Apakah Anda sering merasa sukar menjadi saksi Tuhan, sesukar memecahkan masalah pelik atau menghadap bos super galak, calon mertua super menakutkan, atau siapa saja yang disegani, bikin kaki gemetaran?
Ada beberapa cara sederhana menunjukkan kasih sayang Tuhan kepada kita alias bersaksi tanpa kata-kata sukar, tanpa petantang-petenteng, pamer-pamer berkat. Mari simak beberapa tips berikut ini:
- Tunjukkan sikap sederhana. Sebagai Anak Tuhan, walaupun kita (masih) hidup di dunia, janganlah lantas terlalu surgawi alias ‘sok suci’, misalnya terlalu membatasi diri, eksklusif, malas gaul dengan yang berbeda, maupun sebaliknya, terlalu duniawi, ‘sok down-to-earth’, alias ikut mana-mana aja tanpa pertimbangan. Caranya bagaimana? Jadilah pribadi sederhana seperti yang telah diteladankan Kristus. Berusaha lebih stay low, santun, sabar, menahan diri.
- Pada zaman now ini, tentu sulit untuk tidak hidup di dua dunia. Dunia maya dan tentu saja dunia nyata yang utama/terpenting. Akan tetapi sukar juga gak melirik dunia maya sama sekali, bukan? Isilah dunia maya/media sosial Anda dengan sharing lebih banyak hal-hal positif. Sesekali bercanda atau membagikan humor, memberi masukan, meneruskan informasi kredibel, tentu saja boleh. Akan tetapi, apabila membaca postingan orang lain yang kurang berkenan, tahanlah dulu dan pertimbangkan semua komentar (negatif) sebelum mengetikkannya. Seringkali, seseorang terbawa emosi apabila membaca suatu hal yang bertentangan dengan pendapat pribadinya. Penulis sendiri pernah telanjur melakukan ini, malah terbawa dalam debat kusir yang seakan tiada habisnya. Perdebatan/perang komentar semacam itu takkan pernah membawa kebaikan atau perubahan. Menghabiskan waktu, hati kehilangan damai sejahtera, malah membuat dosa atau membuat orang lain ikut berdosa. Lebih baik fokus pada sharing kita sendiri mengenai hal-hal positif, daripada mendebat sharing-sharing negatif pihak lain. Jangan takut menyuarakan kebenaran yang kita yakini dan alami. Jangan takut jika yakin bahwa Anda benar.
- Jadilah teladan (bagi keluarga sendiri/orang-orang terdekat) terlebih dahulu. Tak perlu seperti guru galak/mandor garang juga, apalagi dengan hardikan atau paksaan. ‘Kebiasaan baik’ yang tumbuh di bawah tekanan tidak akan pernah benar-benar berhasil baik. Kebiasaan baik sejati malah seringnya tumbuh dari kejadian/pengalaman buruk. Sebuah kisah nyata, beberapa tahun silam penulis pernah tidak sengaja memecahkan lensa kacamata sendiri akibat terlalu buru-buru meletakkan kacamata di pinggir bak mandi. Sejak kejadian buruk itu dan mengganti lensa, penulis berusaha berhati-hati setiap berbuat hal yang sama. Belajar pelan-pelan dan sabar, biarpun sedikit demi sedikit saja, penulis akhirnya berhasil mengubah kebiasaan grasa-grusu itu. Semoga dengan mengubah diri dulu sedemikian, anak-cucu kita akan tertular kebiasaan-kebiasaan baik kita tanpa perlu dipaksakan.
- Apakah boleh menunjukkan kasih/berkat dengan memberi? Berilah apa yang bisa kita beri, jangan memaksakan diri. Memberi tidak berarti harus jadi sinterklas, tebar uang bagi rezeki di mana-mana, melainkan menyediakan apa yang mungkin orang lain butuhkan. Memberilah secara rahasia, tidak perlu gembar-gembor kesana-kemari. Seperti sebuah ayat Alkitab berbunyi kurang lebih ‘apa yang diberikan tangan kanan, tangan kiri tidak perlu tahu’. Jika apa yang ada pada kita dibutuhkan teman kita, jangan tahan-tahan atau sembunyikan. Tidak perlu mengharapkan imbalan/balasan, Tuhan yang akan membalasnya berlipat kali ganda.
Kesimpulan: Beberapa cara sederhana di atas hanya sebagian kecil saja, barangkali rekan-rekan pembaca bisa menambahkan sendiri pengalaman pribadinya. Tunjukkanlah kasih sayang Tuhan dengan bersikap sederhana. Senantiasa sharing hal-hal positif. Jadilah teladan, perlakukan sesama seperti kita ingin diperlakukan. Berilah apa yang bisa kita berikan setulus hati tanpa mengharapkan imbalan.
Tuhan memberkati. Amin.
Tangerang, 25 April 2025
Wiselovehope











