Karima menangis melihat tangan Youssef yang terluka dan berdarah. Otot-ototnya pun menegang. Karima mencoba menghentikan pukulan tangan Youssef. Spontan dia meraih tangan pemuda itu agar tidak melanjutkan aksinya.
“Youssef, jangan lakukan itu. Kau hanya melukai dirimu sendiri. Tolong hentikan,Youssef!”
Youssef menoleh ke arahnya dan menepis dengan kasar.”Apa pedulimu, ha? Kau ingin memberiku simpati, agar aku membebaskanmu? Tidak, Karima! Aku tidak akan melepaskanmu. Aku akan menikahimu segera. Aku sudah menyuruh ayahmu agar segera kemari dan menjadi wali nikah kita.”
“Youssef, to-long, ja-jangan lakukan itu, kumohon Youssef,” air mata Karima terus membanjiri pipinya. Dia tidak ingin menikah dengan paksaan atau terpaksa.
“Pernikahan tidak akan sah jika dengan paksaan ataupun terpaksa. Itu tidak benar,” lanjutnya.
“Belajarlah mencintaiku, Karima. Jangan acuhkan aku. Kau tahu bukan bagaimana rasanya diacuhkan? Kau mengacuhkanku untuk pria lain. Bukan begitu?”
Youssef meraih tangan Karima yang lembut meski hatinya terasa panas karena kecemburuan.Tetapi gadis itu melepaskannya.
“Youssef, jangan…”
“Jadilah istriku, aku mencintaimu. Cintai aku dengan segala keburukanku. Cintai aku dengan seluruh kekuranganku, Karima.” Wajah Youssef makin mendekat ke wajah Karima.Karima mendorong tubuh pemuda itu dan berusaha lari, tapi usahanya sia-sia.
“Tidak! Aku tidak ingin menikah dengan cara seperti ini. Ini tidak benar,Youssef.”
Youssef tersenyum tipis, dia sudah merencanakan sesuatu.”Baiklah, aku akan membawamu ke suatu tempat. Di sana, kau akan didandani seperti ratu, dan akan menjadi ratuku.”
“Tidak,Youssef. Menikah harus berdasarkan cinta-“
Youssef makin mendekatkan dirinya ke arah Karima. Dipandanginya gadis cantik di depannya itu.
“Apa kau pernah jatuh cinta?”
Karima menggeleng.
“Kau pernah memiliki cinta untuk pria?”
Karima kembali menggeleng.
“Kau pembohong!”
Youssef menendang kursi kayu di dekatnya. Karima kian ketakutan. Gadis itu memejamkan matanya. Dia tidak sanggup melawan tatapan mata Youssef.
Pada saat yang sama, Hicham telah sampai di tempat seperti yang dikatakan oleh sang penelpon misterius. Dia berjalan menuju rumah tua tempat Karima disekap. Youssef yang sudah mengetahui kedatangan Hicham, segera memperingatkan Karima.
“Diam di sini dan jangan coba-coba lari dariku.”
Youssef meninggalkan kamar itu, lalu menemui Hicham di luar. Hicham terkejut melihat pemuda itu.
“Kau…bukankah kau-“
“Ya! Ini aku calon ayah mertua.”
“Calon ayah mertua? Apa maksudmu?”
“Nikahkan kami berdua,putrimu dan aku sekarang juga. Aku sudah mempunyai dua saksi untuk pernikahan kami.”
“Ini tidak bisa. Aku takkan membiarkan putriku menikah dengan paksaan dan terpaksa. Lepaskan dia! Atau kau akan celaka!”
Youssef mengeluarkan akal liciknya. Dia berbisik di dekat Hicham,”Putrimu sekarang bagai bunga layu, calon ayah mertua. Aku sudah memetik bunga itu dengan segala keindahannya,dan sudah kuhisap madunya,” katanya berbohong yang semakin memancing kemarahan Hicham.
Hicham seketika naik pitam mendengar ucapan Youssef. Dia menyerang pemuda itu dengan amarah yang membakar. Tetapi Youssef berhasil melumpuhkannya. Dia menyeret tubuh Hicham ke dalam rumah itu dan meletakkannya di ruangan kosong bersebelahan dengan kamar Karima.
Sementara itu tak jauh dari tempat Karima disekap, seseorang memperhatikan sekeliling rumah.
“Pak,saya sudah menemukan tempatnya,” katanya kepada seseorang di ujung.
Youssef menemui Marco di kediaman Leon ditemani beberapa orang pengawal pribadinya, mereka membahas rencana selanjutnya dengan kerjasama mereka. Marco ingin menguasai harta Leon,begitu pula dengan Youssef. Kebencian dan dendamnya kepada pria yang telah menyengsarakan ibunya selama puluhan tahun kini harus terbayarkan. Marco tidak sadar jika Youssef-pun sedang merencanakan sesuatu.
“Aku ingin kita jujur dalam hal ini,Tuan.”
“Begitu pula sebaliknya. Apa yang kau inginkan?” tanya Marco penuh curiga.
“Aku ingin mendapatkan bagian yang sama,” jawab Youssef tenang dan datar. Hal itu membuat Marco geram.
“Ini bukan drama romansa, saudaraku. Ini kenyataan yang harus kita hadapi,” imbuh Youssef.
“Hei! Sadarkah dengan apa yang kau katakan?”
Youssef mendekatkan wajahnya ke arah Marco,”Aku sadar sesadar-sadarnya,dan aku ingin bagianku. Kita harus sama rata.”
“Tidak bisa! Kau tidak akan pernah mendapatkannya.”
“Aku akan membuktikan jika aku juga berhak memiliki hak yang sama!”
Youssef meninggalkan Marco dengan hati penuh dendam. Satu-satunya cara adalah dengan membawa ibunya.
***
Karima mendengar suara rintihan samar dari kamar sebelah. Youssef pergi dan belum kembali.
‘Siapa yang ada di sebelah?” pikirnya. Daun telinganya ditempelkannya ke dinding dengan seksama.
“Karima… Karima… ” Sayup-sayup terdengar sesekali memanggil namanya. Hati Karima berdebar-debar, dia sangat mengenal suara itu.
“Ayah… !” teriaknya,” tolong aku. Keluarkan aku dari sini, Ayah!” Karima menggedor-gedor pintu kamar itu dengan berteriak-teriak. Tapi usahanya sia-sia. Ayahnya tidak datang menolongnya.
Dia terduduk lemas. Menangisi nasibnya yang malang. Youssef telah mengurungkan beberapa hari dan akan menikahinya dengan paksa. Karima sangat takut. Saat itulah dia menyebut nama seseorang.
“Yazid… tolonglah aku. Lepaskan aku dari sini.” Batin Karima terluka. Dia menyesal tidak memberikan jawabannya tempo hari saat Yazid dan ibunya datang untuk melamarnya.
Yazid merasakan sesuatu dalam hatinya. Dia merasakan koneksi batinnya dan Karima sangat kuat. Di rakaat terakhir, dia memanjangkan sujudnya dan memohon pertolongan-Nya.
“Allah, berikan aku petunjuk dan kekuatan agar bisa membawa Karima kembali. Aku akan menjaganya dengan sepenuh hati, meskipun dia menolakku. Karena Kau Mahatahu atas segala kuasa-Mu.”
Karima pun berdoa yang sama,” Tolong hamba-Mu, Yaa Allah. Lepaskan aku dari sini. Aku tidak ingin menikah dengan Youssef,aku mencintai Yazid.”
Karima kini mengakui perasaannya kepada pemuda itu dalam diam. Dia tidak sadar,jika seseorang mendengar isak tangisnya sedari tadi.
***
Youssef mengajak ibunya ke suatu tempat. Lamyya, ibu Youssef tidak mengira jika hari itu dia akan dipertemukan kembali dengan pria yang puluhan tahun lalu menghancurkan hidupnya, serta tidak mau mengakui janin yang dikandungnya saat itu.
Leon pun tak kalah terkejut, dia melihat kilasan masa lalu yang membuatnya kini menerima balasan atas semua perbuatannya. Pertemuan dua orang yang terpisah karena keserakahan dan keangkuhan,kini takdir mempertemukan mereka kembali.
“Lam-yya…” Leon meneteskan air matanya melihat n wanita yang dulu pernah menyerahkan seluruh hidupnya kepadanya.
“Ya, Leon, ini aku. Dan pemuda di sebelahku ini adalah putramu, yang pernah kau suruh untuk gugurkan.”
Marco terperangah mendengar cerita itu.”Apa maksud semua ini, Ayah? “
“Dia- adalah- saudaramu, dia kakakmu.”
Marco sangat terkejut dan marah mendengar ucapan Leon. Tatap matanya kini memperlihatkan kemarahan dan kebencian kepada Youssef. Youssef mendekatinya dan tersenyum penuh kemenangan.
“Kau tahu sekarang? Aku adalah anak yang tidak pernah diinginkan oleh ayahku sendiri. Dan Leon dia juga ‘ayahku’, yang hanya bisa mengambil keuntungan sepihak dari ibuku.”
“Ayah,apa arti semua ini?” Marco mendekati Leon yang masih duduk terdiam dengan tatapan mata tertunduk. Dia bahkan tidak berani menatap Lamyya dan Youssef yang ada dihadapannya.
“Itu berarti kita saudara,Marco! Meski aku tidak pernah diinginkan dan tidak diakui oleh pria itu!” Tunjuk Youssef dengan mata tajam penuh kebencian. Inilah saatnya baginya untuk balas dendam atas semua perlakuan yang membuat hidupnya dan ibunya menderita.
“Aku pun berhak mendapatkan hak yang sama sebagai ‘putra’ Leon d’Oro. Bukan begitu,Ayah?”
Marco semakin meradang melihat ‘ejekan’ Youssef. Timbul dalam hatinya untuk segera menyingkirkan pemuda itu. Sementara Youssef hanya bisa diam penuh kemenangan.
***
Malam pun datang,tampak bayangan sesosok tubuh mendekati rumah tua tempat Karima dan Hicham disekap. Tampak di sana,seseorang mondar-mandir menjaganya. Dia mengendap- endap mendekati salah satu sisi bangunan itu. Dia berjalan mencari celah di mana Karima dan Hicham disembunyikan. Penjaga rumah itu berlalu pergi setelah dirasanya aman tempat itu. Sesosok tubuh tadi menyelinap masuk,dan memanggil- manggil nama seseorang.
“Karima,Karima…”
Karima yang mengenal suara itu langsung berdiri dan berlari ke arah pintu.
“Yazid, keluarkan aku sekarang! Aku ingin keluar!”
“Menyingkirlah,akan kudobrak pintunya!”
Karima menuruti perintah Yazid. Dari luar,pemuda itu tengah mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu kamar tempat Karima disekap. Dengan kekuatan penuh Yazid mendobraknya.
Bruakk!
Pintu terbuka. Karima berlari ke arah pemuda itu dan memeluknya erat. “Jangan tinggalkan aku,aku takut.”
“Tidak,aku tidak akan meninggalkanmu,tenanglah.”
Dia membalas memeluk gadis itu,meski ada sesuatu yang berbeda dirasakannya.
“Ayahku juga disekap, sepertinya di ruangan itu,” tunjuknya.
Yazid melepas pelukan Karima dan menuju ruangan di sebelahnya. Dia melakukan hal yang sama. Karima berlari ke arah ayahnya dan memeluknya dengan derai air mata. Hicham sangat bersedih melihat keadaan putrinya yang beberapa hari tak ada kabar.
“Paman,ayo kita segera meninggalkan tempat ini sebelum mereka datang.” Yazid membantu Hicham berjalan karena kondisi tubuhnya yang lemah. Di luar,seseorang telah bersiap membantu mereka.
“Yassine,kita harus segera pergi. Di mana Clarente?”
“Dia sedang ke sini,Pak?”
Yassine dan Clarente adalah orang-orang kepercayaan Yazid. Yassine memastikan anak buah Youssef belum kembali.
“Cepat,Yassine. Kita harus segera pergi.”
Baru saja Yazid berkata terdengar suara tembakan mengejutkan mereka.
Thaarr! Thaar!
“Pergilah kalian berdua!” Perintah Yazid kepada Karima dan Hicham.
Karima dan Hicham berlari mencari arah menuju jalan raya. Langkah mereka terhenti ketika sorot lampu dari sebuah mobil menyilaukan mata mereka. Seseorang keluar dari sana.
“Youssef…” Karima bergidik ketakutan. Dia melihat wajah Youssef penuh kemarahan. Karima bersembunyi di belakang punggung ayahnya.
“Jangan pernah mencoba meninggalkanku, Karima. Kita akan segera menikah,dan ayahmu yang menjadi wali darimu.” Youssef mendekati Hicham dengan tatap mata tajam,”Bukan begitu,calon ayah mertua?”
“Jangan harap kau bisa memiliki putriku. Aku takkan pernah membiarkannya menderita hidup denganmu!” Hicham menantang Youssef dengan sisa-sisa tenaganya. Meski tubuhnya sangat lemah,tetapi dikuatkannya tubuh itu untuk melindungi putrinya.
Youssef kian mendekat ke arah mereka. Hicham pun kini sudah siap seandainya dia harus kehilangan nyawa demi Karima.
“Kembalilah padaku,Karima. Aku akan memberimu kebahagiaan,” Youssef berbicara selembut mungkin,dia tidak sedang ingin meluapkan emosinya yang sewaktu-waktu bisa meledak luar biasa.










