Kami melanjutkan perjalanan menuju sebuah situs di Dusun Plandi, Desa Pasuruan, Kecamatan Mertoyudan. Kabupaten Magelang. Sebuah Situs berlatar belakang Hindu. Sebenarnya jarak dari Borobudur ke Mertoyudan lebih dekat, tapi aku sengaja memutar rute ke Muntilan lebih dulu. Situs Plandi justru kuletakkan pada jalur kembali menuju Borobudur. Selain aku mengenalkan dengan memetakan latar belakang candi juga pertimbangan jarak tempuh.
“Ternyata banyak juga candi-candi, ya?” KL komentar Zack saat tiba di situs.
“Benar. Magelang memang banyak menyimpan misteri kehidupan peradaban Hindu-Buddha peninggalan Mataram Kuno,” jawabku. Zack menatap takjub sambil mengamati sebuah yoni yang sebagian masih terpendam.
“Seperti yoni ini. Masih menyimpan misteri karena sebagian besar masih terpendam dalam tanah, walaupun jejak keberadaanya sudah teridentifikasi,” imbuhku.
“Namun, meski sebagian besar masih terpendam, kehadiran situs Plandi juga pernah menghadirkan bukti bahwa jejak kehidupan masyarakat masa lalu yang ada di balik reruntuhan situs, berkisar pada tiga hal yaitu sosioal, ekonomi, budaya dan agama.”
Selain Yoni ditemukan Prasasti Plandi. Hal ini menunjukkan bukti pengaruh dinasti Sanjaya pada abad IX M masih kuat di wilayah Magelang. Berdasar prasasti Plandi diketahui siapa raja dinasti Sanjaya yang berkuasa pada masa tersebut. Bagi masyarakat Magelang, secara khusus situs Plandi menunjukkan peran strategis Magelang sebagai “kota candi”.
Adanya dugaan, bahwa dibalik temuan Yoni tersebut juga terdapat bangunan candi di sekitarnya. Namun, kebenaranya tentu menunggu pembuktian pada saat situs ini dieskavasi. Dugaan tersebut diperkuat cerita masyarakat lokal yang menyebut situs Plandi dengan sebutan Candi Wurung atau bangunan candi yang tidak jadi. Bisa saja saat raja Kayuwangi berkuasa, candi tersebut sudah berdiri. Namun dalam perkembanganya terpendam akibat peristiwa alam yang terjadi.
“Tadi dijelaskan selain candi ditemukan Prasasti, apa itu prasasti?” tanya Zack.
“Prasasti adalah piagam atau dokumen berukuran besar yang ditulis pada bahan yang tahan lama seperti batu atau logam, sering kali digunakan untuk menandai peristiwa penting atau membuat pengumuman resmi. Dalam kajian sejarah, prasasti dianggap sumber terpenting karena dapat memberikan kronologi peristiwa, nama, dan alasan pengeluaran prasasti tersebut.” Aku menjelaskan.
Zack manggut-manggut, entah mengerti atau tidak, tapi laki-laki itu terlihat cukup kritis, memiliki rasa ingin tahu yang positif, mengingatkan aku pada Pierre. Astaga … kenapa tiba-tiba nama itu muncul? Aku menepuk dahi dengan keras sehingga Zack menatapku heran.
“Kamu baik-baik saja?”
“Oh … ehm, dahiku tiba-tiba gatal,” kilahku menutupi malu. Zack justru memperhatikan dahiku dengan alis bertaut.
“Isi pokok prasasti Plandi adalah penetapan desa Plandi sebagai sima oleh Rakai Sirat atau Sirak dan pendeta kuil pada tanggal 30 November 869 M.” Aku melanjutkan penjelasan agar Zack kembali fokus pada situs di hadapan kami.
“Aku tidak mengerti. Banyak hal yang tidak aku mengerti, tapi maukah Kamu menjelaskan lebih banyak?” pinta Zack.
“Je bent geïnteresseerd?” tanyaku.
“Ja.” jawab Zack singkat, tapi matanya terlihat antusias.
“Itu akan memerlukan waktu lama,” ujarku.
“Tidak masalah, aku punya waktu jika Kamu bersedia,” jawab Zack dengan tawa lebar.
“Dengan senang hati.” Aku kembali memperlihatkan tulisan yang ada di prasasti tersebut.
“Menurut para ahli, berdasar bentuk tulisan prasasti diduga kuat ditulis pada masa raja Kayuwangi berdasarkan pada angka tahun yang tertera di dalam prasasti, yaitu 869 M yang merupakan masa pemerintahan raja Kayuwangi, yang juga diduga berperan dalam pembangunan Candi Pendem, Asu dan Lumbung di Desa Sengi Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang.”
Zack berjalan mengitari bangunan situs yang hanya berjarak sekitar 6 km dari candi Borobudur. Ada satu Yoni besar menghadap ke utara dan berukuran 120 x 111 cm yang hanya tampak separoh badan, selebihnya masih terpendam. Pada bagian depan Yoni terdapat cerat di bawah berupa pahatan burung garuda berada diatas punggung kura-kura dan tiga kepala naga pada bagian paling bawah.
Keberadaan Yoni sebesar itu juga mengisyaratkan bahwa di lokasi tersebut terdapat bangunan candi. Hal tersebut relevan dengan hasil survey JICA pada tahun 1979, dan cerita rakyat yang menyebut adanya candi wurung di situs Plandi. Hasil eskavasi Balai Konservasi Borobudur tahun 2019 lebih mempertegas bahwa pada situs Plandi terdapat pondasi struktur bata kuna pada kotak ekskavasi ada yang berupa lantai candi pada sisi timur Yoni.
“Jika dilihat dari lokasinya, apakah candi ini milik warga desa?” tanya Zack.
“Pertanyaan bagus,” pujiku. Zack menatap dengan tatapan serius.
“Keberadaan situs Plandi yang di tengah lahan pertanian warga dan dekat dengan perkampungan warga, menguatkan asumsi bahwa status candi merupakan candi milik warga desa. Ukurannya pun tidak sebesar candi yang dibangun di tingkat wilayah watak apalagi candi kerajaan. Biasanya candi berfungsi sebagai tempat pemujaan atau tempat berdoa. Salah satu tujuannya tentu lebih berorientasi pada keberhasilan kegiatan pertaniannya dan keselamatan warganya.”
“Apakah ada kaitannya dengan raja yang berkuasa?” tanya Zack lagi.
“Apabila dikaitkan dengan isi Prasasti Plandi, bisa jadi candi tersebut dibangun pada masa Raja Kayuwangi dari dinasti Sanjaya,” jawabku.
“Dinasti Sanjaya …? Ah, ya aku ingat,” ujarnya. Dahinya berlipat seperti sedang mengingat sesuatu.
“Pembangunan candi di suatu tempat biasanya menimbang keberadaan masyarakat. Ketika candi dibangun di suatu wilayah, sudah bisa dipastikan di situ terdapat masyarakat yang kelak akan memanfaatkan candi. Demikian juga tentang pembangunan situs Plandi. Pertimbangan penting salah satunya adalah adanya masyarakat yang telah ada, hidup dan berkembang di situ.”
“Artinya pada saat candi dibangun, Dusun Plandi sudah ada?” cecar Zack.
“Jika melihat angka tahun pada prasasti Plandi yaitu 869 M, maka bisa dipastikan Dusun Plandi sudah ada sebelum periode tersebut. Bisa saja dusun Plandi dan sekitarnya merupakan masyarakat yang memiliki tingkat kepadatan penduduk banyak. Angka tahun Prasasti Plandi sama dengan Prasasti Kurambitan I dan II yang ditemukan di desa Pangonan dan Rambeanak Mungkid. Dapat disimpulkan usia Dusun Plandi setidaknya berumur 1155 tahun, seusia dengan desa Pangonan dan Rambeanak Mungkid. Angka tersebut dihitung saat sekarang dikurangi angka yang tertera di dalam prasasti Plandi. Sehingga dusun Plandi lebih tua dibanding kelurahan Meteseh tempat ditemukannya prasasti Mantyasih.”
“Wah, ada lagi prasasti Mantyasih?”
“Hmmm, prasasti yang menguak dengan lebih jelas tata kehidupan masyarakat Magelang pada Abad X M dan masa-masa sebelumnya, salah satu isinya adalah tentang penetapan hari jadi Kota Magelang.”
Aku menjeda penjelasanku, cuaca yang panas membuatku haus. Aku meninggalkan Zack sejenak untuk sekadar mencari air mineral. Laki-laki itu terlihat sibuk dengan catatan dan kamera pro yang selalu dikalungkan di leher.
Beruntung ada warung tak jauh dari situs tersebut, hanya beberapa meter berjalan kaki. Setelah membeli dua botol air mineral aku segera kembali. Zack tersenyum sumringah melihat aku membawa air mineral, tanpa sungkan dia segera meneguk habis isi botol. Sepertinya laki-laki bule itu juga kehausan, tapi tak berani mengatakan.
Sambil beristirahat diam-diam aku mengamati kehidupan social masyarakat dusun Plandi. Interaksi social yang bersifat asosiatif maupun disosiatif baik secara internal maupun eksternal sepertinya sudah dilakukan sejak dulu. Mengingat dusun Plandi berada tidak jauh dari komplek percandian Budha yang menjadi pusat peradaban dinasti Syalindra yang juga berkuasa di Jawa Tengah khususnya Magelang.
Di sisi lain, masyarakat sudah melakukan aktivitas ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mengingat kondisi yang ada sekarang, sepertinya basis kegiatan ekonominya adalah pertanian. Perdagangan mungkin sudah dilakukan meski dalam skala yang tidak terlalu besar. Berdasarkan data keberadaan pasar sebagai tempat bertemunya masyarakat lintas Wanua untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Jika memperhatikan isi prasasti Plandi, diperkirakan wilayah dusun Plandi dan sekitar, mempunyai basis ekonomi yang relatif baik. Karena pendirian candi membutuhkan penyangga ekonomi yang kuat, baik saat proses pembuatan maupun pemeliharaan.
Adanya Situs Plandi juga menginformasikan tentang perkembangan budaya di masyarakat. Bahan bangunan candi diduga sudah menggunakan “batu bata”, sebagai tambahan dari komponen candi yang masih terbuat dari batu andesit. Ditemukannya batu bata juga mengindikasikan perkembangan pengetahuan warga masyarakat dalam memilih jenis tanah, mencetak sampai mengolah dengan cara dibakar, sebelum akhirnya dijadikan tambahan bangunan candi.
Hal tersebut memberikan gambaran riil terjadi perkembangan budaya di masyarakat dalam pembangunan candi. Budaya batu bata inilah yang kelak dimodifikasi oleh para penguasa Singasari dan Majapahit, hal tersebut bisa dilihat pada beberapa candi yang bahan batu bata, seperti Candi Bajang Ratu, dan Candi Tikus
“Capek?” tanyaku pada Zack. Laki-laki itu menggeleng.
“Tapi Kamu harus kembali ke rombonganmu,” tandasku. Laki-laki itu mengembuskan napas pendek, kecewa.
“Jika Kamu masih berada di kota ini, aku bisa mengantarmu ke tempat yang lain besok. Tapi sekarang Kamu harus pulang,” tandasku tegas, lebih pada perintah.
“Benarkah?” tanyanya antusias.
“Ya, jika kebetulan aku tidak sibuk, aku akan ngantarmu dengan senang hati.” Aku mengakhiri percakapan setelah Zack meminta nomer yang bisa dihubungi. Matahari mulai bergeser, aku harus mengantar Zack secepatnya jika tidak ingin Puji memarahiku.











