Home / Topik / Wisata / Pesantren Sunyi di Lereng Gunung Andong

Pesantren Sunyi di Lereng Gunung Andong

Makam Mbah Mangli (YouTube)

Bagi pendaki yang hendak mendaki Gunung Andong, pasti akan melewati Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak. Banyak juga wisatawan yang datang sekadar memanjakan mata dan menikmati suasana alam yang tenang, sejuk, dan hijau, menjadikannya tempat yang cocok untuk melepaskan diri dari hiruk pikuk kota. Apalagi desa yang terletak di dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata 1.370 mdpl tersebut dikelilingi oleh Gunung Merbabu, Telomoyo dan Andong, menawarkan panorama indah yang menawan.

Desa-desa yang terletak di Lereng Gunung Andong ini memiliki relief dataran tinggi dan pegunungan yang subur sehingga sektor pertanian menjadi tulang punggung ekonomi desa, dengan komoditas seperti kopi, tembakau, dan berbagai jenis sayuran. Harga sayuran yang murah juga menjadi daya pikat tersendiri bagi wisatawan.

Di Desa Girirejo, di antara perkampungan penduduk terdapat sebuah pesantren, tepatnya di Dusun Mangli, terletak persis di lereng Gunung Andong. Berada di ketinggian 1.200 mdpl, bisa jadi pesantren ini merupakan yang tertinggi di Jawa Tengah. Dari teras masjid, para santri bisa melihat hamparan rumah-rumah di Kota Magelang dan Temanggung dengan jelas. Pemandangan akan terlihat lebih menarik pada malam hari saat lautan lampu menghias malam.

Untuk menuju lokasi ini harus menempuh perjalanan sekitar 40 km dari Mungkid, ibu kota Kabupaten Magelang. Bangunan pondok yang berada di tengah-tengah perkampungan ini berdiri di atas lereng-lereng bukit sehingga dari kejauhan terlihat seperti bangunan bertingkat.

Pada tahun 1959, seorang kyai bernama Kyai Hasan Asy’ari mendirikan pesantren salafiyah tanpa memberikan nama resmi, hingga lambat laun pondok tersebut dikenal dengan nama Pondok Pesantren Mangli. Sosok Kyai Hasan Asy’ari pun dikenal masyarakat dengan nama Mbah Mangli. Nama tersebut diberikan masyarakat karena beliau menyebarkan Islam berawal dari Kampung Mangli, Desa Girirejo, Kecamatan Ngablak.

Meski letaknya terpencil, tapi setiap Ahad ribuan masyarakat mengaji di pesantren tersebut. Mereka tidak hanya berasal dari sekitar Magelang, tapi juga dari berbagai daerah lain. Uniknya, meski pesantren ini cukup besar, santri yang menetap di sana tidak pernah lebih dari 41 orang.

Pesantren Mangli merupakan salah lembaga pendidikan yang unik dan menarik. Banyak ulama besar yang dicetak oleh pesantren tasawuf yang sepak terjangnya tidak terlepas dari sosok sang pendiri yang memiliki banyak cerita keajaiban.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, Mbah Mangli, sosok sang pendiri pesantren adalah seorang kyai yang memiliki karomah, ‘melipat bumi’ yakni bisa datang dan pergi ke berbagai tempat yang jauh dalam sekejap mata, bisa mengisi pengajian di beberapa tempat sekaligus dalam waktu bersamaan. Beliau bisa mengisi pengajian di Mangli, tapi pada saat yang sama juga mengaji di Semarang, Wonosobo, Jakarta, bahkan Sumatera.

Mbah Mangli juga tidak memerlukan pengeras suara untuk berdakwah seperti halnya kebanyakan kyai lainnya. Padahal jamaah yang menghadiri setiap pengajian Mbah Mangli mencapai puluhan ribu orang. Itulah mengapa setiap pengajian beliau dijuluki pengajian sunyi

Menurut sesepuh Dusun Mangli, warga Mangli sangat menghormati sosok Mbah Mangli. Bahkan meski sudah meninggal sejak akhir tahun 2007, nama Mbah Mangli tetap harum. Setiap hari ratusan peziarah dari berbagai daerah memadati makam Mbah Mangli yang berada di dalam kompleks pondok.

Siapakah sosok Mbah Mangli yang penuh karamah tersebut?

Memiliki nama asli Haji Hasan Asy’ari, atau sering disebut Mbah Mangli, beliau adalah seorang ulama kharismatik yang merupakan mursyid Tarekat Qodiriyah wa Naqsyabandiyah dari Magelang. Mbah Mangli juga merupakan salah satu tokoh yg mendirikan Asrama Pendidikan Islam di Tegalrejo Magelang yang santrinya berasal dari seluruh Indonesia.

Lahir dengan nama Hasan Asy’ari di Kota Jepara Jawa Tengah pada hari Jumat legi tanggal 17 Agustus 1928, merupakan putra kedua dari Kyai Imam, yang menurut silsilahnya masih keturunan dari Maulana Hasanuddin bin Sunan Gunung Jati. Sedangkan dari garis ibu, Mbah Mangli merupakan keturunan dari Kyai Ageng Hasan Besari yang juga masih keturunan Sunan Kalijaga. Mbah Mangli wafat pada hari Minggu 26 Oktober 1997 di Magelang dan dimakamkan di lingkungan pondok pesantren miliknya di Dusun Mangli,

Sejak kecil Mbah Mangli sudah memperoleh pendidikan yang ketat dan sangat keras dari Ayahnya. Sejak usia dini, Mbah Mangli diajarkan menghafal kitab Taqrib dan maknanya, serta mempelajari Tafsir Alquran baik makna maupun nasakh mansukh-nya.

Sejak usia muda, Mbah Mangli sudah melanglang buana di berbagai pondok pesantren. Beliau pernah belajar pada KH. Ma’mun Ahmad dan KH. Arwani Amin, ulama kondang dari Kudus. Syekh KH. Said Almandurah dari Sampang Madura, KH. Ibnu Hajar dari Wonosobo. Juga KH. Sirodj dan KH. Rohmat dari Magelang. Selain itu Mbah Mangli juga pernah belajar di berbagai pesantren di Cirebon dan Banyumas yang belum diketahui nama desanya

Mbah Mangli dikenal sebagai seorang ulama yang memiliki Psikokinesis tinggi karena dapat mengetahui maksud setiap jamaah yang datang, apa permasalahan mereka, dan langsung dapat memberikan nasihat dengan tepat sasaran.

Bagi orang Jawa Tengah, khususnya daerah Magelang dan sekitarnya, nama KH Hasan Asy’ari, dikenal sebagai sosok kiai sederhana penuh karamah. Meski memiliki banyak usaha dan termasuk orang yang kaya, tapi beliau adalah wali Allah yang hatinya selalu menangis kepada Allah, menangis melihat umat, dan menangis karena rindu kepada Allah.

Hidupnya selalu sederhana, dan keunikan lain yang dimiliki adalah saat mengisi pengajian, di mana pun dan dalam kondisi apapun, Mbah Mungli tidak pernah memakai alat pengeras suara. Meski jamaahnya sangat banyak hingga membentuk barisan dengan dengan jarak cukup jauh, tapi suara beliau tetap terdengar dan memukau seluruh jamaah yang hadir

Beliau juga selalu menolak amplop yang sengaja diselipkan panitia. Mbah Mangli berujar bahwa, agar tidak menilai dakwahnya dengan uang, baginya jika separoh dari jamaah yang hadir mau dan berkenan menjalankan apa yang beliau sampaikan, itu jauh lebih menyenangkan baginya.

Konon kawasan lereng Gunung Andong dan sekitarnya pada masa itu menjadi markas perampok dan dikuasai oleh kelompok begal kondang bernama Merapi Merbabu Compleks (MMC).

Tantangan beliau sangat berat. Para begal membabat lahan pertanian penduduk dan mencemari sumber mata air pondok. Warga Mangli sendiri saat itu belum menjalankan salat meski sudah Islam atau istilahnya hanya Islam KTP. Namun, akhirnya Mbah Mangli berhasil mengislamkan kawasan tersebut dan memberikan banyak contoh-contoh kebaikan dalam praktek hidup sehari-hari.

Setelah Mbah Mangli meninggal pada akhir tahun 2007, proses pendidikan di Pondok Pesantren Mangli dilanjutkan oleh Gus Munir, menantunya yang juga memiliki sosok sederhana, sekaligus penuh wibawa.

Sebagai penerus Pesantren Mangli, Gus Munir bertekad tetap mempertahankan apa yang sudah dirintis dan menjadi kebijakan almarhum ayah mertuanya. Gus Munir secara rutin menggelar pengajian selapanan di berbagai daerah. Meski jamaahnya tidak sebanyak semasa Mbah Mangli, tapi warga yang datang mengaji tetap membeludak. Gus Munir juga dengan tegas mempertahankan berbagai kebijakan almarhum. Salah satunya adalah tetap tidak berkenan menggunakan pengeras suara saat pengajian dan khotbah Jumat.

Mimbar tempat Gus Munir berkhotbah juga ditutup dengan tirai hijau sehingga warga tidak bisa langsung melihatnya. Hanya sosok bayangan yang tampak akibat pantulan sinar matahari yang menerobos di sela fentilasi.

Larangan lain untuk para santri adalah larangan keras menggunakan handphone (hp) dan menonton televisi. Menurut beliau, alasannya, pada zaman Nabi Muhammad SAW juga tidak digunakan hape, pengeras suara ataupun televisi. Namun, Gus Munir menegaskan bahwa, kebijakan ini bukan berarti menolak modernitas, tapi dimaksudkan agar para santri lebih fokus pada dua hal yakni mengaji dan beribadah.

Atas alasan religi pula, sosok kiai kharismatik ini juga menolak untuk diphoto dan diwawancarai. Beliau ingin menjaga marwah pondok dengan caranya sendiri. Gus Munir meyakini bahwa, ada banyak cara untuk meraih ridha Allah, ada banyak jalan menuju surga.

Namun, beliau tetap menghargai dan mempersilakan lembaga pendidikan agama lain untuk membuat nama yang bagus dan mempublikasikannya ke masyarakat. Menurut beliau, banyak jalan menuju akhirat. Meski cara yang ditempuh berbeda, tapi jika niatnya baik, insyaallah akan bertemu di akhirat nanti.

Bahkan peziarah yang datang pun dipisahkan antara laki-laki dan perempuan. Tidak boleh menggunakan celana bagi peziarah perempuan, di sana disediakan rok panjang dan mukena yang bisa dipinjam. Juga kain sarung bagi laki-laki yang tidak membawa. Setelah selesai ziarah, para peziarah bisa menikmati teh atau kopi yang disediakan oleh para santri. Suasana pondok yang tenang, udara sejuk, dan pemandangan yang indah, santri-santri yang ramah sungguh membuat betah berlama-lama berada di pondok sambil menikmati kudapan hangat.


Penulis

  • Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi.

    Perempuan senja yang hobi nulis dan traveling untuk mencari inspirasi. Penulis Historical Fiction, Travel love, dan Misteri. Untuk mengenal lebih jauh ikuti FB : tari abdullahdua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Arsip

Kategori

Antologi KompaK’O

Random image