Aku duduk sendiri di atas sofa, menikmati sore yang tak begitu bersahabat ditemani secangkir teh manis panas. Asap tipis tampak menari pelan di atas cangkir di depanku, seakan bercerita tentang kenangan yang tak pernah benar-benar usai.
“Masih takut hujan?” terdengar suara Ibu mertuaku yang berlalu menuju kamarnya.
Aku tersenyum samar. “Bukan takut, Bu. Hanya, hujan selalu suka mengingatkan.”
Satu jam berlalu. Hujan yang tadinya sangat deras berganti gerimis. Di balik jendela aku melihat sepasang anak manusia berjalan bergandengan di bawah naungan payung hitam yang terkembang lebar. Kemesraan mereka membuat aku merasa kembali pada satu sore yang lain.
“Kamu ini kenapa sih, selalu saja mengeluh?” kata Andre sambil menarik payung sedikit lebih condong ke arahnya pada saat kami berdua kehujanan pada satu Minggu sore kala itu.
“Aku cuma merasa kamu menjauh,” jawabku pelan, berusaha mendekat agar tak terlalu basah.
Payung kami sudah agak rusak. Satu tulangnya patah karena tertiup angin kencang. Di sudut payung ada beberapa lubang kecil yang membuat air dengan mudah menetes dari celah itu, tepat di pundakku.
“Itu hanya perasaanmu saja,” kata Andre dingin.
“Kamu terlalu sensitif.”
Hujan semakin deras. Angin memaksa payung itu makin menjauhiku. Aku basah sebasah-basahnya hingga tembus ke kulit, sementara Andre sibuk menjaga dirinya agar tak tersentuh hujan.
“Apa kamu masih sayang?” tanyaku, dengan suara gemetar entah karena dingin atau takut kehilangan.
la diam sejenak, lalu menghela napas panjang. “Kamu selalu meminta lebih. Aku capek. Aku muak.”
Andre menatapku sinis, seolah ingin mengatakan ketidaksukaannya pada diriku. Tiba-tiba ia berhenti melangkah, menutup payung, dan melemparkannya padaku.
“Sudah, kita sudahi saja hubungan ini. Aku nggak bisa terus-terusan begini.”
Aku tercenung sebentar. Kata-kata Andre membuatku merasa berhenti bernafas. Aku sempat berpikir untuk menyangkal semua ini dan berharap Andre menarik kata-katanya. Namun lelaki yang telah dua tahun menemani hari-hariku itu telah memutuskan untuk berjalan pergi, meninggalkanku di tengah hujan deras.
“Jangan pergi…” bisikku, tapi suaraku tenggelam oleh derasnya hujan.
Aku berdiri menatap payung yang rusak dan sudah tidak berarti itu. Tetes hujan mengalir deras di wajahku, bercampur tangis yang kutahan selama ini.
Jam di dinding menunjukkan angka lima. Udara mulai terasa dingin. Aku segera menghabiskan sisa teh yang mulai dingin. Moci, kucing kesayanganku yang sejak tadi tidur di sampingku tampak bangun, naik ke pahaku dan melanjutkan tidurnya.
Aku mengelus-elus kepala Moci. Kucing putih itu tidur makin pulas. ” Ah, betapa bahagianya hidup menjadi kucing. Tak banyak yang dipikirkan,” aku bergumam sendiri. ” Tidak seperti diriku yang terkadang terjebak kenangan bersama Andre.”
Ya, Andre, pemuda yang pernah berjanji untuk menjadi sadaran hidupku itu telah menorehkan luka yang teramat pedih. Luka yang membuatku hampir saja tak percaya lagi bahwa masih ada kehangatan di dunia ini.
Namun Tuhan ternyata masih sayang kepada hamba-Nya ini dan menyelamatkan diriku agar tak terperosok lebih dalam ke dalam jurang kesedihan.
“Maaf… kamu gak apa-apa?” terdengar suara asing di balik derasnya hujan.
Aku menoleh. Tampak seorang pria yang kutaksir usianya 30-an dan seorang wanita paruh baya berdiri beberapa langkah dariku. Aku tak mengenal mereka. Hanya, aku bertanya sendiri pada diriku mengapa mereka mendekatiku.
“Kamu basah kuyup. Rumah kami dekat sini. Ayo berteduh dulu,” ujar si wanita sambil meraih tanganku dan mengarahkan payung ke arahku
Aku sedikit canggung dan merasa tak pantas menerima ajakan mereka.
“Tidak perlu…nanti merepotkan.”
Pria itu tersenyum lembut.
“Kenapa?
Aku hanya diam, tak merespon pertanyaan pria itu.
“Hujan datang membasahi apa saja dan tak pernah memilih siapa yang akan ia basahi. Tapi kita bisa memilih untuk tak basah dan saling menghangatkan,” pria itu melanjutkan kata-katanya.
Kalimat sederhana yang diucapkan pria itu membuatku merasa tergugah. Entah mengapa, aku merasa seperti berada dalam pelukan.
Mereka mengajakku ke sebuah rumah kecil bercat putih. Lampunya menyala redup namun memberi kesan menghangatkan.
“Tunggu sebentar,” kata si wanita sambil memberiku handuk. la kemudian menyerahkan blus lengan pendek berwarna krem dan celana panjang hitam. “Pakai ini dulu supaya tidak kedinginan.”
Di ruang tamu, si pria menyajikan tiga cangkir teh hangat dan sepiring camilan. Si wanita itu mengajakku duduk bersisian dengannya di sofa panjang, sementara si pria duduk di depan wanita itu.
“Siapa namau, Nak,?” tanya wanita itu.
“Aini,” jawabku singkat.
“Baiklah, mari minum dulu, Aini biar tubuhmu hangat,” ujar si wanita.
“Ya, Bu. Terima kasih,” ujarku menanggapi ajakan wanita itu.
Aku meraih cangkir putih di depanku. Dan ketika menggenggam cangkir itu, aku merasa seperti menggenggam harapan baru dan menemukan diriku lagi.
” Oh, ya ini anak ibu. Namanya Alan, lanjut wanita itu.
Aku melirik sedikit ke arah Alan. Pandangan kami saling bertemu. Alan tersenyum kecil, mengangguk sedikit dan segera mengalihkan pandangannya.
Kami tidak mengobrol banyak sore itu hingga akhirnya malam tiba. Dan selanjutnya aku diajak menginap di rumah itu. Dan aku menerima ajakan itu.
“Kamu melamun lagi?” suara Alan mengagetkanku.
“Sedikit,” jawabku.
Aku menoleh dan tersenyum. Pria yang dulu menawariku tempat berteduh itu kini duduk di sampingku.
“Hujan tidak selalu buruk, bukan,?” ujar Alan mengajakku bicara.
Aku mengangguk. “Tidak. Kadang hujan hanya cara Tuhan mempertemukan kita dengan rumah.”
“Kenapa kamu baik sekali pada orang kehujanan ini,?” aku bertanya balik.
Alan tersenyum kecil. “Karena aku juga berharap ada seseorang yang membukakan pintu saat aku kehujanan,” jawab Alan sambil terus melemparkan senyum manisnya ke arahku.
Tak sadar air mataku kembali jatuh. Tapi kali ini bukan karena hujan dan patah hati. Melainkan karena aku kini sudah menemukan seseorang yang selalu mengembangkan payung untukku ketika hujan datang dan tak akan membiarkanku basah kehujanan.
Kini aku menjadi faham bahwa cinta bukan tentang siapa yang memegang payung paling kuat ketika hujan datang, tapi tentang siapa yang berusaha memastikan orang yang dicintainya tak basah kehujanan.











