Edirne, 1443.
Dari dalam istana, dengan gestur tubuh tanpa keraguan, Mara Hatun menghampiri Zağanos Pasha yang sedang berada di halaman istana bersama Kara İlyas.
“Zağanos Pasha, apakah aku ada izin untuk mengobrol?” Mara Hatun membuka kata-kata dengan tanpa jeda.
“Baik, silakan, Mara Hatun.” Jawab Zağanos Pasha.
“Zağanos Pasha, aku pernah mendengar negara kita pernah mengalami kekosongan tahta selama 11 tahun. Kondisi saat itu adalah perang saudara antara putra-putra Bayezid.” Mara Hatun mengawali pembicaraan.
Sementara Zağanos Pasha dalam posisi menyimak.
“Aku pernah mendengar dari Kaisar Imanuel Palaiologos. Pada saat itu,terjadi perebutan tahta antara ayahanda Sultan Murad dengan saudara-saudaranya.” Lanjut Mara Hatun.
“Iya, Mara Hatun, meskipun ayahanda Sultan Murad naik tahta, yakni, Sultan Mehmed*, namun memiliki luka tersendiri. Luka itu sangat dalam dan membekas bagi negara Utsmani.” Balas Zağanos Pasha.
“Untuk menghindari pecah perang saudara lagi, aku mengajakmu untuk mendeklarasikan salah satu şehzade untuk naik tahta.” Kata Mara Hatun.
Zağanos Pasha terdiam sejenak, lalu bertanya pada Kara İlyas.
“Bagaimana İlyas?”
Melihat Zağanos Pasha melempar pertanyaan, Mara Hatun tampak sedikit bingung dan memasang wajah penasaran kepada Kara İlyas.
“Zağanos Pasha baru saja menghadap kepada Syeikh Aaq Samsedin dan langsung meminta izin untuk mendeklarasikan Mehmed untuk naik tahta.” Jelas Kara İlyas.
Terlihat ekspresi Mara Hatun setuju dengan apa yang dilakukan oleh Zağanos Pasha.
“Namun, perlu kecermatan matang agar Mehmed bisa naik tahta, mengingat umur Mehmed masih 11 tahun. Kita harus waspada kepada siapa pun, termasuk Orhan yang berada dibawah perlindungan Bizantium di Konstantinopel.” Lanjut Kara İlyas.
“Dengan kondisi istana seperti ini, pasti akan terlihat wujud asli rubah-rubah istana.” Tambah İlyas.
“Baiklah, aku akan membantu mengatur strategi.” Jawab Mara Hatun.
Sementara, disisi lain, yaitu Çandarlı Halil Pasha yang tidak mengetahui pergerakan Zağanos Pasha, memiliki rencana tersendiri.
“İshak, tahukah engkau? Dalam tradisi kita, istana tidak boleh kosong. Kita hindari pertumparahan darah antar Şehzade agar tidak terulang lagi.” Çandarlı Halil Pasha berkata kepada İshak Pasha.
“Bagaimana, Halil?” Tanya İshak Pasha kepada Çandarlı.
“Aku akan mendeklarasikan Şehzade Ahmed untuk naik tahta.” Jawab Çandarlı Halil Pasha.
“Tunggu, sebentar, tunggu. Kau bilang Şehzade Ahmed? Apakah engkau tidak tahu, disini masih ada Mehmed. Terlebih, Şehzade Ahmed masih berusia 6 tahun, Halil?! Kata İshak Pasha yang heran atas keputusan Çandarlı Pasha.
“Ah, İshak. Kau tidak memahami bagaimana poiitik bermain. Aku mengusulkan Şehzade Ahmed bukan tanpa alasan.” Jawab Çandarlı Halil Pasha.
“Sementara Mehmed?” Tanya İshak Pasha.
“Aku menaruh kekhawatiran pada Mehmed. Ia adalah şehzade yang gila. Ambisinya tak bisa dipadamkan, malah justru semakin dibakar oleh Syeikh Aaq Samsedin.” Jawab Çandarlı Halil Pasha dengan mantap.
“Ingatlah, İshak, ingatlah! Aku memiliki banyak pengalaman, sementara Mehmed, bila ambisinya tidak dipadamkan, ia justru akan membakar negara ini sebagaimana kakeknya yang bernama sama dengannya.” Sambung Çandarlı Halil Pasha kepada İshak Pasha.
İshak Pasha yang mendengarnya hanya mampu tertegun. Setelah itu, Çandarlı Halil Pasha pergi meninggalkan İshak Pasha untuk menemui Halime Hatun ibundanya Şehzade Ahmed.
Di sisi Şahabettin Pasha bersama Doğan Ağha, masih bingung akan memutuskan apa untuk kelanjutan negara Utsmani.
Tiba-tiba, Markas Korps Jannisary kedatangan tamu yang mulia. Ternyata, yang datang adalah Syeikh Ahmed Gurani.
“Kau harus melihat dengan nurani yang suci, putuskanlah yang terbaik untuk negeri ini. Buanglah keegoisan semu, pandanglah dengan mata ilahim,” jelas Syeikh Ahmed Gurani sambil berjalan mendekati Şahabettin Pasha dan Doğan Ağha.
Setelah itu, berkumpul ‘lah para menteri istana, dan dewan pun dipimpin oleh Çandarlı Halil Pasha.
“Para pasha yang terhormat, tahta negeri kita sedang ditinggalkan oleh tuannya. Bila dunia mengetahui tahta di negeri kita kosong, maka akan akan menimbulkan bahaya bagi Utsmani. Aku minta pendapat kalian, pendapat untuk kebaikan negeri ini.” Çandarlı Halil Pasha membuka rapat dewan.
“Halil Pasha, dan para pasha di negeri Utsmani ini, setelah kepergian Sultan Murad, aku pergi ke Syeikh Aaq Samsedin dan setelah itu aku memutuskan memilih salah satu şehzade untuk naik tahta.” Zağanos Pasha membuka jawaban.
Mendengar jawaban Çandarlı Zağanos Pasha, ekspresi wajah Halil Pasha sedikit berubah. Karena tahu Syeikh Aaq Samsedin berada disisi mana.
“Apakah ada yang akan berpendapat lagi?” tanya Çandarlı Halil Pasha.
“Aku memilih yang terbaik dan aku akan memilih salah satu şehzade,” jawab Şahabettin Pasha.
“Baik, baik. Şahabettin Pasha,” balas Çandarlı Halil Pasha.
“Apakah ada pendapat lagi, dari Pasha yang lain, atau ada pendapat dari Molla Hüsrev Effendi?” tanya Halil Pasha melanjutkan.
“Aku mengikuti alur saja, Halil Effendi,” jawab Molla Hüsrev.
Molla Hüsrev adalah salah seorang mufti di Kesultanan Utsmani yang disegani.
“Baik, Molla Hüsrev Effendi,” balas Çandarlı Halil Pasha.
“Kalau begitu, kita lanjut pada pemilihan salah satu şehzade,” lanjut Çandarlı Halil Pasha.
Pemilihan berlangsung tenang. Bagi yang memilih Şehzade Mehmed, ia akan mengambil tanda yaitu anak panah dan bagi yang memilih Şehzade Ahmed, ia akan memilih surban atau tutup kepala—yang kedua tanda tersebut sudah berada dihadapan masing-masing pemilih.
Ketika semua mengangkat tangan dengan pilihannya, yang mengambil anak panah lebih banyak dibanding yang mengambil surban. Dengan perasaan kurang menerima, Çandarlı Halil Pasha bertanya:
“Apakah yakin dengan keputusan ini?”
“Menurut tradisi kita, keputusan yang diambil sudah benar, Halil Effendi,” jawab Molla Hüsrev.
“Ya, apa yang dikatakan oleh Hüsrev Effendi, benar,” Şahabettin Pasha menambahkan.
Dengan tanpa diketahui orang-orang yang berada di dewan, ternyata Halime Hatun menguping di balik dinding ruang dewan bersama putranya, Şehzade Ahmed. Mendengar keputusan yang tidak memuaskan, Halime Hatun masuk ke ruangan dewan dengan membawa putranya sambil berkata lantang:
“Aku tidak menerima keputusan itu! Sebaliknya, apa yang diputuskan disini melanggar tradisi kita. Apakah kalian semua yang memilih Mehmed tidak memahami tradisi?”
Seketika, orang-orang yang di ruang dewan terkejut atas kedatangan Halime Hatun.
“Tradisi yang mana, Halime Hatun?” tanya Molla Hüsrev.
“Hüsrev Effendi. Mohon maaf aku tidak ingin berlaku tidak sopan kepada anda. Akan tetapi, apakah kalian akan dipimpin oleh seorang şehzade yang berpikir gila dan yang sudah lama tidak berdiam di istana? Apakah kalian tidak tahu, bahwa tradisi pemilihan suaranya diberikan kepada calon yang mengerti akan kondisi istana? Apakah seorang Mehmed mengerti, dimana putraku Şehzade Ahmed hingga saat ini tak pernah keluar istana.” Jawab Halime Hatun dengan penuh ambisi.
***
1 Hari Sebelumnya.
Pada saat Çandarlı meninggalkan İshak, Çandarlı t’lah melakukan tindak kongkalingkong dengan Halime Hatun.
“Destur, Halime Hatun. Apakah aku ada izin masuk?” Çandarlı mengetuk pintu kamar Halime Hatun.
“Silakan masuk Halil Pasha” Jawab Halime Hatun.
Çandarlı masuk ke kamar dan Halime bertanya:
“Ada ihwal apa Halil Pasha?” Tanya Halime Hatun kepada Çandarlı.
“Halime Hatun.” Kata Çandarlı sambil memberi hormat.
“Aku mengkhawatirkan masa depan negara setelah sultan kita pergi dari istana ini. Untuk kebaikan negara kita, aku memutuskan untuk memilih Şehzade Ahmed agar naik tahta agar tidak terjadi kekosongan. Bila engkau setuju Halime Hatun, mari kita sama-sama membangun negeri ini dengan persatuan yang kita ambil.” Jawab Çandarlı Halil Pasha dengan pasti.
Mendengar hal tersebut, gayung bersambut dari Halime Hatun. Ia menyetujui usulan Çandarlı Halil Pasha dengan senang hati.
Maka, setelah keduanya sepakat, Halime Hatun mempersiapkan pakaian dan lain-lain bersama para pembantunya. Sementara, Çandarlı Halil Pasha mempersiapkan pasukan yang loyal kepadanya.
Hal ini dimaksudkan untuk tindak antisipasi. Ya, Çandarlı Halil Pasha sudah sangat memahami perpolitikan negara dan juga ia adalah seorang yang cerdas. Maka, tak heran Sultan Murad II mengangkatnya menjadi Menteri Agung Istana.
Kembali ke Ruang Dewan.
“Halime Hatun, kami yang memilih Şehzade Mehmed, sudah sangat paham akan tradisi. Bicara kematangan berpikir, Şehzade Mehmed lebih matang dibanding Şehzade Ahmed.” Jawab Molla Hüsrev.
“Molla Hüsrev, aku menghargai pendapatmu. Tapi apakah engkau tahu, kami memilih Şehzade Ahmed bukan tanpa alasan. Memang, Şehzade Ahmed belum matang dalam berpikir, namun, aku takkan membiarkan negeri ini dipimpin oleh seorang yang kurang bijaksana.” Balas Çandarlı Halil Pasha memberi dukungan pernyataan Halime Hatun.
“Çandarlı Halil Pasha, dalam tradisi kita juga, siapapun harus menghormati hasil dari pemilihan” Sanggah Şahabettin Pasha.
“Ya, betul itu, betul” Balas para pasha yang memilih Şehzade Mehmed dengan serentak.
“Kalau begitu, mohon maaf semua. Pasukan, bersiap!” Respon Çandarlı Halil Pasha tidak terima.
Masuklah para pasukan loyalis Çandarlı Halil Pasha dari pintu utama ruang dewan dengan membawa senjata. Mereka berbaris menuju para Pasha yang memilih Şehzade Mehmed dan Molla Hüsrev sambil menodokllngkan senjata mereka masing-masing.
“Çandarlı, apa maksudnya ini?” Tanya Molla Hüsrev.
“Maaf, Hüsrev Effendi. Karena tidak ada kesepakatan diantara kita, aku terpaksa melakukan ini.” Jawab Çandarlı Halil Pasha.
Tak lama, masuklah Mara Hatun dan Doğan Ağha dengan menyandera kaki tangan Çandarlı Halil Pasha yaitu, Atmaca.
“Halil Pasha, lepaskan para pasha-ku dan Molla Hüsrev. Jika tidak, orang kepercayaanmu Atmaca akan kami eksekusi disini!” Tegas Mara Hatun.
Çandarlı pun kaget dan tak habis pikir.
Ternyata, pada hari dimana Çandarlı membuat rencana, anak buah Mara Hatun dari harim, yaitu Maryam, tak sengaja mendengar percakapan Çandarlı Halil Pasha dengan Halime Hatun saat berjalan melewati kamar Halime Hatun. Setelah mendengar percakapan itu, Maryam bergegas menuju kamar Mara Hatun untuk memberitahu isi percakapan itu.
Mengetahui hal itu, Mara Hatun begitu marah dan segera menuju Korps Jannisary menemui Doğan Ağha, untuk menculik Atmaca pada malam harinya. Doğan Ağha menyanggupi tugas yang diberikan oleh Mara Hatun dan berhasil membawa Atmaca.
“Ayo lepaskan, Çandarlı Pasha! Dan terima keputusan yang sudah jelas hasilnya.” Tegas Mara Hatun sekali lagi.
Melihat peristiwa yang tengah terjadi, Halime Hatun menuntut Çandarlı Halil Pasha untuk memenuhi janjinya, yaitu menegaskan Şehzade Ahmed naik tahta.
“Jangan dengarkan Mara Hatun, dia hanya menggertak. Lakukan tugasmu hingga usai, Halil Pasha!” Tuntut Halime Hatun dengan sedikit berteriak.
Apakah Çandarlı Halil Pasha akan melanjutkan dukungan kepada Şehzade Ahmed? Sementara, nyawa Atmaca orang kepercayaan Çandarlı Halil Pasha tengah terancam.
*(notes: Ayah Sultan Murad memiliki nama yang sama dengan putranya yaitu Mehmed. Tandanya, ayah Sultan Murad ditandai dengan Mehmed I, sementara putranya yaitu Muhammad Al-Fatih adalah Mehmed II)







