Saat di kamarnya, Çandarlı Halil Pasha membuka surat itu, yang isinya:
“Jasad putraku bersemayam di pusara, namun aku seperti yang tak bernyawa. Denyut nadinya hilang, namun istanaku yang terkapar. Jiwaku ikut terkubur di dalam tanah hitam bersama nama putraku yang tertulis di pedangnya. Çandarlı Halil Pasha, aku titipkan seluruh urusan istana kepadamu, sementara aku akan bertahannuts¹ di dalam kamarku. Aku percayakan keputusanmu, yang aku izinkan kata-katamu adalah kata-kataku. Tahta itu milikku, keputusan yang diambil adalah milikmu.”
Membaca surat dari Sultan Murad, Çandarlı Halil Pasha pun tertegun. Seolah tak memahami situasi yang tengah dialami oleh Sang Sultan.
Lalu, Çandarlı Halil Pasha pergi menemui İshak Pasha, salah satu menteri yang paling loyal untuk Sultan Murad II.
“Ah, İshak Pasha, Sultan Murad yang mengalami musibah, akan tetapi, aku yang bimbang, karena mengemban tugas istana yang tidak mudah” Ucap Çandarlı Halil Pasha kepada İshak Pasha.
“Ah, Halil Pasha, bagaimana keadaan negara kita? Sultan agung kita sedang benar-benar berduka.” Sambung İshak Pasha dengan ekspresi kebingungan.
“Aku akan menjalankan apa yang diperintahkan oleh Sultan dalam surat ini, İshak. Namun, kondisi istana mungkin tidak akan sama.” Begitulah jawaban Çandarlı Halil Pasha.
“Apakah engkau yakin, Halil? Kehilangan sultan di atas tahta sama saja dengan sultan kehilangan mahkota.” Tanya İshak Pasha yang tampak ragu oleh keputusan Çandarlı Halil Pasha.
“Ah, İshak, ah! Apalagi yang harus aku perbuat selain patuh terhadap sultan? Apakah engkau mau negara kita mengalami kekosongan kekuasaan lagi seperti pada masa putra-putra Sultan Bayezid?” Çandarlı Halil Pasha balik bertanya kepada İshak Pasha.
“Ah, ya, aku ingat, Halil. Kejadian itu berlangsung lama, 11 tahun negara kita mengalami perang saudara. Saling mengakui kesultanan masing-masing.” Jawab İshaq Pasha.
“Ha, itu dia, İshak. Negara ini sekarang diamanatkan kepadaku dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi.” Sambung Çandarlı Halil Pasha.
Çandarlı pun mematuhi perintah Sultan Murad II dengan menjalankan roda kepemerintahan yang posisinya tetap sebagai wazir istana. Akan tetapi, kesedihan Sultan Murad II menyebar ke seluruh istana.
Dengan keadaan seperti itu, tak ada yang berani mengganggu sultan, sekali pun Syeikh Aaq Samsedin. Semua yang berada di dalam istana menunjukkan sikap patuh, karena sang sultan masih dalam koridor syariat Islam.
Syeikh Aaq Samsedin hanya fokus di madrasahnya bersama para santri dan putranya Mehmed. Sementara Syeikh Ahmet Gurani sedang menjalani umroh.
Mehmed, meski sultan mencintainya, namun Mehmed bukanlah putra kesayangannya. Sehingga, ia tak mampu menggantikan mendiang Şehzade² Alaeddin di hati ayahnya.
Heningnya Sultan Murad, membuat istana pun menjadi sunyi. Politik negara dijalankan oleh Çandarlı Halil Pasha, İshak Pasha, Zağanos Pasha, Şahabettin Pasha dan menteri lainnya. Itupun berjalan statis hanya berkutat di internal saja dan berlangsung selama 3 tahun.
Ya, 3 tahun masa-masa sulit. Istri-istri Sultan Murad pun seperti Yeni Hatun, Halime Hatun dan Mara Hatun, tak mampu berbuat banyak. Padahal mereka adalah wanita-wanita hebat, terlebih Mara Hatun atau Mara Brankovic, seorang putri dari Despot Serbia, Durad Brankovic. Darah bangsawannya membuat dirinya menjadi orang yang paling berpengaruh. Namun, untuk hal ini, Mara Hatun menunjukkan posisi dirinya sebagai seorang istri, sehingga darah bangsawannya tidak melangkahi keputusan suaminya, Sultan Murad II.
Sultan Murad Meninggalkan Istana
Setelah 3 tahun masa-masa sulit, Sultan Murad malah meninggalkan istana dan pergi ke Manisa. Apa yang dilakukan oleh sultan, masih terlihat jelas, duka sultan belum kunjung reda.
Melihat hal itu, Zağanos Pasha, yang ditunjuk sebagai penasihat Mehmed oleh ayahnya, pergi menemui Syeikh Aaq Samsedin.
“Ya syeikh, tahta t’lah ditinggalkan sultan kita setelah 3 tahun tak terisi. Agar tahta tidak terjadi kekosongan, aku mengusulkan Şehzade Mehmed untuk naik tahta.” Kata Zağanos Pasha.
“Duduklah, Zağanos Pasha.” Jawab Syeikh Aaq Samsedin. Kemudian, beliau terdiam beberapa lama.
Sementara, Çandarlı Halil Pasha—meski dirinya memang berambisi ingin menjadi orang yang paling berpengaruh, namun melihat hal ini, dirinya pun khawatir akan masa depan negaranya. Seperti biasa, Çandarlı Halil Pasha berdiskusi bersama İshak Pasha.
Di sisi lain, Şahabettin Pasha, pergi menuju Korps Jannisary³ dan menemui pemimpin Jannisary, yaitu, Kurtçu Doğan yang biasa dipanggil oleh pasukan Jannisary Doğan Ağha.
Kondisi di Payitaht⁴ sedikit tak terkendali, kala Sultan Murad memutuskan meninggal istana. Zağanos Pasha meninggalkan madrasah dengan ekspresi gugup setelah bertemu Syeikh Aaq Samsedin, bersama Kara İlyas murid andalannya Syeikh Aaq Samsedin.
Di harim istana, kondisinya tak kalah kalang kabut. Istri-istri Sultan Murad pun berdiskusi serius, membicarakan masa depan negara Utsmani dan sibuk kesana kemari bersama para pembantunya masing-masing.
Bagaimana nasib negara Utsmani setelah ditinggalkan oleh sultannya?
Bagaimana para menteri istana menghadapi masalah yang sedang terjadi?
Dan bagaimana para istri sultan mengatur rumah tangga istana?
Selanjutnya akan ada hal yang tak terduga.
¹Tahannuts adalah mengurung diri.
²Şehzade adalah Putra Mahkota atau Pangeran.
³Jannisary adalah Pasukan Elite Khusus Turki Utsmani yang artinya Pasukan Baru.
⁴Payitaht artinya İbukota.










