Arya Daringin mengerang kesakitan dan umpatannya semakin menjadi-jadi mendengar Gelak tawa Ghea.
Ini sangat salah. Bagaimana mungkin aku berakhir di tempat ini dengan wanita seperti dia?
Ghea tampaknya seperti sedang menjalankan misi. Apa pun misinya itu, Ghea benar-benar membuat kemajuan. Tapi aku tidak akan memberinya kepuasan.
Arya Daringin menatap pecahan-pecahan kaca di lantai. Buku jarinya sakit sekali. Serpihan beling yang kecil sepertinya menyusup di kulitnya dan dia perlahan menyekanya dengan telapak tangannya yang lain.
Dadanya yang ditekan Ghea sebelumnya masih terasa sedikit sakit. Mungkin Ghea hanya ingin datang ke sini dan membunuhnya.
Tetapi bahkan kalau memang itu niatnya, mengapa dia harus bersusah payah menjagaku tetap hidup ketika dia bisa saja meninggalkanku untuk mati di hutan?
Ingatan Arya Daringin kembali pada malam itu. Dia melihat jembatannya licin, bahkan kudanya menolak untuk lewat, tetapi dia begitu marah hingga turun dan menarik tali kekang di leher kuda malang itu dan tidak menyadari adanya dahan pohon yang melintang itu sebelum menabraknya dan membuatnya pingsan tak sadarkan diri.
Dia mendengar Ghea berlari ke arahnya, melihat istrinya di tengah derasnya hujan, sangat khawatir ketika melepaskan pakaiannya satu per satu. Arya Daringin bahkan mengira Ghea sudah gila. Tetapi ketika Ghea duduk dan mulai menangis, dia semakin bingung. Dia ingin berdiri tetapi kakinya tak bisa bergerak sebelum dia menyadari kehadiran wanita tua itu.
Dia ingin memprotes, tetapi apa yang bisa dia lakukan ketika melihat kedua wanita itu mencoba menyelamatkan hidupnya? Akhir dia menyerah.
Tetapi kemudian pagi ini dia terbangun dan dia mencium Ghea.
Aku menciumnya!
Apakah aku sudah gila? Bagaimana mungkin aku melakukan itu?
Pasti ada sesuatu yang aneh terjadi di sini. Dia hanya ingin sembuh dan pergi dari sini. Jauh. Jauh dari Ghea.
Itu tidak sengaja. Dia hanya kehilangan kendali. Dia tidak pernah melihat Ghea sedekat ini, terutama setelah memimpikannya.
Mengapa aku terus memimpikan dia?
Hah! Ini benar-benar tidak ada harapan. Mata Ghea terus menghantuinya, dalam mimpinya dan sekarang dalam kehidupan nyata.
Siapa wanita ini? Mengapa dia ada di sini? Mengapa dia begitu berbeda namun begitu akrab, dan mengapa tubuhku sangat menginginkannya, bahkan lebih dari yang pernah kuinginkan dari wanita mana pun sepanjang hidupku?
Ketika aku menciumnya, aku menciumnya seperti hidupku bergantung padanya. Aku dipenuhi dengan perasaan lapar. Rasa lapar yang tak terpuaskan akan dia. Dan ketika aku mengerang, duniaku menjadi kabur dan aku harus melepaskan diri dari pesonanya.
Wanita ini pasti penyihir! pikirnya.
Biasanya, dialah yang membuat wanita mengerang. Kenapa aku harus mengerang untuk wanita ini? Dia dari semua wanita yang ada!
Dalam mimpinya, dia melepaskan penutup tubuh Ghea satu per satu seperti yang Ghea lakukan malam itu ketika dia mengalami kecelakaan. Satu-satunya perbedaan adalah, dia tidak berbaring tak berdaya, dan Ghea tidak menangis. Ghea terkikik dan dia berdiri di belakangnya di tengah hujan.
Dia mencium wanita itu. Dan mata itu, dia lihat segera setelah terbangun dan [esona itu menangkapnya dan dia tak berdaya.
Menyedihkan.
Ini harus dihentikan.
Aku tidak bisa terus melakukan ini, aku tidak akan bisa menarik diri lain kali. Aku harus terus menolaknya sampai kami selesai dengan pernikahan ini!
“Kangmas suamiku, apakah Kangmas siap?”
Gendheng!
“Tolong, aku bisa mandi sendiri,” bantah Arya Daringin dengan mata terpejam.
“Tidak, mustahil. Kangmas hampir tidak bisa berdiri.”
“Aku bilang tinggalkan aku sendiri!” Arya Daringin membentak.
Dia sangat lelah, membentak membuatnya semakin lemah.
Ghea berjalan ke sampingnya dan meletakkan secangkir teh di atas meja. Aroma teh pegunungan yang wangi menghantam hidungnya, membuatnya ingin mencicipinya.
“Tolong, aku mau minum teh.”
“Baiklah, Kangmas bisa meminumnya setelah mandi.”
“Aku bukan anak kecil, Ghea. Aku mau tehku sekarang,” katanya tegas, mulai kesal.
“Kangmas Arya Daringin, aku bukan gundikmu dan aku bukan salah satu pelayanmu, jadi Kangmas tidak punya pilihan selain menuruti kata-kataku.”
Arya Daringin mengerang. Dia mungkin sangat menginginkan Ghea, tetapi sekarang, dia hanya ingin membunuh wanita itu.
Bagaimana bisa dia bisa merasakan kedua hal yang bertentangan untuk wanita yang sama!
“Ayo Ksatria, kalau sampai tehnya dingin, pastikan aku tidak membuat yang lain,” kata Ghea tegas sambil menggoyangkan jari telunjuknya.
“Baiklah!” teriak Arya Daringin. “Bisakah kamu tolong aku?”
“Tentu saja, Kangmas. Tidak ada hal lain yang ingin kulakukan selain menolong Kangmas.”
Arya Daringin mendengus mendengar nada sarkasme dalam suara Ghea. Ketika Ghea Arya Daringin melingkarkan lengan kiri di pundak Ghea. Ghea memeganginya sampai Arya Daringin berhasil berdiri.
Selimut jatuh ke lantai, hanya menyisakan celana panjang.
“Pelan-pelan, aku luka!” kata Arya Daringin ketika mereka melahan perlahan menuju kamar mandi.
“Berhenti merengek. Kangmas laki-laki, bukan wandu,”
“Aku bukan wandu.”
“Baiklah, kalau begitu diam saja dan bersyukurlah ada istri yang merawatmu.”
“Kamu yang menyebabkan aku begini. Tidak ada yang perlu disyukuri.”
“Aku tidak menyebabkan apa pun. Kalau Kangmas tidak begitu keras kepala dan tuli waktu aku memperingatkanmu, semua ini tidak akan terjadi.”
Ghea mendorong pintu kamar mandi hingga terbuka.
“Mungkin kalau kamu mengurus urusanmu sendiri seperti yang kita berdua sepakati pada malam pernikahan, yang sebenarnya kamu yang minta, Semua ini tidak akan pernah terjadi. Perempuan usil!”
“Dan kamu mesum!”
“Aku anggap itu pujian. Kamu wanita yang kesepian dan menyedihkan yang suaminya tidak menginginkannya dan berusaha mengacaukan segalanya.”
“Dan kamu babi yang sangat egois dan haus yang tidak tahu apa yang diinginkannya! Berzina di sembarang tempat. Pangeran macam apa kamu. Kamu sangat menjijikkan dan gila memainkan manuk!”
“Cukup!” Arya Daringin berteriak begitu mereka sampai di kamar mandi. Kepalanya berdenyut.
“Bantu aku masuk ke bak mandi.”
Ghea menatapnya sementara lengannya masih melingkar di bahu istrinya. Arya Daringin harus menunduk menatapnya. Ghea sungguh mungil.
“Apa kamu keberatan bilang ‘tolong’?”
“Kenapa aku harus bilang begitu? Apa kamu tidak tahu kalau kamu seharusnya membantuku masuk ke bak mandi sebelum menyuruhku mandi?”
“Baiklah, kalau kamu tidak bilang ‘tolong’, kamu tidur di sini malam ini,” jawab Ghea sambil melepaskan tangan Arya Daringin dari bahunya, membuat pria itu harus menyeimbangkan diri dengan memegang pintu.
Ghea berdiri dan bersandar di dinding, lengan terentang.
“Apa kamu bercanda, perempuan? Apa yang salah denganmu! Kamu gila!”
Ghea mendesah, menatap kukunya.
“Yah, aku sudah mencoba, tapi, kamu memang bodoh. Semoga berhasil!” katanya dan hendak berbalik dan pergi.
Begitu Ghea melewati Arya Daringin, dia memegangnya yang hendak berlalu dengan terburu-buru, sehingga pria itu terhuyung dan hampir kehilangan keseimbangan. Arya Daringin jatuh bersandar di di dinding sementara rambut Ghea berantakan menutupi wajahnya dengan tangan suaminya di pinggangnya.
Mereka berdua berdiri dan Arya Daringin menjaga agar mereka tetap tegak, atau mungkin dinding yang menjaga kereka tetap tegak.
“Apa yang kamu pikirkan? Apakah kamu ingin melukaiku juga?” Ghea menjerit sambil menyibak rambutnya dari mukanya. Tanpa berpikir, Arya Daringin ikut menyibak rambut Ghea, dan Ghea menatapnya. bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan suaminya.
Arya Daringin bengong, tapi cara mata Ghea menatapnya membuatnya terhipnotis. Dia ingin meleleh ke dalam mata yang indah itu.
“Matamu benar-benar indah.”
Apa-apaan ini? Oh, Tuhan! Aku barusan ngomong apa?
Arya Daringin segera melepaskan tangannya dari rambut dan pinggang Ghea.
“Apa?” Ghea bertanya.
“Aku bilang, aku punya bak mandi yang indah. Tolong, tolong bantu aku mandi.”
Ekspresi kecewa dari wajah Ghea langsung hilang. Arya Daringin benar-benar berharap Ghea tidak mendengar kalimat sebelumnya.
“Lebih cepat dari yang kukira,” jawab Ghea, membantu suaminya masuk ke dalam bak mandi.
Ketika Ghea hendak membuka keran air, dia teringat.
“Oh kita belum melepas celanamu, Kangmas.”
Arya Daringin menatapnya ngeri.
“Tidak, tolong jangan!”
Ghea tertawa terbahak-bahak dan membuka keran. Air mengalir keluar.
“Aku bercanda. Siapa sih, yang mau melihat kamu telanjang?”
Ghea terus terkekeh sendiri sementara Arya Daringin mendesah lega.










