Beranda / Non Fiksi / Tutorial / Membangun Imajinasi Menulis Novel Fantasi

Membangun Imajinasi Menulis Novel Fantasi

Penulis Pria
3

Sebagai seorang penulis, aku biasa ‘tenggelam’ dalam dunia imajinasi yang kubangun untuk mewujudkan novelku.

Meski ‘hanya’ fiksi (dan fantasi pulak), bukan berarti tidak ada titik referensi dunia nyata. Hanya saja, seperti reporter, aku menggunakan ‘logika penulis’. Apakah hal tersebut berfungsi di dunia fantasi?

Ada hal-hal jelas yang mungkin sudah diketahui banyak orang–akar peristiwa, bahasa, sejarah, dan lain sebagainya. Tetapi, untuk yang lainnya, kita membutuhkan imajinasi.

Tidak ada yang tak mungkin diselesaikan dalam dunia nyata yang tak dapat diatasi oleh imajinasi.

Novel fantasi membawa pembaca ke semesta realitas fiksi. Dari negeri purba di mana raksasa, naga, peri dan penyihir menjadi tokoh cerita, kota metropolitan masa kini yang dihuni oleh para pahlawan dan penjahat super, hingga masa depan di mana manusia dan alien bersaing menguasai planet-planet di kuadran galaksi.

Ciri-ciri novel fantasi adalah dunia imajiner yang dibangun secara serius tanpa batas-batas ilmiah atau sosial. Penulis bebas untuk menciptakan realitas apa pun yang mereka pilih. Untuk itu, perlu diperhatikan beberapa hal agar berhasil. Apa saja yang perlu dilakukan untuk menulis novel fantasi?

1. Membaca dan membaca ulang.

Kamu hanya bisa menulis sebaik yang kamu baca. Pelajari genre fantasi klasik, catat apa yang menarik bagimu tentang bagaimana masing-masing penulis fantasi melakukan pendekatan–misalnya, dunia yang dibangun, pengembangan karakter, atau alur cerita–dan bagaimana penulis mengarahkan pembaca ke arah konflik yang menurut kamu paling menakjubkan. Baca dan ulangi membaca buku fantasi favoritmu sambil menerapkan sudat pandang yang sama dengan penulisnya.

2. Ketahui ceruk pasar-mu.

Untuk penulis fantasi pemula, sangat penting untuk mempertimbangkan target pembacamu. Apakah kamu menulis untuk anak-anak, remaja, atau orang dewasa? Novelmu masuk ke subgenre fantasi yang mana: fantasi tinggi, steampunk, distopia, paranormal, fabulisme? 

Mengidentifikasi pasar dapat membantu dengan strategi penjualan dan keputusan kreatif.

3. Mulailah dari yang kecil.

Wajar jika kamu mengagumi kerumitan dunia yang diciptakan oleh penulis lain. Menciptakan alam semesta fiksi adalah kerja keras.

Kenali dunia fantasimu dahulu dengan menulis cerita pendek yang melibatkan tokoh utamamu atau penulis lain-cerpen yang mungkin bukan untuk diterbitkan.

Sebelum menulis Hobbit, J.R.R. Tolkien menulis beberapa cerita dengan latar Middle-Earth yang belum pernah dirilis. Orson Scott Card memulai saga Ender’s Game sebagai cerpen pesanan sebuah majalah.

Dengan memulainya sebagai cerita pendek, kamu punya dasar untuk membangun novel fantasimu.

Mulailah dengan satu tokoh, satu kota, atau bahkan monster antagonis. Kembangkan secara detail sampai terasa hidup. Saat melakukan ini, ratusan rincian kecil lainnya akan muncul seperti jaring laba-laba, dengan ‘satu’ ciptaanmu sebagai pusat cerita. Bagaimana tokohmu berinteraksi dengan tokoh lain? Apa yang membuat kotamu terkenal? Apakah monster kamu anak nakal atau ancaman yang serius? Lalukan dengan tetap berfokus pada elemen tunggal sampai jaring laba-labamu menjadi lingkaran konsentris.

4. Selanjutnya, jadilah besar.

Menulis fantasi sering kali melibatkan penciptaan dunia baru. Luangkan waktu dengan membayangkan bukan hanya geografinya, tetapi juga adat istiadat, budaya, dan sejarah. Fantasi yang baik menjalin detail yang terkadang biasa-biasa saja ke dalam plot. Pertimbangkan, misalnya, bagaimana George R.R. Martin menggunakan musim-terutama musim dingin, winter is coming–dalam A Song of Ice and Fire. Atau budaya masing-masing negara  fiktif dalam serial Black Magician-nya Trudi Cavanan.  

5. Jangan takut dengan sejarah dunia nyata.

Sejarah ribuan tahun bumi yang kaya, rumit, indah, dan brutal patut dimanfaatkan sebagai sumber inspirasi novelmu. Baik yang diketahui khalayak dunia mau pun yang pinggiran atau yang tidak jelas asal muasalnya. Menjadikan dunia nyata sejajar dengan cerita yang ingin kamu sampaikan adalah cara yang bagus untuk menambahkan warna dan nuansa pada novelmu. Temukan periode sejarah–semakin kurang diketahui semakin baik–dan jadikan dirimu sebagai ahlinya. Sejarah Mataram jelas terang benderang, tapi coba menyelam lebih jauh ke lokasi yang sejarahnya jarang diceritakan. 

Manfaatkan gosip yang pernah ada. Negara Atlantis di Gunung Padang, misalnya. Temukan tempat di mana tokoh, kota, atau monstermu membumi. Sejarah, legenda, dan mitos adalah sahabatmu. Jangan pernah takut memanfaatkannya.

6. Tentukan sudut pandang.

Novel fantasi dapat dimainkan sebagai orang ketiga melalui narator yang mahatahu, atau orang pertama melalui sudut pandang satu atau banyak tokoh.

Pendekatan pertama memungkinkan kamu menuliskan detail sesukamu. Pendekatan kedua membiarkan tokohmu membimbing pembaca untuk menemukan dunia seperti yang dilakukannya, membangun konflik dan merasakan sensasi yang serupa.

7. Kenali tokohmu.

Hindari mendesain karakter yang rumit, unik, dan tidak sempurna seperti orang-orang di dunia nyata. Jika kamu membuat sketsa tokohmu, lakukanlah. Jika tidak, tuliskan semua yang kamu bisa tentang mereka. ‘Wawancarai’ tokohmu dengan serangkaian pertanyaan standar tentang motif, emosi, kebiasaan, dan sejarah hidup meeka.

8. Kenali kisahmu.

Dengan jalinan cerita yang cukup, potensi titik persilangan akan menjadi banyak. Tokohmu akan mengunjungi tempat yang ditentukan. Dua tokoh bertemu, monster muncul di tempat dan waktu tertentu. Ini adalah ceritamu. Kamu akan menemukan bahwa imajinasimu menjadi liar. Kamu akan mengubah dan memulai lagi beberapa kali-menemukan hal-hal yang tidak kamu sukai dan membuangnya-tetapi kamu akan menjadi lebih baik setiap saat. Tidak semua ide harus menjadi karya, tetapi semuanya mengajarkanmu sesuatu. Semakin imajinasimu terbenam ke dalam jaring laba-laba, akan semakin baik kamu memahaminya dan akan semakin berkembang. Dan kisahmu menjadi sebuah plot.

9. Tulis garis besar ceritamu.

Menulis novel merupakan hal yang rumit, tetapi menceritakan kisah fantasi biasanya lebih menantang. Memang ada penulis yang mampu menulis tanpa plot, langsung on the spot. Tapi biasanya membutuhkan waktu lebih lama dan sering memiliki plothole.

Bahkan para profesional tetap menggunakan garis besar untuk melacak linimasa, plot, dan karakter tokoh mereka. J.K. Rowling membagikan secuil catatan tulisan tangan tentang Harry Potter. Praktik seperti itu memastikan tidak ada utas yang hilang, dan menuntun jalanmu jika menemukan jalan buntu.

10. Ciptakan aturan dan pertahankan.

Siapa bilang sihir itu tidak nyata? Siapa bilang makhluk gaib tidak ada? Jika sesuai dengan jaring laba-labamu, gunakanlah. Jika kamu merasa manusia membosankan, ciptakan spesies baru. Jika menurutmu sihir terlalu aneh, buat definisi baru. Aku melakukannya dalam Palasik Milenial.

Yang kamu buat bukan saja sebagai titik tolak di mana kamu mulai menguji imajinasimu, tetapi itu juga awal menjadikan segala sesuatunya hidup. Munculkan sesuatu yang aneh yang tidak akan pernah terjadi di dunia nyata dan kembangkanlah. Jadikan dunia seaneh yang kamu suka. Ingat, ini imajinasimu, hanya kamu yang dapat mengubahnya. Ajaib dan menakjubkan membuat kreasimu istimewa.

Namun, fantasi paling liar pun harus didasarkan pada realitasnya sendiri sehingga terasa dapat dipercaya. Jika ini adalah novel fantasi pertamamu, pertimbangkan untuk meneliti beberapa dasar kemasyarakatan seperti sosial, politik atau ekonomi. Ajukan pertanyaan yang jelas seperti, “Dari mana gunung berasal?” Bahkan sihir pun, dan seharusnya, memiliki alasan yang masuk akal sendiri.

11. Dialog yang hidup

Gaya bicara tokoh-tokoh dalam novel fantasimu dapat menunjukkan suasana hati dan motivasi serta asal budaya mereka dalam peradaban yang kamu ciptakan. Daripada menulis eksposisi yang dipaksakan ke dalam percakapan, tulis adegan yang memperlakukan dialog sebagai kesempatan untuk menyampaikan pemahaman yang lebih baik tentang tokohmu.

12. Luangkan waktu untuk memperkenalkan tokoh-tokoh secara tahap.

Setelah membangun dunia yang unik dan mengisinya dengan beragam karakter, kamu mungkin tergoda untuk menjelaskan dan memperkenalkan semua orang di beberapa halaman pertama. Namun hal itu akan membuat pembaca kewalahan. Alih-alih, ungkapkan imajinasimu dengan hati-hati, sedikit demi sedikit, menggunakan kelima indra untuk menghidupkan dunia saat narasinya menarik pembaca Anda lebih dalam lagi.

13. Bersenang-senanglah.

Sulit-sulit gampang menjelaskan hal ini. Fiksi fantasi adalah ‘pelarian’, dan penulis harus bisa masuk ke dalam cerita bersama pembacanya. Dengan begitu, kamu menjadi terikat dengan mereka. Semakin kamu peduli dengan hal-hal yang kamu tulis, maka semakin nyata tokoh ciptaanmu dan semakin kaya duniamu. Jadikan karyamu sebagai penemuan yang paling berharga. Biarkan imajinasimu mengambil alih realitamu.

Bandung, 7 Mei 2021

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *