaskoro terdengar tak percaya.

“Mas Bhaskoro,” pekikku lirih, berusaha tersenyum tenang, meski jantungnya sudah tak karuan.

“Apa kabar, Dek Tantri? Kangen juga, ya? Terakhir ketemu waktu bersama Elaine eksplorasi untuk novel The Hidden Site of Tuin Van Java?”

Aku hanya tersenyum tipis, menyembunyikan hal yang paling kubenci setiap kali bertemu laki-laki itu, debar jantung yang tak patuh pada ritmenya. Berdentum seperti genderang perang.

Di samping Bhaskoro berdiri seorang perempuan cantik berkerudung cokelat muda. Matanya ramah, senyumnya lembut. Namun, dari wajahnya sepertinya dia bukan asli orang Indonesia, aku menebak … mungkin berdarah campuran Belanda dan Melayu …?

“Ini Ayesha,” kata Bhaskoro, sedikit canggung. “Teman … eh, maksudnya kami berkenalan di Museum Borobudur.”

Aku mengangguk. Ada sedikit perih menyengat, tapi berusaha kutahan, apakah aku cemburu?

“Halo. Saya Tantri.”

Ayesha menjabat tangannya hangat. “Saya sering dengar nama Mbak Tantri. Mas Bhaskoro bilang kamu orang yang paham tempat-tempat bersejarah di sekitar sini.”

Aku menoleh cepat ke arah Bhaskoro. Laki-laki itu mengusap tengkuknya … gestur gugup yang masih kuingat dengan baik.

“Memang.” Bhaskoro mengaku pelan. “Itu sebabnya aku mau minta tolong.”

Aku diam. Kata ‘tolong’ itu terdengar mengambang, setelah apa yang terjadi di antara kita, setelah jarak hadir … sekarang meminta bantuan. Atau … sekadar alibi?

“Kebetulan ketemu Dek Tantri di sini, padahal Mas sempat bingung tadi,” ucap Bhaskoro. Aku mengerutkan alis tak paham.

“Ayesha ini ingin mengenal situs-situs sejarah bisa di Magelang,” lanjut Bhaskoro. “Candi Selogriyo,  Candi Pendem, Asu, Lumbung … pokok semua yang menarik. Kebetulan ketemu Dek Tantri di sini, jadi sekalian minta tolong Dek Tantri bisa menemani Ayesha. Mas ada pekerjaan lain beberapa hari ini.” Bhaskoro menjelaskan gamblang.

Ayesha menatapku penuh harap. “Kalau tidak merepotkan Mbak Tantri.”

Aku bergeming, ada bimbang, ragu, getir, sekaligus nostalgia. Ada bagian dalam diriku yang ingin menolak, kabur, menghindar. Ayesha seperti perempuan rapuh yang berharap perlindungan dan jaminan rasa aman. Dan aku tahu pasti Bhaskoro type laki-laki yang tidak pernah menolak permintaan perempuan. Apa aku cemburu? Entah … ada kekhawatiran Ayesha hanya memanfaatkan Bhaskoro. Tapi apa peduliku? Di antara kami tidak ada hubungan apa-apa, kan? Tapi sisi lainku seakan ingkar dengan kenyataan itu.

“Bagaimana, Dek? Bisa, kan?” tanya Bhaskoro setelah aku lama terdiam.

“Eh, iya,” jawabku, mengembus napas, terlihat Ayesha dan Bhaskoro tersenyum lega.

“Tapi saat ini, aku sedang menemani Zack,” ujarku sambil menunjuk laki-laki yang sempat terabaikan. Zack mengangguk dari mejanya, terlihat acuh menyesap kopi yang masih mengepulkan asap.

“Jika tidak keberatan Kalian bisa bergabung,” lanjutku.

“Boleh juga … sepertinya menarik,” jawab Bhaskoro, lalu pandangannya beralih pada Ayesha, seakan meminta persetujuan.

Ayesha langsung tersenyum lebar, “Aku malah senang punya teman yang memiliki minat sama. Kita bisa jalan bareng dan tukar informasi.”

Bhaskoro menatapku lama … terlalu lama untuk disebut sekadar pandangan biasa. Ada rasa terima kasih, ada kedalaman yang tak disuarakan, dan ada sesuatu yang tidak akan pernah ia akui.

“Terima kasih, Dek,” ucap Bhaskoro pelan. “Dek Tantri selalu membantu.”

Aku hanya mengangguk. “Hanya itu yang bisa kulakukan.”

Hujan mulai reda, aku bersiap pergi mengantar Zack dan Ayesha. Meski aku bukan guide, tapi harus tetap profesional ketika diberi kepercayaan untuk menemani para tamu, selain untuk menambah wawasan, eksplorasi ini juga sebagai bahan tulisan untuk project penulisan novel selanjutnya. Bhaskoro pun bersiap pergi. Namun, sebelum masuk mobil, Bhaskoro menoleh sekali lagi.

“Dek Tantri.”

“Hm?”

“Maaf, kalau kehadiran mas tiba-tiba bikin Dek Tantri nggak nyaman.”

Aku mengangkat bahu. “It’s ok, aku baik-baik saja.”

Bhaskoro tersenyum sendu, seolah tahu itu hanya separuh benar. “Mas senang ketemu Dek Tantri lagi.”

Aku menelan ludah, terasa pahit. “Maaf, kami harus pergi biar nggak kemalaman.”

“Hati-hati di jalan, Mas pamit,” ujar Bhaskoro akhirnya. Dia masuk ke mobil, melambaikan tangan. Mobil itu melaju perlahan, menyisakan cahaya lampu belakang yang memudar di tikungan.

Aku berdiri di depan kedai, memandang hujan yang mulai reda, di beberapa titik menyisakan genangan yang airnya memantulkan kenangan.

Lagi-lagi pertemuan tak sengaja itu membuka pintu yang sudah lama kututup rapat. Pintu yang berisi tawa lama, harapan yang tak jadi kenyataan, dan seseorang yang punya tempat khusus, tempat yang tak pernah bisa benar-benar ia isi, tapi tidak juga pergi.

Hari ini aku menemani Ayesha menjejak situs-situs sejarah Magelang, dan mungkin, di sela-sela jalan setapak dan tumpukan batu candi aku bisa belajar merelakan laki-laki yang tak pernah bisa kumiliki, meski ceritanya tak pernah usai. Ada keinginan untuk menutup agar kisah kami menjadi sejarah, tapi kenyataannya aku masih berharap luka yang tak pernah benar-benar  mengering ini satu saat akan menorehkan cerita indah, hidup … dan abadi.

***

Aku melajukan mobil menuju dusun Samberan, desa Ringinanom, Kecamatan Tempuran. Di tempat itu ada sebuah situs yang menjadi bukti kekuasaan dinasti Sanjaya di Magelang. Baik Zack maupun Ayesha tidak banyak bicara, mungkin sungkan atau ada semacam ketakutan dalam komunikasi. Aku tak hiraukan, fokus pada medan yang sedikit sulit karena berada di tengah desa.

Selain situs Brongsongan yang kemarin sudah kami kunjungi, situs Samberan juga merupakan situs yang masih belum banyak dikenal masyarakat luas. Selain posisinya berada di tengah desa, dari segi rekonstruksi bangunan candi juga masih tergolong minim, akibat sangat terbatasnya komponen-komponen candi.

Mobil berhenti di halaman situs. Zack turun diikuti Ayesha. Setelah memastikan mobil aman, aku pun menyusul.  Jika pada situs Brongsongan ditemukan 2 arca yoni dan reruntuhan candi terbuat dari batu merah, di  situs Samberan hanya ditemukan yoni yang sudah tidak utuh.

Ananta Kama

. Situs Bowongan, Kuil Peninggalan Singasari 1. Tersamber Cinta di Situs Samberan

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image