Nama Gunung Tidar tiba-tiba mencuat setelah 48 menteri dan 56 wakil menteri/setara dari kabinet merah putih Presiden Prabowo-Gibran akan menjalani pembekalan pada 25-27 Oktober 2024.
Dulu orang mungkin hanya mengenal Gunung Tidar sebagai pusat pelatihan Akademi Militer. Gunung yang dalam legenda dikenal sebagai “Pakunya Tanah Jawa” ini berada di tengah-tengah Kota Magelang, memang tidak dapat dipisahkan dengan pendidikan militer karena kegiatan Akademi Militer (Akmil) yang dilakukan di gunung tersebut.
Banyak versi tentang asal muasal nama Tidar. Namun, yang sering digunakan adalah “Tidar” memiliki makna mukti dan kadadar. “Mukti” memiliki arti bahagia, berpangkat, dan sukses dalam hidup, sedangkan “Kadadar” berarti dididik, ditempa, dan diuji. Hal tersebut dikaitkan karena Gunung Tidar memiliki sejarah dalam perjuangan bangsa, di Lembah Tidar itulah Akademi Militer sebagai kawah candradimuka yang mencetak perwira pejuang Sapta Marga berdiri pada 11 November 1957.
Hanya butuh waktu kurang dari 30 menit untuk sampai di puncak Tidar. Luas kawasan Kebun Raya Gunung Tidar mencapai 701.674 m² dengan puncak yang berada di ketinggian 503 mdpl. Untuk mencapai puncak dan turun kembali, pengunjung perlu menempuh sejumlah 1.002 anak tangga.
Namun, tak perlu cemas karena di beberapa titik, terdapat area beristirahat agar pengunjung dapat melepas lelah serta menikmati suasana teduh dan udara segar di sepanjang jalur pendakian. Di sana, wisatawan juga dapat berphoto dengan latar pohon pinus yang rindang dan tanaman buah-buahan tahunan seperti salak hasil penghijauan era tahun 1960an menjadikan Gunung Tidar sangat rimbun. Tersedia pula fasilitas umum, seperti toilet dan kedai makanan minuman.
Menapaki jalan setapak pendakian, mendekati puncak kita akan bertemu dengan Makam Syekh Subakir. Kisah Syekh Subakir dan Gunung Tidar, begitu melegenda di kalangan masyarakat tradisional Jawa. Cerita rakyat ini dituturkan secara turun-temurun. Syekh Subakir yang dikisahkan punya kesaktian mumpuni juga turut dinukilkan dalam Babad Tanah Jawi, sebuah sastra berbahasa Jawa yang berisi sejarah Pulau Jawa.
Siapakah Syekh Subakir? Beliau adalah ulama asal Persia yang diutus oleh Sultan Muhammad I dari Kesultanan Turki Utsmaniyah atau Ottoman untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa, bersama pamannya Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik yang merupakan generasi awal Wali Songo.
Konon menurut legenda, Pulau Jawa diciptakan oleh Sang Maha Pencipta berupa daratan yang terapung di lautan luas dan selalu bergerak.
Seorang Dewa yang dari kayangan memaku tanah tersebut agar berhenti bergerak, kepala paku yang digunakan kini berakhir menjadi sebuah gunung yang dikenal sebagai Gunung Tidar. Masyarakat tradisional Jawa menyebutkan sebagai Pakuning Tanah Jawa atau paku tanah Jawa.
Sebelumnya sudah banyak ulama yang diutus Utsmaniyah Turki untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa, Namun, hampir semuanya mengalami kegagalan. Hingga diutuslah Syekh Subakir, seorang ahli Ruqyah, ekologi, meteorologi dan geofisika.
Tidak hanya itu, beliau juga dikhususkan untuk menangani hal gaib dan spiritual yang dinilai sebagai penghalang diterimanya islam oleh masyarakat Jawa. Para Jin, dedemit, dan lelembut dapat mengubah wujudnya menjadi ombak besar disertai angin puting beliung yang dapat menghancurkan kapal dan apapun di atas ombak. Tidak hanya itu, para Jin juga bisa berubah wujud menjadi hewan buas yang mencelakakan para ulama terdahulu.
Masyarakat Jawa sendiri saat itu juga masih memegang teguh kepercayaan lama. Dengan karakter gaib dan mistis yang masih mendominasi daratan dan lautan di sekitar pulau Jawa.
Untuk mengatasi hal gaib tersebut, Syekh Subakir membawa batu hitam dari Arab yang telah dirajah. Batu tersebut diletakkan dengan nama Rajah Aji Kalacakra dan diposisikan di tengah-tengah tanah Jawa yaitu Puncak Gunung Tidar, Magelang. Hal ini dipercayai sebagai titik sentral atau pakunya tanah Jawa.
Efek dari kekuatan batu hitam tersebut tentu saja menimbulkan gejolak bagi para jin dan sejenisnya. Cuaca yang cerah berubah drastis menjadi gelap seperti malam hari selama tiga hari. cuaca yang ekstrim terjadi, petir, kilat dan angin saling beradu menyebabkan hujan api.
Hawa panas pun muncul dari dalam batu, membuat para jin, dedemit, siluman, lelembut dan makhluk sejenisnya menyelamatkan diri, mereka semua hanyut dalam air karena tidak kuat menahan panas pancaran batu hitam tersebut.
Adalah Sang Hyang Ismoyo, atau lebih dikenal dengan Kyai Semar. Menurut legenda Kyai Semar adalah ciptaan Tuhan yang diutus untuk memomong Tanah Jawa sampai 1100 tahun. Kyai Semar pun awalnya tidak mudah menerima kedatangan orang baru yang ingin mengubah Jawa. Karena itulah, Kyai Semar berusaha memerangi Syekh Subakir.
Dalam peperangan itu tidak ada yang kalah ataupun menang karena sama-sama memiliki kesaktian. Keduanya lalu memutuskan untuk membuat perjanjian damai. Diawali dengan Syekh Subakir menjelaskan niatannya untuk menyebarkan agama Islam kepada Kyai Semar. Siapa sangka, ternyata niatan Syekh Subakir diterima baik oleh Kyai Semar.
Setelah itu, Kyai Semar mengajak Syekh Subakir ke padepokan agung milik Kyai Semar di Alas Purwo. Di sana, Kyai Semar mengajukan syarat, jika Syekh Subakir bisa mengubah dua sumur yang berbau busuk menjadi wangi, maka Kyai Semar dan para dedemit akan meninggalkan Pulau Jawa dan pindah ke Pantai Selatan.
Syekh Subakir pun menerima tantangan Kyai Semar. Dengan bantuan tombak pusaka bernama Kyai Sepanjang, Syekh Subakir mengubah air sumur dengan membacakan doa-doa ayat Al-Quran, As Sunnah, serta berdzikir menyebut nama Allah. Sayangnya, Syekh Subakir hanya mampu membuat satu sumur menjadi harum, sedangkan yang satunya tetap berbau busuk.
Meskipun demikian, lantunan doa-doa yang dibacakan Syekh Subakir berhasil membuat para dedemit takluk dan menyingkir dari Gunung Tidar. Setelah itu, Syekh Subakir memilih Gunung Tidar sebagai tempat berdakwah.
Tidak jauh dari Makam Syaikh Subakir, kita akan menemukan sebuah makam yang panjangnya mencapai 7 meter. Itulah Makam Kyai Sepanjang. Kyai Sepanjang bukanlah sesosok alim ulama, tetapi nama tombak yang dibawa dan dipergunakan oleh Syaikh Subakir untuk mengalahkan jin penunggu Gunung Tidar kala itu.
Situs makam terakhir yang kita jumpai di puncak Gunung Tidar adalah Makam Kyai Semar. Namun, sesungguhnya ini bukanlah makam kyai Semar yang ada dalam pewayangan. Melainkan Kyai Semar, jin penunggu Gunung Tidar. Meski demikian ada juga yang percaya makam ini adalah makam Kyai Semar yang ada dalam tokoh pewayangan.
Di puncak Gunung Tidar terdapat tanah lapang yang ditengahnya terdapat sebuah Tugu dengan simbol huruf Sa (dibaca seperti pada kata Solok) dalam tulisan Jawa pada tiga sisinya. Menurut penuturan juru kunci, itu bermakna Sapa Salah Seleh (Siapa Salah Ketahuan Salahnya). Tugu inilah yang dipercaya sebagai Pakunya Tanah Jawa, yang membuat tanah Jawa tetap tenang dan aman.
***









