Home / Non Fiksi / Mengenang Jejak Pangeran Diponegoro

Mengenang Jejak Pangeran Diponegoro

Alun-Alun Magelang (Nativeindonesia.com)
1

Keberadaan alun-alun yang berada di pusat kota Magelang dan sangat dekat dengan pusat perbelanjaan, hampir dipastikan semua wisatawan yang datang ke Kota Magelang akan melintasi alun-alun ini. Di sebelah barat, tampak patung Pangeran Diponegoro yang sedang menunggang kuda dan menghunus keris untuk mengusir para penjajah terlihat gagah, sehingga menjadi magnet tersendiri bagi para pengunjung. Dan siapapun yang melihat pasti akan timbul rasa bangga.

Mengapa Patung Diponegoro menjadi ikon Kota Magelang? Gubernur Jawa Tengah kala itu, Soepardjo Rustam sebagai penyumbang gagasan pembangunan monumen ini, dengan maksud agar masyarakat Kota Magelang dapat menghayati jiwa kepahlawanan dan pengorbanan Pangeran Diponegoro yang di tangkap secara licik oleh Jenderal de kock di Magelang pada Tahun 1830.

Wali Kota Magelang periode 1966-1979, Moch Subroto juga ikut memprakarsai pembangunan Monumen Pangeran Diponegoro Kota Magelang.

Ide pembangunan Monumen Pangeran Diponegoro Kota Magelang terlaksana pada 1 April 1977 sampai dengan 31 Juli 1977. Perancang Monumen Pangeran Diponegoro Kota Magelang adalah Hartono dan Soedjadmoko. Sedangkan peresmian Monumen Pangeran Diponegoro yang memiliki panjang bangunan 5 meter dan tinggi bangunan 4 meter tersebut terlaksana pada 11 Agustus 1977.

Menurut Soepardjo Rustam, monumen Pangeran Diponegoro Kota Magelang menjadi peringatan akan liciknya penjajah Belanda yang menunjuk Jenderal de Kock, pemimpin penjajah Belanda, waktu itu. Jenderal de Kock mengatur siasat awalnya dengan mengundang Pangeran Diponegoro untuk membahas penyelesaian Perang Diponegoro yang berlangsung pada tahun 1825-1830 dan sudah pasti amat merugikan Belanda. Pangeran Diponegoro yang datang ke Kota Magelang untuk berdialog justru ditangkap Jenderal de Kock pada tahun1830, beliau lantas diasingkan ke Makassar hingga akhir hayatnya pada 18 Januari 1855.

Selain Monumen Diponegoro di alun-alun Magelang, informasi tentang perjuangan Pangeran Diponegoro di Magelang dapat juga ditemukan di Museum Diponegoro yang terletak di Jalan Pangeran Diponegoro No. 1, Kota Magelang, berada di kompleks yang sama dengan Museum BPK dan eks Kantor Karesidenan Kedu.

Di museum ini ditampilkan artefak, barang-barang peninggalan, dan informasi tentang perjuangan Pangeran Diponegoro dalam perlawanan terhadap Belanda. Selain itu juga tersimpan lukisan Raden Saleh tentang penangkapan Diponegoro, lengkap dengan lokasi penangkapan yang sama persis.

Museum Diponegoro Magelang, dikenal juga sebagai Museum Kamar Pengabdian Pangeran Diponegoro. Bangunan yang menyimpan sejarah penangkapan pangeran Diponegoro ini hanya berupa satu ruangan yang di dalamnya terdapat beberapa peninggalan Pangeran Diponegoro seperti kursi, tempat sholat dan jubah. Semuanya masih terawat dengan baik, meski kondisinya biasa-biasa saja.

Sebelumnya bangunan Museum Pengabdian Pangeran Diponegoro ini merupakan rumah dinas Letnan Gubernur Jenderal Hendrik Markus de Kock yang berdiri sejak 1810. Kemudian, gedung ini beralih fungsi menjadi Kantor Karesidenan Kedu. Peresmian museum baru diselenggarakan pada tahun 1969 oleh Soekarno, selaku Presiden Pertama RI.

Pada museum ini terdapat satu ruang yang pernah ditempati oleh Pangeran Diponegoro untuk berunding dengan Hendrik Markus de Kock. Pengunjung yang ingin mengetahui lebih banyak tentang seluk-beluk isi museum, juga disediakan pemandu wisata yang akan menjelaskan pada pengunjung.

Di museum tersebut terdapat koleksi berupa meja dan kursi. Untuk 4 kursi bekas perundingan Pangeran Diponegoro dengan Jenderal De Kock. Selain itu ada ada tempat salat Pangeran Diponegoro sewaktu nyantri pada Kiai Haji Muhammad Safei di Desa Brangkal Kecamatan Gombong Kabupaten Kebumen. Juga ada koleksi lain seperti Al Qur’an dan Kitab Taqrib yang berisi siasat perang. Kitab tersebut ditulis oleh Kiai Nur Imam dan diterjemahkan oleh Kiai Mlangi dari Sleman Jogja.

Ada juga lukisan-lukisan dari Daud Yusuf yang menerangkan Pangeran Diponegoro sedang perang dengan Belanda di Bukit Menoreh. Satu lagi lukisan Raden Saleh menerangkan Pangeran Diponegoro di depan Rumah Dinas Gubernur Belanda, juga lukisan Pangeran Diponegoro saat berusia 35 tahun sedang menaiki kuda Kiai Gentayu. Jubah yang digunakan saat perang dan untuk perundingan juga masih tersimpan rapi.

Namun, mungkin belum banyak yang mengetahui bahwa selain Museum Diponegoro, kawasan sekitar Candi Borobudur juga pernah menjadi saksi bisu pertempuran dahsyat Pangeran Diponegoro dan pengikutnya melawan tentara Belanda. Jejak-jejak Pangeran Diponegoro di sekitar Borobudur bisa dijumpai melalui Babad Diponegoro dengan sumber literatur dari Belanda.

Dalam Babad Diponegoro, yang merupakan otobiografi Pangeran Diponegoro, tertulis beberapa lokasi wilayah di sekitar Candi Borobudur, seperti Klangon, Tingal, dan Menoreh yang nama aslinya adalah Trajumas. Sebagian besar nama-nama dalam babad dan lokasi sekarang masih sama.

Di dalam Babad Diponegoro diceritakan jalur gerilya Sang Pangeran. Beliau bergerak dari Selarong (Jogja Selatan), menyebrangi Sungai Progo di Dusun Klangon, lalu singgah di selatan Kalibawang (Dekso), yang berada di Kulon Progo.

Setelah melakukan restrukturisasi pasukan, Pangeran Diponegoro menemukan bahwa di kawasan Tinggal sudah dipakai baris-berbaris pasukan Belanda. Beliau lalu memerintahkan pasukannya untuk menyerang Belanda. Peristiwa ini dituliskan di dalam babad di bagian Pupuh Maskumambang.

Menurut catatan Belanda, De Java Oorlog (Perang Jawa), peristiwa tersebut berlangsung pada 27 November 1825 dan tercatat Pangeran Diponegoro mengirimkan pasukan berjumlah 4.000 orang, ditambah 800 orang pasukan senapan. Korban jiwa yang melayang mencapai sekitar 300 orang, kebanyakan korban jatuh di Sungai Progo.

Akhirnya Tingal berhasil dikuasai dan menjadi basis pendukung Diponegoro, yang mendapatkan rampasan dua meriam Belanda. Selain Tingal, di kawasan Borobudur ada tempat lain yang juga dikuasai, yaitu Bukit Gondokusumo, nama tersebut diambil dari nama salah satu basya (panglima perang) Diponegoro.

Kawasan Salaman di Menoreh, sempat juga menjadi transit Pangeran Diponegoro menjalani pengobatan selama sepekan setelah kena sakit malaria. Setelah itu Beliau tinggal di pesanggrahan di Magelang yang dibuat oleh Belanda, saat sudah ditangkap.

Saat awal Perang Jawa, Pangeran Diponegoro menugaskan beberapa panglima perangnya pergi ke wilayah sekitar Borobudur dan mendudukinya. Beliau memerintahkan untuk meratakan Kedu. Hal itu dilakukan karena waktu itu Bupati Magelang (Kedu) berpihak pada Belanda. Bahkan sang bupati bersama Belanda pernah mengirim pasukan ke markas Diponegoro di Selarong, hingga membuat Pangeran Diponegoro marah besar

Menurut sumber lain, pada Babad Wanurejo, sejak 1799 di Tingal sudah ada Kadipaten Wanurejo yang berdiri otonom dan juga menentang Belanda.

Bahkan di wilayah ini juga terdapat berbagai macam peninggalan Pangeran Diponegoro, yakni masjid, bedug, genderang perang Pangeran Diponegoro, dan juga pesanggrahan.

Wilayah Magelang sarat dengan saksi perjuangan Pangeran Diponegoro, itulah mengapa monumen Pangeran Diponegoro dibangun sebagai ikon untuk mengenang kelicikan Penjajah.


Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image