Lengking sekali, bahkan terlalu keras. Berkali Ibunya menenangkan, tak urung tangis tetap meledak. Bayi itu, berani betul menantang adzan maghrib terseok serak dari toa tua mushola seberang jalan.
“Mas..” panggilnya iba dengan nada ingin menyerah. Dari manuvernya itu tentu amat sangat si perempuan berharap pertolongan. Atau setidaknya semacam kata penenang yang meyakinkannya bahwa tidak di rumah itu ia tinggal sendirian. Tapi sayang, asap hasil pembakaran tembakau kemasan menyibukkan lelaki telanjang dada di ambang pintu hingga tak sempat lagi menoleh barang sesaat – barangkali juga mendengar, barang sebentar.
Senja beranjak biru tua, seruan dari seberang jalan masih memanggil meski beberapa alunan terpelintir lalu jatuh terbatuk sesekali. Di desa itu mushola memang murah, namun mahal imam. Jadilah imam yang terbeli belasan tahun lalu tak lagi mengenal tanggal kadaluarsa dan akan terus berlaku sebab imam adalah muadzin, adalah bilal iqomah, juga pemimpin dzikir. Entah bila utusan Tuhan datang dan mengambil titipan nyawa.
***
Desa itu dirasanya cocok, dua tahun lalu ia menyewa sebuah gubuk sederhana di seberang jalan mushola tua. Tidak perlu mewah, terpenting adalah ia dan perempuan tak basah dibanjur hujan, tak gosong dipanggang panas. Dan tinggallah berdua itu sebagaimana pasangan layaknya. Benar-benar dunia milik berdua, setiap hari mereka mabuk oleh cinta, sepanjang waktu adalah bulan madu.
Desa nun tiada terpeta itu membuat mereka aman dari segala macam gangguan – setidaknya sampai tahun pertama mereka lewati. Orang-orang sekitar tak begitu pedulikan apakah mereka warga baru atau bukan. Sepanjang tidak berlilitan hutang dan tak mengganggu istri atau suami orang, mengusik adalah terlarang.
***
“Mas…” perempuan masih mengayun bayi usia tiga bulan yang tengah menangis itu berjalan mendekat. Siapa tahu lengking isak si anak menggerakkan kepala lelaki, syukur-syukur membuatnya bangkit atau melakukan apapun terserah agar si bayi berhenti menangis.
“Coba kasih asi.” jawabnya, matanya dibuang ke luar pintu.
“Nggak mau. Tetap nangis.”
Lelaki menghisap kretek kuat, lalu menghembuskan keras. Kesal.
“Kamu kan ibunya, mestinya kamu lebih ngerti daripada aku!” suaranya menandingi keras lengking si bayi.
Perempuan terkesiap. Ia tak hendak peroleh bentakan atau kekesalan. Tapi barusan saja itu yang ia dapatkan.
***
Dua tahun lalu lelaki adalah sosok yang berbeda. Amat lemah lembut, penyayang juga bertanggung jawab. Penghasilannya sebagai buruh tetap mampu membuat makan mereka berdua berlauk bahagia, meski dengan menu sederhana. Jangan tanya soal pakaian baru yang mahal atau perangkat tata rias kecantikan, perempuan bukanlah seorang yang matre dan suka membeliak pada kemegahan. Mereka sepasang sederhana bahagia, betul-betul bahagia.
Sampai suatu ketika badai datang menghampiri, seolah mengingatkan mereka akan sesuatu yang lupa. Lepas tahun pertama pekerjaan buruh makin dipinggirkan dan jauh dari upah layak. Mereka mengalami kemerosotan pemasukan dan terhimpit kebutuhan yang kian menanjak. Perempuan hamil. Kondisi tubuhnya tak setegar tekad bajanya. Janinnya tak mau makan, perempuan muntah tiap kali menyuap makanan ke badan. Tak dapat dielak, perempuan dibawa ke klinik dan tenaganya disambung selang infus berganti-ganti.
Lelaki mulai kalut pikirannya, banyak melamun dan duduk diam berlama-lama. Di depan tempatnya merenung biasanya puntung rokok berserakan. Lelaki memikirkan calon anaknya, memikirkan perempuan, memikirkan hidup mereka. Dalam jiwanya yang sengkarut ia lelah dan ingin berontak pada keadaan, juga kekhawatiran yang membuatnya tak pernah bisa hidup tenang. Asalnya mereka adalah anak-anak orang berpunya, nyaris tiada merasakan hari-hari susah. Namun malu menjadi tembok tinggi kokoh yang mentabirnya dari keluarga besar, telah membuang ia serta perempuan nun jauh di desa itu sebatang kara tanpa sanak siapapun juga.
Perempuan resah melihat lelaki kehilangan cerah di wajahnya. Semampu sebisanya hamil muda dilewati dengan usaha tegar luar biasa. Lemas daya tak jadi soal, menu makanan apalagi. Apa yang bisa dilahapnya akan senantiasa coba dilahap. Dan berhasil. Trimester pertama berlalu, perempuan sanggup perlahan melakukan aktivitas normal, meski kadang mendung masih sedikit-sedikit menggantung di wajahnya jika kembali mengingat.
“Sebenarnya aku belum ingin punya anak.” lelaki pernah berkata suatu petang.
“Itu sulit, Mas. Kita nggak pakai alat kontrasepsi, sedangkan kebutuhanmu terhadapku …”
Lelaki mengangguk cepat, “Aku paham. Awalnya kupikir sampai kondisi kita membaik.”
Tapi apa mau dikata, mereka tak bisa menolak janin itu begitu saja.
Calon anak itu tumbuh sehat, setelah mabok awal tak lagi tampak perempuan mengeluh kesakitan atau tak bisa makan – entahkah memang sehat atau dipaksakan. Tapi lelaki akan sedih dan bingung jika apa-apa terjadi pada perempuan, perempuan tak ingin itu. Seperti apapun, perempuan berusaha tetap tampak baik-baik saja.
Maghrib bulan ke sembilan lewat seminggu, kandungan itu waktunya menetas. Perempuan mengerang keras dan melahirkan seorang perempuan kecil nan mungil yang mirip sekali Bapaknya. Bahagia berpancaran dari wajahnya, namun tidak dari wajah lelaki. Ditanya apakah bahagia, lelaki mengangguk, tapi ia menjadi jauh lebih diam dari sebelumnya.
Awalnya perempuan pikir si bayi akan membawa ceria dan keramaian baru di rumah mereka, namun kehidupan nyata memang seringkali amat jauh dari sangkaan mula. Perempuan terus mencoba bahagia sebagaimana Ibu muda pada umumnya, atau setidaknya berpura-pura bahagia, namun kekhawatiran lelaki merambat jauh masuk dalam jiwanya. Barangkali juga merambat jauh masuk dalam jiwa anak mereka, membuat gadis kecil nyaris tak pernah tidur dengan tenang. Tiga bulan masa hidupnya, ia amat pandai menangis dengan raungan yang keras, tepat saat maghrib kala Bapaknya pulang kerja dan toa musholla berderak serak. Tangisnya membuat hati orangtua makin riuh dan berantakan.
Perempuan menangis, tak tau harus melakukan apa demi gadisnya menjadi tenang. Setiap hari maghrib mereka jadi seriuh ini, apa yang salah? Awalnya ia kira karena maghrib nyamuk-nyamuk berdatangan dan mencuri gigit, namun setelah anti nyamuk dinyalakan tak juga tangis bayi itu mereda.
Dalam petang-petang yang cemas dan sedih seperti ini, perempuan seringkali disergap khawatir yang lama diperamnya sendiri. Mungkin juga diperam dalam dada lelaki, namun tak ada pernah bahasa turun dari bibirnya membahas sedikitpun apa. Dan petang itu, tak sanggup perempuan menahan gemas yang nyaris meledak. Ia putus asa, bingung tiada tempat bertanya. Hanya lelaki, hanya pada lelaki ia akan melempar seluruh pertanyaan. Juga pertanyaan induk dari segala kecemasannya, meski sambil menangis dan pasrah,
“Mas, sebenarnya kapan kita akan menikah?”
Lelaki menghisap kreteknya kuat, menghembuskan keras.
15 Desember 2016











