Home / Genre / Romansa / 17. Kelemahanmu adalah Kekuatanku

17. Kelemahanmu adalah Kekuatanku

MERAJUT MASA SILAM
1
This entry is part 19 of 34 in the series Merajut Masa Silam

Sudah dua hari berlalu dan Arya Daringin belum juga membuka matanya, meskipun napas cukup teratur.

“Putri, saya bisa melihat betapa cemasnya Anda, tapi jangan khawatir, dia akan baik-baik saja,” kata wanita itu kepada Ghea dengan senyum meyakinkan. Dia hanya balas tersenyum.

Malam itu juga, Ghea dan Daringin pulang dan perempuan itu masih ikut untuk membersihkan luka-luka Arya Daringin dengan mengoleskan parem yang dia buat dari tumbuhan herbal di sekitar pantai. Hujan masih turun meski tidak lagi selebat sebelumnya.

Mereka berada di dalam bilik tidur dan Arya Daringin berbaring telentang, kain kasa melilit dadanya dan di suatu tempat di sekitar pahanya yang ditutupi selimut.

Untungnya Ghea menemukan kotak obat di sekitar kamar yang mereka gunakan dengan beberapa ramuan yang dia kumpulkan keesokan paginya.

“Putri ingat bagaimana caranya membersihkan luka?” Perempuan itu bertanya. Ghea mengangguk.

“Tolong, jangan lupa, malam ini, dia akan panas demam. Saya harus pulang ke rumah saya. anak-anak saya menunggu.”

“Terima kasih banyak, Munah,” jawab Ghea sambil bangkit. Munah adalah seorang wanita sukunya. “Tapi apakah kamu yakin jembatan itu aman?”

“Jembatannya tidak perlu khawatir, penyeberangnya saja yang perlu dikhawatirkan. Makanya kami imbau kepada warga untuk tidak bepergian. Penyeberangan tidak bisa dilintasi sekarang. Lagi pula, saya tidak ingin anak-ana saya menduga terjadi sesuatu pada saya saat badai berlangsung.” Dia berdiri dan mengeluarkan payung lipat dari tasnya.

“Kalau dia bangun, bantu dia mandi. Ini sangat penting, dia mungkin terlalu lemah untuk mandi sendiri.”

Apaaa?

“Um, maaf … memandikan, katamu?” tanya Ghea untuk memastikan.

“Ya,” Dia mengangguk. “Kalian pasangan suami istri, kan?”

Ghea tersenyum bodoh dan mengangguk. 

Couple of the Year, pikirnya.

Ghea memperhatikan dengan gugup saat Munah mengambil selendangnya yang sudah kering dan menggantungkannya di bahunya, dan kemudian mereka berjalan bersama ke pintu depan.

“Akan sangat menyenangkan kalau kamu bisa datang sesekali untuk memeriksa.” Ghea mulai gugup, menggosok kedua telapak tangannya. Munah menatapnya ningung dengan alis yang berkerut.

“Putri, Anda tidak takut pada suami Anda kan?”

“Tidak, tidak,” Ghea berbohong sambil tertawa pendek. “Aku hanya berpikir dia harus benar-benar tahu siapa yang telah menyelamatkan hidupnya.”

“Nah, Putri, dia tidak perlu tahu saya, karena Andalah yang benar-benar melakukannya. Kalau Anda tidak mengikutinya malam itu, Tuhan tahu tidak ada yang menemukannya tepat waktu. Dan semoga dia menyadari betapa beruntungnya dia memilikinya Anda,” kata Munah dan Ghea menjawab dengan senyum manis palsu. Munah mendorong pintu dengan payungnya dan melangkah keluar.

Hujan masih turun, tapi Munah mengatakan bahwa dia menembusnya. Ghea memperhatikannya saat Munah menghilang ke dalam hutan, lalu menutup pintu dan kembali ke dalam.

Di dalam sunyi dan hangat. Arya Daringin masih tidur di balai-balai tempat dia terbaring selama dua hari terakhir.

Ghea duduk bersila di sampingnya sambil aku memperhatikan kondisi Arya Daringin. Ada beberapa bekas luka di sepanjang pangkal hidungnya juga.

Wajahnya teduh dan tampak menikmati tidurnya. Hujan mulai membentuk semacam ritme puitis saat jatuh di atap. Ghea memejamkan mata dan berpikir…

Aku rindu rumah. Aku rindu Shanti. Apa yang dia lakukan melihatku terbaring dalam keadaan koma di dunia nyataku? Aku bertanya-tanya berapa lama aku harus tidur. Aku bertanya-tanya betapa berbedanya waktu di sana dengan di sini. Aku bertanya-tanya….

***

Ghea terbangun.

Dia seperti mendengar suara-suara, tapi sekarang hanya ada keheningan. Dia menatap Arya Daringin. Ekspresi wajahnya telah berubah.

Dia melihat bibir Arya Daringin bergerak. Ghea memperhatikannya dengan penuh minat. Kata-kata yang keluar dari bibir Arya Daringin tidak begitu jelas, tetapi dia sudah bisa berbicara.

“…He……ya…….” 

Arya Daringin terlihat sangat marah, tapi matanya masih tertutup rapat. Ghea segera berdiri dan perlahan berjalan ke sampingnya untuk mendekatkan telinga ke bibirnya.

“Heya…” Kali ini lebih seperti erangan.. 

Ghea menatap wajahnya. Tidak terlihat marah lagi. Arya Daringin hanya mengerang dalam tidurnya.

Ghea membungkuk lebih dekat, kini berlutut di sisinya dan kepalanya sedikit lebih dekat ke bibir Arya Daringin, sehingga bisa merasakan kehangatan napasnya. Ghea ingin tahu apa yang dia katakan.

“Ghea … hmmm.” Arya kembali mengerang dan barulah Ghea menyadari bahwa namanya yang disebut, membuatnya tersentak.

Apakah dia menyebut namaku?

Saat itu sebelum Ghea bisa membungkuk sedikit lebih dekat untuk mendengar apa kata-kata selanjutnya, dia merasakan tangan Arya Daringin memegang lehernya dan sebelum Ghea menyadarinya, Arya Daringin melumat bibir Ghea dengan bibirnya.

Awalnya, Ghea ketakutan. Arya Daringin memasukkan tangannya ke dalam gelungan rambut Ghea, menahannya di tempat. Kemudian Arya Daringin memperdalam ciumannya, lidahnya menyapu ke dalam mulut Ghea dan memilin-milin dalam mulut gadis itu.

Rasanya seperti vanilla dan mint, sangat memabukkan sehingga membuat Ghea mencair dan meleleh. Otaknya berhenti bekerja saat dia membalas ciuman itu tanpa berpikir.

Suara Arya Daringin menggeram rendah keluar dari tenggorokannya saat ciuman itu berubah menjadi panas, putus asa dan rakus, lalu, napasnya menjadi begitu cepat dan tak terkendali. 

Ghea tidak berpikir, dia tidak bisa berpikir. Dia baru saja balas menciumnya dengan sangat bernafsu saat Arya Daringin menciumnya, lalu mendadak lelaki itu tersentak dan mendorong Ghea begitu keras hingga dia jatuh ke kursi yang menanti di belakangnya.

Arya Daringin menatapnya dengan tampang kaget dan bingung.

“Apa yang kamu lakukan, Ghea?”

Ghea berpikir dia salah dengar. 

“Melakukan apa?”

“Mengapa kamu menciumku? Apa yang kamu coba lakukan? Apakah kamu mencoba mengambil keuntungan dariku? Apakah kamu sudah gila?”

Ghea bingung.

 Dia tidak tahu apakah raut wajah Arya Daringin saat itu adalah hasrat yang menggebu atau kebencian murni, karena dia bisa melihat sesuatu yang membengkak bahkan dengan selimut yang menutupinya. 

Mungkin dia menginginkanku dan membenciku pada saat yang sama, itu masuk akal.

Ghea berdiri, merapikan pakaiannya.

“Kamu yang menciumku. Aku tidak meminta untuk dicium,” balasnya tajam.

“Oh, benarkah? Jadi apa yang kamu lakukan di samping tempat tidurku, berlutut di sampingku dengan payudaramu menutupi wajahku?” Arya Daringin berteriak.

“Kamu neglindur dalam pingsanmu, bodoh!” Ghea balas berteriak. “Aku pikir ada yang salah denganmu. Mungkin kamu sedang sekarat atau apa. Seharusnya kamu mendengar dirimu mengerang memanggil namaku,”

Ghea kehabisan kata-kata.

Dan Arya Daringin terdiam. Lalu dia tertawa. 

“Kamu sangat menyedihkan, Ghea. Aku tidak akan pernah menginginkan wanita sepertimu.”

Ghea ku tersentak mendengarnya, tapi kemudian dia melangkah mendekat, kemudian membungkuk sedikit dan meletakkan tangannya di dada Arya Daringin yang diperban sementara pria itu dia menatapnya dengan pancaran kebencian yang sangat yang terpancar dari seluruh tubuhnya.

“Kamu bisa saja ngomong sesukamu, Arya Daringin. Tapi si kecil punyamu di bawah sana…,” katanya sambil menunjuk paha pria itu, “sepertinya tidak setuju denganmu,” sembur Ghea dengan suara bernada naik turun, sambil tangannya memberikan tekanan ke dada Arya Daringin, membuat pria itu mengerang kesakitan.

“Apakah kamu gila, perempuan? Apakah kamu ingin membunuhku?” Arya Daringin menatap Ghea ketakutan.

Ghea tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Arya Daringin, malah berjalan ke tangga dan kemudian berbalik ke arahnya.

“Jadi, siapa yang menyedihkan sekarang?” tanyanya sebelum menaiki tangga. Lalu dia teringat sesuatu.

“Bersiaplah segera, suamiku sayang. Aku akan memandikanmu sebentar lagi.”

Ghea berhenti untuk mendengar jawabannya, tetapi yang dia dapatkan adalah bunyi sesuatu pecah disusul erangan keras kesakitan disertai caci maki dan kata-kata kutukan.

“Huasuuu!” teriak Arya Daringin kesakitan.

Dia pasti meninju sesuatu, tapi erangannya berhasil membuat Ghea tergelak-gelak puas.

Merajut Masa Silam

6. Suami Istri 8. Memandikan Suami

Penulis

  • Alexis

    Pengarang  novel Lamaran atau Pinangan? (Pimedia, 2022) dan (Deception) Ingkar Jodoh (Pimedia, 2022). Segera terbit, Penyintas Terakhir.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Untuk Mati

Untuk Mati

Cinta Kedua & Terakhir

Cinta Kedua & Terakhir

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Antologi KompaK’O

Random image