Abad ke-16, yaitu pada masa Kesultanan Utsmani, lahirlah penakluk samudra dan menjadi Sang Sultan Mediterania yang menggetarkan bangsa Eropa.
Pada masa itu, samudra dianggap sebagai monster yang menelan banyak raja dan sultan. Bahkan, penguasa Yunani, Kaisar Kayzar telah ditawan disana dan menjadi budak bajak laut. Namun, baginya samudra bukanlah monster melainkan buaian sang ibu.
Awal mulanya empat bersaudara melakukan perdagangan lewat jalur Mediterania yang mengangkut barang-barang pesanan dari para saudagar—barang apapun yang dimasukkan ke dalam peti, lalu diangkut dengan menggunakan kapal milik korporasi. Memang, keempat saudara itu belum memiliki kapal sendiri.
Namun, dengan kejujuran yang mereka miliki, keempat saudara itu bebas menggunakan kapal tersebut—dengan syarat hanya digunakan untuk berdagang saja. Sehingga, apabila mereka memiliki barang dagangan sendiri, kapal tersebut boleh dipakai tanpa disewakan.
Keempat saudara itu bernama İshak Reis, Oruç Reis, Hizir Reis, dan İlyas Reis. Akan tetapi, yang paling sering berlayar adalah Oruç Reis. Sementara İshak Reis sudah pensiun menjadi pelaut. Lalu, yang kedua adalah Hizir Reis. Adapun İlyas Reis tidak terlalu sering berlayar, karena terkadang harus berjaga di dermaga.
Kisahnya dimulai dari sini, dimana mereka bertiga Oruç Reis, Hizir Reis dan İlyas Reis—kala melakukan perdagangan di serang oleh kapal Kristen Ordo Militer, yang disebut Kristen St. Jon of Jerusalem atau Knight of Rhodes yang menyebabkan İlyas Reis terbunuh.
Oruç Reis dan Hizir Reis tak tinggal diam melihat adik mereka terbunuh. Maka, mereka berdua menyerang balik kapal yang dimiliki oleh raja-raja kristen. Dengan serangan balik inilah yang membuat bangsa Eropa gempar dan nama mereka disegani, yakni Barbarossa Bersaudara. Namun, hanya ada satu nama yang abadi hingga saat ini, yaitu Khairuddin Barbarossa. Lantas, siapakah diantara Oruç Reis dan Hizir Reis yang diberi nama Khairuddin Barbarossa? Inilah kisahnya sang Sultan Mediterania.











