Adam tidak masuk kerja pada Sabtu pagi. Satria dan Bakri juga mengambil cuti. Ini semacam keajaiban musim liburan karena sekarang dia bisa menguasai lintasan sendirian. Tidak perlu menghindari anak-anak lambat yang sedang dilatih papanya, atau ikut balapan dengan orang-orang bodoh yang mengira mereka lebih cepat darinya. Tidak ada yang pernah lebih cepat darinya di lintasannya sendiri.
Adam menuju garasi lintasan tempat dia menyimpan motornya. Sepatu botnya yang berat berdenting di lantai beton. Udara luar beraroma cemara dan bunga-bunga liar dan karena sekarang pukul tujuh pagi, udaranya cukup sejuk untuk merasakan beberapa detik terakhir hawa dingin malam sebelum matahari memanaskannya.
Dia mengambil helm dari dinding dan memakainya, mengencangkan tali di bawah dagu. Jantungnya berdetak normal. Bukan, ding, tapi berdetak dengan irama penuh semangat karena akhirnya, akhirnya, dia bisa mengendarai motor sendirian.
‘Hanya aku dan sepeda di lintasan yang kukenal di luar sini.’
Motor Adam menyala hanya dengan sekali hentakan starter, yang menyenangkan karena dia tidak mengendarainya selama beberapa hari. Adam memeriksa untuk memastikan bensinnya penuh, lalu dia keluar dari garasi, merasakan semua stres dan kecemasannya hilang dengan setiap putaran piston.
Lintasannya luar biasa pagi ini. Tanahnya basah dan diolah dari traktor, sempurna untuk menjepitnya di tikungan tajam. Pengendara yang baik tidak pernah duduk di atas sepeda motor trail. Dia harus berdiri, lutut dan siku ditekuk, mengarahkan sepeda motor ke mana dia ingin pergi. Duduk, bahkan untuk sedetik saja dan waktu putaran akan menjadi lebih lambat.
Otot-ototnya berdenyut saat Adam mengendarai. Gerakan-gerakan yang tak asing kembali kepadanya, tapi tubuhnya yang telah beristirahat selama dua hari berteriak memprotes. Dia mengertakkan gigi dan memacu lebih keras, lebih cepat, membiarkan mesin sepeda motor yang dimodifikasi untuk balapan berakselerasi dengan sekuat tenaga.
Saat berada di lintasan, dia bukan Adam Satria, si brengsek yang menyakiti Cinta. Dia seorang pembalap, seorang atlet. Dia menyatu dengan tunggangannya. Meski kedengarannya konyol, tetapi itu benar. Satu-satunya waktu dia bisa melupakan stres yang mengganggu adalah saat dia memacu motornya.
Jadi, mengapa dia tidak bisa berhenti memikirkan cewek itu?
Sudah seminggu.
Dia mengabaikan setiap pesan teks dari Vindy, dan bahkan mengabaikan obrolan genit di Facebook dengan Rihanna dan Lizbeth, dua cewek yang saudara laki-lakinya juga balapan dengannya. Adam sudah flirting dengan mereka berdua selama berminggu-minggu dan dia mengabaikan semuanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Adam tidak ingin berhubungan tanpa komitmen dengan cewek-cewek.
Dia ingin ngobrol dengan seorang cewek. Berbagi rahasia dan perasaan. Membuatnya merasa istimewa, aman, dan terlindungi, seperti yang dia lakukan malam itu saat mengantar Cinta pulang dari McD. Dia ingin memegang tangan Cinta dan memamerkannya kepada dunia. Yang Cinta inginkan hanyalah melupakan Adam.
Dia menginjak pedal gas dan sepeda motornya tersentak maju, lalu dia menginjak rem untuk berbelok tajam. Semua hal buruk dan mengerikan yang telah dia lakukan kembali padanya. Semua hubungan yang tidak pernah dia balas, ciuman yang tidak dia maksud, cewek yang dia rebut dari cowok mereka. Perbuatannya yang membuatnya merasa sebagai cowok bajingan.
Membawa tas Cinta seharusnya bukan salah satunya. Dia tidak mencoba menyakitinya. Dia mencoba membuat Cinta berpikir dia kuat, sopan, dan baik. Mungkin membuat Cinta berpikir dia tidak sendirian di dunia ini meskipun mamanya yang menyebalkan telah meninggalkannya dalam posisi yang persis seperti itu. Namun, yang dia dapatkan hanyalah tatapan tajam dan peringatan untuk tidak pernah berbicara dengannya lagi.
Adam terus melaju, berputar-putar di lintasan hingga kelelahan dan tubuhnya berteriak agar dia berhenti dan beristirahat.
Diabutuh air. Dia butuh makanan. Namun, rasa sakit karena memaksakan diri hingga batas atletiknya membuat Adam merasa senang dengan cara yang aneh.
Akhirnya, dia keluar dari lintasan. Botol air terdekat ada di kulkas di kantor depan, jadi dia membawa motornya ke pintu dan melompat turun, menyandarkan setang dengan hati-hati ke dinding bata. Motor balap tidak memiliki standar. Dadanya naik turun dan dia melepas helm, meletakkannya di atas jok.
Adam menurunkan tangannya ke lutut dan berkonsentrasi untuk bernapas perlahan. Ini bukan kelelahan karena kurangnya daya tahan. Dia dalam kondisi prima. Ini sesuatu yang berbeda, sesuatu yang tidak pernah dia duga dapat dia alami.
Patah hati.
Dia berdiri dan melepas baju kaus, lalu penyangga leher dan pelindung dada. Semua perlengkapan yang sangat mahal dan dimaksudkan untuk menjaga tubuhnya agar tidak terluka jika terjadi kecelakaan. Sayangnya, itu sama sekali tidak membantu apa yang ada di dalam dirinya. Kalau ada yang membuat pelindung patah hati, dia akan membeli lima lusin.
Di luar sangat panas dan masih lembab karena baru sekitar pukul sembilan tiga puluh pagi. Untungnya, dadanya yang berkeringat membantunya merasa sejuk.
Adam berjalan ke kantor dan hembusan dingin AC membuat bulu kuduknya merinding.
“Hai,” sapa Noni riang.
Adam mengangguk saat berjalan dan berhenti tiba-tiba ketika dia menyadari Noni tidak sendirian di sini mengerjakan dokumen Sabtu pagi.
Dia menelan ludah. Matanya fokus menatap Cinta. Cewek itu mengenakan gaun merah muda dengan tali tipis yang membuat bahunya terlihat rapuh dan entah bagaimana lebih manis dari biasanya. Rambutnya disanggul berantakan, dengan helaian anak rambut menjuntai menutupi wajahnya dan yang ingin Adam lakukan hanyalah menyingkirkannya dari mata Cinta. Membiarkan jemarinya menyusuri kulitnya.
Seluruh dunia seakan melambat hingga hanya menjadi pusaran dengan dia dan Cinta terperangkap di tengahnya. Adam melihat matanya berubah dari terkejut menjadi agak ramah lalu langsung kembali marah. Hampir seperti Cinta lupa bahwa dia marah padanya sesaat. Sayang sekali dia tidak melupakannya seterusnya.
“Bagaimana jalannya?” tanya Noni, wajahnya menunduk ke arah kertas-kertas yang sedang dia tata. Noni terlalu sibuk untuk menyadari beberapa detik kecanggungan yang terjadi antara Adam dan tamunya tadi.
“Bagus,” jawab Adam, tiba-tiba lupa setiap kata lain di alam semesta.
“Air?” tanya Noni, mencondongkan tubuh ke arah kulkas mini di dekat mejanya. Dia mengambil satu dan memberikannya ke Adam.
“Trims,” kata Adam, sambil bertanya-tanya apakah dia akan pernah bisa mengucapkan lebih dari satu kata karena Cinta ada di sini dengan penampilan bak bidadari.
Adam menatapnya sambil mendekatkan botol air ke bibirnya dan Cinta memperhatikannya. Matanya menatap ke perut Adam yang terbuka sebelum dia melihat ke meja resepsionis.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Adam, berusaha terdengar ramah.
Noni yang menjawab.
“Aku memberinya pekerjaan. Karena aku akan pergi untuk beberapa pameran kerajinan tangan sebentar lagi, kupikir dia bisa melakukan apa yang kulakukan sehingga aku tidak punya banyak pekerjaan yang menungguku saat aku kembali.”
“Ide bagus,” kata Adam, sambil menarik bangku bar tepat di sebelah bangku yang diduduki Cinta. Hanya ada dua bangku di belakang meja resepsionis, tetapi Noni berdiri di dekat komputer, maka Adam memanfaatkan kesempatan itu.
“Butuh bantuan?” tanyanya pada Cinta.
Semoga saja dia tidak menyuruhku pergi di depan Noni dan mungkin, mungkin saja, aku bisa mendapatkan kembali persahabatannya.
“Belum,” jawab Cinta sambil terus menatap kertas itu. Itu buku panduan orang tua yang diketik Kinan dulu sekali karena dia bosan menjelaskan peraturan motorcross kepada orang tua yang tolol.
“Hei, aku bisa membantumu dengan hal ini,” kata Adam, sambil mengetuk kertas itu. Jarinya nyaris menyentuh jari Cinta dan Cinta tidak mundur, yang pasti bagus.
Adam tersenyum. “Aku tahu segalanya tentang motorcross.”
“Semuanya?” tanya Cinta, yang entah bagaimana dia menunduk menatap Adam meskipun Cinta lebih pendek darinya.
Adam mengangguk, merasakan keangkuhan kembali muncul di senyumnya. “Semuanya.”
Cinta bersandar, menegakkan bahunya, dan mengerutkan bibirnya.
“Oke. Tahun berapa balapan motorcross profesional pertama?”
“Uhh . . .”
Adam menggigit bibir lalu menggelengkan kepala. “Sial. Aku tidak tahu. Sepertinya tahun tujuh puluhan atau semacamnya?”
Ekspresi tegas Cinta melembut dan Adam teringat betapa cantiknya dia saat tertidur di tempat tidurnya.
“Ingatkan aku untuk tidak meneleponmu kalau aku punya pertanyaan sepele tentang motorcross yang menyangkut hidup dan mati.”
Adam tertawa. “Kapan kamu akan punya pertanyaan sepele tentang motorcross yang menyangkut hidup dan mati?”
Cinta mengangkat bahu, memainkan bolpoin di tangannya, menggambar lingkaran di udara.
“Aku tidak tahu. Tapi itu bisa saja terjadi.”
“Itu bisa saja terjadi,” kata Noni, mengingatkan Adam bahwa tetangganya masih di ruangan itu.
Adam menoleh ke arah Noni dan Noni meletakkan tangan di pinggulnya, berpura-pura kecewa padanya.
“Anak baptisku sendiri tidak tahu balapan motorcross profesional pertama,” katanya, menggelengkan kepalanya. “Sungguh memalukan.”
“Baiklah, kapan itu?” tanya Adam, membuat Noni bingung. Dia menatap Cinta lalu kembali menatap Adam.
“Astaga!”
Mereka semua tertawa terbahak-bahak dan ketika Adam menoleh ke Cinta, cewek itu membalas tatapannya. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sepertinya Cinta tidak begitu membencinya.











