Home / Fiksi / Cerbung / 10. Rahasia

10. Rahasia

SEBIRU LANGIT CASABLANCA - SATYA PADMA
This entry is part 11 of 21 in the series Sebiru Langit Casablanca

Sepeninggal Youssef, Karima keluar dari kamarnya, dia ingin melihat beberapa sisi dari apartemen itu. Apartemen itu sangat bersih, rapi, tapi sederhana. Dia tidak tahu di mana letak sebenarnya apartemen ini berada, hanya memastikannya jika apartemen ini masih ada di sekitar Marseille. Cara Youssef menyembunyikannya pun sangat rapi.

Tentu saja dia tidak bisa keluar karena pintu dikunci oleh Youssef dari luar. Karima berputar melihat setiap sudut ruangan. Ada satu ruangan yang menarik perhatiannya. Ruangan itu berpintu ukiran khas Berber dan lambang Amazigh. Karima penasaran ingin mengetahui lebih ruangan itu. Perlahan dibukanya pintu ruangan itu dan dia masuk ke dalamnya. Dia begitu tercengang dengan ruangan yang berukuran kira-kira 5×5 meter itu. Ternyata seperti perpustakaan kecil.

Karima tetap waspada,dia memastikan Youssef memang tidak ada,sehingga dia akan lebih mudah untuk menyelidiki siapa sebenarnya dirinya. Banyak sekali buku-buku yang dipajang di sana. Mungkin ratusan. Di sebelahnya ada lemari kaca berukuran sedang. Sekali lagi dia dibuat tercengang dengan beberapa piagam,piala,dan penghargaan atas prestasi-prestasinya.

Sungguh diluar dugaan, Youssef beberapa kali memenangkan kejuaraan tingkat nasional bahkan internasional. Karima kembali melihat satu persatu buku-buku yang ada di setiap rak yang di tata rapi. Tatapan matanya berhenti pada sebuah buku bersampul coklat tua

‘Seperti buku harian,‘ pikirnya. Diraihnya buku itu lalu dibacanya lembar demi lembar. Youssef ternyata memiliki selera sastra yang bagus. Beberapa tulisannya bahkan membuat Karima terkagum-kagum.

‘Aku seorang hamba, yang terkadang tak tahu azab dan juga derita. Aku seorang hamba, yang terkadang harus bertahan demi tujuan tiada makna. Aku seorang hamba yang  hanya ingin menghamba  pada seorang hamba.

Di lembar berikutnya, Karima menemukan sebuah foto  lama. Seorang wanita dan bayinya yang sedang  tersenyum.

‘Apakah ini Youssef sewaktu bayi?’

Jari jemari tangannya yang lentik, membuka lembar demi lembar buku itu.

‘Ibu, aku ingin bertemu ayah, jika Tuhan ijinkan. Sekalipun dia tidak menginginkanku, tapi setidaknya aku ingin memandang wajahnya sebentar. Hanya sebentar. Aku pun tak menginginkan hartanya, aku hanya ingin diakui.’

Kedua mata Karima memanas dan berembun. Dadanya menyesak bergemuruh. Tulisan Youssef telah membuatnya ingat pada ayahnya meski dia menaruh kebencian pada Youssef yang masih terus tersimpan. Hingga kapan dia akan memenjarakan Karima di apartemennya itu.

“Yaa Allah, bukakanlah hati untuk Youssef, jadikan dia manusia yang berhati lembut, ubahlah keburukannya menjadi kebaikan.”

Karima berdoa dengan suara lirih. Bagaimana pun dia ingin Youssef sadar atas perbuatannya dan segera memperbaiki diri. Hanya itu yang bisa dia lakukan

Karima masih asyik berada di perpustakaan kecil itu. Beberapa buku di sana ternyata ditulis sendiri oleh Youssef. Youssef yang dilihat sejak awal hingga kini sungguh-sungguh sangat berbeda.

Di dekatinnya jendela yang berada di ujung dekat dengan meja kayu yang telah  dipoles halus. Pandangannya lepas ke bawah melihat kendaraan yang hilir mudik.

‘Bagaimana caranya agar aku bisa secepatnya pergi dari sini? Aku ingin bertemu ayah. Bagaimana keadaannya sekarang.’

Karima menuju sofa yang berada di sudut ruangan Disandarkannya  kepalanya dengan pikiran penuh. Hingga tanpa terasa matanya terpejam. Dia tidak menyadari seseorang telah membuka pintu apartemen dengan pelan.

Karima tidak menyadari kehadiran seseorang di tempat itu.Dia terasa nyaman tidur di sana. Tidak menyadari jika seseorang telah masuk ke apartemen. Dibukanya pintu kamar Karima perlahan, dia menyapukan pandangannya, ternyata gadis itu tidak ada di tempat.

Dia berputar mencari keberadaan gadis itu hingga ke depan pintu  perpustakaan kecil yang terlihat sedikit terbuka. Dia berpikir Karima masuk ke sana, ya benar; Karima memang sedang tidur di sana dengan muka tak seperti sebelumnya. Wajah cantik Karima begitu menggetarkan hati dan salah satu sisinya sebagai seorang maskulin.Dia tersenyum lalu meninggalkan apartemen itu lagi menuju suatu tempat.

***

Di tempat lain, kondisi kesehatan Hicham semakin membaik, tetapi dia masih harus banyak istirahat karena pikirannya masih tertuju pada Karima yang entah di mana kini keberadaannya.Sementara itu,Yazid dan kawan-kawannya masih terus mencari informasi dan keberadaan Karima. Bagi mereka,Youssef bukanlah orang sembarangan. Dia memiliki pengaruh cukup kuat di beberapa wilayah seperti yang dikatakan Yazid.

“Sinyal teleponnya tidak bisa dideteksi,Pak.” Clarente sudah beberapa hari mencoba mencari jejak sinyal terakhir dari nomor yang di pakai Youssef.

“Dia tidak memakai dan tidak membawa telpon genggam semenjak membawa Karima. Kita pun tak tahu kemana arah Youssef melarikan Karima.” Wajah Yazid tertunduk lesu. Gairah hidupnya seakan tiada lagi. Meskipun kini dia telah mengundurkan diri dari perusahaan Leon dan memilih kembali di kehidupannya seperti semula, tetapi kehilangan Karima ibarat kehilangan sesuatu yang berharga.

Sore itu Karima baru saja bangun dari tidurnya. Dia cepat-cepat keluar dari perpustakaan kecil karena khawatir Youssef akan marah jika mengetahuinya. Karima segera membersihkan diri dan berdiam di kamar. Pikirannya dipenuhi oleh buku Youssef yang menceritakan segala deritanya. Youssef memang memiliki sifat  yang berubah-ubah. Karima penasaran, dia ingin menyelidikinya lagi esok hari.

Hingga malam hari, Youssef pun belum kembali. Entah mengapa Karima merasakan ada sesuatu yang hilang. Dia tidak bisa menjelaskan dengan kata-kata tetapi hatinya berkata, bahwa Youssef akan baik-baik saja.

Beberapa menit kemudian, terdengar derit pintu terbuka. Karima berpura-pura tidur dengan hati berdebar-debar. Pintu kamarnya dibuka dari luar. Karima sangat takut, dia tetap menutup mata berdoa dalam hati agar Youssef tidak melakukan hal-hal yang bisa membahayakan dirinya.

“Maafkan aku, Karima. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menyelamatkanmu,” lirih suara Youssef terdengar di dekatnya. Dia mendengar kata ‘ menyelamatkan’, tapi apa maksudnya?

Langkah kakiYoussef terdengar meninggalkan kamarnya. Dia tidak melakukan apa-apa, hanya saja, Karima harus tetap waspada.

Keesokan paginya setelah Youssef pergi meninggalkan apartemen, dia kembali mendatangi perpustakaan kecil itu, beberapa tulisan di buku harian itu adalah curahan hati Youssef yang ingin sekali mendapatkan pengakuan sebagai putra dari seorang yang berpengaruh di masa lalu sebagai kekasih masa lalu ibunya. Beberapa baris kata dan kalimat Youssef mampu menghipnotis pikiran dan hati Karima. Entah apa yang membuat Karima larut dalam keharuan membaca kisah-kisah Youssef. Air matanya berderai, tidak menyangka jika hidup pemuda itu penuh dengan penderitaan panjang.

Di beberapa bagian catatan akhir, Karima menemukan beberapa lembar foto Youssef dan beberapa anak yang ternyata anak-anak panti asuhan dan juga penyandang disabilitas. Dia melihat foto-foto kegiatan pemuda itu bersama anak-anak yang terlahir ‘sama’ dengannya. Ada rasa haru, simpati, dan juga rasa baru yang kini menyusup ruang kalbunya setelah membaca tulisan-tulisan itu hingga kehadiran  seseorang mengejutkannya.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kau mencari sesuatu?”

Suara maskulin Youssef mengejutkan dan menyentak kalbu Karima, seketika dia menoleh. Ternyata pemuda itu telah berdiri di ambang pintu. Wajah Karima tampak tegang ketakutan.

“Youssef?” nada suaranya  bergetar.”Ti-tidak apa-apa, aku hanya… “

Karima menundukkan kepalanya tidak berani melawan tatapan mata Youssef yang  tajam ke arahnya.Youssef berjalan mendekat hingga jarak mereka pun sangat dekat.

“Aku bertanya padamu, apa yang sedang kau lakukan di sini?”

“A-aku, sedang-” Karima tidak berani melanjutkan kata-katanya.

“… menyelidikiku?  Kau memata-mataiku, bukan?” nada bicara Youssef memang tenang dan datar, tetapi justru itu membuat Karima makin takut. Youssef melihat wajah Karima yang menegang,  dia tersenyum tidak seperti biasanya.

“Duduklah, jangan takut. Aku takkan menyakitimu, Karima.”

Karima menuruti kata-kata Youssef, dia duduk menjauh dengan pemuda itu, antara ujung dan ujung. Dia melihat sisi  lain Youssef yang sekarang. Entah mengapa, dia berubah.

“Kau ingin tahu tentang aku yang sebenarnya? Silakan bertanya.” Nadanya tegas dan tenang.

“Boleh aku bertanya?” Karima mendongakkan kepalanya, berusaha berani melawan tatapan mata Youssef.

“Tanyakan apa saja yang ingin kau tanyakan. Jangan takut, aku takkan melukai ataupun menyakitimu.”

Karima menahan napas sejenak. Dia akan siap seandainya nanti Youssef akan marah ataupun menyalahkannya.

“Foto-foto di bukumu ini, siapakah mereka?” Karima bertanya dengan sedikit gemetar.

“Itu… saudara-saudaraku. Adik-adikku, mereka yang kurang beruntung dilahirkan dan juga tidak mempunyai ayah atau ibu sepertiku.”

“Youssef, hentikan! Jangan bicara seperti itu. Kau tentunya punya ayah dan juga ibu. Tanpa mereka kau takkan ada di dunia ini.”

“Kau tahu siapa dia?”

“Aku tidak-, maksudnya aku belum tahu orang tuamu, tapi aku sudah membaca buku ini sejak kemarin ketika kau pergi. “

“Dan kau sudah banyak tahu rahasia-rahasia di buku itu.”

Wajah Karima memerah, dia merasa khawatir kemarahan Youssef akan meledak lagi.

“Ya, maafkan aku. Aku telah lancang memasuki tempat ini.”

“Tidak masalah, tidak ada yang menarik di sini. Aku sudah katakan, aku tidak memiliki sesuatu yang harus dibanggakan, karena separuh perjalanan  hidupku penuh dengan kebohongan dan juga kepalsuan.”

“Youssef… jangan bicara seperti itu. Jangan seolah kau menyalahkan takdirmu.”

“Itu nyata dan fakta, Karima! Kau takkan pernah tahu semua cerita hidupku.”

“Jalan cerita hidup kita berbeda Youssef. Kau takkan bisa menjadi aku dan aku pun takkan bisa menjadi seperti dirimu.”

“Tentu saja, Karima. Cerita hidup tidak hanya tentang romansa saja, ada cerita tragedi dan juga komedi. Kau tahu kan?”

“Mengapa kau berkata seperti itu?”

“Itulah nyatanya. Aku hanya ingin ada cerita romansa antara kau dan aku saja, tidak ada pihak ketiga, seperti halnya Yazid.”

Karima berdiri dan berjalan mundur beberapa langkah ketika Youssef makin dekat dengannya.

“Mengapa kau seperti ketakutan melihatku? Ataukah aku harus menjadi Yazid, yang kau kagumi?”

“Ti-tidak! Jangan mendekat!” Karima semakin terdesak ketika Youssef makin dekat dengannya.

Youssef makin dekat dengannya ke arah jendela, hembusan angin kencang dan gumpalan awan kelabu telah membuat tangan Youssef meraih jendela untuk segera ditutupnya.

“Lihatlah, bahkan kau takut dengan awan gelap yang sebentar lagi akan menumpahkan tangisan dari langit.”

Sebiru Langit Casablanca

. Cinta Seorang Ayah 1. Wanita Terbaik

Penulis

  • Satya Padma

    Satya Padma adalah penulis yang masih terus belajar. Salah satu karyannya yang sudah terbit adalah Sang Elang dari Mesir (SEDM)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image