Home / Topik / Wisata / 23. Temu Gelang

23. Temu Gelang

THE HIDDEN SITE OF TUIN VAN JAVA 1600X900
1

Sebelum memutuskan untuk turun dari puncak Telomoyo, Elaine berdiri cukup lama seakan enggan beranjak. Gadis itu tak henti berdecak takjub, berada di antara hamparan awan sambil menyaksikan pemandangan tujuh gunung sekaligus yang mengelilingi Magelang. Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Ungaran , Gunung Andong, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro, dan Gunung Prau seakan saling bertaut membentuk gelang raksasa.

“Tahu nggak asal nama Magelang?” tanya Ran sambil menggeser posisi di samping Elaine.

“Apa?” Elaine menggeleng, lalu menatapku dengan alis terangkat, “Maman belum pernah mengatakan padaku.”

“Dahulu nama Magelang hampir tidak diperhitungkan. Orang awam hanya mengenal sebagai ibukota Karesidenan Kedu dan kota penghasil gethuk. Bahkan Candi Borobudur yang pernah dinobatkan sebagai salah satu keajaiban dunia pun lebih sering dikenal sebagai bagian dari Yogyakarta. Padahal meski berdekatan, tapi Magelang dan Yogyakarta sudah beda propinsi.”

“Candi … Borobudur? Apakah kita pernah kesana?” tanya Elaine sambil mengangkat alis.

“Belum, nanti jika waktunya ada aku akan mengajakmu kesana,” jawabku.

“Hingga beberapa tahun terakhir media sosial mulai mengenalkan obyek wisata dan keindahan deretan pegunungan yang mengelilingi Magelang, membuka tabir keindahan dan kekayaan alamnya.  Magelang dengan sejarah panjangnya juga menjadi salah satu kota tertua di Indonesia dan memiliki peran penting dalam sejarah Jawa Tengah. Meskipun tak banyak yang mengetahui sejarah kota Magelang.” Ran melanjutkan penjelasannya.

Matahari mulai memberi isyarat akan segera lengser. Joyo mengajak kami segera turun agar tidak kemalaman. Sepanjang jalan dari puncak Ran melanjutkan penjelasannya.

“Magelang kuno dulunya bernama Mantyasih atau sekarang dikenal sebagai Kampung Meteseh, memiliki sejarah yang panjang dan kaya. Sejak masa Mataram Kuno, daerah ini sudah menjadi bagian penting dari kawasan Kedu dan pusat pemerintahan.”

“Apa yang dikatakan Mas ini benar,” sela Joyo sambil tetap fokus mengemudi.

“Wilayah yang punya julukan Kota Sejuta Bunga ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah kotanya. Lokasinya yang strategis menjadi penghubung bagi kawasan utara dan selatan.”

“Lalu asal-usul nama Magelang dari mana?” potong Elaine tak sabar.

“Duh, nggak sabaran amat,” goda Ran pura-pura merengut. Elaine terkekeh melihat bibir Ran yang maju beberapa senti. Bahkan aku pun geli melihat kelakuan bocah berkacamata itu.

“Ok, please continue!” ujar Elaine akhirnya. Ran mencebik, tapi kemudian melanjutkan ceritanya.

“Asal-usul nama Magelang sendiri ada beberapa versi. Namun, yang populer adalah nama Magelang berasal dari strategi Pangeran Purbaya yang mengepung Jin Sepanjang dengan gerakan melingkar sehingga dinamakan temugelang atau tepung gelang, yang berarti mengepung rapat seperti gelang.” Kali ini Elaine manggut-manggut dan menyimak serius.

“Alkisah pada jaman dahulu, Panembahan Senopati yang memimpin Kerajaan Mataram ingin memperluas wilayah kerajaannya, karena Kerajaan Mataram tumbuh dan berkembang semakin ramai. Atas pendapat Ki Gede Pemanahan, diputuskan bahwa langkah yang harus dilakukan adalah dengan membuka sebuah hutan bernama Hutan Kedu.”

“Hutan Kedu itu di mana?” tanya Elaine, gadis ini memang kritis dan tidak sabaran, cocok dengan profesinya sebagai jurnalis, dama seperti ayahnya. Astaga … kenapa aku tiba-tiba mengingat laki-laki itu? Aku mengembus napas dengan kasar, menepis pikiran ngaco yang tiba-tiba nyelonong tanpa permisi.

“Hutan Kedu adalah hutan yang berada di wilayah Keresidenan Kedu pada waktu itu. Karesidenan ini di mencakup beberapa kabupaten seperti Magelang, Temanggung, Wonosobo, Purworejo, dan sebagian Kendal dan Semarang.”

“Wah, besar ….” Elaine membulatkan mata, membayangkan luasnya gabungan kabupaten yang disebut Ran.

“Panembahan Senopati kemudian memberikan tugas kepada putranya yang bernama Pangeran Purbaya. Untuk melaksanakan tugas tersebut Panembahan Senopati membekali Pangeran Purbaya dengan sebuah tombak yang bernama Tombak Kyai Pleret. Tombak ini diberikan oleh Panembahan Senopati kepada Pangeran Purbaya untuk melawan raja jin penguasa Hutan Kedu yang dikenal sangat sakti. Tentu saja perjalanan Pangeran Purbaya ke Hutan Kedu juga didampingi sekelompok prajurit khusus yang sudah berpengalaman,” lanjut Ran tanpa memedulikan komentar Elaine.

“Kalau nggak salah saat mulai memasuki Hutan Kedu, Pangeran Purbaya dan pasukannya dihadang oleh sosok jin yang berwajah seram dan bertubuh besar. Sosok jin ini pun menanyakan maksud kedatangan Pangeran Purbaya dan pasukannya ke Hutan Kedu,” sela Joyo yang sejak tadi menyimak.

“Benar.” Ran mengiyakan.

“Lalu Pangeran Purbaya memperkenalkan dirinya dan menyampaikan maksud kedatangannya ke Hutan Kedu, yaitu untuk membuka Hutan Kedu sebagai sebuah perkampungan. Tentu saja penguasa hutan yang bernama Jin Sepanjang sangat murka mendengar maksud tersebut. Jin Sepanjang dan pasukannya sontak menghalangi tujuan Pangeran Purbaya,” lanjut Joyo.

“Wah, ternyata Mas Joyo tahu juga ya ceritanya?” ujar Ran.

“Sedikit-sedikit tahu lah, Mas. Sebagai penduduk asli Magelang tentu ya harus tahu sejarah kotanya, toh?” kilah Joyo.

“Betul banget itu,” timpalku tak mau kalah. Kami tergelak bersama, selanjutnya Ran meminta Joyo untuk melanjutkan penjelasannya.

“Pangeran Purbaya lalu mengeluarkan tombaknya untuk menghadapi Jin Sepanjang. Namun, Jin Sepanjang tidak takut pada Tombak Kyai Pleret, hingga terjadilah pertarungan antara Pasukan jin yang berjumlah banyak melawan pasukan Pangeran Purbaya. Tombak Kyai Pleret yang dibawa oleh Pangeran Purbaya berhasil membuat Jin Sepanjang dan pasukannya  terdesak dan mundur.”

“Pasukan Jin akhirnya menyerah?” tanya Elaine.

“Oow, belum.” Joyo menjawab sambil menggelengkan kepala. Kami yang menyimak justru lebih fokus pada cerita Joyo ketimbang menikmati pemandangan.

“Merasa tidak terima atas kekalahannya, Jin Sepanjang mengatakan akan menuntut balas pada pasukan Pangeran Purbaya yang sudah mengubah hutan tempat tinggalnya menjadi perkampungan. Setelah kepergian Jin Sepanjang, Pangeran Purbaya pun mulai memimpin pasukannya untuk membuka Hutan Kedu.” Joyo memperlambat laju Jeep karena jalan menurun sedikit curam. Tak ingin membuatnya terganggu, Kami menunggu hingga tiba di jalan yang lebih landai.

“Tidak butuh waktu lama, sebagian wilayah Hutan Kedu sudah berubah menjadi desa kecil yang subur, warga pun mulai berdatangan dan menetap. Raja jin yang tidak terima kawasannya berubah menjadi pemukiman, menyusun strategi dengan mengubah penampilan menjadi manusia bernama Sonta. Hingga suatu malam, Sonta mengeluarkan asap putih yang menyebar ke seluruh desa. Pagi harinya, banyak warga sakit dan meninggal secara misterius. Pangeran Purbaya yang mengetahui bahwa penyakit misterius tersebut disebabkan oleh raja jin yang menyamar menjadi pelayan di rumah Kyai Keramat pun sangat terkejut.”

“Lalu bagaimana tindakan Pangeran Purbaya?” cecar Elaine.

“Mengetahui banyak warganya yang menjadi korban Jin Sepanjang, Pangeran Purbaya pun menyusun strategi untuk melawan Jin Sepanjang. Pangeran Purbaya lalu memerintahkan para prajuritnya untuk bergerak di sepanjang hutan dengan gerakan melingkar seperti gelang. Cara ini dilakukan untuk mengepung hutan tempat Jin Sepanjang berada. Dengan cara ini, diharapkan Jin Sepanjang tidak bisa lolos dari pengejaran. Akhirnya strategi pun berhasil dan Jin Sepanjang tidak punya kesempatan untuk melarikan diri lagi hingga terjadilah pertarungan kembali.”

“Lalu siapa yang menang?” Lagi-lagi Elaine mencecar tak sabar.

“Kesaktian Tombak Kyai Pleret yang dipakai Pangeran Purbaya jauh lebih tinggi dari Jin Sepanjang, hingga mampu mengalahkan raja jin. Dengan menggunakan Tombak Kyai Pleret, Pangeran Purbaya menusuk tubuh Jin Sepanjang hingga jatuh ke tanah, lalu perlahan-lahan menguap dan hilang ke udara.” Joyo mengakhiri penjelasannya. Elaine mengangguk-angguk, senyumnya mengembang puas

“Konon strategi Pangeran Purbaya untuk mengepung Jin Sepanjang dengan formasi gerakan melingkar seperti gelang inilah yang kemudian membuat seluruh wilayah disebut sebagai Magelang.” Ran melengkapi penjelasan Joyo.

“Tapi, Ran. Ada juga yang mengatakan Magelang berasal dari kata Maha Gelang yang artinya gelang besar?” tanyaku, mengingat etimologi yang pernah kubaca.

“Dalam versi lain, secara etimologis nama Magelang diduga berasal dari kata dalam bahasa Jawa Kuno yaitu Gelang atau Glanggang yang berarti arena terbuka, lingkaran, atau tempat pertarungan. Bentuk geografis wilayah Magelang yang berupa dataran tinggi dan dikelilingi oleh pegunungan seperti Gunung Andong, Telomoyo, Sumbing, Merbabu, dan Pegunungan Menoreh dianggap menyerupai gelanggang alami. Seiring waktu, kata “Gelang” mengalami penambahan morfem awal “Ma-“, sehingga menjadi “Ma-gelang”, yang dalam konteks kebahasaan Jawa menunjukkan penamaan tempat. Versi ini diperkuat oleh keberadaan toponim dan istilah dalam naskah-naskah Jawa Kuno serta dalam tradisi lisan masyarakat sekitar yang menyebut kawasan tersebut sebagai tanah gelang.” Ran mengakhiri penjelasan yang cukup panjang.

Jeep sampai di basecamp saat matahari telah kembali ke peraduan. Sandyakala yang menggantikan tampak seperti lukisan yang memukau mata. Bhaskoro langsung mengajak kami pulang, sementara Ran kembali pada rombongan teman-temannya.

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Satu Komentar

  • Wijatmoko Bintoro Sambodo
    Balas

    narasi yang menarik… bercerita tentang sejarah yang dikemas melalui dialog cerita. Pembaca menjadi serasa hanyut ketika berada di pinggiran, sehingga menyelesaikan seluruh teks ceritanya. Keren.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image