Home / Genre / Petualangan / Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 2)

Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 2)

Syena
This entry is part 3 of 3 in the series Syena: Perempuan Bernama Elang

Pagi datang dengan senyum merekah, seiring dengan langit di sekitar Borobudur yang tampak cerah, seakan memberi panggung sempurna bagi Syena untuk kembali menjalankan tugas hari itu. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah yang bercampur dengan wangi dedaunan.

Ia kembali mendampingi rombongan wisatawan, kali ini dari Jepang. Semua tampak antusias, beberapa sibuk mengabadikan momen, sementara yang lain mendengarkan penjelasannya dengan penuh perhatian.

Saat rombongan beristirahat di area pelataran, pandangan Syena tertuju pada sosok yang berdiri di bawah pohon Bodhi, pohon yang dianggap simbol sang Buddha. Pria itu tampak kerepotan membawa beberapa peralatan, kotak kayu, kain, dan sesuatu yang menyerupai layar kecil.

Syena menyipitkan mata, mencoba memastikan.

“Rozi?” gumamnya pelan.

Pria itu menoleh. Sejenak alisnya bertaut, seperti mengingat sesuatu,  lalu perlahan berubah menjadi senyum lebar.

“Syena? Kamu beneran Syena, kan?”

“Ya ampun, Rozi, Kamu apa kabar?” ujar Syena sambil mendekat dengan langkah cepat, pria yang disebut namanya itu menyambut  dengan tawa kecil yang hangat.

“Ngomong-ngomong sudah berapa tahun kita nggak ketemu?” tanya Syena.

“Sejak kita lulus,” jawab Rozi sambil menggeleng. “Kamu makin bersinar saja sekarang. Aku sering dengar nama kamu disebut para wisatawan.”

Syena tersenyum, sedikit tersipu. “Biasa aja …. Kamu juga nggak kalah hebat, kok. Aku tahu, lho! Betewe ini … kamu lagi ngapain di sini?”

Rozi menatap peralatan di sampingnya dengan bangga. “Ini … perlengkapan wayang. Aku bikin sanggar kecil-kecilan untuk pertunjukan wayang.”

“Wayang?” mata Syena langsung berbinar. Rozi mengangguk.

“Serius?”

“Iya, tapi bukan wayang biasa,” lanjut Rozi.

“Aku mengangkat cerita dari relief-relief di candi ini. Jadi wisatawan nggak cuma melihat ukiran batu, tapi bisa ‘merasakan’ ceritanya hidup.”

“Bagus sih idenya, tapi kenapa wayang? bukan film atau audio visual?”

“Karena wayang adalah seni pertunjukan tradisional Indonesia asli yang memadukan seni peran, suara, musik, dan sastra. Disitulah letak uniknya. Ada unsur tradisional dan warisan budaya yang harus dilestarikan,” jawab Rozi. 

“Bener juga, bahkan wayang sudah ada sejak jaman purba, dan wayang juga yang digunakan para Wali untuk menyampaikan syiar Islam di Indonesia, ehm … tanah Jawa khususnya,” tukas Syena.

“Dari sanalah ide itu lahir, melestarikan budaya sekaligus bercerita tentang sesuatu yang selama ini tidak banyak dikenal orang.”

“Lalu apa yang diceritakan?” cecar Syena.

“Candi Borobudur memiliki 2.672 panel relief yang terdiri dari 1.460 naratif dan 1.212 dekoratif. Masing-masing menceritakan ajaran Buddha, kehidupan masyarakat Jawa Kuno, dan hukum karma. Membayangkannya pasti rumit. Tapi melalui pertunjungan wayang ini pengunjung diajak memahami bahwa relief bukan sekadar pahatan, tapi punya cerita yang sarat ajaran kehidupan,” papar Rozi.

“Tiap relief masih terbagi lagi, Karmawibhangga di kaki candi menggambarkan hukum sebab akibat atau karma. Lalitavistara tentang sejarah kelahiran dan pencerahan Buddha, Jataka  dan Avadana tentang kisah lampau Buddha, serta Gandavyuha dan Bhadracari tentang pencarian kebenaran.” Rozi menjeda penjelasannya, Syena menyimak antusias.

“Ada juga relief dekoratif, pahatan hiasan berupa motif alam, arsitektur, hewan, dan manusia yang menambah keindahan struktur candi, serta memuat detail kehidupan sosial, budaya, dan maritim zaman Mataram Kuno. Semua itu akan menjadi cerita menarik,” lanjutnya.

Syena terdiam sejenak. Ide itu terdengar begitu segar dan brilian.

“Menarik, boleh aku lihat?” tanyanya tanpa ragu.

Rozi tertawa kecil. “Tentu saja. Bahkan kalau Kamu mau, boleh ikut belajar.”

“Oya …? Tempatnya di mana?” tanya Syena antusias.

“Wayang Relief Borobudur, datang aja ke lokasi pementasannya di Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur.”

“Wah, aku pasti datang. Tapi boleh bawa rombongan, kan?”

“Justru sangat diharapkan karena tujuan pementasan wayang ini untuk mengenalkan cerita hidup yang ada pada relief Candi Borobudur.”

Syena pamit setelah mendengar penjelasan yang menarik minatnya. Tanpa menunggu lama, ia menawarkan pada rombongannya untuk melihat pementasan wayang relief. Para wisatawan justru tampak tertarik dan penasaran dengan apa yang sedang digelar di pementasan.

Di sebuah rumah yang asri tempat pementasan wayang relief digelar, tampak beberapa orang mulai menyiapkan layar kecil dan tumpuan. Sudut latar yang teduh, sedikit gelap dengan lampu yang diatur sedemikian rupa menampilkan bayangan wayang yang pelahan muncul, membentuk siluet tokoh-tokoh yang diambil dari kisah relief. Gamelan mulai ditabuh para pengrawit, syahdu dan merasuk ke dalam jiwa.

Seorang pamedar atau dalang mulai memainkan wayangnya. Suaranya berubah mengikuti karakter yang dibawakannya. Kadang dalam, kadang tinggi, menghidupkan karakter demi karakter dengan ekspresi yang kuat.

Syena terpaku takjub. Setiap gerakan tangan pamedar terasa presisi. Setiap perubahan suara membawa emosi yang berbeda. Cerita yang tadinya hanya terpahat di batu kini seolah berdenyut, hidup, dan berbicara.

“Luar biasa …” seru Syena sambil berdecak.

Setelah pertunjukan singkat itu selesai, beberapa wisatawan langsung bertepuk tangan. Bahkan ada yang berseru kagum.

“It’s really amazing.”

Syena menoleh pada Rozi, matanya penuh semangat, “Boleh aku belajar?”

Rozi mengangkat alis, “Tentu saja, Kamu serius?”

“Serius. Ini … cara baru untuk membuat wisata lebih hidup. Wisata adalah proses menyampaikan informasi, bukan hanya dengan penjelasan, tapi bagaimana mereka bisa merasakan berada di dalamnya.”

Rozi tersenyum puas. “Excellent. Kita bisa mulai sekarang.”

Syena meminta waktu pada rombongan wisatawan yang dibawanya, ternyata sebagian besar justru mendukungnya dan memberi respon antusias. Tanpa ragu ia mulai belajar bagaimana memegang wayang dengan benar, menggerakkan dan memainkannya. Awalnya terasa kaku, gerakan tangannya kurang halus. Beberapa kali bayangan wayang tampak goyah, bahkan sempat jatuh dari alur cerita.

Namun, Rozi terus memompakan semangat, sambil tertawa kecil ia berkata, “Santai. Wayang itu bukan cuma soal teknik, tapi rasa.”

“Rasa?” Syena mengernyit.

“Iya. Seolah Kamu adalah tokohnya. Jika tidak merasakan bagaimana mendalami peran, penonton juga tidak akan merasakan apapun. Pertunjukan itu akan kering.”

Syena mengangguk, menancapkan kalimat itu kuat-kuat di benaknya. Ia menarik napas, lalu mencoba lagi.

Kali ini ia menutup mata sejenak sebelum mulai. Membayangkan tokoh yang ia mainkan, bagaimana perjalanannya, konflik, serta emosinya. Tangannya bergerak lebih lembut. Suaranya mulai berubah, mengikuti karakter.

Dan beberapa saat kemudian bayangan di layar itu tampak hidup.Rozi mengangguk pelan. “Good job.”

Syena tersenyum lebar, napasnya sedikit terengah. “Akhirnya aku bisa merasakannya.”

Latihan diulang.  Dari gerakan sederhana hingga perubahan suara yang kompleks. Syena yang dikenal cepat belajar benar-benar menunjukkan kualitasnya.

Tak butuh waktu lama. Sore harinya, Rozi menepuk bahunya. “Mau coba di depan mereka dengan iringan gamelan?”

Syena menoleh ke arah rombongan wisatawan yang sejak tadi memperhatikan dengan penuh minat. Jantungnya berdegup lebih cepat, keberanian membuatnya mengangguk.

Lampu dinyalakan kembali, geber atau layar dibuka sebagai tanda pertujukan dimulai.

Syena duduk bersila di baliknya, wayang di tangannya terasa hangat. ia menarik napas dalam, dan mulai bercerita.

Awalnya sedikit bergetar, suaranya ragu, tapi segera menemukan ritme. ‘Rasakan seakan Kamu adalah tokohnya’. Kalimat Rozi membuat gerakannya mengalir, bayangan wayang mulai meliuk dan menari dengan indah, Ia memainkan beberapa karakter dengan perubahan suara yang halus tapi jelas.

Wisatawan yang hadir dibuat takjub. Beberapa bahkan mendekat, tertarik oleh pertunjukan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya

Ia membawakan bukan sekadar narasi, tapi menghadirkan emosi, konflik, dan makna dari relief yang selama ini hanya mereka lihat sebagai ukiran diam.

Kisah Jataka dan Avadana, yang selama ini hanya terpahat pada batu, kini menjadi hidup.  Kehidupan lampau Buddha dalam wujud hewan atau manusia yang berbuat kebajikan yang sering disebut fabel, salah satu yang terkenal adalah Sasa Jataka, seekor kelinci yang mengorbankan diri, dipahat sebagai ajaran moral.

Ketika pertunjukan selesai, suasana hening memenuhi udara. Napas-napas seperti tertahan, lalu tepuk tangan meledak. Applaus panjang, disertai sorakan kagum bersautan.

Beberapa wisatawan berdiri, memberikan standing ovation kecil. Syena tertegun, ia bahkan tak percaya apa yang sudah ia lakukan. Matanya berkaca-kaca. Ia menoleh pada Rozi, yang hanya tersenyum sambil mengangguk bangga.

“You’re very amazing!” seru salah satu wisatawan

“Beautiful storytelling!” tambah yang lain.

Syena menunduk sedikit, menahan haru. “Thank you …”

Jauh di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang berubah, ia maju selangkah lagi, bukan hanya sekadar pemandu wisata, tapi menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, antara batu dan cerita, antara budaya dan hati manusia.

*

Sejak hari itu, Syena memasukkan pertunjukan wayang dalam setiap tur yang ia pimpin. Ia memadukan penjelasan ilmiah dengan sentuhan seni yang hidup.

Dan hasilnya luar biasa, wisatawan tidak hanya memahami cerita, tapi mereka merasa terlibat di dalamnya.

Nama Syena semakin melambung. Bukan hanya sebagai pemandu yang cerdas dan fasih berbahasa, tapi juga sebagai storyteller yang mampu menghidupkan sejarah.

Sore itu setelah mengantar rombongan tamunya kembali ke penginapan, Syena berdiri di pelataran candi sambil memandang langit yang perlahan berubah warna. Angin menyapu rambutnya, membawa bisikan masa lalu yang kini ia pahami dengan cara yang berbeda.

Syena: Perempuan Bernama Elang

Syena: Perempuan Bernama Elang (Bab 1)

Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image