Home / Genre / Chicklit / 7. Ujian

7. Ujian

The Lion of Giza 1600x900
1
This entry is part 8 of 11 in the series The Lion of Giza

Waktu hampir menunjukkan tengah malam. Namun, Hamzah masih saja belum beranjak dari tempatnya belajar. Sesekali dia menguap menahan rasa kantuk yang kian menyerang. Dia harus tetap semangat karena esok hari ujian semester akan dilaksanakan.

Mudahkanlah urusanku, Yaa Allah. Mudahkanlah. Aku hanya meminta agar Kau mudahkan jalanku kala menuntut ilmu yang bisa aku nyatakan kelak. Aku ingin memberikan mahkota kebahagiaan untuk ibu dan saudaraku.

Entah berapa kali mulut dan hatinya berucap. Dia hanya meminta kepada Yang Kuasa agar diberikan kekuatan dan kemudahan kala menjalani hidup yang dirasakannya tak mudah, kondisi keuangan yang tak menentu. Namun, Hamzah tak ingin membuat ibunya memikirkannya terlalu jauh. Sakit yang masih dirasakan, tak menyurutkan nyalinya untuk ikut ujian, meski Professor Kamal memberinya waktu longgar. Hamzah tetap pada pendirian. Ujian tetap nomor satu, ia tak ingin ketinggalan ataupun gagal.

Perlahan, ia mulai menutup buku-buku yang telah menemaninya selama beberapa jam. Direbahkannya penatnya dengan hati dan pikiran penuh harapan pada Sang Pemilik Kehidupan tentang masa depannya.

Kau penggenggam hidupku. Kuserahkan semuanya padaMu, apapun yang telah Kau kehendaki, pastinya Kau berikan padaku yang terbaik menurut perkiraanMu. Berikanlah aku senantiasa keikhlasan menghadapinya meski berat.

Hamzah mencoba memejamkan matanya meski sebenarnya sulit. Banyak sekali kata-kata berdengung di telinganya yang tak mampu ia ungkap pada siapapun.

Besok setelah ujian aku harus bekerja lagi. Aku harus bekerja lebih keras lagi.

*

Gamal datang pagi itu dengan wajah ceria. Dia segera menemui Hamzah di tempat biasa. Banyak mahasiswa lainnya  tengah berbicara dengan rekan-rekan mereka. Wajah-wajah tegang terlihat dari raut muka mereka. Namun, Gamal dan Hamzah terlihat santai, seolah tidak ada beban pikiran.

“Kau sudah siap ikut ujian?” Gamal bertanya sambil menepuk pundak Hamzah.

“Sudah. Bahkan sangat siap,” jawabnya sembari tersenyum. Satu lengkung senyum tipis mengembang di bibirnya.

“Baiklah, kawan. Aku yakin kau dapat mencapai prestasi terbaik.”

“Begitu juga denganmu, Gamal. Kita lakukan yang terbaik yang kita bisa.”

“Pasti. Kau adalah Singa Giza.”

“Kau pun Singa Aswan.”

Lagi-lagi, tak ada yang tahu jika seseorang rupanya diam-diam memperhatikannya dari jarak tidak jauh. Dia  adalah Amira.

 Ternyata senyumnya sangat manis, meski wajahnya terlihat sangar dan juga garang. Melihat senyum manisnya aku yakin bahwa dia sebenarnya memiliki hati yang lembut, tidak seperti… Ah, tidak! Mereka berbeda. Mengapa aku justru malah memikirkannya?

Amira tidak sadar jika Najma juga tengah memperhatikan gerak-geriknya. Bukan Najma namanya jika dia tidak bisa mencari tahu apapun tentang kehidupan  Amira. Terlebih setelah mengenal Hamzah.

Rupanya tuan putri sedang terkena panah asmara. Hmm, tak kusangka. Dia yang angkuh dan tak mudah didekati sembarang orang  justru kini terpesona dengan pemuda berwajah dingin. Ah, tuan putri. Teruskan saja, tapi hati-hati saja dengan hatimu jika ternyata dia sudah memiliki tambatan hati.

Najma hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Amira yang diam-diam memperhatikan Hamzah dari jauh. Dia segera  menuju ruangannya yang terletak agak jauh dari ruangan Amira.

Ujian dimulai. Beberapa wajah nampak tegang ketika berhadapan dengan soal-soal ujian yang dibagikan. Begitu pula dengan Hamzah. Ada sedikit ketegangan terlihat di wajahnya, meski ini bukan yang pertama kalinya dia menghadapi ujian. Suasana terasa berbeda dengan sebelumnya. Beberapa peserta juga mengalami hal yang sama. Mereka tengah berjuang  untuk mendapatkan  nilai akademik terbaik, agar kelak lulus dengan prestasi dan nilai menyenangkan.

Beberapa menit berlalu, Hamzah mulai merasakan beban pikirannya berkurang. Soal-soal ujian yang tengah  dikerjakannya kini mulai mudah menurutnya, karena semenjak beberapa hari lalu, dia pergunakan waktunya untuk banyak membaca buku dan juga mengejar ketertinggalannya.

Peserta mulai meninggalkan tempat satu per satu. Hanya tinggal beberapa orang saja, termasuk Hamzah. Dengan penuh kesungguhan, dicerna berulang kalo soal-soal dab jawaban yang sudah ia kerjakan. Tidak ingin buru-buru selesai, Hamzah meneliti kembali pekerjaan. Pemuda itu tidak ingin gegabah hingga waktu tinggal lima belas menit. Hamzah merasa puas dan yakin. Dia bergegas keluar berbaur bersama teman-teman lainnya. Mereka membicarakan ujian yang baru saja mereka tempuh.

“Dengar-dengar, ujian kali ini dan beberapa kali ujian selanjutnya itu digunakan untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri.  Bukankah begitu, Hamzah?” tanya salah seorang temannya. 

“Entahlah, aku tidak tahu pasti.”

“Aku juga pernah mendengar begitu dari dosen lainnya,” timpal yang lain.

“Semoga kita lulus semua dengan hasil terbaik, aamiin,” Hamzah menyemangati kawan-kawannya, diiringi dengan pengharapan yang sama dari mereka.

Dari jarak agak jauh, Gamal melihat Hamzah dan  segera mendekat mendekat. “Hamzah, aku ingin mengajakmu datang ke pesta kerabatku di sini. Kau mau, kan?”

“Kapan?”

“Nanti. Setelah kita keluar dari sini. Aku pakai motor sepupuku yang ada di Kairo. Bagaimana? Kau mau?”

“Baiklah. Aku mau.”

“Sampai nanti, Hamzah.”

“Ya, Gamal. Aku akan menunggumu.”

Gamal meninggalkan Hamzah dan teman-temannya.  Di sisi lain, dua pasang mata cantik terus mengawasinya. Tidak ada yang tahu apa yang diperbuat oleh gadis itu. Sesekali sungging senyum menghias wajah cantiknya.

Dia memang terlihat kasar, dingin, dan acuh. Hanya saja, kali ini aku melihat sisi lain yang berbeda dari dirinya. Sungguh, aku tidak tahu mengapa pesonamu kian kuat di mataku. Kau tidak hanya telah mencuri hatiku, tetapi juga telah membuat hidupku bersinar. Tapi …, apakah kau sudah memiliki tambatan hati?

Saat itulah, tanpa sengaja Hamzah menoleh ke arah tempatnya berada.  Secepat mungkin gadis itu bersembunyi. Debaran dadanya kian tak menentu.

Uff …! Untung saja dia tidak melihatku. Akan berbahaya jika dia tadi melihatku diam-diam sedang mengamatinya.

Gadis itu melangkah pergi setelah rasa hatinya terpuaskan. Senandung hatinya terasa begitu syahdu bersama senyum manis menghias bibirnya.

The Lion of Giza

. Rasa dalam Hati . Tawaran

Penulis

  • Fidele Amour

    Fidèlé Amour adalah nama pena dari wanita kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, berzodiak Libra. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami huruf-huruf Jawa dan bahasa Jawa sebagai wujud dukungan terhadap program Revitalisasi Bahasa Daerah. Gemar menulis artikel, puisi, cerpen, dan cerbung, terutama cerpen dan cerbung berbahasa Jawa. Telah menerbitkan beberapa karya solo dan antologi berbagai genre.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image