Setelah dua tahun memimpin Kesultanan Utsmani, Hungaria yang dipimpin oleh Janos Hunyadi, melanggar perjanjian damai yang disebut Perjanjian Szeged dengan menyerang Kesultanan Utsmani.
Peristiwa ini menjadi titik awal hubungan rumit antara Mehmed II dengan Hungaria. Melihat kejadian yang sedang dialami Sultan Mehmed, dan merasa dirinya tak mampu untuk memimpin pasukan, dikarenakan pengalaman, dan kecakapannya belum mumpuni, maka Sultan Mehmed meminta ayahnya untuk kembali naik tahta. Namun, ayahnya Murad II menolak permintaan tersebut. Sebagai balasannya, Sultan Mehmed II menulis surat kepada ayahnya, yang isinya:
“Bila ayah adalah sultan, datanglah dan pimpinlah pasukan ayah. Bila aku adalah sultan, aku memerintahkan ayah untuk datang, dan pimpinlah pasukanku.”
Dengan membaca surat tersebut, maka Murad II datang dan memimpin pasukan, untuk menghadapi pasukan kolaborasi antara Hungaria-Polandia dan Wallachia.
***
Pertempuran Varna
Setelah menerima surat dari putranya, Sultan Mehmed II—Murad II akhirnya datang ke Edirne dari Manisa, untuk memimpin pasukan Utsmani melawan pasukan Hungaria-Polandia dan Wallachia yang dipimpin oleh Raja Wladyslaw III dari Polandia yang juga Raja Hungaria, Janos Hunyadi yang bertindak sebagai komandan pasukan, dan Mircea II dari Wallachia.
Sesampainya di Edirne, Murad II langsung diberi perintah oleh Sultan Mehmed II untuk memimpin pasukan dengan cara bergerak ekspedisi menuju Hungaria—yang se-tahu Sultan Mehmed II menjadi tempat pasukan Janos Hunyadi membuat perkemahan perang.
Namun, dalam perjalanan menuju Hungaria, mata-mata Sultan Mehmed II¹, datang menghampiri iring-iringan kavaleri dan infanteri Utsmani untuk memberitahu perkembangan pasukan musuh.
“Ya, Murad Han. Aku melihat pasukan Janos Hunyadi berbaris menuju Varna, Bulgaria. Disana, pasukan Janos sudah ditunggu oleh pasukan Wladyslaw dan Mircea dalam jumlah yang sangat besar.”
“Aku tidak peduli jumlah mereka. Koalisi mereka hanya berdasarkan kepentingan pribadi semata. Iman mereka lemah, dan hati mereka sejatinya dipenuhi rasa takut.” Balas Murad II.
“Sementara kami, biarpun jumlahnya sedikit, kami memiliki kekuatan yang tidak mereka miliki, yaitu iman. Jika kami menang, semata-mata Allah yang memenangkannya, jika kami kalah, itu sudah kehendakNya. Ayo jangan buang waktu kita untuk meraih kesyahidan!” Lanjut Murad II.
Pasukan Utsmani pun bergerak menuju Varna.
Sesampainya di Varna, pasukan Utsmani berhadap-hadapan dengan koalisi pasukan kristen, dan kedua belah pihak dalam kondisi siap tempur.
Sebelum pertempuran, seperti biasa terjadilah tradisi antara kedua belah pihak. Yaitu, negosiasi terlebih dahulu, atau saling intimidasi satu sama lain. Dari pihak Utsmani, diutuslah Çandarlı Halil Pasha yang bertindak sebagai Wazir Agung Utsmani, sementara dari pihak koalisi kristen, diutuslah Janos Hunyadi yang bertindak sebagai komandan pasukan perang.
Mereka berdua berhadap-hadapan untuk berbicara. Namun, bukan negosiasi, bukan pula tawar menawar. Melainkan, untuk saling mengintimidasi.
“Çandarlı, menyerahlah, dan bawa kembali pasukanmu sebelum kami menghancurkan kalian oleh pasukan kami yang begitu besar,” ancam Janos kepada Çandarlı Halil Pasha.
“Ya, pasukanmu begitu besar, dan banyak. Tapi ingatlah, Janos! Kami bangsa Turki memiliki iman yang lebih besar daripada jumlah pasukanmu. Maka, yang perlu kembali bukan pasukanku, melainkan pasukanmu.” Çandarlı mengancam balik Janos Hunyadi.
Karena tak ada yang ingin kembali, maka pertempuran pun pecah dengan sengit. Di tengah majulah pasukan 15.000 infantri Janissary yang dipimpin oleh Doğan Ağha, berhadap-hadapan dengan 20.000 pasukan yang dibawa oleh Janos Hunyadi.
Tak ketinggalan dari sisi kanan, majulah 8.000 pasukan Akinji yang dipimpin oleh Bali Bey dan diarahkan oleh Saltuk, guna membantu pasukan Janissary. Namun, dari pihak Kristen tak mau kalah, 25.000 pasukan Mircea ikut dikerahkan untuk mendukung pasukan Janos—yaitu untuk melawan Akinji.
Dengan dukungan dari Mircea, ambisi Janos meninggi. Sebagai Voivode², Janos menggunakan supremasinya untuk menginstruksi pasukan lain, yaitu memerintahkan 4.000 pasukan dibawah komando Stephen Bathory yang bertuliskan St. George, untuk menyerang Janissary dan Akinji. 500 pasukan Stephen Bathory menggunakan baju zirah berat nan kuat yang terbuat dari baja—yang ditempatkan paling depan. 500 pasukan tersebut berfungsi sebagai garis pertahanan guna melindungi pasukan lainnya yang berada dibelakang.
Pertempuran pun berjalan semakin ketat. Terlihat jelas, pasukan Janissary dan Akinji sudah begitu lelah. Banyak dari mereka tumbang, sementara pasukan yang yang masih tersisa melawan semampunya dengan suara denting pedang semakin melemah. Murad II pun terlihat khawatir, namun tak menunjukkan kepanikan.
Murad II pun memerintahkan Çandarlı Halil Pasha untuk mengerahkan pasukan kavaleri Sipahi. Maka, Çandarlı pun menghampiri Evrenosoğlu Ali Bey, yang bertindak sebagai komandan pasukan Sipahi, dan segera berangkat ke medan perang, guna mendukung pasukan Janissary dan Akinji.
Dengan tanpa pikir panjang, Ali Bey langsung memacu kudanya bersama 12.000 kavaleri Sipahi. Di medan perang Varna, pasukan Sipahi membelah kedua belah pihak pasukan yang saling berhadapan. Kuda-kuda mereka berlari kencang, sembari melancarkan serangan panah bak hujan deras meluncur kepada pasukan kristen.
Melihat serangan mendadak dari pihak Utsmani, Janos Hunyadi pun terkejut. Sontak, keadaan berbalik. Kini, pasukan kristen yang terpojok. Melihat peluang yang terjadi, Doğan Ağha tidak menyia-nyiakan momentum. Ia memerintahkan Janissary untuk menyerang dengan penuh semangat yang membara.
Suara takbir menggema “Allahu Akbar!” Dari pasukan Janissary, yang membuat sedikit gentar Janos dan kawan-kawan. Melihat kondisi pasukan yang sedikit kocar-kacir, Mircea justru memerintahkan Janos Hunyadi untuk mundur.
Bagaimana tanggapan Janos? Tentunya ia menolak perintah Mircea. Meski hatinya dipenuhi ketakutan, ia pun memiliki gengsi yang tinggi dengan berkata:
“Aku tidak akan mundur, Mircea. Kita masih memiliki pasukan yang masih bersiap dibelakang kita. Lihatlah! Pasukan Wladyslaw disana. Daripada kau memerintahkanku untuk mundur, sebaiknya kau kesana dan meminta Raja Wladyslaw untuk mendukung kita.”
Dengan sedikit kesal, Mircea terpaksa menuruti kata-kata Janos. Ia berlari ke belakang, dan menghampiri Wladyslaw guna meminta dukungan. Tanpa pikir panjang, Wladyslaw pun memacu kudanya bersama pasukan 20.000 pasukannya.
Melihat pergerakan pasukan musuh dari belakang, Murad II pun tak tinggal diam. Ia memerintahkan Zağanos Pasha untuk memberi instruksi kepada pasukan Janissary lainnya yang berada dibawah komando Mustafa Ağha. Janissary yang tersisa hanya berjumlah 2.000 saja. Selain itu, Murad II pun memerintahkan Şahabettin Pasha untuk memberi instruksi kepada 3.000 pasukan Azeb untuk maju, dan memberitahu bahwa komandannya adalah dirinya.
Zağanos Pasha dan Şahabettin Pasha pun bergerak menuju pasukan masing-masing. Maka, Janissary bergerak dibawah komando Mustafa Ağha dan Azeb bergerak dibawah komando Murad II.
Pertempuran pun semakin sengit, dan debu-debu di Varna yang beterbangan hampir terlihat ke seluruh Bulgaria. Orang-orang di masing-masing kerajaan sedang menantikan kabar, dan berharap pulang dengan kemenangan. Lantas, kerajaan mana yang pulang dengan kepala tegak?
***
¹ Sebelum pertempuran pecah, yaitu pada masa persiapan, atas dasar saran Syekh Aaq Samsedin, Sultan Mehmed II mengirim beberapa orang yang ahli dalam pengintaian untuk menjadi mata-mata.
² Voivode: panglima perang tertinggi bagi kerajaan Hungaria, Polandia, dan Rumania.










