Home / Genre / Chicklit / Kabut Hati

Kabut Hati

Kabut Hati
1

“Kebenaran akan membebaskanmu, tetapi pertama-tama dia akan membuatmu sengsara.”

– James A. Garfield

Lisbeth menatap ponselnya dengan cemberut yang dalam. Syauki baru saja mengakhiri percakapan mereka tanpa memanggilnya dengan nama panggilan kesayangannya, Luv. Di awal hubungan mereka, dia berkata bahwa Lisbeth sangat cocok untuknya karena dia adalah segalanya yang diinginkannya dari seorang pasangan. Itu membuat Lisbeth tertawa saat itu, tetapi seiring waktu dia terbiasa dengan nama itu.

Saat dia duduk sendirian di ruang kerjanya, Lisbeth memikirkan kembali kejadian-kejadian beberapa minggu terakhir. Syauki tidak menghadiri pesta kecil untuk merayakan promosinya sebagai wakil kepala di sekolah swasta tempat dia mengajar biologi. Alasan Syauki karena pekerjaan yang menumpuk di bank. Lisbeth mengabaikannya.

Kemudian, ketika ibunya mengadakan syukuran untuk pemulihan dari operasi mata, Syauki juga tidak hadir.

Syauki baru saja membatalkan kencan mereka untuk akhir pekan. Alasannya adalah karena dia mendapat tugas mendadak dari kantor.

Ini hari Sabtu. Demi Tuhan, Syauki di bagian customer service!

Terdengar ketukan di pintu dan kepala Tina, sahabat rekan kerjannya menjulur.

“Hai bos, siap untuk makan siang?” tanya wanita itu sambil tersenyum. Ibu mungil tiga anak itu mulai memanggilnya “bos” sejak dia dipromosikan.

“Tentu,” jawab Lisbeth sambil mengambil dompetnya dari laci meja.

Di kafetaria, Lisbeth membayar makanan mereka berdua.

“AKu yang traktir,” kata Lisbeth menanggapi kerutan bingung Tina.

Ketika mereka sudah duduk menyantap makan siang berupa nasi putih dan semur daging sapi, Tina berkata, “Kamu mentraktirku padahal hari ini bukan hari ulang tahunku atau ulang tahun kamu. Ceritain aja, kupingku siap.”

Lisbeth terkekeh sambil menggelengkan kepala, merapikan kepangan rambutnya.

“Aku khawatir, Syauki mulai takut.”

Mata Tina membelalak. “Sudah? Tapi kalian baru empat bulan pacaran.”

Lisbeth mengangkat tiga jari. “Tiga bulan, seminggu, dan dua hari.”

Tina terkekeh sambil menyendok nasi ke mulutnya.

“Apa yang terjadi? Dia tidak mencintaimu lagi?”

“Naluriku bilang gitu,” jawab Lisbeth.

Kemudian dia melanjutkan untuk menceritakan ketidakhadiran Syauki dan caranya berhubungan dengannya.

“Apakah kamu nggak terlalu cburu-buru bikin kesimpulan?” tanya Tina.

“Nggak. Syauki yang aku kenal orangnya sangat fokus. Kalau dia melakukan sesuatu, itu karena suatu alasan. Dia lebih semangat tentang hubungan kami daripada aku. Dia memiliki gambaran besar tentang masa depan bersama kami. Dia bahkan bilang …”

Lisbeth terhenti karena gumpalan yang menyumbat tenggorokannya. Dia membuka botol air mineral di atas meja dan menyesapnya.

Tina menatapnya dan mendesah. “Kalau perasaan kamu begitu kuat tentang itu, bicaralah padanya,” katanya.

Lisbeth menjatuhkan sendoknya dan menatap temannya dengan mata yang penuh dengan emosi yang bercampur aduk. “Aku takut,” bisiknya.

Tangan Tina menemukan tangannya di bawah meja. “Semuanya akan baik-baik saja,” katanya lembut. “Dia bertahan atau pergi. Apa pun pilihannya, kamu akan tahu di mana posisimu. Kamu tidak punya waktu untuk pelayanan di bawah kanopi. Orang-orang seharusnya tidak berpikir punya seseorang padahal dia tidak benar-benar ada. Semoga saja itu tidak terjadi padamu, sayangku.”

Lisbeth tersenyum meskipun hatinya sakit.

“Aku … tidak … mungkin aku harus mengikuti arus saja. Apakah pacarku harus terlibat dalam semua kejadian dalam hidupku? Dia punya urusannya sendiri untuk ditangani dan dia—”

“Setop!” Tina membentak pelan. “Hadapin aja.”

Lisbeth mengangguk sambil menusuk sepotong daging dan memasukkannya ke dalam mulutnya.

Meskipun Lisbeth telah berjanji kepada Tina, dia masih belum punya keberanian untuk berbicara dengan Syauki sampai sekitar dua bulan kemudian.

Hari itu adalah hari setelah ulang tahunnya yang ke tiga puluh satu. Syauki tidak meneleponnya pada hari ulang tahunnya. Ketika Lisbeth meneleponnya malamnya, Syauki bilang dia begitu sibuk di kantor sampai lupa kalau hari istimewa Lisbeth.

Sabtu sore itu, Lisbeth pergi ke apartemen dua kamarnya di Karet. Ketika Syauki membuka pintu ketika Lisbeth mengetuk pintu, dia hanya mengenakan singlet dan celana pendek putih. Syauki baru saja bangun tidur. Lisbeth merasa hangat di dalam hati ketika dia melihat bulu di lengan dan kaki telanjangnya.

“Hai, Lisbeth. Aku tidak tahu kau akan datang. Masuklah,” katanya serak sambil mengusap matanya.

“Maaf, aku hanya ingin bertemu denganmu untuk membicarakan sesuatu,” jawab Lisbeth sambil mengikutinya ke ruang tamu.

Syauki menyalakan kipas angin langit-langit dan duduk di lantai sambil bersandar di sofa. Lisbeth duduk di sofa di sebelahnya.

“Apa kabar? Apakah semuanya baik-baik saja?” tanya Syauki sambil meregangkan anggota tubuhnya dan menguap.

“Apakah kamu ingin putus denganku?” tanya Lisbeth tiba-tiba.

Syauki menatap Lisbeth tajam dengan alis terangkat, menatapnya selama beberapa detik, membuka mulutnya dan menutupnya. Dia mengalihkan pandangan sambil menyilangkan lengan di dadanya.

Keheningan itu berbicara lebih banyak kepada Lisbeth daripada kata-kata apa pun. Hatinya tercekat.

“Mengapa?” ​​tanya Lisbeth meskipun hatinya sakit.

Syauki mendesah. “Kurasa kita tidak cocok.”

“Ti—apa?” ​​

Dari semua alasan, ini adalah alasan yang paling tidak diharapkan Lisbeth.

“Apa yang telah kita lakukan selama ini?” tanya Lisbeth. “Sejak hari kita setuju untuk mulai berkencan, kita memiliki hubungan. Kita memiliki nilai-nilai yang sama, kita percaya pada hal-hal yang sama. Astaga! Bahkan kita punya pendapat yang sama tentang film. Kita saling menyenangkan. Aku … aku … tidak tahu siapa lagi yang cocok denganmu.”

“Lizzy, aku tidak ingin menyakitimu, tetapi aku … aku tidak bisa membawamu ke orang tuaku,” kata Syauki.

Lisbeth menatap langit-langit sambil menggigit bibir bawahnya untuk menahan air mata yang tiba-tiba menggenang di matanya. Dia tidak berani menangis.

“Apakah kamu malu padaku, Syauki?”

“Tidak,” jawab Syauki tanpa menatapnya. “Aku …. aku benar-benar menyukaimu…. Hanya saja …. aku …”

“Ada apa?” ​​tanya Lisbeth tidak sabar.

“Aku tidak akan bahagia dengan wanita yang lebih tua.”

Ruangan itu sangat sunyi kecuali desiran kipas langit-langit.

Lisbeth memutar bola matanya. “Kamu baru menyadarinya?”

“Aku tidak tahu,” jawab Syauki sambil bangkit dan duduk di sofa. Saat itulah dia menatapnya. “Aku melihat umurmu di CV yang kamu berikan kepadaku untuk membantumu mengirimkannya dan … kupikir itu usiamu yang sebenarnya. Kakakmu memberitahuku usiamu ketika aku memberitahunya tentang rencanaku untuk ulang tahunmu yang ke dua puluh delapan.”

Lisbeth mulai tertawa sambil menggelengkan kepalanya.

“Jadi gitu. Itulah sebabnya waktu aku mau memberi tahu kamu berapa umurku, kamu bilang kamu sudah tahu—kamu tidak keberatan dengan itu.”

“Keluargaku tidak bisa…”

“Keluargamu atau kamu?”

Lisbeth mengangkat tangannya tanda menyerah.

“Baiklah, aku tidak tahan dengan jarak tiga tahun di antara kita. Astaga, usiamu sama dengan kakak perempuanku yang punya tiga anak—dia seperti ibu bagiku. Aku hanya … ini …”

“Wah, Syauki, wah,” gumam Lisbeth sambil menggelengkan kepalanya.

“Maafkan aku karena menghilang begitu saja selama ini. Aku tidak tahu bagaimana cara memberitahumu. Aku juga tidak ingin menyakitimu. Kalau saja…”

“Tidak apa-apa, Syauki,” Lisbeth berdiri. “Selamat tinggal.”

Syauki berdiri dan hendak memeluknya, tetapi Lisbeth melangkah mundur.

“Syauki, pelukan? Serius?” tanyanya dengan ekspresi tidak percaya.

“Tidak bisakah kita berteman? Kita berteman selama dua tahun, Lizzy. Aku tidak—”

“Setop, Syauki,” Lisbeth mengangkat tangannya. “Kita pasangan kekasih atau kita bukan apa-apa.”

Lisbeth keluar dari ruangan tanpa menoleh ke belakang. Dia memuji dirinya sendiri karena tidak menangis ketika dia masuk ke mobilnya dan pergi. Dia melaju sampaike restoran cepat saji yang sering mereka kunjungi di masa lalu.

Lisbeth berhenti di area parkir dan masuk ke kamar kecil, menurunkan penutup toilet dan duduk. Baru kemudian dia membiarkan air matanya jatuh.

Isak tangis tertahan mengguncang tubuhnya yang ramping. Kabut di hatinya telah hilang tetapi rasanya sangat sakit. Syauki telah menjadi saudara, teman, dan kekasih. Dia pikir dia telah menemukan belahan jiwanya. Dia pikir pencariannya telah berakhir.

Kini dia harus memulai dari awal lagi.

Apakah dia akan pernah menemukan seseorang seperti Syauki?

Dia meratapi kematian kehidupan cinta yang bahagia yang dia bayangkan selama ini.

23 Juni 2025

Tag:

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Terkini

Secangkir Kopi

Secangkir Kopi

Eyang

Eyang

Rusi yang Sombong

Rusi yang Sombong

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Cinta Kedua & Terakhir: Bab 44

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Putri Pewaris Mafia: Bab 29

Antologi KompaK’O

Random image