Home / Topik / Lifestyle / Renungan Kehidupan: Apakah Menangis Selalu Karena Sedih, Tertawa Selalu Karena Gembira?

Renungan Kehidupan: Apakah Menangis Selalu Karena Sedih, Tertawa Selalu Karena Gembira?

Renungan Kehidupan 20250808
1

Menangis, sebuah ekspresi yang semua orang pasti pernah melakukannya. Kok bisa? Bukan hanya ‘dominasi’ kaum perempuan atau bayi hingga anak-anak, para laki-laki sekalipun pasti pernah menangis.

“Ah, saya ‘mah gak secemen itu. Pantang bagi saya, laki-laki sejati, meneteskan air mata.”

“Saya ‘mah kuat!”

Apakah menangis selalu berarti cengeng/lemah? Apakah benar pendapat ‘para orang kuat’ jika pantang bagi seorang laki-laki untuk menangis?

Inilah beberapa fakta indah mengenai menangis dan tangisan.

  1. Menangis adalah salah satu tanda kehidupan pertama saat seorang bayi dilahirkan ke dunia. Jika seorang bayi belum juga menangis, dokter/bidan akan mengecek apakah ada masalah dengan paru-parunya atau mungkin terjadi gangguan kesehatan lainnya. Tangisan seorang bayi biasanya disambut tawa bahagia kedua orang tua dan keluarganya, suara paling merdu yang dinantikan setelah rata-rata sembilan bulan sepuluh hari dalam kandungan.
  2. Menangis adalah salah satu ekspresi manusia yang tidak melulu identik dengan sifat cengeng atau ‘feminin’. Menangis karena sedih, kesakitan, mata terkena aroma bawang atau cabai saat mengirisnya, sering terjadi. Akan tetapi pernahkah Anda menangis karena terharu bahagia? Misalnya saat hati tersentuh setelah mendengar nyanyian rohani atau religi yang menggugah jiwa. Saat mendengar suara orang yang dirindukan lewat sambungan telepon setelah berpisah sekian waktu lamanya. Tangis haru atau bahagia adalah tanda empati yang tak perlu membuat malu atau malah disembunyikan.
  3. Menangis itu boleh atau tidak? Jika memang ingin menangis, menangislah. Tidak perlu ditahan-tahan. Melalui tangisan dan air mata yang dikeluarkan, perlahan-lahan emosi jiwa tercurahkan, perasaan dan hati akan jauh lebih lega. Menangis tak selalu identik dengan sifat cengeng, pengecut atau penakut. Ketiga kata di atas seringkali digunakan orang-orang yang kurang senang melihat kita menangis. Ketahuilah jika menangis memang gak perlu juga selalu tersedu-sedu/dramatis hingga membuat drama/menarik perhatian yang kurang perlu, akan tetapi masih sangat wajar dilakukan.
  4. Manusia datang ke dunia sebagai bayi yang menangis, pergi dari dunia fana diiringi tangisan. Tangis adalah sebuah ungkapan duka sekaligus kerinduan. Menangis ibarat hujan yang harus turun setelah awan mendung merasa berat tak tertahankan. Menangislah ‘pada tempatnya’.
  5. Sebaliknya, ada juga tangis yang dibuat-buat, ungkapan populernya ‘air mata buaya’. Waspadalah pada jenis tangisan seperti ini. Jika yang menangis terdeteksi ‘ada mau’-nya, gak perlu terlalu baper dengan tangis seperti ini.

Tertawa seringkali kita lakukan saat mendengar/melihat hal-hal lucu. Gelak tawa sering terdengar di taman-taman hiburan atau ketika menonton stand up atau film komedi. Banyak ahli/dokter menganjurkan banyak-banyaklah tertawa demi ‘mengurangi penderitaan’. “Tertawa adalah obat!” (laughter is a medicine) demikianlah bunyi sebuah idiom Bahasa Inggris. Namun apakah semua tawa selalu bermakna positif?

  1. Tawa pada tempatnya memang mengekspresikan kegembiraan. Tertawalah bersama-sama sahabat yang bersukacita. Tertawalah melihat tingkah-polah hewan-hewan lucu. Tertawalah bahkan pada hal-hal ironis atau dark humor, tidak perlu selalu bawa perasaan alias baper karenanya.
  2. Tertawa (karena hati yang gembira) adalah ‘obat’. Lebih baik senyum atau tertawa daripada marah atau merengut. Tawa membuat kadar penderitaan berkurang meskipun tidak serta-merta hilang atau pupus instan. Banyak-banyak tertawa misalnya dengan menonton film komedi, membaca kisah jenaka, bersenda gurau dengan keluarga dan sahabat atau hewan peliharaan juga membuat kita lebih sehat jasmani-rohani.
  3. Akan tetapi berhati-hatilah, tertawa di atas kemalangan/penderitaan orang lain sama sekali bukan tawa bermakna positif. Hanya menertawakan kesalahan atau kekurangan selain tidak menguntungkan bagi siapapun, malah membawa dosa bagi diri.

Kesimpulan: Tidak semua tawa berarti bahagia/gembira, demikian pula tangisan berarti sedih/duka. Tertawalah sepantasnya, menangislah jika perlu. Tidak perlu memikirkan pendapat dan penilaian orang lain terhadap Anda, ekspresi tulus Anda biarlah jadi pertimbangan Tuhan Yang Maha Esa semata-mata.

Semoga bermanfaat.

Tangerang, 6-7 Agustus 2025

Penulis

  • Wiselovehope

    Wiselovehope adalah nama pena Julie D. (juga akrab disapa dengan nama Kak Jul) kelahiran Jakarta, 30 Juli.

    Ibu dua putra dan karyawati swasta yang sedari dini suka membaca dan mengoleksi buku. Juga berkarya sebagai seorang desainer komunikasi visual.

    Bersama beberapa rekan penulis, Kak Jul mendirikan Komunitas PenA dan KomPak’O (Komunitas PenA Kompasianers dan Opinians) sebagai sarana berkomunikasi dan edukasi bagi sesama penulis pemula.

    Beberapa karya tulis populernya adalah The Prince & I: Sang Pangeran & Aku, trilogi novel romansa misteri Cursed: Kutukan Kembar Tampan (Pimedia Publishing, 2021-2022), Cinta Terakhir Sang Bangsawan (Bookies Literasi, 2023) dan Antologi Komunitas PenA & KomPak’O: Risalah Rindu, 1001 Kata Hati: Sebuah Aksara Semiloka, Cyan Magenta, Lelaki yang Menjinakkan Naga, My One & Only, Ini Puisi?

    Instagram: @wiselovehope
    Situs link karya: linktr.ee/wiselovehope
    Facebook: facebook.com/wiselovehope.wiselovehope

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Kehidupan Kristen: Kesabaran Akan Berbuah Berkat, Cepat atau Lambat!

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Antologi KompaK’O

Random image