Di sebuah kursi bambu apartemen, aku duduk termenung sambil mengepulkan asap rokok ditemani secangkir kopi hitam yang sudah agak dingin.
Aku sendiri disana, tak ada sesiapa pun, hanya dua orang resepsionis yang berjaga, itu pun tertidur lelap di balik meja kerjanya. Selebihnya, sisa-sisa puntung rokok yang tercecer di lantai bekas tamu-tamu yang bersantai, dan juga yang hanya sekadar transit.
Kala itu pukul 03.00 dini hari. Meski sendiri, aku tak merasakan kesepian. Pikiranku begitu ramai memecah sunyi hingga ke dada. Banyak hal yang aku pikirkan—yaitu segala kebutuhan hidup sehari-hari. Bukan hal yang mewah yang meramaikan pikiranku, namun entah mengapa hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup, napasku seolah terasa sangat lelah. Rasanya, seperti mengejar dunia beserta seluruh isinya.
“Apa yang salah dengan keberadaanku? Sementara melihat orang lain begitu mudah untuk mencapai apa yang mereka mau.” Pikiranku mulai kalut seperti badai.
Bila aku bandingkan dengan ayah, di umur segini, ayah sudah memiliki segalanya. Sementara aku, masih harus menikmati proses—yang seharusnya sudah selesai beberapa tahun lalu. Apakah segini susahnya menjadi kepala keluarga, ataukah keadaan yang semakin sempit dibanding jaman dulu? Entahlah, sebab kedua hal itu masih bertarung di dalam diri. Pro kontra dari kedua subjek itu masih sengit diperdebatkan. Pertarungan ini menjadi salah satu pertarungan tersulit dengan waktu terlama. Sebelumnya, aku pernah berhasil melewati pertarungan yang begitu melelahkan, lalu aku memenangkannya. Namun, untuk kali ini energiku sudah terkuras banyak, dan daya pikirku semakin melemah.
Di tengah tenggelamnya oleh suara-suara bising di pikiranku, aku, sesekali menyeruput kopi untuk memberi sinyal pada diri agar sedikit lebih tenang, sementara jam sudah menunjukkan pukul 03.30.
Pada saat itu, aku melihat seorang bapak tua membawa gerobak sampah, berjalan menuju halaman apartemen. Ia memilah-milah sampah yang dapat ia bawa dari tong sampah, untuk ia kilo.
“Bapak itu yang sudah berumur tua, masih terus berjuang untuk sesuap nasi. Apakah pikirannya seberisik aku, atau tidak?” Aku bergumam dalam hati.
Tapi yang pasti, air wajahnya tidak sedikit pun menunjukkan ekspresi lelah dan kesal. Dari kelihatannya, memang terlihat baik-baik saja. Namun, aku tidak tahu apa yang tengah terjadi di dalam dirinya. Jika bicara ikhlas dalam menjalani kehidupan, itu memang tidak dapat disamaratakan. Setiap orang memiliki takaran ikhlas masing-masing, dan cukup untuk tidak diperdebatkan lebih dalam. Bapak tua itu memilah sampah dengan telaten, dan terlihat cukup sabar. Setelah usai, bapak tua itu pergi, dan menuju tong sampah lainnya, meneruskan dalam mengumpulkan recehan untuk ditukar oleh beberapa butir nasi.
Lalu, apa yang harus aku lakukan setelah melihat itu? Aku hanya dapat beranjak pergi menuju kamar 319 untuk beristirahat.
Tangerang, 19 Juni 2025











