Banyak tokoh Alkitab menua dengan bahagia serta mengakhiri perjalanan hidup mereka dengan happy ending, misalnya Yakub yang bertemu kembali dengan Yusuf serta sempat memberkati cucu-cucunya dari sang anak terhilang. Akan tetapi ada pula yang berakhir menyedihkan seperti Musa yang tidak dapat masuk ke Tanah Perjanjian karena melanggar titah Allah. Apakah Musa lantas tidak menua dengan bahagia? Cukup banyak Orang Percaya menua dengan rasa tidak bahagia, misalnya karena pencapaian belum maksimal sudah harus pensiun, gak punya keluarga yang peduli, masalah kesehatan atau keuangan, dan lain-lain.
Menua bukan hanya masalah angka usia sekian puluh tahun bahkan tubuh yang sudah tidak se-fit dulu. Kebahagiaan yang seringkali dikira hanya bisa dialami saat masih muda sebenarnya tidak sulit ditumbuhkan bahkan dipelihara. Seiring bertambahnya usia, kira-kira apa saja hal kecil tapi besar yang perlu kita sadari?
- Tidak semua masalah orang lain bisa kita pecahkan. Karena pengaruh budaya Timur yang berorientasi pada keluarga (misal, keluarga besar seringkali ikut andil dalam keluarga kecil) maunya ikutan menyumbangkan solusi. Padahal seperti kalimat di atas, belum tentu ‘kaki kita’ pas dalam ‘sepatu orang lain’. Lebih baik mengurusi masalah sendiri terlebih dahulu sebelum berusaha menyelesaikan masalah orang lain. Seperti kata Yesus dalam sebuah perumpamaan-Nya, mungkin masih ada balok dalam mata kita sementara kita berusaha keras mengeluarkan selumbar dari mata orang lain.
- Terlalu banyak tahu tidak selamanya baik. Banjir informasi di media sosial atau media massa mungkin menyenangkan pada awalnya, menjadikan kita merasa jadi ‘si paling tahu’. Akan tetapi kita lupa jika semua yang ada bukan untuk dipercaya begitu saja. Seringkali kecemasan hadir bukan karena sesuatu (berita) yang nyata, melainkan ‘apa kata orang’ yang belum tentu terbukti kebenarannya. Pada usia matang, menjadi FOMO tidak akan membuat kita hebat, sebab FOMO belum tentu pas dengan gaya hidup hingga faktor usia.
- Berdamailah (dahulu) dengan diri sendiri. Penyakit mungkin kambuh-sembuh-kambuh lagi, masalah-solusi datang silih berganti, bahkan saat kita tidak sengaja mengundangnya. Banyak hal atau orang tidak bisa diubah atau tidak ingin diganggu-gugat. Namun kita selalu bisa mengubah/berubah. Berubah bukan berarti mengalah atau pasrah, melainkan tidak hanya diam, mulai bergerak-beradaptasi, hingga akhirnya dapat berdamai dengan diri sendiri.
- Berpengalaman lebih bukan berarti sudah sempurna. Senioritas seringkali membuat kita yang sudah tua berubah jadi bossy, lebih tahu, bahkan secara narsis membanggakan gelar, kedudukan, prestasi, pencapaian masa lalu, pengalaman pribadi paling berkesan, harta dan sebagainya. Boleh-boleh saja dijadikan bahan kesaksian yang menguatkan, akan tetapi semua itu belum tentu berlaku bagi orang lain. Pengalaman yang paling patut diteladani adalah pengalaman Yesus Kristus saat di dunia. Itu juga bukan tamasya sempurna, melainkan jalan penuh penderitaan yang akhirnya berbuah kemenangan, bangkit dari kubur.
- Tak ada yang benar-benar dapat menuntut lebih dari yang Anda mampu, jadi tak selalu perlu menjadi seperti yang orang lain inginkan. Tidak perlu berpikir atau berkata, ‘Saya seumur gini masih begini, sedangkan dia sudah begitu!’ dan sebaliknya. Semua orang menua, atau lebih tepatnya semakin dewasa, dengan cara dan pola berbeda.
Bahagia bukan hanya milik anak-anak yang riang bermain, remaja jatuh cinta, atau pemuda pengejar jati diri. Bahagia juga milik dewasa tanpa batas usia. Berbahagialah seperti dalam ucapan-ucapan bahagia Yesus saat berkhotbah di atas bukit, bukan sesuai pola dunia ini. Niscaya kita sekeluarga hidup dalam damai sejahtera dan kasih sayang-Nya sepanjang masa, dalam setiap musim kehidupan, hingga tiba saatnya kita dipanggil pulang oleh-Nya.
Semoga bermanfaat dan Tuhan Yesus memberkati.
Tangerang, 31 Juli 2026









