Seorang gadis bermata bening mengenakan baju gaun merah jambu bermotif bunga duduk di kursi kayu di sebuah rumah tua di ujung gang. Gadis itu duduk melamun menghadap jendela, memandangi kaca jendela yang masih basah oleh tetesan hujan yang turun siang tadi. Di atas meja di sampingnya tergeletak sepasang lampion yang hendak dinyalakannya pada malam Imlek nanti.
” A Ni, ” teriak ibunya membuyarkan lamunan gadis itu.
” Mengapa lampionnya belum kamu nyalakan?”
“Nanti, Ma,” jawabnya pelan. “Nanti malam saja.”
Malam pun akhirnya datang. A Ni kemudian menyalakan lampion itu. Setelah itu dirinya kembali duduk menghadap ke jendela, meneruskan lamunannya yang tertunda.
Dua bulan lalu A Ni dan Li Wei duduk saling berhadapan di sebuah kedai mi kecil di pinggir kota. Mereka masing-masing memesan semangkuk mi kuah panas dan secangkir teh melati hangat sebagai minumannya.
“ Imlek nanti aku akan datang ke rumahmu pagi-pagi sekali,” kata Li Wei sambil memainkan sumpitnya. “Ada hal penting.”
” Hal penting apa ? Antar angpao, ?” kata A Ni menimpali dengan senyum kecil.
Li Wei tertawa. “Kamu ini, selalu saja ingin tahu. Tunggu saja nanti.”
” Kamu serius ? Janji?” tanya A Ni sambil memandang dengan tatapan serius pada Li Wei.
” Ya, Aku berjanji.”
A Ni tak bereaksi apa-apa, namun pikirannya terus bergerak mundur ke masa sebulan sebelum pertemuan di kedai mi tersebut. Kala itu mereka melewatkan malam Minggu dengan duduk-duduk di tepi sungai di bawah sinar temaram lampu kota.
“Kalau nanti aku dan Papa Mamaku menemui orang tuamu, bagaimana ?” kata Li Wei waktu itu
A Ni menunduk. “Aku akan menyeduh teh dan menyajikannya bersama kue mangkok untukmu”
“Kenapa kamu ingin menyeduh teh?”
” Aku tak tahu. Tapi itu yang terpikirkan olehku.”
Li Wei diam sejenak, lalu meneruskan omongannya.
“Aku ingin kita seperti keluarga-keluarga itu,” katanya sambil menunjuk ke perkampungan di seberang sungai.
“ Mereka hidup tenang dan sederhana.”
A Ni mengangguk mengiyakan ucapan kekasihnya itu.
Malam terus bergerak naik seperti jarum jam dinding yang bergerak dari angka 7 ke angka 8. Orang-orang ramai membunyikan petasan bersahutan dengan tabuhan genderang barongsai sebagai pertanda pesta Imlek akan segera dimulai.
A Ni memandangi dua buah lampion merah yang tadi tergeletak dan kini terpasang di teras rumahnya. Hatinya terasa bahagia sekali pada malam Imlek kali ini.
Pagi datang, A Ni, Papa dan Mamanya saling mengucapkan Selamat Tahun Baru dan saling mendoakan sesama mereka. Mereka memulai pagi Imlek dengan sarapan kue keranjang dan teh melati tawar bersama.
Tiba-tiba terdengar suara ringtone dari ponsel A Ni. Ada sebuah chat singkat dari Li Wei.
” Maaf. Aku tak bisa datang.”
Jantung A Ni seolah berhenti sejenak, seperti jam dinding yang lupa berdetak. Seribu pertanyaan berputar di kepalanya.
“Kenapa?” tulisnya cepat.
A Ni menunggu sebentar, namun balasan dari Li Wei tak segera datang, seolah setiap huruf ragu untuk bertemu A Ni.
A Ni memejamkan matanya sebentar. Dia merasakan kehadiran Li Wei berada di hadapannya dan berbicara kepadanya.
“Kau pasti kecewa,” kata Li Wei dengan wajah datar.
A Ni mengangguk, namun tidak menjawab pertanyaan itu.
“Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu,” kata Li Wei.
“Aku hanya merasa tidak mampu menjadi jawaban atas semua harapanmu. Aku sudah merasa kalah sebelum memulai. “
A Ni belum membuka kedua matanya. Pikirannya terasa kacau tak karuan.
Dan dalam kebingungannya ia berbicara pada bayangannya sendiri.
” Apakah ia berubah pikiran?
” Apakah keluarganya tak menyukaiku?
A Ni menarik napas dalam-dalam membiarkannya tinggal lama di dadanya, lalu melepasnya perlahan.
A Ni kemudian membuka kedua matanya perlahan. Ibunya mendekat.
“A Ni?”
“Aku baik-baik saja, Ma.”
A Ni berdiri tegak, berjalan keluar. Selanjutnya gadis bertubuh tinggi kurus itu terus meraih sepasang lampion yang digantungkannya tadi malam, segera menurunkannya, memadamkan cahayanya dan membiarkannya kembali tergeletak di atas meja.











