Home / Genre / Komedi / Pemberontakan Aldi dan Kematian Desol

Pemberontakan Aldi dan Kematian Desol

Cinta Menari di Gerimis Pedang 1600x900
This entry is part 5 of 20 in the series Cinta Menari di Gerimis Pedang

Pang Kehutanan, Waktu Indonesia Bagian Kalimantan.

Suasana tegang menyelimuti Pang Perkebunan pimpinan Aldy M Aripin. Ratusan mayat bergeletakan silang-sengkarut di semak belukar sisa pembakaran hutan yang rutin mengekspor asap ke kerajaan tetangga.

“Bagaimanapun juga aku adalah Pemimpin sebuah Pang, dan kalian benar-benar tak pantas melakukan ini semua kepadaku,” ucap Aldy sedih sambil menghampiri mayat-mayat anggota Pang Kehutanan asuhannya. Hatinya pedih melihat rekan sejawat bawahannya meregang napas dengan cara yang amat sadis, dengan tubuh gosong dan tak lagi utuh.

Tapi Desol dan Febri masih saja tertawa-tawa. Tak ada sedikitpun bekas membunuh seperti yang baru saja mereka lakukan.

“Pemimpin Pang katanya, Des, heu… heu… heu… celeguk!” gelak Febri.

“Ngimpi dia, Feb, wakakakaka. Sudah tinggal dia sendirian masih saja berlagak Pemimpin sebuah Pang. Entah Pang apa yang dia maksud. Atau barangkali Pang Tahi seperti yang sering aku posting di blog keroyokan itu kali yah, wakakakaka,” sambut Desol dengan penuh cekakak-cekikik khas dirinya.

“Tapi apa salah saya? Bukankah saya hanya berbicara dan berkomentar sesuai dengan kondisi? Mengapa jadi berbalik saya dicaci dan seluruh anggota Pang Kehutanan saya di genoside?” bantah Aldy masih dengan suara yang penuh getar kesedihan.

“Heu heu heu. Masak kau kudet alias kurang apdet, Aldy? Bagi kami Sepasang Pendekar Belati Hawa Nafsu, membunuh siapa pun tak pernah butuh alasan. Saat kami mulai birahi, saat itu pulalah nafsu membunuh kami musti tersalurkan, celeguk!” sesumbar Febri, kali ini dengan sorot mata yang mulai terlihat beringas.

“Sudah jangan banyak cerewet, Feb, salah sendiri Si Aldy ini sok jago menentang perintah Adhieyasa dan Rindy. Malah berani-beraninya dia mengatakan bahwa Datuk Perkebunan Iblis tak lebih dari pemimpin sarang priyayi tempat segala macam ketidak efisienan kerja menyinggasana. Benar-benar dia minta dicolek belati mustika kita, wakakakaka!”

Masih sambil tertawa cewakwakan ketika Desol membidik Belati Merah Jambu Bercampur Ungu ke arah Aldy, berbarengan dengan lemparan serupa yang dilakukan Febri dengan gaya berputar seperti bumerang.

Dibokong seperti itu, sontak kemarahan Aldy membuncah. Dilemparnya topi rimba khas miliknya memapak belati Desol, sambil bersalto menghindari belati Febri yang berbalik menusuk dari belakang.

Cres! Swing!

“Heu heu heu. Punya mainan juga rupanya kau, Aldy, pantas berani banyak bertingkah di hadapan kami, celeguk!”

Febri menggandeng tangan Desol, menyatukan hawa murni untuk kemudian mendorong tangan yang bergandeng itu ke bagian kaki Aldy yang masih di udara dengan gerakan Melihat Maut Sambil Berfiksi.

“Kalian pikir jurus mainan kanak-kanak tersebut mampu menakutiku?” gertak Aldy sambil menutulkan kaki kanannya ke kaki kiri untuk meminjam pijakan Memanjat Awan Bersama Asap Kebakaran Hutan dengan gerakan yang benar-benar mengagumkan

“Gingkang bagus!” tanpa terasa Desol dan Febri memuji berbarengan, sambil kembali melancarkan Serpihan Rindu Di Ruang Hampa ke atas.

Tapi kematangan silat tokoh sekaliber Aldy ini agaknya memang telah cukup matang. Tanpa gugup sedikitpun dia langsung meluncur ke bawah dengan gerakan Langit Mencinta Bumi Menerima, untuk kemudian mendarat dengan amat ringan di tanah.

“Masih ada permainan bocah TK yang lain?” ledek Aldy.

“Kurang ajar! Bagaimana kalau kita keluarkan jurus Si Ella Kawin Kemarin! Lalu Kita Kapan Kawin yang baru kita pelajari itu, Feb?” seru Desol.

“Lha, Kalo Si Ella udah kawin, kapan giliran kita, Des?” bingung Febri.

“Ini cuma nama jurus Febriii! Jangan bercanda waktu gue PMS dong, gak lucu banget tauuu!” umpat Desol uring-uringan.

“Heu heu heu. Mana kutahu kalau kau lagi ‘dapet’ Des, kupikir itu sindiran kau agar aku mengawinimu sesegera mungkin, celeguk!” jawab Febri dengan tersipu-sipu.

“Ah, dasar pejantan layu kau, Feb! Kau pikir aku gila apa, di saat segenting ini malah meributkan urusan kawin?” sengat Desol.

“Hey caci-maki pejantan layu itu bukannya untuk Si Pakde yang tengah marak sebagai tersangka penyamaran GT itu, kan? Kenapa aku kena juga? Memang kau tahu bahwa punya—”

“Udah jangan protes aja, Feb. Atau beneran gue bikin layu sekarang juga. Mau lu?” teriak Desol sambil susah-payah menghindari serangan Aldy.

“Elu lagi, Aldy, beraninya nyerang gue doang yang perempuan. Sekali-kali gantian serang si Febri ngape? Kan kasihan dia jumpalitan dari tadi padahal enggak diserang, jadi kayak pencitraan aja!”

Tap! Tap! Tap!

Tiga tubuh mendarat di tanah berbarengan dan membentuk segitiga sama edan, untuk kemudian tak bergeming sedikit pun.

“Perlu break ngopi dulu apa enggak nih, Al?” tawar Febri ngos-ngosan bekas berjumpalitan tak karuan tadi.

“Boleh, tapi nanti setelah kau menyusul anggota Pang Kehutananku ke Raja Akherat!” damprat Aldy emosi sambil melakukan gerakan serupa Cilok Dicelupin Ke Sambal Kacang, yang dibalas oleh Febri dengan gerakan Bikin Es Lilin Kudu Digoyang, membuat Desol mendelik karena jurus tersebut memang bukan ajaran Kitab Duo Belati Fiksi yang mereka pelajari bersama.

Langsung saja Febri keteteran, membuat Desol menggigit-gigit kuku jarinya dengan amat cemas.

“Hajar dengan jurus ke lima juta tujuh ratus enam puluh sembilan koma tiga, Feb!” teriak Desol.

Kembali mereka bergandengan tangan, dan kembali terlontar sebuah jurus yang amat mematikan.

“Jurus Diksi Untuk Fiksi! Hiyaaat!”

Trerereeet!

Pijaran api berloncatan dari sela-sela benturan tangan Sepasang Pendekar Belati Hawa Nafsu, ketika Aldy Si Pemimpin Pang Kehutanan menyambutnya dengan pukulan Peri Hutan Berjinjit Genit di tangan kanan serta jurus Mungkinkah Ahok Terjungkal Karena Sumber Waras di tangan kanan.

Kembali dua pihak mengeluarkan jurus andalannya, dan kembali tumbukan besar membatas di garis antara pijakan kaki mereka.

“Pungguk Merindu Berbulan-Bulan!” serang Febri dan Desol.

“Mengecup Embun Melindungi Hutan!” balas Aldy tak kalah beringas.

Duaaar!

Tiga sosok terpental ke belakang. Tapi kali ini Febri dan Desol bersiap-siap mengeluarkan ajian paling pamungkas milik mereka.

“Jurus Kentut Melempar Iblis! Hiyaaaaaaaaat!”

Tapi dengan gerakan jurus yang tak kalah sebatnya, Aldy melayani mereka hingga titik darah yang terakhir.

“Ini buat seluruh anggota Pang Kehutanan yang kalian bunuh! Kame … hame … Halaaah!”

Dhuaaar!

Ledakan mahadahsyat menggelegar memenuhi angkasa berbarengan dengan jerit menyayat Desol yang tubuhnya terbang menabrak pohon besar hingga hancur berserakan, untuk kemudian terus melayang dan jatuh ke sungai.

Plung!

Begitu bunyi jatuhnya Desol ke sungai yang lantas hanyut terbawa derasnya aliran sungai, membuat Febri yang terjengkang muntah berak sekuat tenaga merayap memburu Desol sambil meratap pilu.

“Des, jangan tinggalkan aku, Des … Des….”

“Des ….”

Des … Tidaaak!”

Sementara itu, nasib yang tak kalah buruknya menimpa Aldy. Mantan Pimpinan Pang Kehutanan yang pernah tersohor sebagai sosok impulsif yang membela anaknya waktu di-bully di Padepokan Pengetahuan Umum Negeri itu kini tergeletak tak berdaya dengan napas kembang-kempis.

Berkali-kali Aldy mencoba bangkit, tapi selalu berakhir dengan kegagalan layaknya ABG yang sukar bangkit dari kisah cintanya yang lebay menyedihkan.

“Hueeek, prut!” 

Setelah beberapa kali muntah darah dan kentut kecil, akhirnya Aldy mampu duduk.

“Apakah ini adalah akhir hidupku?” gumam Aldy dengan pandangan mata yang penuh seribu kunang-kunang di Manhattan karyanya Omar Kayam yang tersohor itu.

“Andai saat terakhir ini aku masih bisa menyeruput secangkir kopi dan menghisap sebatang kemerdekaan, alangkah indahnya,” kembali Aldy bergumam dengan agak kacau. Barangkali beberapa sel syarafnya terputus buah ‘Ledakan Besar’ tadi.

Dengan amat tertatih Aldy menyeret kakinya menjauhi lokasi pertempuran. Sesekali dia terjerembab, untuk kemudian terus berupaya bangkit dan kembali berjalan. Terus seperti itu hingga pada sebuah gua dia berhenti. Lebih tepatnya kembali terjerembab dan berada dalam kondisi antara sadar dan tidak sadar.

Tapi pada kondisi seperti itulah dia justru teringat wacana terakhir yang sempat dibacanya di “Kopetsiania- Situs Resmi Tempat Pendekar Sejagat Berbagi Jurus Tanpa Ingus” beberapa saat sebelum Duo Pendekar Belati Hawa Nafsu tersebut datang dan menghancurkan Pang Kehutanan milikinya.

“Ternyata benar ucapan Pendekar Literasi Mike Reyssent, bahwa fiksi bikin ngeri karena tak ada batasan sama sekali. Ugh…  Seperti tadi saat aku coba-coba mengeluarkan jurus yang pernah ngetop di serial Dragon Ball malah begini akhirnya… Tahu begini aku gunakan saja jurus Era Kehutanan Menggunakan Paperless yang memang sudah cukup matang kupelajari itu, huh! Agaknya mulai detik ini aku harus ekstra berhati-hati dalam menghadapi tokoh pendekar fiksi yang benar-benar seenak udelnya dimasukkan pengarang ke cerita silat ini. Huk, uhuk, hueeek!”

Kembali Aldy muntah darah, dan kembali tulisan ini mesti berjeda…

Cinta Menari di Gerimis Pedang

Tujuh Pukulan Korupsi Penuh Bisa Kado buat Admin Baru
Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image