Home / Genre / Fiksi Ilmiah / 10. Lolos

10. Lolos

Kementerian Kematian
1
This entry is part 11 of 88 in the series Kementerian Kematian

“Ayo!” Aku meraihnya dan menariknya sekali lagi.

Kami berlari menyeberang jalan menuju mobil tempat Razzim menunggu kami.

“Apa-apaan ini?” dia berbalik, menatap kami.

“Tidak punya banyak waktu, harus berimprovisasi!” gerutu Duli, menggulung isi perut Barker kembali ke dalam bangkai.

“Bawa kami keluar dari sini!” pintaku.

“Baiklah, taruh apa pun yang tersisa dari target di bagasi dan duduklah. Duli, kau akan ikut dengan mayatnya, sungguh tidak mungkin aku akan membiarkanmu duduk bersama kami…”

Baru setelah aku masuk ke dalam mobil, aku mengerti bahwa jantungku berdebar kencang dan aku hampir tidak bisa bernapas. Seluruh tubuhku gemetar karena adrenalin dan ketakutan.

“Itu improvisasi yang sangat bagus!” Duli menghisap cerutu, yang disimpannya untuk acara-acara khusus. Rupanya, itu salah satunya.

“Kau bilang itu bagus? Kenapa targetnya dirobek-robek?” Razzim meninggikan suaranya tetapi berhasil mengendalikan emosinya.

“Sejujurnya, kupikir aku bisa melahapnya dalam enam puluh detik.”

“Itu … itu tidak masuk akal.”

“Ya, tapi kau seharusnya melihat Baby Girl kita di sana, dia benar-benar ganas. Maksudku, aku cukup yakin pria itu harus makan melalui sedotan selama beberapa bulan.”

“Apa? Apa yang kau lakukan, Nak?” Razzim menoleh padaku.

“A-aku tidak tahu. Dia mencengkeramku dan aku…” Aku menatap ke dalam kegelapan abadi di balik tudung kepala Razzim, merasa tidak yakin dan tidak tahu harus melihat ke mana atau berkata apa.

Duli datang untuk menyelamatkanku, senang mengingatkan semua detail yang seru.

“Dari apa yang terdengar, dia memutuskan pita suaranya dan merontokkan setidaknya setengah dari giginya. Semua ini dalam dua pukulan. Logam yang sangat kuat. Bagaimana itu mungkin dilakukan oleh seorang gadis mungil?”

“Itu aneh,” gumam Razzim. “Di mana kau belajar cara bertarung?”

“Hei! Manalah aku tahu? Aku amnesia!” teriakku sambil menunjuk kepala.

“Pertama-tama, jaga bahasamu. Kau seorang wanita muda, bukan pedagang kaki lima di gang belakang. Kedua, itu masuk akal,” kata Razzim.

“Ada apa dengan tukang cerewet kita?” Duli menghembuskan asap cerutu yang tebal.

“Belum tahu, polisi menangkapnya.”

“Yah, dia memberi kita waktu, bagus untuknya.”

“Dan hanya itu? Kau meninggalkannya begitu saja!” sekarang giliranku untuk berteriak pada Duli.

“Hei, aku mencintai Speedy Gonzales ini seperti mantan istri yang tidak pernah kumiliki, tetapi pekerjaan adalah pekerjaan. Kita di sini untuk melakukannya.”

“Dia benar, Nak, terkadang kita tidak punya cara lain selain berkompromi dan melanjutkan hidup.”

“Seluruh rencana itu hanyalah satu kesalahan besar!” Aku menyilangkan tanganku dan cemberut.

“Nak, bahasa! Dan ya, memang, harus kuakui aku tidak memikirkannya dengan matang.”

“Seolah-olah ada setidaknya satu kejadian ketika semuanya berjalan sesuai rencana. Tapi hei, lihat sisi baiknya, setidaknya kau masih hidup.”

“Hebat!” Aku masih kesal.

“Sebenarnya, memang begitu, tidak ingin memberitahumu, tetapi biasanya kita kehilangan pendatang baru pada tugas pertama,” Razzim bergegas berbagi pikiran yang menenangkan ini denganku.

“Seperti pria dengan hamster ninja,” Duli terkekeh. “Cukup tentang pria itu dan hamster ninja antardimensi dan kadal jago karate ini, aku mengerti konsepnya! Mungkin kita seharusnya lebih fokus pada rencana, mencari beberapa alternatif, kau tahu?”

Anehnya, tidak ada dari mereka yang mengatakan apa pun. Keduanya terdiam selama satu atau dua detik, lalu Razzim bertanya, “Seperti apa?”

“Mungkin kita bisa saja, kamu tahu … menunggu sampai mereka menguburnya, lalu menggalinya dan menghindari semua kekerasan yang tidak perlu ini?” usulku.

Sekali lagi, hening.

Aku melihat ke kaca spion. Duli tidak begitu tertarik dengan apa yang kukatakan, tetapi Razzim tampak bingung.

“Jika aku tahu akan seperti ini, aku pasti akan mempertimbangkan pendekatan ini,” dia setuju.

Kami berkendara dalam diam selama beberapa saat. Duli menghabiskan cerutunya dan sekarang menusukkannya ke bangkai Peter Barker yang telah dimutilasi. Aku bersiap untuk membentaknya karena menjadi bajingan yang tidak berperasaan, tetapi dia berhenti lama sebelum aku melontarkan umpatan yang cukup kuat untuk membuatnya terkesan. Sebaliknya, dia melihat pakaiannya dan mendesah.

“Baiklah, aku tahu aku biasanya tidak terlalu sering mengatakan ini, tetapi aku benar-benar perlu mandi kali ini,” katanya.

“Mandi? Kau akan mendapatkan prosedur disinfeksi lengkap dan karantina selama empat belas hari,” jawab Razzim, masih fokus pada jalan. “Nak, apakah kau terkena darah?”

“Tidak yakin…” Aku mengangkat bahu.

“Kau juga akan didisinfeksi dan dikarantina,” katanya tanpa menunggu konfirmasi.

“Berurusan dengan darah yang terkontaminasi bukanlah hal yang mudah.”

“Pasti. Bersiaplah untuk mencium bau pemutih selama seminggu, Baby Face,” gumam Duli sambil tersenyum menyeramkan.

“Ngomong-ngomong soal pemutih, kurasa seluruh jalan dan gereja sudah berlumuran darah?” tanya Razzim.

“Begitulah. Dan, orang-orang dari bagian keamanan mungkin juga meneteskan satu atau dua tetes pada mereka,” senyum menyeramkan Duli semakin lebar.

Aku mendesah. “Kenapa kau seperti itu?”

“Apa?”

“Orang-orang itu sudah punya banyak masalah, sekarang kamu ingin mereka didisinfeksi dan dikarantina juga?” tanyaku.

“Aku bisa bilang apa? Aku bajingan pendendam,” tawanya meledak.

Terkadang selera humornya terlalu jauh dari apa yang kuharapkan.

“Motifmu tidak relevan di sini,” Razzim menggelengkan kepalanya. “Kita harus menutupi kemungkinan penyebaran kontaminasi, semua orang yang mungkin bersentuhan dengan darah akan dikarantina dan didisinfeksi.”

“Kedengarannya bagus untukku,” Duli tersenyum.

“Kupikir kita tidak punya kekuatan hukum?” tanyaku.

“Oh, Nak, tidak, kita masih belum punya kekuatan hukum, Kementerian Disinfeksi yang akan mengurus ini,” kata Razzim. “Ya, para koboi itu punya kekuatan yang nyata. Kudengar mereka bahkan punya Satuan Tugas sendiri untuk menangani kasus-kasus yang sangat sulit. Mereka bahkan punya penyembur api termonuklir sialan! Percaya nggak?”

Seperti biasa, ketika topiknya sampai pada kekerasan dan senjata, Duli-lah yang menyebarkan berita itu.

“Dan kitalah yang menangani mayat-mayat itu,” gumamku.

“Ya,” Duli mengangguk.

Sekali lagi terdiam beberapa saat.

“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanyaku.

“Tidak tahu, tidak peduli,” jawab Duli tanpa menjelaskan maksudku.

“Ini topik yang sangat rumit, Nak,” kata Razzim.

“Aku bisa mengerti itu…”

Aku tidak begitu senang dengan jawaban mereka. Maksudku, tidak ada satu pun dari mereka yang mencoba memahami apa yang ingin kutanyakan, mereka hanya mengatakan sesuatu yang acak untuk mengisi keheningan, diikuti dengan pertanyaan. Mungkin wajahku yang tertekan terlalu kentara bahkan bagi Duli karena dia menghantam bahuku, hampir membuatku terbentur jok.

“Hei, semangat, Baby Face, ini pekerjaan pertamamu, dan kau melakukannya dengan sangat baik!”

“Menurutmu begitu?”

“Seperti yang kukatakan, kau masih hidup. Jadi ya, ini berarti sesuatu dalam bisnis kita.”

“Hanya saja, kita kehilangan Dora,” aku menyilangkan tanganku lagi. “Ini sepertinya tidak benar.”

“Hei, Baby Face, ini bukan pertama kalinya salah satu dari kita berakhir di tempat sampah, dia akan baik-baik saja. Dia perempuan yang tangguh.”

“Semoga begitu.”

Razzim, yang terus memperhatikan jalan, berani memalingkan mukanya dan menatapku, yang hampir seketika mengakibatkan situasi hampir tabrakan karena, tampaknya, tangannya menjalani kehidupan yang terpisah. Begitu dia mengalihkan perhatiannya, tangannya mulai menarik roda ke arah lalu lintas yang datang. Aku berteriak, dia berteriak, Duli tertawa, dan lalu lintas yang datang membunyikan klakson.

Razzim meraih kemudi dan menstabilkan mobil, hampir menabrakkan kami ke tiang lampu jalan.

Jantungku serasa mau copot dari dadaku, tetapi Duli sangat menikmati hidupnya. Dia tidak bisa berhenti tertawa.

Razzim bernapas dengan berat.

“Kita baik-baik saja,” dia menghembuskan napas, mungkin menenangkan dirinya. Lalu, kali ini tanpa berani mengalihkan pandangan dari jalan, berkata. “Jangan khawatir tentang Dora, Nak, aku punya koneksi tertentu dengan beberapa orang di atas sana, dia akan bersama kita sebelum kau menyelesaikan prosedur disinfeksi dan karantinamu.”

Tetapi dia tidak bisa melakukannya. Ternyata Dora ditangkap bukan oleh polisi biasa, tetapi oleh beberapa badan penegak hukum narkoba. Pil yang mereka temukan padanya tidak hanya ilegal, tetapi juga milik kementerian narkoba militer eksperimental. Bahkan teman-teman Razzim di atas tidak bisa membebaskannya, hanya menyelamatkan pekerjaannya setelah dia akan dibebaskan dari klinik rehabilitasi. Dan yang lebih parah, aku harus menjalani prosedur disinfeksi yang sangat buruk.

Duli tidak berbohong, itu membuatku bau seperti pemutih selama sebulan.

Menyebalkan. Sangat menyebalkan.

“Tunggu sebentar. Duli, apa yang kau lakukan dengan mayatnya?” tanyaku.

“Bukankah terlalu dini untuk amnesia kedua?” Duli menatapku dengan curiga.

“Tidak, aku mengambil mayat yang pertama,” kataku. “Anjaaay! Raz, bisakah kau berbalik? Aku harus mengambil sesuatu yang tertinggal di semak-semak.”

Kementerian Kematian

. Huru-Hara di Gereja 1. Tumpukan Dokumen

Penulis

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Riak-riak Cangkir Retak

Ibu ke Mana?

Ibu ke Mana?

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 59

Diam

Diam

Bab 13. Serangan (Part 2)

Bab 13. Serangan (Part 2)

Antologi KompaK’O

Random image