Cinde melipat kain yang tersisa dan dengan hati-hati meletakkannya di atas kain-kain yang rapi lainnya, lalu dia menutup lemari pakaian.
“Joy, lu kagak bantuin gue? Ngapain aja sih, lu?” Dia bertanyake temannya yang berdiri di dekat jendela, melihat ke bawah untuk melihat apa yang terjadi di taman dan tertawa. Mereka berdua berusia awal dua puluhan.
Rumah itu bangunan tiga lantai dan mereka berada di lantai paling atas.
“Sini dan tengok kakak tiri kau, lucu kali dia,” Zhoya menjelaskan dan Cinde dengan cepat bergegas untuk melihat apa yang terjadi. Kakak tirinya kembali mengikuti pelatihan untuk ketiga kalinya minggu itu. Pelatihnya seorang wanita bule yang mengenakan jas dan tubuhnya tampak tipis kaku seperti seng pagar proyek.
“Sekarang, kamu membungkuk sedikit dan angkat leher itu sedikit. Angkat leher itu ke atas!” Pelatih itu berteriak pada Tatiana yang kesulitan melakukan apa yang diminta.
“Tatiana macam burung unta kutengok!” komentar Zhoya dan mereka berdua tertawa.
“Burung unta kebelet eek.” Cinde menambahkan dan mereka berdua tertawa, tetapi tiba-tiba, seseorang menghalangi pandangan mereka dari bawah. Wajah dingin Varya, ibu tiri Cinde menatap lurus ke arah mereka.
“Ya Tuhan! Penyihir itu telah menemukan kita! Cepat!” bisik Cinde dan mereka menutup jendela.
“Aku benci perempuan itu.” Zhoya mengakui, dengan cemberut.
“Yah, kita harus keluar dari kamarnya cepat sebelum dia menemui kita di sini.” Jawab Cinde, menuruni bangku tempat dia berdiri dan mereka berdua berlari keluar ruangan dan menuruni tangga. Akhirnya mereka sampai di kamar Cinde.
“Ibu tirimu benar-benar bekerja keras untuk pesta ini.” kata Zhoya, sambil duduk di tempat tidur.
“Ya, benar.” jawab Cinde. “Dia menyewa guru privat untuk Tatiana, satu untuk menari, satu untuk tata krama, berbusana, mode, dan masih banyak lagi.”
“Tapi kau tahu kaulah yang seharusnya pergi ke pesta itu.”
Cinde mencemooh, “Siapa? Gue? Ogaaah. Gue kagak kepengen, lagian gue cuma babu di rumah babe gue sendiri. Gue kagak dibutuhin di Menara Mahligai. Yang dicari orang-orang kayak Tatiana yang anggun dan mirip cewek bangsawan.”
“Apa kau tak tengok muka kau di kaca? Siapa bilang kau tak bisa anggun?”
“Gue kagak kepengen.”
“Tapi kau adalah putri bapak kau, darah dagingnyalah yang seharusnya pergi ke pesta itu, bukan anak yang dibawa oleh istri keduanya entah dari mana.”
“Babe gue mengadopsi dua anak tirinya sebelum meninggal. Gue bener-bener kagak pengen. Percaya, deh. Bisa kagak kita ngomongin nyang laen?”
Zhoya menggelengkan kepalanya kemudian mendongak dengan gembira.
“Kau mau tengok foto Pengiran?”
“Gue kate ogah tetep ogah.”
“Payah kali kau,” Zhoya mengeluarkan ponselnya dan mengetik sesuatu, lalu dia tampak kecewa.
“Apaan? Dia jelek?”
“Bah, fotonya pun tak ada di internet.”
“Gue udah bisa bayangain tampangnya diam. Manja, modis, sombong. Orang tajir mah, gitu.”
Zhoya tertawa, “Bohong, Robinhood tak macam itu.”
“Robinhood cuma ada di pelem, lagian dia bukan pangeran.”
“Buaatku, dia adalah pangeran.”
Cinde mendesah. “Parah lu.”
***
Malamnya, Cinde sedang di kamar Tatiana. Sementara Tatiana berbaring di tempat tidur, dia sibuk merendam kain ke dalam air panas untuk memijat leher dan tubuh kakak tirinya.
Tatiana benar-benar cantik. Kulitnya halus sehingga ibunya rela menghabiskan banyak uang membeli skincare untuk membuatnya tetap mulus. Alisnya melengkung sempurna, hidungnya imut seperti kancing jas. Dia calon ratu yang ideal.
“Aku harap dia memilihku, Cinde. Kalau nggak, semua ini cuma membuang-buang waktu.”
Cinde tersenyum. “Lu cantik banget, Tat. Dia pasti milih lu.”
Tatiana tersenyum, senagn dengan pujiaan Cinde. Tapi kemudian dia mengerutkan kening karena mengingat sesuatu.
“Ada apa?”
“Pelatih etiketku datang besok. Aku benci tukang sihir itu, dia membuatku melakukan hal-hal yang menjijikkan.”
Cinde tersenyum. “Kagak mungkin lebih parah dari guru gaya dan mode lu.”
Tatiana mengerang.
“Mereka semua me-nge-ri-kan!”
Tak lama kemudian pintu terbuka dan Irina masuk. Dia adalah saudara kembar Tatiana, tetapi bukan kembar identik. Dia tidak seanggun Tatiana dan dia membenci Cinde sampai ke tulang sumsum. Mereka semua berusia awal dua puluhan, jadi sulit untuk mengetahui siapa yang tertua.
Irina berjalan dengan rok mini ketat, atasan yang hampir tidak menutupi dadanya, cincin di pusarnya dan cincin lain di hidungnya. Rambutnya empat warna berbeda yang dia ikat menjadi dua ekor kuda samping. Dia mengerutkan kening ketika melihat Cinde.
“Apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah seharusnya kamu sudah selesai?” tanyanya, berbicara kepada Cinde yang masih memijat punggung Tatiana.
“Dia selesai begitu aku bilang dia sudah selesai,” jawab Tatiana.
“Aku ingin berbicara dengan kamu dan aku ingin dia pergi,” Irina menyolot. Lengannya terentang sambil melotot ke Cinde.
“Dia belum selesai dan punggungku sakit, apa pun yang ingin kamu katakan, kamu bisa bilang. Aku capek,bukan tuli,” jawab Tatiana.
“Jadi sekarang setelah kamu menjadi ratu, kamu mulai memberi perintah, ya?” tanya Irina, melotot ke arah kembarannya.
Tatiana mendesis dan menggelengkan kepalanya. “Ada apa denganmu, Irina? Aku capek, aku tidak punya waktu untuk ini,” Tatiana.
Saat itu sang ibu masuk.
“Apa yang terjadi di sini dan mengapa kalian berdua bertingkah seperti anak-anak?”
“Itu Cinde!” Irina berkata dan Tatiana tersentak.
“Selalu dia, ya?” Sang ibu bertanya, “Sekarang apa yang telah dia lakukan kali ini?”
“Aku mendengar dia dan teman bodohnya itu berbicara sebelumnya tentang dia sebagai orang yang tepat untuk pergi ke perjamuan.” Jawab Irina mengejutkan semua orang, bahkan Cinde.
“Benarkah?” tanya Varya, wajahnya langsung berubah ketika dia menatap putri tirinya dengan tatapan dingin. Varya perempuan tinggi besar. Dadanya juga besar. Cuma dengan melihatnya saja bisa membuat seseorang terkena serangan jantung.
“Jadi kamu dan Zhoya yang tidak berguna itu telah berbicara—”
Cinde tercengang, dia melihat Tatiana yang sedang menatapnya seolah merasa kecewa dan kemudian melihat dua wanita lainnya yang membencinya.
“Aye kagak pernah … dia yang ngomong, aye kagak pernah—”
“Pembohong!” tengah Irina sambil menunjuk Cinde dengan jari tengah. “Kamu setuju dengan apa yang dia bilang!”
“Kagak, aye kagak setuju!” teriak Cinde, jantungnya berdetak cepat dan semakin cepat dan menatap Tatiana untuk memastikan Tatiana percaya padanya.
Tatiana adalah satu-satunya orang baik di rumah ini.
“Yah, bahkan kalau kamu pikir kamu akan pergi, gadis bodoh…” Varya mengomel sambil berkacak pinggang, “Kamu pergi sebagai tangan kanan putriku, jadi kau akan melihat waktu dia merebut hati ratu, sang pangeran dan kemudian menjadi tunangan yang sah dan kamu hanya akan menjadi seorang bedinde, bebek buruk rupa untuk selamanya!”
“Baiklah, tidak apa-apa, Bu. Biarkan dia pergi. Kamu membuat gadis malang itu ketakutan dan sekarang air panas yang dia gunakan untukku menjadi dingin. Ini semua salahmu, Irina!”
“Apa? Salahku! Kamu benar-benar jalang yang tidak tahu terima kasih!” Irina membalas dengan keras dan kedua saudara kembar itu berteriak satu sama lain sementara ibu mereka turun tangan. Buru-buru Cinde mengambil mangkuk dan piring kecil tempaat minyak urut, kemudian meninggalkan ruangan. Menutup pintu di belakangnya, Cinde menarik napas dalam-dalam. Benar-benar mimpi buruk.











