Seperti diketahui, tipe kepribadian manusia secara garis besar terbagi atas dua bagian. Ekstrovert atau tipe kepribadian terbuka yang ditandai dengan lebih banyaknya seseorang berbicara daripada berpikir, sebaliknya introvert yang ditandai dengan lebih banyaknya berpikir daripada berbicara. Ada juga pemilik tipe kepribadian gabungan atau kombinasi dari kedua-duanya, yaitu ambivert. Tidak ada seseorang yang benar-benar murni ekstrovert atau introvert, seseorang yang ekstrovert masih mungkin memiliki beberapa ciri introvert dan vice versa.
Konon dua pertiga atau dua dari antara tiga orang berkepribadian ekstrovert dan hanya ada sepertiga atau satu dari antara tiga orang yang berkepribadian introvert. Sesuatu yang menarik, bukan? Mengingat manusia adalah makhluk sosial, tentu saja berkata-kata atau berkomunikasi menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Akan tetapi dengan ajaibnya, Tuhan Yang Maha Esa tidak menciptakan semua manusia berkepribadian ekstrovert. Sebagai penyeimbang, masih ada beberapa introvert di antara kita.
Seorang bertipe kepribadian introvert sering disalahpahami sebagai nerd/geek, pemalu, sombong, pendiam atau tertutup. Padahal belum tentu semua itu benar atau menjadi sifat seorang introvert.
Sebagai seorang bertipe kepribadian introvert, penulis ingin sekali membagikan perasaan dan pengalaman sehari-hari berada di tengah-tengah anggota keluarga dan teman-rekan yang berkepribadian ekstrovert.
Slow mornings atau slow morning routines, apa kira-kira itu? Kurang lebih bisa penulis gambarkan sebagai kebiasaan memulai hari secara perlahan-lahan. Bukan awal hari yang dadakan atau penuh grasa-grusu alias ketergesa-gesaan. Bagi saya pribadi, slow mornings adalah bisa bangun tepat pada waktunya, jika bisa sebelum matahari terbit. Tidak dengan keterkejutan atau paksaan seperti harus dengan bunyi alarm weker/bel keras-keras menyentak gendang telinga, jerit-jerit kemarahan dan lain sebagainya. Apalagi dengan guyuran air seperti dalam film-film animasi atau komedi. Duduk perlahan-lahan (istilah puitisnya, mengumpulkan nyawa) terlebih dahulu. Jika dalam drama atau iklan, mungkin dengan sedikit geliat. Kemudian bangun/bangkit berdiri perlahan-lahan saja, sebisa mungkin jangan sampai lupa berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bersyukur dulu jika hari ini masih diberi nyawa. Kemudian minum segelas air, menuntaskan dahaga semalaman. Melakukan ritual di kamar mandi alias buang air pertama, jangan lama-lama. Kemudian apa? Bagi saya, secangkir minuman hangat saja. Tidak perlu pakai gula, sugar rush bukan gaya penulis mengawali hari. Tugas ngedapur telah menunggu. Setelah semua selesai; ada air hangat, piring-gelas sudah bersih, sarapan hingga makan siang siap dibawa, barulah saya bisa mandi dengan tenang. Semua rata-rata saya selesaikan dalam waktu satu hingga satu setengah jam. Berangkat bekerja kira-kira pukul enam pagi agar tidak usah khawatir terlambat, kelelahan, tak perlu terburu-buru apalagi berlari-lari mengejar kereta api.
Slow mornings semacam ini (Senin-Jumat) sudah menjadi kebiasaan saya, sehingga Sabtu-Minggu malah bisa lebih slow lagi, misalnya bangun pukul setengah enam pagi. Bagi beberapa orang, barangkali jam segini masih kepagian atau bahkan kesiangan, akan tetapi bagi saya sudah menjadi hal biasa-biasa saja. Namun sayangnya, slow mornings yang indah dan sunyi syahdu itu bisa berubah menjadi malapetaka apabila seorang ekstrovert tiba-tiba juga ‘bangun’ sisi ekstrovertnya. Ekstrovert yang dadakan muncul dengan segala jeng-jeng-jeng alias hingar-bingar bisa merusak semua keindahan slow mornings. Bukan ala-ala film/novel dengan sapaan selamat pagi dan sebagainya, melainkan “Bla-bla-bla!” seperti hari ini nanti mau ngapain, kok begini-begitu ‘sih, mau masak apa, bingung nih! Dan lain sebagainya. Barangkali bagi para ekstrovert, mereka tidak bermaksud negatif, hanya ingin meluapkan keinginan mengisi energi sosial mereka penuh-penuh dengan bicara mengenai apa saja. Sedangkan para introvert seringkali kurang siap untuk meladeni semua pertanyaan trivial itu. Apalagi jika dibarengi dengan penyebutan segala kelemahan-kekurangan mereka baik yang dilakukan hari-hari sebelumnya atau pagi ini. Kamu lupa ya? Gimana ‘sih? Cepetan dong! dan semacamnya.
Saran pribadi saya sebagai seorang introvert, sebaiknya para rekan ekstrovert berusaha mengerem sedikit saja pemenuhan energi sosial Anda terutama pada pagi hari, jangan sampai merusak slow mornings-nya seorang introvert. Sebaliknya, bagi sesama introvert ada baiknya kita belajar sabar, menahan diri apabila seorang ekstrovert sedang menguji kesabaran kita. Lebih baik berkata hal netral seperti ‘ya’ atau mengangguk saja daripada menyahutkan hal tak enak atau menangkis, hindarilah dengan pernyataan baik-baik, misalnya menyudahi percakapan trivial itu dengan pamit permisi/tabik hangat sehingga tidak perlu terjadi perdebatan panjang yang kurang perlu. Damai di pagi hari, awal sejahtera sepanjang hari. Berusahalah bersama-sama mengawali hari sebaik-baiknya sehingga tidak perlu ada masalah kecil yang membuat emosi sepanjang hari.
Semoga bermanfaat dan salam damai.
Tangerang, 20 Mei 2025









