“Kita kemana?” tanya Kyoto setelah selesai makan. Menyadari suasana hati Leon yang keruh, ia merasa perlu bertanya sebelum memutuskan.
“Entah, aku lelah, tapi aku tidak ingin langsung tidur,” jawab Leon lirih.
“Aku tahu tempat yang bagus, kita bisa cari homestay di dekat sana,” ujar Kyoto lagi.
Nadia hanya mengangguk setuju, ia merasa canggung dengan situasi malam itu. Kyoto melajukan mobil menuju sebuah tempat di tepi jalan antara Yogya dan Wonosari.
Tempat dengan lanskap senja dan malam yang mempesona, menampilkan pemandangan Kota Yogyakarta dengan latar Gunung Merapi dan Merbabu tersaji di depan mata. Kyoto berjalan di depan, kemudian duduk di kursi beton di atas tebing diikuti Nadia dan Leon.
Langit malam di Bukit Bintang terbentang luas seperti kanvas gelap yang ditaburi cahaya. Angin berembus pelan, seolah mencoba menenangkan hati yang sedang bergejolak. Namun, bagi Leon, keindahan itu terasa jauh. Tatapannya kosong, menembus kerlip lampu kota di kejauhan tanpa benar-benar melihat apa pun.
Sejak pertemuan sore tadi, sesuatu dalam dirinya berubah. Ia lebih banyak diam, menarik diri dari percakapan, bahkan senyumnya yang dulu mudah muncul, seakan hilang tanpa jejak.
Nadia meliriknya beberapa kali, hatinya tidak tenang. Ia tahu Leon sedang berjuang, meski tak sepenuhnya mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Sementara Kyoto, yang biasanya santai dan penuh canda, malam itu memilih lebih banyak diam, ia berusaha mencairkan suasana dengan sesekali melontarkan humor ringan.
“Lihat itu,” kata Nadia pelan sambil menunjuk langit. “Itu seperti bintang kejora, cahaya paling terang dan paling besar.”
Leon mengangguk dan tersenyum kecil.
Selanjutnya kembali sepi, seperti sedang menjaga setiap kata agar tidak menyakiti
Kyoto menghela napas, lalu duduk lebih dekat, “Kalau dunia sedang ribut di kepala, kadang kita cuma butuh berhenti sebentar. Tidak semua harus selesai malam ini, kadang butuh waktu hingga suasana hati lebih baik untuk mengambil langkah selanjutnya.”
Leon tersenyum tipis. Senyum yang dipaksakan, tapi cukup untuk membuat Nadia sedikit lega, “Mungkin Kyoto benar, aku butuh waktu.”
Malam itu mereka habiskan dengan sederhana, hanya duduk, diam, dan sesekali berbagi cerita ringan yang tak penting. Tapi justru di situlah letak kehangatannya. Tidak ada tuntutan untuk bahagia, tidak ada paksaan untuk melupakan. Hanya kebersamaan yang jujur.
Menjelang larut, Nadia meminta Kyoto untuk menemani Leon menginap di homestay kecil tak jauh dari Bukit Bintang. Ia tak ingin Leon sendirian, meski ia juga tahu bahwa lelaki itu membutuhkan ruang.
“Besok pagi aku jemput kalian,” kata Nadia sebelum berpisah. Kyoto mengacung kedua ibu jarinya. Sementara Leon hanya mengangguk sambil melambaikan tangan.
*
Nadia sudah berdiri di depan penginapan saat Leon keluar. Ia membawa dua cangkir kopi hangat.
“Untukmu,” katanya sambil menyodorkan satu gelas.
Leon menerimanya. “Danke.”
“Bagaimana tidurmu semalam?” tanya Nadia, kebiasaan orang Eropa menanyakan apakah tidur nyenyak semalam kepada orang yang ditemuinya di pagi hari.
Kyoto muncul dari belakang, masih dengan wajah setengah mengantuk. “Kita sarapan dulu sebelum jalan. Hari ini kemana?”
“Ada situs yang kutemukan di catatan lama, pagi ini kita ke sana.” Nadia berjalan mendahului menuju restoran yang terletak di samping lobby homestay.
Aroma makanan, suara piring beradu, dan percakapan tamu yang saling bersahutan di restoran menghidupkan suasana pagi. Nadia sengaja memilih meja dekat jendela agar Leon bisa menikmati pemandangan.
“Kita ke mana?” tanya Kyoto di sela mengunyah roti bakar.
“Situs Gudig,” jawab Nadia.
“Sepertinya aku baru dengar,” ujar Kyoto mengingat-ingat tempat yang pernah ia kunjungi.
Leon mengangguk tipis. Ia sedang berusaha kembali ke ritme perjalanan, mencoba menata ulang pikirannya.
Setelah sarapan, mereka pun berangkat. Jalanan pagi itu tidak terlalu ramai. Berdasar panduan lokasi dari google, Kyoto melajukan mobilnya nenuju situs yang terletak sekitar 4 km sebelah barat daya Candi Prambanan. Tepatnya di pinggir sebelah timur sungai Opak atau sebelah barat jalan raya Prambanan dengan Piyungan.
Seorang laki-laki berumur sekitar tiga puluhan menyambut mereka. Dia menjelaskan bahwa situs yang dibangun pada sekitar abad ke 9, diberi nama Watu Gudig oleh penduduk setempat karena saat ditemukan batu-batu candi tersebut ditumbuhi lumut dan warnanya berbintik-bintik seperti penyakit kulit
Mereka mulai menjelajahi area di mana ditemukan berbagai macam batuan candi yang meliputi Padma, umpak, antefik, dan batuan bertakik.
Selain itu ada struktur lantai yang ditata dari batu andesit yang membentuk seperti lantai pendapa.
“Ini situs Buddha?” tanya Nadia.
“Dari data yang pernah ditemukan di situs ini terdapat arca Amithaba yang menandakan bahwa Situs Watu Gudig memiliki latar belakang keagamaan Buddha,” jawab laki-laki yang mengenalkan diri bernama Hadi tersebut. Seorang mahasiswa fakultas sejarah yang sedang menulis proposal skripsinya.
Hadi juga menjelaskan bahwa bagi ilmu arkeologi situs watu gudig menjadi salah objek untuk merekontruksi budaya klasik masa lampau.
Banyaknya temuan lepas yang menujukkan tinggalan klasik memungkinkan daerah tersebut terpengaruh adanya Agama Buddha yang berkembang di saat itu.
Kami menuju lahan di bagian tengah sisi selatan yang lebih tinggi dari sekitarnya dan terdapat struktur dari bata. Ditempat tersebut ditemukan umpak dari batu andesit sebanyak 44 buah, berukuran besar dan kecil.
Bagian bawah umpak berukuran besar berbentuk bujursangkar berukuran sekitar 76 cm x 76 cm, tinggi 20 cm sedang bagian atasnya bundar diameter 76 cm tinggi 24 cm dengan tonjolan di bagian tengahnya berdiameter 10 cm tinggi 7 cm.
Umpak yang berukuran kecil bagian bawahnya berukuran sekitar 53 cm x 53 cm tinggi 13 cm dan bagian atasnya berbentuk bundar dengan diameter 42 cm dan bagian tengahnya terdapat tonjolan berdiameter 6 cm tinggi 5 cm.
Sedangkan umpak lainnya baik yang berukuran besar maupun kecil dalam posisi tidak teratur. Di antara umpak tersebut ada yang dalam posisi miring dan terbalik.
Di situs ini juga ditemukan beberapa buah batu bata berukuran 33 x 20 x 7 cm. Selain itu terdapat sebuah yoni, akan tetapi lubangnya berbentuk bulat tidak seperti biasanya yang berbentuk persegi.
“Penemuan Yoni seharusnya situs ini peninggalan Hindu, tapi juga ditemukan patung amithaba. Sebenarnya ini situs Hindu atau Buddha?” tanya Kyoto dengan wajah serius.
“Itulah mengapa eksplorasi kita mencari jawaban yang masih menjadi misteri. Kemungkinan yang paling masuk akal adalah pada jaman kerajaan Medang, ada masa peralihan dari Buddha ke Hindu. Tapi untuk memastikan jika harus mencari literasi dan rujukan yang tepat,” jawab Nadia panjang.
Setelah puas mengelilingi, mereka kembali ke mobil. Leon melajukan dengan kecepatan sedang, tak ada yang bicara. Namun, ketenangan tiba-tiba pecah. Ponsel Leon bergetar tiba-tiba. Ia mengerutkan kening saat melihat nomor tak dikenal. Ada sesuatu yang aneh, sebuah firasat yang sulit dijelaskan. Tangannya sempat ragu, tapi akhirnya ia membuka pesan itu.
[Tidak perlu lagi mengharapkan apa pun dariku. Aku sudah memilih orang lain.]
Leon membelalak. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Tanpa perlu nama ia tahu siapa yang mengirim pesan.
Tangannya gemetar pelan. Dunia di sekitarnya mendadak terasa sunyi, seolah suara mesin mobil, percakapan Kyoto dan Nadia, bahkan desiran angin, semuanya menghilang.
“Leon?” suara Nadia terdengar jauh. “Are you ok?”
Leon tidak langsung menjawab. Ia menatap layar ponselnya lama, lalu perlahan menguncinya.
“Aku … aku baik-baik saja,” katanya akhirnya, meski suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
Kyoto melirik lewat kaca spion. Ia tidak bertanya, tapi ekspresinya berubah serius.
Nadia menatap Leon lekat-lekat. “Pesan dari siapa?”
Leon terdiam sejenak. Lalu, dengan suara pelan, ia berkata, “Dari masa lalu.”
Kalimat itu cukup untuk menjelaskan banyak hal. Nadia tidak memaksa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Namun, dalam diam, ia menggenggam tangannya sendiri, menahan keinginan untuk berkata lebih jauh. Mobil terus melaju, tapi kini perjalanan itu tidak lagi sama.
Leon menyandarkan kepalanya ke jendela, memejamkan mata. Pesan itu terus terngiang di kepalanya, berulang-ulang, seperti luka yang sengaja dibuka kembali.
Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, kenyataan bahwa Adelheid telah memilih orang lain, atau cara ia mengatakannya yang begitu dingin.
Di kursi kemudi, Kyoto memperlambat laju mobil. Ia tahu, ada sesuatu yang baru saja runtuh di dalam diri Leon. Dan kali ini, mungkin tidak akan mudah untuk dibangun kembali.











