Ketika banci menjadi wadam lalu waria kemudian transvestite dan kini transgender sementara dengan bahasa gaulnya sendiri menyebut bencong, apa yang kamu ketahui tentang kata-kata tersebut?
Semuanya mempunyai arti yang sama, hanya berbeda ‘level’. Pada mulanya, kata banci adalah kata yang normal sampai kemudian dianggap kasar, tidak sopan. Untuk menghaluskannya diganti dengan wadam (wanita adam). Terus saja begitu sampai akhirnya digunakan kata asing di telinga karena berasal dari bahasa luar.
Kamuflase kata yang disebut eufimisme, berasal dari kata Yunani euphēmos, ‘terdengar baik’. Definisi eufimisme adalah kata yang digunakan untuk menyembunyikan kebenaran dan mengaburkan arti sebenarnya. ‘Sopan santun’ yang menisbikan semburan emosi kata aslinya.
Wajar saja ketika suatu kata merendahkan atau menyakitkan penerimanya, maka kita memilih kata lain yang tidak melukai perasaan. ‘Orang dengan kebutuhan khusus’ atau ‘difabel’ contoh dari eufimisme yang bisa diterima (mungkin untuk saat ini saja. Enggak tau kalo mas Anang).
Namun, seringkali eufimisme menjadi kebablasan. Apakah dengan mengganti ‘lonte’ dengan ‘pekerja seks komersial’ maka profesi tersebut menjadi lebih bermartabat? Kalau memang menjadi lebih baik, maka silakan berbondong-bondong penyedia dan pengguna jasa pekerja seks komersial bertransaksi dengan aman dan nyaman.
Karena itulah, dengan alasan tidak adanya alasan mendesak, maka aku menolak dengan sekuat tenaga eufimisme ‘mendengus’ menjadi ‘mendengkus’. Kampungan, tau! Hanya karena ‘mendengus’ merupakan onomatope (peniruan suara hewan) maka untuk manusia diganti dengan kata yang belum pernah kutemukan di lembar kertas manapun selama 56 tahun hidup di dunia. Cukup sudah lendir dahak yang kuludahkan karena membaca kata ‘netra’ tanpa tuna dan ‘saliva’ seakan-akan merupakan salah satu episode Crime Scene Investigation.
Aku khawatir, karena monyet ‘memanjat pohon’ maka si pakar bahasa mengharuskan Peter ‘memunggah tebing’. Atau karena ‘si Oyen kucing peliharaan Bu Dokter mendengkur manja’, maka Ompung Luhut ‘mereluh begitu kerasnya hingga terdengar sampai Tomohon’. (Sekalian contoh majas hiperbola, gaes).
Untuk yang mengaku pakar bahasa, berhentilah bekerja kerja kerja omong kosong yang tak perlu hanya untuk membingungkan umat yang masih lugu.
Untuk penulis, kalau naskah memuat kata ‘mendengkus’, kusarankan mencari penyunting lain, jangan aku. Dan jika kalian menginginkannya terbit di tempatku, ada biaya tambahan untuk merawat emosi jiwa yang bergejolak disebabkan cacat logika eufimisme yang salah kaprah itu.
Jakarta, 18 April 2021










Satu Komentar
Secara pribadi sebagai penulis yang juga seorang pembaca jadul sejak bocil, saya juga memiliki tidak menggunakan kata-kata seperti mendengkus. Apalagi kata-kata netra dan saliva. Mata dan ludah cukup bagi saya. Penuh makna, masih terdengar sopan dan lugas.