(Sebuah Catatan Kesedihan)
Sederet kalimat saya terima, dari salah satu Staf Penasehat Kepresidenan sekaligus CEO sebuah Platform yang pernah riuh digadang-gadang sebagai asli buatan anak negeri. Agak terlalu lebay dan mengandung bau gelontoran dana promosi di berbagai media sebab diketahui salah satu bohirnya memang sosok yang pernah tersangkut kasus riuh uangisasi literasi.
Intinya, menyarankan saya agar tak mengundurkan diri dari sana melalui bahasa apik-bernas khas penulis, karena dia memang seorang penulis muda cukup terkenal negeri ini.
Dari sinilah catatan kesedihan kemudian berrmula. Saya tetap memilih mundur, lalu menghilang cukup lama dari dunia yang amat saya cintai sesungguh rasa: Kepenulisan.
Berikut kilas balik kisah pilu tersebut plus lanjutan kisah setelahnya ….
***
Biasa membaca orang lain, agak aneh juga ketika giliran diri sendiri yang dibaca oleh Redaktur sebuah paltform saat terpilih sebagai “Inspirator Minggu Ini”.
Semua diulas, mulai sejak pemilihan nama akun Pemimpin Bayangan III hingga rekam jejak saya yang-dikatakan-gemar membakar laman-laman sepi milik member hingga setelahnya langsung hingar dalam riuh riung bersama menikmati sesuap kata yang dicabik dari puisi entah siapa di kelindan kalimat entah mana.
Saat-saat seperti ini entah kenapa saya justru teringat Grup Gocapers platform sebelumnya yang berisi kumpulan pegiat kepenulisan lintas ras, lintas daerah juga lintas disiplin ilmu yang kesemuanya rata-rata mumpuni di bidangnya.
Andai kami masih satu perahu, saya optimis platform milik orang dekat presiden ini akan langsung tergebrak hingga terkaing-kaing kelebihan event. Barangkali itu bukti paling utama tentang sebuah keberhasilan, yang bagaimanapun juga memang tak akan pernah bisa dikerjakan oleh hanya satu atau beberapa gelintir orang saja: Karena SUPERMAN memang sudah lama mati!
Paragraf tersebut saya jadikan caption, yang langsung bersambut antusiasme dari rekan sejawat lainnya yang satupun belum pernah saya kenal secara fisik di dunia nyata namun memiliki kekariban melebihi saudara kandung, yang saya petik hanya satu saja agar tak terlalu memakan bahasan.
“Mas Bay, kalau mau rencanain sesuatu di platform tersebut, kabari jauh-jauh hari, ya, jangan mendadak.”
Saya jawab:
“Saya tak mau merencanakan apapun di sana. Kemarin memang saya sempat ingin minta bantuan para pentolan buat bikin event di sana, tapi tak jadi. Saya menduga hal itu kelak bukannya menjadi semacam ‘percepatan’ melainkan justru ‘kecepatan’ alias terlalu cepat, yang dapat mengakibatkan impotensi dalam perkembangan paltform tersebut kelak. Biarlah semuanya berjalan secara alami dengan menapaki tahapan-tahapan dalam setiap proses yang dibutuhkan.”
Tiga hari bergabung di platform milik anak buah RI 1 ini, sebenarnya urat sentil saya telah njentar-njentor ingin “mengeletak” Tim Elit Manajemen. Hanya saja sebuah ingatan membuat saya mencoba menahan diri sebab di platform sebelumnya yang notabene merupakan anak usaha dari Holding Company penerbitan super hebat negeri ini pun jajaran adminnya sampai nungging-nungging merah kuping buah begitu banyak ‘sentilan’ yang dilontarkan.
Saya khawatir, jika di platform ini terulang hal yang sama terasa kurang baik juga. Saya harus ngadem di mana lagi jika semua blog bersama misalnya kemudian pada sungkan ngedeketin? Masak harus ‘ngoyod’ terus di Facebook yang mirip PK-1 punya si marjukibek, yang jika ada barisan ramai-ramai melaporkan postingan terkait anti L6B7, misalnya, maka akun tersebut langsung dibabat habis tanpa bisa membela diri?
Walau hingga detik terakhir pengelola platform mendaku justru berterima kasih karena diberi masukan, saya tetap kurang percaya serta lebih memilih untuk buang sampah ke lapak komen Den Bagus yang malah minta ‘bayaran’ agar saya buatkan Kata Pengantar untuk puisi-puisinya yang dicantelkan di sana.
Hla? Saya mau mencetak buku saja masih meminta Mbak Naft Sang Psikolog dan Mas Aji Sang Filsuf untuk dibuatkan kata pengantar, eh … malah ini kena karma ditodong duluan.
Tapi saya baru sadar bahwa puisi-dan atau prosa liris-karya Den Bagus yang bertema alam ternyata benar-benar gila habis kerennya, serta cukup serius penggarapannya hingga tak pelak ingin langsung dibukukan!
Musashi yang dengan bercanda lebih senang dipanggil Ali Oncom ini membuat saya malu dan merasa, betapa selama ini saya hanya berhura-hura memainkan kata.
Meski kemudian buah pena saya memiliki lingkaran penggemar besar pada masanya, namun saya sadar bahwa produktivitas serta kefokusan dalam menggarap karya amat tak bisa dijadikan teladan.
Dibanding Den Bagus, saya merasa masih saja tak lebih sekadar kumpulan kesia-siaan yang paling pemalas se-Dunia Bayangan!
Ketika informasi tentangnya saya bagikan melalui jalur pribadi secara diam-diam, langsung disambut oleh perangah yang sama dari rekan pegiat kepenulisan mumpuni lainnya, yang spontan berbangkis kata, “Waduh, Den sudah maju beberapa langkah di depan. Saya menyusul Den, tunggu saja .…”
Yang paling saya sesali adalah saya tak turut menyimpan satupun karya sobat tersebut, karena berpikir positif bahwa platform ini meski mungkin tak akan abadi namun tentu tak akan binasa secepat ini. Atau setidaknya saya masih kekal berhubungan dengan penyairnya. Dua baik sangka yang kelak benar-benar saya sesali keteledorannya. Platform binasa, sang rekan raib secara amat gaib hingga saat ini. Lengkap sudah kesedihan saya.
Bersyukurnya, saya masih menyimpan satu lagi karya bagus dari platform yang kini telah menjadi fosil itu. Sebuah novel ciamik milik salah satu penulis pemula entah siapa di sana, yang akhirnya sang penulis berhasil saya ajak gabung bareng sebagai warga RAS, yang rencananya akan turut diulas pada fragmen ke-17.
Pada akhirnya saya berpikir bahwa sesungguhnya hanya takdir yang menuntun kita untuk berkecimpung atau tidak berkecimpung dalam ranah apapun. Termasuk ketika saya lebih memilih untuk bergabung di platform milik sang penasehat presiden. Padahal, di luar sana tak kurang-kurang blog bersama yang identik bentuk dan modelnya serta jauh lebih ramah dalam mendulang hits pembaca besar.
Apakah saya memilih platform ini demi cuan berbasis view pembaca, yang sebenarnya tak jauh berbeda dengan program PPC?
Mungkin ada keinginan yang mengarah ke sana meski hanya sekilas lintasan belaka.
Ataukah demi memenangkan event parade yang digelar?
Saya ikut, dan langsung menang, dengan rencana uang hadiah event tersebut disumbangsihkan kepada upaya pelahiran komunitas kepenulisan di platform baru tersebut dengan langsung dibentuk dan dipilih nama-nama pegiat serta pengampunya.
Begitu pula mengenai pemecahan ‘kode uang’ yang berkaitan dengan hit pembaca, entah mengapa saya justru khawatir platform ini akan jebol serta langsung gulung tikar: Hanya dalam hitungan satu bulan!
Sejak akun Pemimpin Bayangan I dan II dibreidel–yang saya duga buah terlalu aktif memposting tentang Islam dan otokritik sosial-kemasayarakatan pasca Tragedi Bom Bali II yang memberi efek Islamophobia “Den Bagus 99” sebagai salah satu detasemen anyar Negeri Bayangan-saya berusaha untuk ‘tak lagi terlalu seleb’ dalam bermedia sosial hingga yang awalnya mendulang begitu banyak like dan komen untuk nyaris setiap postingan, menjadi ditahan agar tetap sekadarnya saja seperti yang sekarang ini.
Akun dihapus itu amat menyakitkan, Kawan. Terutama ketika kita lalai membuat back-up tulisan, yang hingga kini tak bisa direpro ulang kembali buah terbatasnya ingatan, mengakibatkan tak satupun postingan yang selamat dan tersimpan.
Tapi bukan berarti hal tersebut lantas membuat saya impoten meraup hit sesuai dengan yang disyaratkan guna memperoleh ‘upah nulis’ dari platform.
Cukup menjalin kerjasama hanya dengan tiga atau empat seleb fesbuk rekanan dari Formosa, selesailah semua, dengan potensi perolehan pembayaran sekitar 7,5 juta perhari dikali satu bulan sama dengan 225 juta rupiah: Perbulan.
Belum selesai sampai di situ, dengan cara yang relatif mirip sederhananya, saya dapat pula menghubungi 11 orang di dunia nyata, yang mampu memberi jaminan ‘setoran minimal 10 ribu klik’ untuk setiap postingan sebagai prasyarat terendah untuk memperoleh pembayaran.
Hasilnya?
Sila kalikan sendiri 750 ribu untuk level member Born to Inspire, yang awalnya hanya butuh syarat 401 postingan namun setelah ‘diakali’ oleh DJA secara “balik gondok” mendapat pembayaran awal kemudian langsung berubah menjadi 1001 postingan yang lebih terkesan panik dan takut bangkrut itu, dikali 10 postingan perhari dikali seluruh jumlah grup sebanyak 10 ribu orang itu.
Niscaya akan langsung didapat angka sebesar 2.250.000.000,- (Dua koma seperempat milyar) yang harus dikeluarkan oleh platform ini kepada membernya, baru untuk satu grup saja: PERBULAN.
Jika mengacu kepada hukum dagang, ketika platform membayar 5 rupiah untuk setiap view pembaca yang diperoleh anggota, diperkirakan pihak platform memperoleh pemasukan yang sama besar atau berlipat ganda dari para sponsor, pengiklan dan sebagainya.
Yang saya khawatirkan, pemasukan yang diperoleh platform belum mencapai sebesar itu sementara pengeluaran telah gila-gilaan berpotensi menyeret blog bersama ini mengikuti jejak pendahulunya yang menghilang dari peredaran dunia maya, dengan atau tanpa menggunakan UU Kepailitan plus riuh gugat hukum mulai dari pidana penipuan hingga kasus-kasus perdata yang memakan nurani.
Semua kalkulasi tersebut pernah saya ulas tahun 2012 di akun generasi 1 dalam rangkaian artikel sejenis “Cara Terbaik Menipu Tuhan” yang “Gila lu, Bay, panjang banget!” dan bukannya baru-baru ini saya temukan atau dihitung perkiraannya secara mendadak berdasarkan algoritma asal-asalan, karena sebenarnya memang tak akan pernah ada yang benar-benar baru di bawah matahari kita.
Setelahnya, ada setidaknya tiga masukan yang sekiranya paling suci perah saya haturkan.
Pertama, melalui artikel ini saya berharap anggota platform kepenulisan mana pun untuk tak perlu terlalu njelimet berusaha memecahkan ‘kode uang’ yang ada dalam aturan view karena berdasarkan pengalaman, sejatinya ‘jalan uang’ akan membanjir terhadap karya yang memang memiliki konten unggul. Percayalah, lalu mari lebih fokus dalam menelurkan karya bagus, dengan atau tanpa tekanan apapun.
Kedua, melalui artikel ini pula saya berharap agar pengelola platform kelak TAK MEMUSUHI anggota mana pun yang aktif dalam memberi masukan. Entah itu dalam bentuk saran yang santun, maupun juga kritik yang kadang membuat bergidik.
Sejatinya, sosok-sosok yang gemar memberi kritik dan atau masukan tersebut justru merupakan jenis anggota yang paling peduli terhadap keberadaan platform. Mau berlelah-lelah menjadi semacam “Ombudsman Gratisan” yang jika di perusahaaan besar memang memiliki tugas pokok serta dibayar untuk bekerja secara fisik dalam memberi masukan dan kritik. Demi perbaikan ke depannya, dan bukannya fitnah pembusukan karakter bagi blog bersama ini. Tolong khusus untuk hal ini jangan disalah pahami.
Melalui artikel ini pula saya–jika diperbolehkan-ingin membantu sebagian tugas yang harusnya menjadi wewenang pengelola Tim Elite Platform sebelum memiliki admin khusus, yaitu ingin membuat semacam “Zikir karya” secara berkala dengan periode tertentu, yang semoga dapat memberi manfaat bagi yang membutuhkannya meski tentu saja bukan diperuntukkan bagi yang memang telah mumpuni serta purna keilmuannya.
***
Setelahnya, beberapa kegiatan masih saya lakukan di platform baru tersebut, sebelum akhirnya menghilang cukup lama dari dunia kepenulisan.
Ketika kembali, saya temui dunia berubah dan paradigma bergeser.
Bertemu lagi rekan sejawat di dunia kepenulisan memberi gembira berbaur pilu.
Mereka yang pada pertemuan terakhir masih unyu-unyu serta baru mencungul hari ini jauh melampaui saya yang katanya pernah hebat, meski sebaliknya pula beliau-beliau yang dulu pernah terlihat kilap kini amat blerek saking jumudnya tak menambah pengetahuan literasi sedikitpun, serta memilih untuk mengunyah-ngunyah kesombongan masa lalu, tanpa sadar bahwa dirinya telah mendekati ending karir di dunia literasi.
Bersyukurnya, si sengak ini termasuk tambeng. Telah terlatih untuk ‘terlahir kembali sebagai bayi melulu’ waktu ke waktu hingga tak masalah ketika kembali terpaksa mengulang belajar terus-menerus, demi diri dan karya yang lebih baik dan lebih baik lagi.
Hari ini semua yang mulanya saya anggap nista dan masuk kategori ‘pelacuran’ telah menjadi semacam keniscayaan.
Tribun yang sebelumnya dicaci-maki sebagai soko guru asu saking kalapnya melahap klik pembaca, kini didapuk sebagai patron bagi media lainnya baik jenis pengetengan postingannya yang dibuat terpisah-pisah demi cuan maupun juga model penyajian isi postingannya. Semua menyentris pada klik. Sebab hujjahnya, setiap klik adalah cuan dan semakin banyak jumlah klik hanya berarti sejumlah besar cuan siap meluncur ke dalam kantung pengelola.
Bagaimana dengan dunia platform kepenulisan digital?
Masihkan masukan pertama dibutuhkan oleh para pegiat literasi digital di era kini?
Mana yang baiknya dipilih?
Mengawinkan semuanya, atau justru mengambil yang memang telah menjadi fakta terkuat pada kenyataan yang ada dan terus terjadi hari ini serta ke depannya, dengan atau tanpa memejamkan nurani?
***
Real Authors Society, waktu Indonesia bagian literasi.










Satu Komentar
Bagi saya pribadi, cukuplah menuliskan apa yang ingin saya tuliskan, menjadi jejak dan warisan abadi bagi siapa saja.